Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Keempat preman di dalam ruangan itu menatap Anton dengan raut wajah bingung bercampur marah.
Mereka tidak menyangka ada orang yang berani mendobrak masuk saat mereka sedang menjalankan tugas.
"Siapa kamu berani ikut campur urusan kami?" bentak pria gempal berkepala plontos itu.
Pria itu adalah Bogel, pemimpin tim kedua yang disewa oleh Kevin Kusuma.
Anton sama sekali tidak mempedulikan pertanyaan Bogel.
Mata Anton hanya tertuju pada Siska yang sedang meringkuk ketakutan di sudut ruangan.
"Pak Anton, awas!" teriak Siska memperingatkan saat melihat salah satu preman bergerak mendekati Anton.
Preman berbadan tinggi kurus itu mengayunkan tongkat besi lurus ke arah kepala Anton.
Wush.
Suara angin berhembus kasar saat tongkat itu mengayun membelah udara.
Anton tidak bergeser dari tempatnya berdiri.
Dia hanya memiringkan lehernya sedikit ke kanan dengan raut wajah sangat datar.
Tongkat besi itu meleset dari sasarannya.
Sebelum preman kurus itu bisa menarik senjatanya kembali, Anton langsung mengangkat kaki kanannya.
Bugh.
Anton menendang perut preman kurus itu dengan kekuatan penuh.
"Ukh!" preman itu memuntahkan air liur dari mulutnya.
Tubuhnya terpental ke belakang dan menabrak dinding dengan suara benturan yang sangat keras.
Brak.
Preman kurus itu langsung jatuh pingsan di lantai tanpa sempat melawan lagi.
Bogel dan dua anak buahnya yang tersisa langsung melebarkan mata mereka kaget.
Mereka tidak menyangka pemuda berjas rapi di depan mereka punya tenaga monster seperti itu.
"Habisi dia sekarang juga!" perintah Bogel panik kepada dua anak buahnya.
"Jangan biarkan dia hidup!"
Dua preman yang tersisa langsung mencabut pisau lipat dari saku jaket mereka.
Klik.
Suara bilah pisau terbuka terdengar jelas di ruangan yang berantakan itu.
Mereka berlari menerjang Anton secara bersamaan dari arah kiri dan kanan.
Anton menatap tajam ke arah dua preman bersenjata itu.
Pandangan tembus pandangnya masih aktif dan membaca semua pergerakan mereka.
Anton bisa melihat jelas ayunan otot lengan mereka sebelum serangan itu diluncurkan.
"Kalian terlalu lambat," ucap Anton dingin.
Preman di sebelah kiri menusukkan pisaunya ke arah dada Anton.
Anton menepis tangan preman itu dengan punggung tangan kirinya secara kasar.
Tepisan itu membuat arah pisau melenceng jauh.
Anton lalu mengepalkan tangan kanannya dan meninju rahang preman itu sangat keras.
Krak.
Terdengar suara tulang rahang yang bergeser dari tempatnya.
"Aaaarggh!" teriak preman itu kesakitan sambil menjatuhkan pisaunya.
Dia langsung tersungkur di lantai sambil memegangi wajahnya yang membengkak.
Preman di sebelah kanan mencoba memanfaatkan celah itu untuk menyerang dari belakang.
Dia mengayunkan pisaunya ke arah punggung Anton.
Namun Anton sudah membaca pergerakannya dengan sangat jelas.
Anton menunduk sedikit lalu memutar tubuhnya ke belakang sambil mengayunkan sikut kirinya.
Bugh.
Siku kiri Anton bersarang tepat di ulu hati preman ketiga tersebut.
"Akh," preman ketiga itu langsung membelalakkan matanya dan kesulitan bernapas.
Anton menendang kaki preman itu hingga dia jatuh berlutut, lalu memukul tengkuknya keras-keras.
Bruk.
Preman ketiga itu ikut menyusul teman-temannya terkapar di lantai ruang tamu Siska.
Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, tiga preman bersenjata sudah berhasil dilumpuhkan.
Bogel yang berdiri di dekat Siska mulai gemetar ketakutan melihat kejadian itu.
Dia menelan ludah dengan susah payah saat Anton perlahan berjalan mendekatinya.
"Kamu... jangan mendekat!" ancam Bogel dengan suara parau dan bergetar.
Bogel panik lalu menarik lengan Siska secara kasar dan memaksanya berdiri.
Dia mengeluarkan sebilah pisau dari balik pinggangnya dan menempelkannya ke leher Siska.
"Mundur! Atau kubunuh wanita ini sekarang juga!" teriak Bogel menyandera Siska.
Siska memejamkan matanya sambil menangis terisak karena lehernya terasa perih terkena ujung pisau.
Langkah Anton langsung terhenti.
Rahang Anton mengeras melihat Bogel berani menggunakan Siska sebagai tameng.
