Shen Qingyue adalah istri pertama keluarga Marquis Yong'an yang dikenal kejam dan pencemburu. Ditinggalkan suami di malam pernikahan, ia mati setelah meminum semangkuk "sup penenang" yang diracun.
Tapi takdir berkata lain.
Ketika Lin Xiao, seorang direktur pemasaran modern yang mati kelelahan, terbangun di tubuh Shen Qingyue, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah keluarga bangsawan yang penuh intrik. Suami yang dingin, selir yang licik, dan ibu mertua yang kejam—semua orang ingin melihatnya jatuh.
Namun Lin Xiao bukanlah Shen Qingyue yang lemah. Dengan kecerdasan verbal dan logika modernnya, ia bertekad untuk bertahan hidup dengan martabat. Satu per satu, jebakan dibongkar, musuh dipermalukan, dan rahasia gelap keluarga Marquis mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Permen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh
"Tapi, Nyonya... bukankah Nyonya bilang sup itu tidak diminum?"
"Tentu saja aku tidak meminumnya." Lin Xiao berkata tenang. "Tetapi aku ingin semua orang mengira bahwa aku sudah meminumnya."
Qingxing memang tidak memahami seluruh maksudnya, tetapi ia mengenal senyum tipis di bibir tuannya. Setiap kali Lin Xiao tersenyum seperti itu, selalu ada seseorang yang akan mendapat masalah.
"Hamba mengerti."
Keesokan paginya, acara memberi salam di halaman utama berlangsung seperti biasa.
Saat Lin Xiao tiba, ruang utama sudah dipenuhi orang. Nyonya Tua duduk di kursi kehormatan, wajahnya tampak lebih muram daripada biasanya, jelas karena ia sudah mendengar kabar tentang Selir Zhou. Di sampingnya, Nyonya Kedua tampak pucat sambil memutar tasbih di tangannya jauh lebih cepat dari biasanya.
Lin Xiao masuk, memberi salam, lalu duduk.
Setelah rangkaian formalitas selesai, Qingxing pun mengucapkan kalimat yang sudah diperintahkan.
"Nyonya berkata bahwa sup tonik dari Nyonya Tua kemarin sangat lezat. Setelah meminumnya, beliau bahkan ingin semangkuk lagi."
Kalimat itu jatuh ke dalam ruangan seperti batu yang dilempar ke permukaan air yang tenang.
Tatapan Nyonya Tua langsung tertuju kepada Lin Xiao, menyimpan sedikit penilaian yang nyaris tak terlihat. Tangan Nyonya Kedua yang memutar tasbih sempat berhenti sesaat, lalu bergerak semakin cepat. Beberapa nyonya dan menantu lain saling bertukar pandang dengan ekspresi yang berbeda-beda.
Nyonya Tua akhirnya berbicara.
"Itu sup ayam kampung yang direbus dengan dangshen. Aku melihat tubuhmu agak lemah, jadi kubuatkan untuk menambah tenaga dan darah."
"Setelah meminumnya, tubuh menantu terasa hangat dan jauh lebih nyaman." Lin Xiao tersenyum. "Masakan Nyonya Tua memang berbeda."
Saat mengucapkan itu, tatapannya sekilas melintas ke wajah Nyonya Kedua.
Wajah Nyonya Kedua tidak berubah, tetapi tasbih di tangannya berputar semakin cepat.
Lin Xiao menarik kembali pandangannya dan menyesap teh.
Satu kalimat hari ini sudah cukup.
Ia sedang memberitahu semua orang bahwa sup itu telah diminumnya dan tidak terjadi apa-apa.
Jika sup itu beracun, seharusnya ia sekarang terbaring seperti Selir Zhou.
Namun, ia duduk di sana dengan wajah cerah dan senyum tenang.
Ini bukan sekadar upaya membersihkan nama.
Ini adalah cara halus untuk memberi tahu Nyonya Tua:
Sup yang Anda kirim tidak beracun.
Kalau begitu, barang siapa yang mengirim sesuatu yang beracun, dialah yang patut dicurigai.
Setelah acara selesai, semua orang pun bubar. Lin Xiao menjadi orang terakhir yang berdiri.
Saat ia hendak keluar, Nyonya Tua memanggilnya.
"Qingyue."
Lin Xiao menoleh.
"Apakah Nyonya Tua masih memiliki perintah lain?"
Nyonya Tua menatapnya. Tatapannya kini jauh lebih lembut.
"Kalau kau menyukai sup itu, nanti akan kusuruh dapur mengirimkannya lagi setiap beberapa hari."
"Menantu berterima kasih kepada Nyonya Tua."
Nyonya Tua mengangguk dan tidak berkata apa-apa lagi.
Ketika Lin Xiao berjalan keluar dari halaman utama, cahaya pagi menyinari wajahnya dengan hangat. Dari kejauhan, ia melihat punggung Nyonya Kedua menghilang di tikungan taman, langkahnya jauh lebih cepat daripada biasanya.
Nyonya Kedua sedang takut.
Takut kalau Nyonya Tua mulai mencurigainya.
Takut kalau perkara sup tonik itu diselidiki.
Takut kalau rahasia peti itu terbongkar.
Dan ketika seseorang merasa takut, ia akan mulai membuat kesalahan.
Lin Xiao kembali ke halaman timur, menutup pintu, lalu mengeluarkan botol porselen kecil dari lengan bajunya dan meletakkannya di atas meja.
