NovelToon NovelToon
TALI MERAH & TEH TARIK

TALI MERAH & TEH TARIK

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:32
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Suasana pagi di kafe lagi ramai-ramainya kayak biasa. Aroma kopi dan kue baru dipanggang menyebar ke mana-mana, suara gelas yang beradu dan obrolan pelanggan jadi musik latar yang biasa banget aku dengerin setiap hari.

Aku sibuk bolak-balik antara meja dan meja, bergerak lincah di lantai keramik yang licin tapi sudah hafal banget sama langkahku.

Hari ini aku pakai setelan baju kerja yang rapi dan modern kemeja putih dipasangkan celana bahan hitam ramping yang bikin postur tinggiku 175 cm kelihatan makin jangkung dan tegap, kulitku yang sawo matang bersih kelihatan cerah kena cahaya lampu, rambutku kusir rapi ke belakang biar nggak mengganggu kerjaan.

Jam menunjukkan pukul sebelas siang, dan dari tadi mata aku sering banget melirik ke arah pintu. Seperti biasa, nggak lama kemudian pintu kafe terbuka, dan sosok tinggi besar langsung masuk ke dalam. Arjun berdiri gagah di ambang pintu,bikin dia selalu kelihatan beda dari orang lain.

Hari ini dia pakai kemeja hitam polos lengan panjang dikancing rapi sampai leher, celana bahan warna abu-abu gelap, gayanya modern, sopan, tapi tetap ada aura khas India yang kelihatan berwibawa banget.

Wajahnya yang ganteng khas keturunan India-mata tajam, hidung mancung, rahang tegas, kulit sawo matang bersih-langsung disapa senyum lebar pas matanya ketemu sama mataku.

Dia duduk di meja langganannya, meja nomor tujuh, dan aku langsung menghampiri buat ambil pesanan kayak biasa.

"Siang, Aira. Ramai banget ya hari ini?" sapanya ramah, suaranya rendah tapi jelas kedengeran di tengah keramaian.

"Siang, Jun. Iya nih, biasa banget pas hari kerja gini. Kamu pesen teh tarik ya kayak biasa?" jawabku sambil nyiapin alat tulis.

Arjun malah tersenyum misterius, terus ngelirik ke arah meja kasir di mana Bosku lagi duduk beres-beres berkas.

"Sebenarnya aku datang bukan cuma buat minum doang hari ini. Aku denger kabar kalau hari ini kafenya cuma buka sampai jam dua belas siang aja ya? Bener nggak?" tanyanya penasaran.

Aira mengerutkan kening bingung.

"Lho? Kok kamu tau? Emang bener sih, tadi pagi Bos baru ngasih tau di grup WA. Katanya ada urusan keluarga mendadak di luar kota, jadi dia mutusin buat nutup lebih awal aja biar adil sama semuanya. Kok kamu tau sih?"

Arjun ketawa kecil, tangannya menggaruk belakang lehernya yang kelihatan santai banget.

"Kebetulan tadi aku ketemu dia di depan pas aku mau masuk. Dia yang bilang sama aku. Nah... karena kamu libur lebih awal hari ini, aku ada rencana nih. Mau nggak abis kerja nanti aku ajak ke tempat aku? Ke toko rempah sama kain aku di belakang sana. Ada sesuatu yang pengen aku tunjukin, atau lebih tepatnya... pengen aku kasih ke kamu."

Mata aku langsung berbinar penasaran. Ke tokonya? Biasanya aku cuma denger cerita doang, belum pernah diajak masuk lebih dalem lagi. Rasanya makin pengen tau lagi apa aja isi tempat usahanya itu.

"Boleh banget dong! Aku penasaran banget sebenernya sama tokomu.waktu pertama kali ke tokomu kan aku belum sempet liat semuanya,Katanya banyak barang unik ya? Oke deh, nanti pas tutup aku langsung nyusul ya," jawabku semangat.

Arjun mengangguk puas, terus minum teh tariknya sebentar sambil nemenin aku kerja sampai jam operasional habis.

Tepat jam dua belas, pintu kafe dikunci rapat. Aku udah ganti baju kerja pakai baju santai tapi tetap modis kemeja luar warna krem dipakai terbuka di atas kaos dalaman putih, celana jeans biru langsing, sama sepatu hak tinggi 7 cm yang tetap bikin aku berdiri sejajar sama Arjun pas kami jalan berdua.

