NovelToon NovelToon
Aku Rela Bangkit Dari Kematian Demi Cintaku Dengan Musuhku

Aku Rela Bangkit Dari Kematian Demi Cintaku Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Bad Boy / LGBTQ
Popularitas:287
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

BL/BxB. Don't Copy!!!!



Rayyan Steven Mahendra meninggal tepat. dihari Pertama masuk SMA Setelah Pulang dari MPLS akibat tertabrak truk. Seluruh keluarganya hancur.
Seluruh Sekolah berkabung. Bahkan musuh bebuyutannya, Revan Devano Sanjaya, yang terkenal sebagai Preman Sekolah dan anak konglomerat, tidak Pernah lagi tersenyum Sejak hari itu. Setelah dikremasi, Orang-orang menangis dan Revan langsung tak bisa berdiri dia Merasa Pusing. Namun tujuh hari Kemudian Rayyan melintasi waktu, bagaimana bisa dia sudah di depan Pintu rumahnya, dia masuk rumah dan Semua keluarga Ketakutan dan ada yang tak menyangka Kejadian itu. Kemudian Rayyan beraktivitas Seperti biasa, Nenek dan Ibu Paling Senang dan Revan mendengar Kabar Rayyan Sangat Senang dan tersenyum entah mengapa hal itu terjadi Padanya!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orang Asing Bernama Adrian

Ketika seluruh SMA Mahardika High School sibuk bergosip, gemetar ketakutan karena rumor mistis, atau meledak dalam aksi baku hantam seperti yang dilakukan Revan di lapangan basket, Adrian memilih untuk menarik diri sepenuhnya dari kegilaan komunal tersebut. Bagi Adrian, ketakutan adalah produk dari ketidaktahuan, dan reaksi emosional yang meledak-ledak hanyalah tanda dari ketidakmampuan otak manusia dalam memproses anomali. Ia tidak percaya pada takhayul tentang arwah penasaran yang lupa bahwa dirinya telah mati, namun ia juga tidak cukup bodoh untuk menerima begitu saja kata mukjizat yang diucapkan dengan air mata oleh orang-orang religius.

Dunia ini digerakkan oleh hukum sebab-akibat yang absolut. Jika Rayyan Mahendra yang seharusnya sudah menjelma menjadi abu di dalam tanah kini kembali duduk di bangku kelas dua belas dengan napas yang hangat, maka pasti ada sebuah skenario masif yang sedang berjalan di balik layar. Dan Adrian, dengan segala ketenangan dan watak berdarah dingin yang dimilikinya, berniat untuk menjadi orang pertama yang menelanjangi skenario tersebut hingga ke akar-akarnya.

Penyelidikan mandiri itu dimulai pada Senin sore, tepat setelah bel pulang sekolah berbunyi. Di saat siswa-siswi lain bergegas pulang atau pergi nongkrong di kafe-kafe trendi, Adrian mengendarai sepeda motor matik hitamnya membelah jalanan kota yang mulai padat oleh arus komuter. Tujuannya sangat spesifik: persimpangan jalan layang di batas kota, titik nol di mana takdir Rayyan Mahendra dilaporkan telah berakhir sepuluh hari yang lalu.

Matahari sore yang berwarna jingga pekat menggantung rendah di cakrawala ketika Adrian memarkirkan motornya di dekat sebuah warung rokok usang di tepi persimpangan. Ia melangkah mendekati pembatas jalan bermaterial beton, tempat di mana sisa-sisa kecelakaan mengerikan itu masih meninggalkan jejak fisisnya. Di atas permukaan aspal yang hitam, Adrian bisa melihat sekelumit goresan dalam yang disebabkan oleh gesekan besi tangki kontainer. Ada juga sisa-sisa bubuk pasir yang sengaja ditaburkan oleh petugas kepolisian untuk menutup ceceran oli dan cairan pekat yang mengering.

Adrian berjongkok, menyentuh permukaan aspal yang masih menyimpan sisa panas siang hari dengan ujung jari telunjuknya. Ia mengamati sudut kemiringan jalan dan jarak pandang dari arah datangnya truk. Secara logis, dengan kecepatan rata-rata kendaraan di jalur ini, sebuah hantaman langsung dari truk kontainer bermuatan penuh tidak akan menyisakan ruang bagi tubuh manusia untuk bertahan hidup. Benturan itu pasti menghancurkan organ dalam, mematahkan struktur tulang, dan menghentikan kerja jantung dalam hitungan detik.

Untuk melengkapi analisis fisisnya, Adrian berdiri dan melangkah mendekati warung rokok. Di sana, seorang pria paruh baya berpakaian lusuh sedang duduk santai sambil mengipasi bara arang untuk dagangan jagung bakarnya. Pria itu adalah salah satu saksi hidup yang berada di lokasi kejadian pada malam berdarah tanggal 10 Juli 2026.

