Lelah menjadi budak korporat di kota besar tanpa hasil dan malah dikhianati oleh orang terdekatnya, Yao Wi memutuskan menyerah dan pulang ke kota kelahirannya yang miskin dan terbelakang. Namun, siapa sangka keputusannya untuk menyerah justru menjadi titik balik hidupnya saat sebuah sistem misterius tiba-tiba aktif di kepalanya.
Ding!
[Selamat datang, Tuan Rumah Yao Wi.]
[Sistem ini bertujuan untuk membantu Anda mengubah kota kelahiran Anda yang tertinggal menjadi kota paling makmur di bumi.]
[Aturan Utama Sistem: Tuan rumah akan menerima seratus ribu setiap hari dari setiap jiwa yang terdaftar resmi sebagai warga kota ini.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Suara dentingan chip kasino dan sorak-sorai penonton menggema memenuhi ruangan VIP lantai tertinggi Mega Kasino Linzhou.
Jam dinding digital menunjukkan pukul dua dini hari, namun suasana di meja judi justru semakin memanas.
Bai Lu duduk tegak dengan rambut sedikit berantakan dan napas memburu.
Di hadapannya, tumpukan chip kasino yang tadinya hanya bernilai seratus miliar kini telah berkembang menjadi dua ratus lima puluh miliar rupiah.
Selama lima jam berturut-turut, ia menggunakan seluruh keahlian matematikanya untuk membaca pola kartu dan menghitung probabilitas matematis di meja baccarat dan roulette.
Setiap taruhannya selalu akurat, seolah dewi keberuntungan sedang berdiri tepat di belakang bahunya malam ini.
Beberapa pengusaha lokal yang menonton dari pinggir lapangan sudah berbisik-bisik kagum melihat kecerdasan wanita tersebut.
"Wanita itu benar-benar monster, dia melipatgandakan modalnya dalam waktu semalam!" bisik seorang pengusaha.
"Apakah Tuan Muda Yao Wi akan kehilangan kasino pertamanya gara-gara seorang wanita dari Donghai?" timpal yang lain dengan nada cemas.
Bai Lu menyunggingkan senyum kemenangan di sudut bibirnya, merasa sangat puas dengan pencapaiannya.
Ia melirik ke arah balkon kaca di lantai dua, tempat Yao Wi sedari tadi duduk santai sambil menyesap segelas wisma tua di balik bayangan lampu redup.
"Kau terlalu arogan, Yao Wi," batin Bai Lu penuh percaya diri.
"Kau pikir uang bisa membeli segalanya, tapi di meja judi, otak dan keahlian adalah segalanya."
Bai Lu mendorong seluruh tumpukan chip-nya ke tengah meja hijau dengan gerakan penuh keyakinan.
"Aku bertaruh dua ratus lima puluh miliar untuk putaran terakhir malam ini," ucap Bai Lu dengan suara dingin yang memikat.
Bandar kasino yang mengenakan setelan rapi itu menatap Yao Wi di balkon sekilas untuk meminta persetujuan.
Yao Wi yang duduk di atas sofa beludru hanya mengangkat gelasnya pelan, lalu mengangguk kecil memberikan izin.
"Taruhan diterima, Nona Bai," ucap sang bandar datar.
Kocokan kartu terakhir dilakukan dengan sangat cepat.
Kartu diletakkan di atas meja, dan perlahan-lahan dibuka satu per satu di bawah sorotan lampu sorot putih yang menyilaukan.
Deg! Deg! Deg!
Jantung Bai Lu berdegup kencang, adrenaline mengalir deras di setiap aliran darahnya.
Ini adalah momen penentu.
Jika ia menang, ia tidak hanya akan menguras kekayaan kasino ini, tapi ia juga akan meremukkan ego sang pemilik mutlak.
"Tujuh!" teriak bandar membacakan nilai kartu pemain.
"Sembilan!" teriak bandar melanjutkan pada kartu pihak kasino.
Wajah Bai Lu seketika membeku.
Matanya melebar menatap kartu di atas meja yang menunjukkan angka sembilan, mengalahkan kartunya dengan selisih tipis dua poin.
"Pemenang putaran ini... pihak kasino," umum sang bandar dengan suara tegas.
Hening seketika menyelimuti seluruh ruangan VIP.
Tumpukan chip bernilai dua ratus lima puluh miliar rupiah yang tadinya menggunung di depan Bai Lu seketika disapu bersih oleh petugas kasino dalam waktu satu detik.
Bai Lu bangkit berdiri dari kursinya secara spontan, kedua tangannya mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih.
"T-tidak mungkin..." bisik Bai Lu dengan suara gemetar, menolak mempercayai hasil di depan matanya.
"Aku sudah menghitung semua probabilitasnya dengan sempurna! Kartu itu seharusnya milikku!"
Ia mendongak tajam ke arah balkon lantai dua, mencari sosok Yao Wi yang sedari tadi merencanakan kekalahannya.
Di balkon sana, Yao Wi berdiri perlahan dari sofanya.
Ia melangkah ke tepi pembatas kaca, menatap agen rahasia itu dengan senyum tipis yang sarat akan ejekan.
Yao Wi berjalan menuruni tangga privat menuju lantai kasino, langkah kakinya terdengar jelas di antara kesunyian para penonton.