"Lepaskan dia sekarang," ucap Anton pelan, tapi nadanya penuh dengan aura membunuh.
"Aku janji akan membiarkanmu keluar dari sini hidup-hidup kalau kamu melepaskannya."
"Jangan bohong kamu!" balas Bogel tidak percaya.
"Mundur ke luar pintu sekarang juga, biarkan aku pergi membawa wanita ini!"
Anton tidak beranjak mundur sedikit pun dari posisinya.
Matanya terus menatap lekat ke arah tangan Bogel yang memegang pisau.
Melalui penglihatan tembus pandangnya, Anton melihat otot tangan Bogel gemetar karena panik.
"Orang ini sedang kalut, dia bisa saja melukai Siska secara tidak sengaja," batin Anton menganalisa situasi.
"Kamu suruhan Kevin Kusuma, kan?" tanya Anton tiba-tiba memecah konsentrasi Bogel.
Bogel sedikit tersentak kaget mendengar nama majikannya disebut.
"Dari mana kamu tahu nama itu?" tanya Bogel tanpa sadar menurunkan kewaspadaannya sedikit.
Cengkeramannya pada pisau itu mengendur selama sepersekian detik.
Anton tidak membuang kesempatan emas itu sama sekali.
Tangan kanan Anton merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel miliknya dengan gerakan kilat.
Wush.
Anton melempar ponsel mahal itu sekuat tenaga lurus ke arah wajah Bogel.
Brak.
Ponsel itu menghantam tepat di tengah hidung Bogel dengan sangat keras hingga layarnya pecah.
"Aduh!" jerit Bogel kesakitan sambil melepaskan Siska untuk memegangi hidungnya yang berdarah.
Siska langsung berlari menjauh dari Bogel sambil menangis ketakutan.
Sebelum Bogel menyadari apa yang terjadi, Anton sudah melesat maju ke depannya.
Anton mencengkeram kerah baju Bogel menggunakan kedua tangannya.
Anton mengangkat tubuh preman gempal itu hingga kakinya tidak menyentuh lantai.
"Aku sudah bilang lepaskan dia," desis Anton tepat di depan wajah Bogel.
Brak.
Anton membanting tubuh Bogel ke lantai apartemen dengan kekuatan penuh.
Bogel mengerang kesakitan hebat, tulang punggungnya terasa seperti hancur berkeping-keping.
Anton lalu menginjak dada Bogel dengan kaki kanannya kuat-kuat.
"Katakan padaku apa perintah Kevin Kusuma padamu," ancam Anton menekan injakannya di dada Bogel.
"A-aku disuruh mencari dokumen chip... kalau tidak ada aku harus membawa Siska ke pelabuhan," jawab Bogel terbata-bata menahan sakit.
Anton menatap tajam ke arah Bogel dengan tatapan tanpa belas kasihan.
"Dengar baik-baik, sampaikan pesan ini pada majikanmu yang bodoh itu," ucap Anton dingin.
"Katakan padanya, permainannya baru saja dimulai malam ini."
"Dan aku sendiri yang akan menghancurkan keluarga Kusuma sampai ke akar-akarnya," ancam Anton.
Anton mengangkat kaki kanannya dan menendang wajah Bogel hingga pria itu pingsan seketika.
Keempat preman di dalam apartemen itu kini sudah tidak ada yang sadarkan diri.
Suasana di dalam unit 408 mendadak menjadi sangat sunyi.
Hanya terdengar suara isak tangis Siska dari sudut ruangan.
Anton mengatur nafasnya yang sedikit memburu lalu berjalan perlahan mendekati Siska.
Siska sedang duduk memeluk kedua lututnya sambil menyembunyikan wajahnya.
"Siska," panggil Anton lembut.
Anton berjongkok di depan Siska, berusaha mensejajarkan posisinya dengan wanita itu.
Siska perlahan mendongakkan wajahnya menatap Anton.
Melihat wajah tenang Anton, pertahanan Siska akhirnya runtuh sepenuhnya.
Siska langsung berhambur memeluk tubuh Anton dengan sangat erat.
"Pak Anton... aku takut sekali," tangis Siska pecah di dada Anton.
Anton sedikit terkejut dengan pelukan tiba-tiba itu.
Namun dia tidak menolaknya, tangannya perlahan membalas pelukan Siska.
"Tidak apa-apa, kamu aman sekarang," ucap Anton menenangkan sambil mengusap pelan rambut Siska.
"Maaf aku datang sedikit terlambat, seharusnya aku menempatkan penjaga untukmu."
Siska terus menangis terisak di pelukan Anton selama beberapa menit.
Bau parfum maskulin dari kemeja Anton entah bagaimana membuatnya merasa sangat aman.
Setelah tangisannya mulai mereda, Siska perlahan melepaskan pelukannya.
Wajahnya terlihat memerah karena malu menyadari dia baru saja memeluk bosnya sendiri.