Kami jalan berdua menyusuri trotoar, nggak sampai lima menit langsung sampai di depan sebuah bangunan toko yang lumayan besar. Papan namanya tertulis tulisan aksara India campur bahasa Indonesia, kelihatan tua tapi terawat banget.

Begitu pintu kayu besar itu dibuka, aroma khas langsung menyapa hidungku: campuran wangi rempah-rempah, kayu manis, cengkeh, kapulaga, sama wangi bunga yang disusun di sudut-sudut ruangan.

Di sebelah kanan dan kiri, rak-rak kayu tinggi berjejer rapi berisi toples-toples kaca penuh bumbu warna-warni yang indah. Tapi yang bikin mata aku langsung terpaku itu ada di bagian tengah dan belakang ruangan.

Di sana, gantungan-gantungan panjang penuh kain berwarna-warni berjajar rapi. Warnanya cerah, berkilauan, motifnya rumit dan indah banget.

Di dekat situ ada seorang wanita paruh baya, kulitnya sawo matang, rambutnya disanggul rapi, pakai baju adat India sederhana tapi rapi. Dia tersenyum ramah pas lihat Arjun datang.

"Itu Bibi Meera, karyawan aku yang udah lama banget kerja di sini. Dia yang urus bagian kain-kain ini," bisik Arjun menjelaskan.

"Wah... indah banget...," bisikku takjub, langkahku pelan-pelan mendekat buat nyentuh kain-kain itu. Teksturnya halus, lembut, tapi padat dan berat, kelihatan mahal dan berkelas banget.

Arjun berdiri di sebelahku, tangannya masuk ke saku celana, menatap ekspresi wajahku dengan senyum puas.

"Ini nih, harta karun aku selain rempah-rempah. Di budaya kami, kain itu bukan cuma buat nutup badan doang lho, Aira. Kain itu identitas, itu seni, itu kebanggaan. Dan yang paling spesial... ini dia," kata Arjun sambil melangkah maju, mengambil selembar kain panjang yang tergantung di bagian paling tengah, dilindungi penutup kain lain.

Pas dia buka penutupnya, aku sampai ternganga. Kain itu warnanya merah marun indah disertai sulaman benang emas yang rumit banget membentuk motif bunga dan pola khas India. Kilauannya lembut, bahannya sutra asli yang rasanya pasti dingin dan nyaman banget di kulit. Panjangnya luar biasa, lebarnya pun sama.

"Ini namanya Sare," jelas Arjun pelan, matanya menatap kain itu penuh kekaguman.

"Baju tradisional khas wanita India yang paling terkenal. Kelihatannya cuma kain panjang biasa aja, tapi cara pakainya itu seni sendiri. Dilipat, disusun, dikaitkan, dililitkan sampai jadi baju yang anggun banget, bikin siapa pun yang pakai kelihatan berwibawa, cantik, dan sopan banget."

Dia mengangkat kain itu sedikit, menatapku lekat-lekat.

"Aira... dari kemarin aku perhatiin, kamu itu postur tubuhnya pas banget buat pakai baju ini. Tinggi, tegap, bahunya lebar tapi bentuk badannya indah banget. Kulitmu yang sawo matang bersih ini... bakal kelihatan makin cantik, makin berkilau kalau kena warna-warna cerah atau gelap indah kayak gini. Serius deh, aku udah bayangin dari kemarin kalau kamu pakai ini pasti luar biasa cantiknya."

Wajahku rasanya agak panas dibilang begitu.

"Ah, masa sih? Kan ini baju adat kamu, aku orang biasa nanti nggak pas malah jelek. Lagian... ini kan cuma kain panjang doang, Jun. Gimana caranya pakainya? Aku nggak ngerti sama sekali, nanti malah kusut atau salah lipat."

Arjun tertawa kecil, lalu menoleh ke arah Bibi Meera yang masih tersenyum melihat kami.

