Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Yang Sudah Tidak Bisa Dibedakan
Tok.
Tok.
Tok.
Suara itu sekarang tidak punya arah.
Bukan dari lantai.
Bukan dari dinding.
Bukan dari luar.
Namun—
dari mana-mana.
Dan yang paling buruk—
dari dalam.
Kinasih membeku di tengah ruang tamu.
Matanya terbuka.
Namun fokusnya… hilang.
Karena—
ia tidak lagi tahu harus melihat ke mana.
Setiap tempat terasa sama.
Setiap sudut terasa hidup.
Dan setiap napas—
terasa… diawasi.
“Aku dengar…” bisiknya pelan.
Suara itu langsung menjawab.
“Tentu…”
“…karena sekarang kamu bagian dari kami.”
Kinasih menutup telinganya.
Namun—
suara itu tetap ada.
Karena—
tidak ada jarak lagi.
Tidak ada pemisah.
Tidak ada batas.
Ia mencoba berdiri.
Kakinya goyah.
Namun—
ia berhasil.
Satu langkah.
Dua langkah.
Ia berjalan ke tengah ruangan.
Dan—
berhenti.
Karena—
lantai di bawahnya…
tidak lagi rata.
Sangat halus.
Namun terasa.
Seperti—
bernapas.
Naik.
Turun.
Naik.
Turun.
DUM…
DUM…
DUM…
Bukan jantung.
Namun—
ritme.
Kinasih menatap ke bawah.
Dan—
ia melihatnya.
Lubang-lubang itu…
tidak lagi kecil.
Beberapa sudah membesar.
Seukuran koin.
Seukuran telapak tangan.
Dan—
di dalamnya—
gelap.
Namun—
tidak kosong.
Ada gerakan.
Halus.
Cepat.
Menghindar saat dilihat.
“Kamu lihat perkembangan kami…”
bisik suara itu.
“…cepat, kan?”
Kinasih mundur.
Namun—
tidak ada tempat aman.
Karena—
di setiap langkah—
ada lubang lain.
Muncul.
Pelan.
Tanpa suara.
“Berhenti…”
bisiknya.
Namun—
suara itu hanya tertawa.
“Kamu masih mikir ini bisa dihentikan?”
Sunyi.
Lalu—
suara itu berubah.
Lebih dekat.
Lebih dalam.
Lebih… personal.
“Coba lihat tangan kamu.”
Kinasih membeku.
Tidak mau.
Namun—
tubuhnya bergerak.
Sendiri.
Mengangkat tangan.
Dan—
ia melihatnya.
Kulitnya…
tidak utuh.
Ada titik-titik kecil.
Hitam.
Seperti lubang.
Sangat kecil.
Namun—
banyak.
Tersebar.
Di jari.
Di telapak.
Dan—
bergerak.
Kinasih menjerit.
Ia menggosok tangannya.
Kuat.
Namun—
tidak hilang.
Karena—
itu bukan di permukaan.
Itu—
di dalam.
“Kamu bukan lagi wadah…”
bisik suara itu.
“…kamu sumber.”
Kalimat itu—
menghantam lebih keras dari semuanya.
Karena—
ia mengerti.
Ini bukan lagi sesuatu yang menempel.
Ini—
tumbuh dari dirinya.
Dari dalam.
Dari tubuhnya sendiri.
“Tidak…”
Air matanya jatuh.
“Ini bukan aku…”
Namun—
jawaban itu datang.
Tenang.
Dingin.
Namun—
pasti.
“Ini kamu sekarang.”
Sekejap—
ia merasakan sesuatu di wajahnya.
Gatal.
Halus.
Namun—
menyebar.
Ia menyentuh pipinya.
Dan—
merasakannya.
Titik kecil.
Lubang kecil.
Sangat kecil.
Namun—
terasa.
Kinasih langsung berlari.
Menuju cermin.
Ia hampir terpeleset.
Namun—
tetap berdiri.
Dan saat ia melihat—
ia membeku.
Wajahnya masih sama.
Namun—
tidak sepenuhnya.
Ada bayangan.
Tipis.
Di bawah kulit.
Seperti sesuatu bergerak.
Mengikuti.
Menggeliat.
“Cantik…”
bisik suara itu.
“…sekarang kamu benar-benar jadi kami.”
Kinasih menggeleng.
Keras.
“DIAM!!!”
Ia memukul cermin itu.
BRAK!
Retak.
Namun—
tidak pecah.
Dan dari retakan itu—
tidak ada bayangan lain.
Tidak ada sosok.
