NovelToon NovelToon
Takdir Kejam Sang Duda

Takdir Kejam Sang Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Balas Dendam
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Giarty gia

"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."

Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.

Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.

kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.

Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Ruang CEO yang Porak-poranda.

***

Rapat koordinasi bersama jajaran direksi Danendra Group berjalan dengan sangat alot dan menegangkan. 

Di dalam ruang rapat utama yang kedap suara, Galen Danendra duduk di kursi kebesaran dengan tatapan elang yang mengintimidasi semua manajer yang sedang mempresentasikan laporan keuangan kuartal pertama. 

Pria tersebut berkali-kali melontarkan pertanyaan tajam yang membuat suasana ruangan sedingin es. Pikirannya tersita sepenuhnya oleh angka-angka saham dan strategi ekspansi bisnis baru, membuatnya melupakan sejenak masalah anak kecil yang ia tinggalkan di ruang kerjanya.

Sementara itu, situasi di dalam ruang kerja pribadi sang CEO justru berbanding terbalik.

Freya Anindita awalnya duduk dengan cemberut di atas sofa kulit berukuran besar yang sangat empuk. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap pintu kayu jati yang tertutup rapat dengan pandangan penuh dendam. 

Di dalam benak kecilnya, ia terus mengumpat betapa jahat dan egoisnya "kakak Monster" yang sudah menculiknya ke tempat asing ini.

Tok, tok.

Pintu terbuka pelan, menampilkan wajah ramah asisten pribadi Galen yang masuk membawa sebuah nampan berukuran besar. 

Di atas nampan itu, terdapat tumpukan berbagai macam camilan premium, mulai dari biskuit cokelat import, keripik kentang, puding buah, hingga segelas besar es krim vanilla dengan taburan keju di atasnya.

"Ini cemilannya, nona Freya. Dimakan ya, perintah dari Tuan Galen agar nona tidak menangis lagi". Ucap sang asisten dengan senyuman sopan sebelum meletakkan nampan itu di atas meja kaca di depan Freya, lalu pamit keluar.

Begitu pintu kembali tertutup, Freya menatap tumpukan makanan manis itu dengan mata bulatnya yang berbinar.

Akibat aksi histeris dan tangisannya yang meraung-raung di dalam mobil Galen tadi benar-benar menguras seluruh pasokan energi di tubuh mungilnya. 

Rasa lapar yang luar biasa mendadak menyerang perutnya.Tanpa membuang waktu lagi, Freya meraih mangkuk es krim. 

"Biar saja! Aku akan menghabiskan semua makanan kakak jahat ini sebagai balasan karena sudah membuatku terlambat sekolah!". Gumam Freya ketus di sela-sela suapannya.

Anak perempuan berusia sebelas tahun itu mulai makan dengan sangat lahap. Setelah es krimnya tandas, jemari mungilnya beralih membuka bungkus keripik kentang, menyuapkan biskuit cokelat satu per satu, hingga mencicipi puding buah tanpa sisa. 

Rasa manis dari coklat dan keju entah bagaimana perlahan mulai menenangkan saraf-sarafnya yang tegang akibat trauma kecelakaan tadi.

Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, nampan yang tadinya penuh kini telah porak-poranda. 

Semua bungkus camilan kosong berserakan di atas meja kaca. Tidak ada satu remah pun makanan yang tersisa di sana. 

Freya mengusap bibirnya yang sedikit ternoda cokelat dengan punggung tangannya, menghembuskan nafas kekenyangan. 

Perutnya yang penuh ditambah sisa rasa lelah yang ekstrem setelah berjam-jam menangis membuat kelopak mata Freya perlahan-lahan mulai terasa sangat berat.

Gadis kecil itu akhirnya merebahkan tubuh mungilnya di atas sofa kulit, memeluk erat tas ransel sekolahnya sebagai bantal darurat, dan dalam hitungan menit, ia sudah terlelap pulih, tertidur sangat nyenyak di tengah keheningan ruang kerja sang CEO.

***

Tiga jam berlalu dengan cepat. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang lewat tiga puluh menit ketika pintu ruang kerja pribadi Galen akhirnya terbuka dari luar.

Galen melangkah masuk dengan raut wajah yang tampak sangat lelah setelah memimpin rapat panjang yang menguras otak. Ia melonggarkan kancing manset di pergelangan tangannya, berniat untuk langsung duduk di kursi kerjanya dan meminum kopi hangat yang biasanya sudah disiapkan.