"Qingxing."
"Hamba di sini."
"Simpan ini baik-baik. Letakkan bersama kedua mangkuk obat itu."
Qingxing menerima botol tersebut dan menyimpannya dengan hati-hati di bagian terdalam lemari.
Lin Xiao duduk di dekat jendela, memandangi pohon begonia di halaman. Bunganya telah mekar penuh, kelopak merah muda pucat beterbangan tertiup angin, seperti salju yang jatuh tanpa suara.
Ia mengulurkan tangan, menangkap sehelai kelopak yang jatuh di ambang jendela, memandanginya sejenak, lalu meniupnya perlahan.
"Seluruh kediaman mulai takut padaku."
"Bagus."
Pohon begonia di luar jendela bergoyang tertiup angin, seolah sedang mengangguk, atau mungkin sedang tersenyum.
Angin musim semi bertiup masuk, membawa aroma bunga dan tanah.
Lin Xiao menyandarkan tubuhnya, memejamkan mata, dan membiarkan sudut bibirnya terangkat.
Permainan catur ini masih jauh dari selesai.
Namun setidaknya, sekarang ia bukan lagi bidak yang bisa dipindahkan sesuka hati.
Kini, giliran dirinya yang mulai melangkah.
*
Baru saja acara memberi salam pagi selesai, Qingxing bergegas kembali dari luar.
Begitu mendorong pintu Paviliun Timur, wajahnya tampak pucat. Dengan suara pelan, ia berkata, "Nyonya, keluarga Selir Zhou datang."
Tangan Lin Xiao yang sedang merapikan beberapa lembar kertas penuh petunjuk langsung terhenti.
"Keluarga Selir Zhou?"
"Benar." Qingxing mengangguk. "Ibu Selir Zhou datang, dan beliau membawa beberapa orang sekaligus. Mereka masuk ke Paviliun Barat dengan rombongan besar. Pelayan melihat dari kejauhan di taman. Wajah Nyonya Zhou terlihat sangat buruk, seolah sedang marah."
Lin Xiao meletakkan kertas-kertas itu lalu berjalan ke jendela.
Ibu Selir Zhou, Nyonya Besar keluarga Zhou.
Dalam ingatan Shen Qingyue, wanita itu meninggalkan kesan yang cukup mendalam. Usianya sekitar empat puluh tahun lebih, wajahnya mirip Selir Zhou. Keduanya sama-sama tampak lembut dan berbicara dengan suara pelan, tetapi cara wanita itu menangani urusan jauh lebih kejam daripada putrinya.
Fakta bahwa Selir Zhou bisa masuk ke Kediaman Marquis sebagai selir sepenuhnya berkat perencanaan ibunya di balik layar.
Kedatangannya pada saat seperti ini jelas bukan kebetulan.
"Bagaimana keadaan di Paviliun Barat sekarang?"
"Semua pelayan Selir Zhou sedang sibuk, keluar masuk menyajikan teh dan menuang air. Pihak Nyonya Kedua juga mengirim orang ke sana, katanya untuk membantu menjamu tamu."
"Nyonya Kedua juga pergi?"
"Iya. Pelayan melihat sendiri Nyonya Kedua membawa Cuiping ke Paviliun Barat."
Jari Lin Xiao mengetuk pelan bingkai jendela.
Ibu Selir Zhou datang, sementara Nyonya Kedua juga berada di Paviliun Barat. Kedua orang itu berkumpul tentu bukan sekadar untuk minum teh dan bernostalgia.
Mereka pasti sedang menyusun strategi atau merencanakan langkah berikutnya.
Dan nama Lin Xiao pasti muncul dalam percakapan mereka.
"Qingxing, pergilah ke halaman utama dan beri tahu Nyonya Tua tentang hal ini."
"Beri tahu Nyonya Tua?"
"Benar. Katakan saja keluarga Selir Zhou datang dan ada tamu di kediaman, jadi Nyonya Tua seharusnya mengetahuinya."
Meskipun tidak memahami apa gunanya, Qingxing tahu bahwa setiap kali majikannya menyuruhnya menyampaikan pesan kepada Nyonya Tua, pasti ada maksud di baliknya.
Ia menjawab singkat sebelum berlari keluar.
Sendirian di dalam kamar, Lin Xiao berdiri sejenak. Kemudian ia mengeluarkan surat itu dari laci dan membacanya sekali lagi.
"Obat Nyonya Tua bermasalah. Orang yang mengganti obat tidak berada di ruang obat."
Ia melipat surat itu dan menyimpannya kembali ke dalam lengan bajunya.
Bagi Lin Xiao, kedatangan keluarga Selir Zhou hari ini adalah sebuah pertanda.
Lawan sudah mulai memanggil bala bantuan.
Jika Selir Zhou dan Nyonya Kedua merasa situasi masih dapat mereka kendalikan, mereka tidak akan buru-buru mencari dukungan dari luar. Fakta bahwa mereka melakukannya sekarang berarti mereka mulai panik.
Dan orang yang panik sering kali memperlihatkan celah yang lebih besar.
Saat ia sedang berpikir, Qingxing kembali berlari masuk.
"Nyonya! Nyonya Tua bilang beliau sudah tahu, tetapi tidak mengatakan apa-apa lagi."
"Tidak mengatakan apa-apa?"