"Tenang aja, aku udah mikirin itu. Emang susah sih kalau belum biasa, banyak teknik melipat dan melilitnya. Makanya tadi aku panggil Bibi Meera siap-siap. Beliau paling jago urus begini, dari muda udah biasa bantu-bantu keluarga kami siapin baju adat. Nanti beliau yang bantu kamu pakai, sampai rapi, sampai pas, sampai kelihatan indah banget."

Dia mendekat sedikit, suaranya makin lembut dan membujuk.

"Ayo deh, mau nggak coba? Aku kasih ini buat kamu. Anggap aja tanda terima kasih karena udah mau jadi teman baik aku, udah mau ngerti budaya aku, udah mau dengerin cerita kakek aku. Nanti Bibi Meera yang bantu, kamu tinggal ikutin aja arahannya. Aku yakin banget bakal kelihatan luar biasa."

Aku memegang ujung kain itu pelan, rasanya halus dan dingin di jari. Rasa penasaran dan rasa ingin tau akhirnya ngalahin rasa maluku. Lagipula, ada Bibi Meera yang bakal bantuin, jadi nggak perlu khawatir salah pakai.

"Serius nih dikasih? Mahal banget pasti kain ini, Jun. Aku jadi nggak enak," kataku ragu-ragu.

"Udah nggak usah mikir harga. Di mata aku, nilai kain ini sama aja sama nilai persahabatan kita. Sama-sama indah, sama-sama berharga, sama-sama harus dijaga baik-baik. Ayo coba ya? Aku pengen banget lihat," bujuknya lagi dengan tatapan penuh harap.

Akhirnya aku mengangguk pelan, senyumku mengembang.

"Ya udah... oke deh. Aku coba. Tapi kalau aneh, jangan diketawain ya!"

Arjun tertawa renyah, suaranya bergema di ruangan toko yang luas itu.

"Pasti nggak bakal aneh. Justru aku yakin, ini bakal jadi pemandangan paling indah yang bakal aku lihat hari ini. Bibi, tolong ya bantu Aira pakainya sampai pas dan nyaman."

Bibi Meera mendekat, tersenyum ramah sambil mengulurkan tangan mengambil kain itu.

"Siap, Tuan Muda Arjun. Tenang saja Nona, nanti Bibi atur semuanya. Dijamin pas di badanmu yang tinggi dan tegap ini, bakal kelihatan cantik luar biasa."

Dia menunjuk pintu kecil di pojok ruangan yang jadi ruang ganti.

"Ayo Nona, kita masuk ke dalam ya. Di dalam ada tempat duduk, ada jarum peniti, semuanya lengkap. Santai aja, nanti Bibi yang kerjain, kamu tinggal diam aja."

Aku mengangguk dan mengikuti langkah Bibi Meera masuk ke ruangan kecil itu, sementara Arjun tetap menunggu di luar dengan senyum penuh harap.

Di dalam sana, Bibi Meera mulai membentangkan kain indah itu, menjelaskan pelan-pelan setiap langkahnya, mulai dari cara melilitkan di pinggang, cara melipat bagian depannya biar rapi, sampai cara menyampirkan kain panjang itu ke bahu dengan gaya yang anggun.

Tangan Bibi Meera cekatan banget, gerakannya terlatih dan lembut. Di luar dugaan, meski cuma kain panjang, ternyata ada seni dan ketelitian yang luar biasa di setiap lipatannya.

Aku cuma diam, nurut, dan sesekali menahan napas karena kagum melihat kain biasa berubah jadi baju yang bentuknya indah banget perlahan-lahan.

Di luar pintu, Arjun berdiri diam menatap pintu tertutup itu. Dia tersenyum puas banget. Di matanya, ada rasa bangga dan rasa senang karena bisa berbagi keindahan budayanya sama orang yang dia anggap teman paling berharga belakangan ini.

Dan rasanya masih sama persis kayak biasanya: penasaran, kagum, dan senang. Nggak ada rasa cinta, nggak ada rasa yang bikin bingung. Cuma rasa bahagia karena bisa terus-menerus belajar dan menerima hal-hal indah dari teman sebaik Arjun.

Tunggu sebentar lagi... sebentar lagi pintu bakal dibuka, dan Arjun bakal lihat Aira-teman baiknya-berdiri di sana mempesona, dibalut keindahan kain sari khas India yang penuh makna dan kehangatan persahabatan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!