Tap. Tap. Tap.
Ia berhenti tepat di depan Bai Lu yang kini menatapnya dengan napas terengah-engah dan keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
"Permainan yang sangat luar biasa, Nona Bai Lu," puji Yao Wi dengan nada datar yang terkesan meremehkan.
"Kau berhasil mengubah seratus miliar menjadi dua ratus lima puluh miliar dalam waktu lima jam."
Bai Lu menggigit bibirnya hingga nyaris berdarah, harga dirinya hancur berkeping-keping.
"Kau... kau memanipulasi mesin dan kartunya!" tuduh Bai Lu dengan jari telunjuk yang gemetar menunjuk wajah Yao Wi.
"Di kasino kelas dunia ini, tidak ada yang namanya kebetulan!"
Yao Wi tidak marah sama sekali mendengar tuduhan tersebut.
Ia justru tertawa kecil, sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk siapa saja yang mendengarnya merinding.
"Memanipulasi? Nona Bai, kau terlalu naif jika berpikir aku harus merusak mesin untuk mengalahkanmu," jawab Yao Wi santai.
Ia mendekatkan wajahnya sedikit ke telinga Bai Lu.
"Aku sengaja membiarkanmu menang terus sepanjang malam, membiarkan kesombonganmu tumbuh hingga mencapai puncaknya di angka dua ratus lima puluh miliar."
"Karena hanya dengan menghancurkan harapanmu di detik terakhir, aku bisa melihat ekspresi keputusasaan yang indah di wajahmu saat ini."
Duar!
Kata-kata Yao Wi menghantam kepala Bai Lu bagaikan palu godam raksasa.
Ia menyadari bahwa kekalahannya bukanlah karena perhitungan matematikanya yang salah, melainkan karena ia dari awal hanyalah seekor boneka yang sedang dipermainkan oleh sang penguasa kasino.
"K-kau... iblis..." bisik Bai Lu lemas.
Seluruh tenaganya seolah tersedot keluar dari tubuhnya, membuat lututnya terasa sangat lemas hingga ia hampir terjatuh ke lantai.
Yao Wi menangkap lengan langsing Bai Lu dengan sigap, mencegah tubuh wanita itu ambruk di depan para tamu.
Sentuhan tangan Yao Wi terasa sangat hangat namun memancarkan otoritas mutlak yang tidak bisa dilawan.
"Permainan sudah berakhir, Nona Bai," bisik Yao Wi tegas.
"Sesuai dengan perjanjian kita tadi malam, modal seratus miliar milikmu habis, dan sekarang kau tidak punya pilihan selain mengakui kekalahanmu."
Bai Lu mendongak, menatap mata hitam Yao Wi yang sangat dalam dan penuh dominasi.
Tidak ada lagi sisa-sisa perlawanan di dalam hatinya.
Segala kecerdasan, trik spionase, dan keahlian judinya runtuh tak bersisa di hadapan kekuatan kapital dan mental pemuda ini.
Ia datang sebagai mata-mata yang sombong, dan kini ia tertunduk sebagai tawanan yang tak berdaya.
Bruk!
Di hadapan ratusan pasang mata yang menonton, Bai Lu perlahan melipat lututnya dan berlutut di lantai marmer tepat di hadapan kaki Yao Wi.
"Saya... Bai Lu, agen dari Taipan Zhao Provinsi Donghai, mengaku kalah mutlak," ucap Bai Lu dengan suara parau menahan air mata kekalahan.
"Mulai hari ini, nyawa, kesetiaan, dan kemampuan saya sepenuhnya adalah milik Anda, Tuan Yao."
Yao Wi menatap wanita cantik yang kini bersujud di bawah kakinya dengan senyum kepuasan yang absolut.
Ding!
[Misi Sampingan Selesai: Menundukkan agen mata-mata elit dan memperluas pengaruh ke ranah intelijen regional.]
[Hadiah Sistem: Membuka akses jaringan intelijen bawah tanah regional dan penambahan saldo bonus sebesar sepuluh miliar rupiah.]
Yao Wi mengulurkan tangan kanannya dan mengangkat dagu Bai Lu agar wanita itu menatap matanya langsung.
"Selamat datang di Linzhou Corp, Bai Lu," ucap Yao Wi dengan suara lembut namun berwibawa.
"Kau tidak perlu lagi menjadi anjing suruhan Taipan Zhao yang bodoh itu."
"Mulai sekarang, kau akan mengepalai divisi intelijen khusus milikku untuk memantau pergerakan para penguasa di provinsi seberang."
Bai Lu tertegun sejenak mendengar kepercayaan besar yang tiba-tiba diberikan kepadanya setelah ia dikalahkan secara telak.
Rasa benci dan penasarannya perlahan berubah menjadi rasa kagum yang luar biasa mendalam.
"S-saya akan mematuhi setiap perintah Anda sampai mati, Tuan," janji Bai Lu dengan tulus, menyerahkan jiwa dan raga ke bawah panji kekuasaan Yao Wi.
Yao Wi berbalik badan menghadap para tamu kasino yang langsung menunduk hormat secara serentak, tidak ada lagi yang berani meremehkan kekuatan penguasa baru Kota Linzhou ini.
Kerajaan malam di kota ini telah resmi berada di bawah telapak kakinya.