Adrian membeli sebungkus rokok dan sebotol air mineral sebagai pembuka jalan. Dengan suara yang sangat ramah namun memiliki nada yang menuntut, ia mulai mengarahkan pembicaraan ke malam kecelakaan itu.

"Ngeri ya, Pak, kecelakaan yang semalam itu. Katanya korbannya anak sekolah?" tanya Adrian memancing.

Pria pemilik warung itu menghentikan kipasnya sejenak, lalu menghela napas panjang seraya menggelengkan kepala dengan raut wajah yang mendadak berubah kecut. "Bukan ngeri lagi, Mas. Saya yang tiap hari jualan di sini sampai gak bisa tidur tiga hari berturut-turut. Malam itu suaranya kencang sekali, seperti ledakan bom waktu truknya menghantam pembatas jalan setelah melindas motor matik anak itu. Saya langsung lari ke depan."

"Kondisi korbannya gimana waktu itu, Pak? Masih sempat napas?" Adrian bertanya lagi, matanya menyipit tajam, merekam setiap perubahan ekspresi wajah sang saksi.

"Waduh, boro-boro napas, Mas," bisik pria itu dengan suara yang dikecilkan, seolah-olah takut ada entitas lain yang mendengarkan. "Tubuhnya... ya Gusti, hancur parah di bagian dada ke bawah. Darahnya mengalir banyak sekali sampai menggenang di celah aspal ini. Waktu petugas ambulans datang dan mengangkatnya, kepalanya sudah terkulai aneh. Semua orang di sini juga tahu kalau anak itu sudah lewat di tempat kejadian. Makanya saya heran banget waktu kemarin ada anak-anak sekolah lain yang lewat sini dan bilang kalau korban kecelakaan itu sekarang hidup lagi. Gak masuk akal, Mas. Wong saya lihat sendiri jasadnya dimasukkan ke kantong jenazah warna oranye."

Adrian mengangguk-angguk pelan, memberikan senyuman formalitas sebelum berpamitan. Informasi dari saksi mata pertama telah mengunci satu fakta: kematian fisis Rayyan di lokasi kejadian adalah sebuah kepastian visual bagi orang awam.

Namun Adrian tidak berhenti di situ. Langkah berikutnya adalah memburu bukti digital. Ia berjalan menyusuri deretan ruko yang berderet di sepanjang sisi kiri persimpangan, mencari keberadaan kamera pengawas. Matanya yang jeli menangkap sebuah lensa kamera CCTV jenis bullet yang terpasang di bawah kanopi sebuah minimarket 24 jam. Sudut pandang kamera itu mengarah tepat ke arah area persimpangan jalan layang.

Dengan kemampuan retorika yang persuasif dan sedikit pemanfaatan uang pelicin dalam pecahan seratus ribu rupiah kepada staf penjaga toko yang masih muda, Adrian berhasil duduk di ruang staf belakang minimarket, menghadap sebuah monitor tabung yang menampilkan sistem perekaman digital. Ia meminta staf tersebut memutar kembali rekaman pada tanggal 10 Juli 2026, tepat pada pukul 22.40 WIB.

Layar monitor yang sedikit bergaris menampilkan visual jalanan yang sepi di bawah guyuran lampu merkuri yang temaram. Detik demi detik bergulir hingga jarum jam digital di sudut layar menunjukkan pukul 22.43 WIB. Sebuah motor matik putih yang dikendarai oleh remaja berpakaian kasual yang Adrian yakini adalah Rayyan tampak melambat di persimpangan. Kemudian, dari arah jalur layang, sebuah truk kontainer besar melaju dengan kecepatan tinggi, kehilangan kendali akibat rem blong, dan menghantam motor tersebut dengan kekuatan yang brutal.

Visual di layar tampak bergetar hebat. Namun, tepat pada detik di mana benturan krusial itu terjadi dan debu tebal membubung tinggi menutupi pandangan lensa, rekaman video tersebut mendadak mengalami glitch parah. Layar berubah menjadi distorsi garis-garis abu-abu selama tepat tiga detik, sebelum akhirnya kembali normal menampilkan kerumunan warga yang mulai berlarian mendekati truk.

Adrian memundurkan rekaman itu berkali-kali. Tiga detik yang hilang. Tepat di titik benturan. Kerusakan data digital yang terjadi di waktu yang sangat presisi seperti ini bukanlah sebuah kebetulan teknis karena guncangan fisis. Ini adalah jejak dari sebuah intervensi. Seseorang, atau sesuatu, telah menghapus atau mengaburkan apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepungan debu persimpangan malam itu. Rasa penasaran di dalam dada Adrian mulai berkembang menjadi sebuah letupan antusiasme yang dingin.

Malam kian larut ketika Adrian tiba di pemberhentian terakhirnya untuk hari itu: Rumah Sakit Umum Harapan Medika. Ini adalah rumah sakit pusat daerah tempat ambulans membawa tubuh Rayyan malam itu, dan tempat di mana tim dokter secara resmi mengeluarkan pernyataan duka cita sebelum jasadnya diserahkan kepada keluarga Mahendra untuk proses kremasi.