"Maaf, Pak Anton, bajumu jadi basah karena air mataku," ucap Siska sambil menundukkan pandangannya.
"Tidak masalah, itu cuma kemeja biasa," jawab Anton santai sambil tersenyum tipis.
Anton mengulurkan tangannya menyentuh pelan sudut bibir Siska yang sedikit memar dan berdarah.
"Sakit?" tanya Anton dengan tatapan penuh perhatian.
Siska mengangguk pelan merasakan perih di bibirnya.
"Sedikit, tapi tidak apa-apa dibandingkan kalau mereka berhasil membawaku," jawab Siska tulus.
Anton berdiri dan mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Siska berdiri.
Siska meraih tangan Anton dan berdiri dengan kaki yang masih sedikit gemetar.
"Kamu tidak bisa tinggal di sini lagi malam ini," putus Anton sambil melihat pintu yang sudah hancur.
"Preman-preman ini akan sadar sebentar lagi, kita harus pergi sekarang."
"Tapi aku mau pergi ke mana malam-malam begini, Pak Anton?" tanya Siska kebingungan.
"Ikut aku ke penthouse, kamu akan aman di sana," tawar Anton tanpa ragu.
Siska terdiam sejenak mendengar tawaran itu.
Tinggal di apartemen seorang pria lajang di tengah malam tentu saja hal yang canggung bagi seorang wanita.
Namun Siska tahu Anton adalah pria yang baik yang baru saja menyelamatkan nyawanya.
"Baik, Pak Anton, aku akan ikut denganmu," jawab Siska menyetujui tawaran itu.
"Kumpulkan barang-barang pentingmu ke dalam tas kecil, kita pergi lima menit lagi," perintah Anton.
Siska langsung menurut dan berlari kecil masuk ke dalam kamarnya.
Anton berdiri di ruang tamu sambil memperhatikan keempat preman yang masih terkapar di lantai.
Dia mengeluarkan dompet dari sakunya dan mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu.
Anton melempar uang itu ke atas dada Bogel yang sedang pingsan.
"Itu untuk biaya rumah sakit kalian besok pagi," gumam Anton pelan.
Tidak lama kemudian, Siska keluar dari kamar membawa sebuah koper kecil dan tas sandang.
"Aku sudah siap, Pak Anton," lapor Siska.
Anton mengambil alih koper kecil itu dari tangan Siska.
"Ayo kita turun," ajak Anton berjalan mendahului.
Mereka berdua berjalan keluar dari unit 408 dan menuruni tangga darurat bersama-sama.
Sesampainya di lobi, petugas keamanan yang tadi didorong Anton terlihat kaget melihat mereka berdua.
Anton berhenti sejenak di depan meja resepsionis lobi tersebut.
"Ada perampok di lantai empat unit 408, tolong panggilkan polisi ke sana sekarang," perintah Anton pada petugas itu.
"B-baik, Pak! Saya akan telepon polisi sekarang juga," jawab petugas itu dengan gugup.
Anton dan Siska kembali berjalan keluar menuju mobil BMW merah yang terparkir sembarangan.
Anton membukakan pintu penumpang untuk Siska terlebih dahulu.
Setelah Siska masuk, Anton memasukkan koper ke bagasi lalu duduk di kursi kemudi.
Brumm.
Mobil itu perlahan bergerak meninggalkan kawasan Apartemen Green Garden.
Suasana di dalam mobil terasa cukup canggung selama beberapa menit pertama perjalanan.
Siska terus menatap ke luar jendela melihat jalanan malam kota.
"Terima kasih, Pak Anton," ucap Siska tiba-tiba memecah keheningan di dalam mobil.
"Kalau kamu tidak datang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku dan perusahaanku."
Anton menoleh sekilas ke arah Siska lalu kembali menatap jalanan.
"Star Technology sekarang adalah perusahaanku juga, Siska," jawab Anton tenang.
"Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak apa yang sudah menjadi milikku," tambahnya tegas.
"Termasuk orang-orang yang bekerja di bawah perlindunganku."
Mendengar ucapan itu, hati Siska terasa sangat hangat.
Rasa kagum dan loyalitasnya kepada Anton semakin bertambah besar malam ini.
"Besok pagi, kita akan mulai membalas perbuatan Kevin Kusuma," ucap Anton merencanakan langkah selanjutnya.
"Dia sudah melewati batas, dan sekarang giliranku yang menghancurkan perusahaannya."
Siska mengangguk mantap menyetujui rencana bosnya.
"Aku akan menyiapkan semua berkas yang kita butuhkan besok pagi, Pak Anton," janji Siska penuh semangat.
Mobil BMW merah itu terus melaju membelah malam menuju Apartemen Grand Royal.
Bagi Anton, malam ini adalah titik balik di mana dia harus menjadi lebih kejam dalam dunia bisnis yang kotor ini.
Babak baru perseteruan antara Anton dan keluarga elit Kusuma baru saja mencapai puncaknya.