Namun, begitu langkah kakinya melewati pembatas ruangan, gerakan Galen seketika terkunci di lantai marmer. Rahang tegas pria itu mendadak mengeras, dan sepasang mata elangnya membelalak sempurna menatap pemandangan di depan matanya.

Ruang kerjanya yang biasanya selalu rapi—bersih, dan beraroma maskulin kini tak ubahnya seperti area bekas pesta anak TK. 

Di atas meja kaca import miliknya, beberapa bungkus keripik kosong berserakan, mangkuk es krim terbalik dengan sisa lelehan yang mengering, dan remah-remah biskuit tampak berhamburan di atas karpet beludru mahal di bawahnya. Makanan yang dibeli asistennya ludes tak tersisa sama sekali.

Dan di tengah kekacauan itu, sang pelaku utama—Freya—sedang mendengkur halus di atas sofa kulit mahalnya. Mulut kecil gadis itu sedikit terbuka, dengan noda coklat yang masih menempel di sudut bibirnya, tampak sangat tenang seolah tidak memiliki dosa apapun setelah membuat ruang kerja orang nomor satu di perusahaan itu berantakan.

Sifat Galen yang dingin, kaku, dan tidak berperasaan seketika bergejolak hebat di dalam dadanya. Alisnya menukik tajam menatap pemandangan mengerikan tersebut. 

Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat di dalam saku celana bahan mahalnya, menahan amarah yang kembali naik ke ubun-ubun.

Galen melangkah mendekati meja kaca, lalu menghembuskan napas panjang yang sarat akan rasa kesal dan dongkol dari balik tenggorokannya yang dalam. 

Ia mendengus kasar, menatap wajah polos Freya yang sedang mendengkur dengan pandangan yang sangat muak.

"Benar-benar bocah rakus yang menyusahkan”. Gumam Galen dingin, suaranya berbisik namun sarat akan kejengkelan yang pekat.

Pria tersebut memijat pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri, membayangkan bagaimana hari-hari ke depannya di rumah akan berjalan. 

Baru satu bulan anak ini tinggal bersama mereka, dan hidup Galen yang penuh keteraturan sudah diacak-acak sedemikian rupa. 

Di meja makan dia merengek, di mobil dia histeris, dan sekarang di ruang kerjanya, bocah ini malah membuat kekacauan lalu tertidur pulas tanpa rasa bersalah. 

Galen merasa bahwa takdir benar-benar sedang menghukumnya dengan mengirimkan beban cengeng dan menyebalkan ini ke dalam garis hidup dewasanya yang tenang.

Galen mengalihkan pandangannya dari sofa dengan helaan napas pendek yang sarat akan rasa kesal. Menghadapi bocah sekecil itu dengan amarah hanya akan membuang energi berharganya. 

Dia memilih melangkah menuju meja kerjanya yang luas di sudut ruangan. Ia duduk di kursi kebesaran, menyalakan komputer, lalu tenggelam dalam tumpukan berkas digital dan memeriksa laporan penting perusahaan yang sempat tertunda karena rapat tadi.

Suasana di dalam ruangan berubah menjadi sunyi, hanya menyisakan suara detak jam dinding dan ketikan jemari Galen di atas papan ketik. Waktu terus bergulir hingga jarum jam menunjukkan pukul setengah satu siang.

Di atas sofa kulit yang empuk, pergerakan halus mulai terlihat. Freya perlahan-lahan membuka kedua kelopak matanya. Ia mengucek matanya yang masih terasa sepet, lalu meregangkan otot-otot tubuh mungilnya yang terasa kaku. 

Rasa kantuknya sudah menguap, berganti dengan rasa jenuh yang luar biasa akibat terlalu lama tertidur.

Gadis kecil itu duduk tegak, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang serba mewah, modern, dan sangat luas ini. 

Ingatan tentang kejadian pagi tadi perlahan kembali terkumpul di kepalanya. Kesadaran Freya pulih sepenuhnya; ia ingat bahwa ia tidak sedang berada di dalam kelas bersama teman-teman barunya, melainkan terjebak di dalam ruang kerja pribadi milik "kakak Monster" yang sangat ia benci.

Di seberang ruangan, Galen yang memiliki ketajaman indra seorang pebisnis ulung langsung menangkap pergerakan Freya. 

Tanpa menghentikan ketukan jarinya di atas tablet kerja, Galen hanya melirik sekilas dari balik bulu mata tajamnya, lalu melemparkan komentar pedas tanpa filter.