Infiltrasi ke dalam fasilitas medis berskala besar di malam hari membutuhkan taktik yang berbeda. Adrian mengganti jaket jins hitamnya dengan sebuah kemeja putih bersih yang selalu ia simpan di dalam jok motor, memberikan kesan bahwa ia adalah seorang mahasiswa kedokteran yang sedang melakukan riset atau kerabat dekat dari salah satu pasien kelas VIP. Dengan langkah kaki yang tenang dan penuh percaya diri, ia melewati pos penjagaan depan tanpa memicu kecurigaan sama sekali.

Ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang beraroma pekat campuran antara karbol dan obat-obatan. Tujuannya adalah ruang arsip rekam medis yang terletak di lantai dasar bagian belakang gedung. Beruntung bagi Adrian, jam malam membuat area ini sangat sepi. Menggunakan kelalaian seorang staf administrasi wanita yang meninggalkan mejanya untuk membeli kopi di kantin depan, Adrian menyelinap masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi oleh deretan lemari besi tinggi berisi ribuan dokumen pasien.

Jemari Adrian bergerak dengan sangat cepat namun tanpa suara, memilah-milah map berdasarkan abjad dan tanggal kejadian di bagian korban kecelakaan lalu lintas minggu lalu. Setelah hampir sepuluh menit melakukan pencarian di bawah temaram lampu ruangan yang minim, tangannya berhenti pada sebuah map kuning tebal dengan label nama: Rayyan Mahendra.

Adrian membawa map tersebut ke sudut ruangan yang paling gelap, di balik bayangan lemari besi besar. Ia membuka lembaran demi lembaran dokumen di dalamnya. Ada hasil visum luar yang mencatat tingkat kerusakan fisis yang masif, grafik henti jantung yang menunjukkan garis lurus datar sejak pukul 23.12 WIB, serta catatan penyerahan jenazah kepada pihak keluarga yang ditandatangani langsung oleh Steven Mahendra dan disaksikan oleh Pak Arip.

Hingga akhirnya, mata Adrian tertuju pada lembar paling belakang dari tumpukan berkas tersebut.

Sebuah salinan resmi Surat Kematian dengan nomor registrasi negara yang sah. Di atas kertas berlogo resmi rumah sakit itu, tertera dengan sangat jelas nama lengkap Rayyan, tanggal lahir, dan penyebab kematian akibat kegagalan fungsi organ multipel pasca-trauma berat. Di bagian bawah, terdapat stempel basah berwarna ungu melingkari tanda tangan dokter spesialis forensik yang menyatakan bahwa subjek telah dipastikan meninggal dunia secara hukum dan medis.

Adrian menatap lembaran kertas tipis itu dengan pandangan yang teramat sangat intens. Dokumen ini adalah sebuah manifestasi hukum tertinggi dari akhir sebuah kehidupan manusia. Secara administratif dan legalitas dunia, Rayyan Mahendra sudah tidak lagi terdaftar sebagai makhluk hidup. Eksistensinya telah dihapus dari sistem.

Namun kenyataannya, remaja itu pagi tadi duduk di kelas dua belas IPA 1, memegang botol teh melati dingin, dan memicu kepalan tinju pelindung dari Revan Sanjaya.

Kontradiksi yang teramat sangat sempurna ini berada di depan matanya sekarang. Surat kematian yang menyatakan Rayyan telah musnah, berhadapan langsung dengan realitas fisis di mana Rayyan kembali berjalan di bawah sinar matahari.

Adrian perlahan melipat kembali salinan surat kematian tersebut dengan sangat rapi, lalu menyelipkannya ke dalam saku bagian dalam kemeja putihnya. Ia mengembalikan map kuning itu ke tempat semula tanpa meninggalkan jejak kekacauan sedikit pun.

Adrian melangkah keluar dari ruang arsip rekam medis, berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang sunyi menuju area parkir luar. Angin malam yang dingin berembus menyapa wajahnya yang tampan saat ia kembali menaiki sepeda motor hitamnya. Di bawah temaram lampu jalanan kota yang mulai sepi menjelang tengah malam, Adrian meraba saku kemejanya, merasakan lipatan kertas dokumen kematian yang berada di sana.

Ia menarik sudut bibirnya tipis, membentuk sebuah senyuman misterius yang sarat akan kepuasan intelektual yang mendalam. Sebuah senyuman yang sangat dingin, yang belum pernah diperlihatkannya kepada siapa pun di SMA Mahardika.

"Menarik..." gumam Adrian sangat pelan, suaranya langsung tenggelam oleh deru suara mesin motornya yang mulai melaju membelah kegelapan malam kota, siap membawa misteri besar ini ke babak permainan berikutnya yang jauh lebih berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!