"Sudah puas tidurnya, Bocah Rakus?". Sindir Galen, suaranya terdengar sangat bariton dan dingin menembus keheningan ruangan. 

"Bagus sekali tingkah lakumu. Setelah menghabiskan seluruh isi nampan makanan sampai porak-poranda seperti babi kelaparan, kau mengotori karpet kantorku dengan remah-remah biskuit, lalu tidur mendengkur tanpa tahu malu."

Mendengar kata-kata ejekan yang teramat pedas itu, wajah Freya seketika memerah karena kombinasi rasa malu dan kesal yang luar biasa. Ia menatap tumpukan bungkus camilan kosong di atas meja kaca dengan cemberut, lalu menatap Galen dengan pandangan penuh dendam. 

Rasa jengkel karena bosan dan dikurung di tempat ini membuat emosinya kembali meledak.

“Kakak jahat! Aku bukan babi!". Raung Freya, mulai merengek kencang sembari menendang-nendangkan kaki kecilnya ke udara dari atas sofa. "Aku bosan di sini, kak! Tempat ini menyeramkan dan sepi! Aku mau pulang ke rumah! Atau antarkan aku ke sekolah sekarang! Aku tidak mau dikurung di sini bersama kakak Monster!".

Mendengar rengekan cempreng Freya yang mulai naik satu oktaf dan menggema di dinding ruang kerjanya, Galen kembali menggeram pelan, sepasang alis tebalnya menukik tajam, menciptakan lipatan dalam di keningnya. 

Rasa sabarnya benar-benar runtuh berkeping-keping. Gadis kecil ini benar-benar telah menjadi parasit yang menyusahkan seluruh garis hidup dewasanya yang tenang.

Brak!

Galen berdiri dari kursi kerjanya dengan sentakan yang sangat kasar. Ia menaruh tablet kerjanya ke atas meja jati dengan bunyi hantaman yang cukup keras, memicu ketegangan instan di dalam ruangan.

Dengan aura membunuh yang pekat dan langkah kaki yang lebar, Galen berjalan cepat menghampiri sofa tempat Freya berada. 

Tubuh tegapnya berdiri menjulang tepat di depan Freya, menutup seluruh pasokan cahaya lampu dari atas dan menciptakan bayangan hitam yang besar di atas tubuh mungil gadis kecil itu.

Galen menundukkan tubuhnya sedikit, memangkas jarak di antara mereka hingga Freya bisa melihat dengan jelas rahang Galen yang mengetat sempurna dan sepasang mata elangnya yang memancarkan kilat emosi yang amat dingin dan berbahaya. 

Wajah tampan milik Galen saat ini terlihat puluhan kali lipat lebih menyeramkan daripada monster mana pun.

"Dengar baik-baik, Anak Kecil”. Ucap Galen, setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar lambat, berat, namun penuh dengan kekejaman yang menusuk batin. "Kau pikir kau punya hak untuk mengatur waktuku, hah? Kau berada di sini karena kau tidak memiliki otak untuk mengontrol emosimu di tengah jalan tadi pagi! Aku sudah cukup berbaik hati tidak membuangmu di pinggir jalan raya!".

Freya seketika mematung, seluruh keberanian dan rengekannya langsung terkunci rapat di dalam tenggorokannya. Tubuh mungilnya gemetar hebat melihat kedekatan wajah Galen yang teramat mengerikan itu.

"Mulai detik ini, tutup mulut bisingmu itu atau aku akan benar-benar mengunci dan meninggalkanmu di dalam ruangan gelap ini sendirian sampai besok pagi!". Ancam Galen dengan nada suara yang merendah, dingin, namun sarat akan kekejaman yang absolut. "Satu kata lagi keluar dari mulutmu, dan kau akan tahu seberapa kejamnya aku."

Ancaman itu sukses membuat Freya benar-benar ketakutan. Air mata kembali menggenang di pelupuk mata bulatnya, namun ia mati-matian menahannya agar tidak jatuh atau mengeluarkan suara isakan sekecil apapun karena takut akan wajah Galen yang menyeramkan. 

Ia mencengkram tali tas ranselnya erat-erat, dan merapatkan punggungnya pada sandaran sofa, menyerah sepenuhnya di bawah dominasi dan kekejaman seseorang yang siap mengontrol seluruh hidupnya di masa depan.

***

1
Giarty gia
❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!