Hanya—
dirinya.
Namun—
itu lebih buruk.
Karena—
sekarang ia tahu.
Tidak ada lagi yang di luar.
Semua…
sudah di dalam.
Di luar rumah—
jalan mulai ramai.
Orang-orang beraktivitas.
Seperti biasa.
Namun—
tidak sepenuhnya.
Seorang anak berhenti.
Di trotoar.
Ia melihat ke bawah.
Lubang kecil.
Di antara retakan aspal.
Ia berjongkok.
Mendekat.
“Ini apa…”
Ia menyentuhnya.
Pelan.
Dan—
sesuatu terjadi.
Bukan ledakan.
Bukan serangan.
Namun—
penyerapan.
Cepat.
Halus.
Masuk.
Anak itu diam.
Beberapa detik.
Lalu—
ia berdiri.
Menatap kosong.
Dan—
tersenyum.
Tipis.
“Sekarang aku juga lihat…”
bisiknya.
Lalu—
ia berjalan lagi.
Seperti tidak terjadi apa-apa.
Namun—
sesuatu sudah berubah.
Kinasih terjatuh.
Di depan cermin.
Tubuhnya lemas.
Napasnya berat.
Namun—
ia masih sadar.
Dan itu—
yang membuat semuanya lebih menyakitkan.
Karena—
ia tidak bisa lari.
Tidak bisa pingsan.
Tidak bisa mati.
Ia harus—
merasakan.
Semua.
“Tolong…”
bisiknya.
Namun—
tidak ada yang menjawab.
Bima sudah tidak ada.
Yang besar sudah ditutup.
Yang lain sudah dikunci.
Yang tersisa—
hanya ini.
Dan ini—
tidak peduli.
“Kenapa kamu…”
Air matanya jatuh.
“…kenapa kamu nggak berhenti…”
Sunyi.
Lalu—
jawaban itu datang.
Lebih lembut dari sebelumnya.
Namun—
lebih menyeramkan.
“…karena kamu tidak berhenti melihat.”
Kinasih membeku.
“Melihat…”
Suara itu melanjutkan.
“Semua yang kamu lihat…”
“…jadi pintu.”
Sekejap—
ingatan itu kembali.
Cermin.
Lubang.
Bayangan.
Air.
Semua.
Setiap kali ia melihat—
ia membuka.
Setiap kali ia sadar—
ia memberi jalan.
Dan sekarang—
ia tidak bisa berhenti melihat.
Karena—
ia tidak bisa menutup matanya.
Setiap kali ia mencoba—
ia masih merasakan.
Masih tahu.
Masih sadar.
Dan itu—
cukup.
“Kamu sempurna…”
bisik suara itu.
“…kamu tidak bisa mengabaikan.”
Kinasih menutup mata.
Keras.
Namun—
tetap.
Ia masih merasakan lubang di tangannya.
Masih merasakan gerakan di kulitnya.
Masih mendengar denyut.
Masih tahu—
semuanya ada.
“Aku nggak mau…”
Namun—
suara itu menjawab.
“Kamu tidak perlu mau…”
“…kamu hanya perlu ada.”
Dan itu—
yang paling mengerikan.
Karena—
ia tidak punya pilihan lagi.
Ia tidak perlu melakukan apa-apa.
Ia hanya perlu…
hidup.
Dan selama ia hidup—
ini akan terus menyebar.
Melalui dirinya.
Melalui yang ia lihat.
Melalui yang ia sentuh.
Melalui yang ia sadari.
Dan dunia—
akan berubah.
Pelan.
Tanpa suara.
Tanpa tanda.
Sampai—
semuanya sudah terlambat.
Kinasih membuka mata.
Pelan.
Dan untuk pertama kalinya—
ia tidak mencoba melawan.
Ia hanya—
melihat.
Lantai.
Dinding.
Tangannya.
Udara.
Dan—
ia melihat semuanya.
Lubang-lubang kecil.
Di mana-mana.
Di setiap permukaan.
Di setiap celah.
Bahkan—
di udara.
Titik-titik kecil.
Mengambang.
Bergerak.
Menunggu.
Dan saat ia melihat—
mereka bergerak.
Mendekat.
Lebih cepat.
Lebih hidup.
“Ya…”
bisik suara itu.
“…lihat kami.”
Kinasih tersenyum.
Pelan.
Namun—
bukan karena ia senang.
Bukan karena ia menerima.
Namun—
karena ia akhirnya mengerti.
Ia tidak bisa menang.
Ia tidak bisa lari.
Ia tidak bisa berhenti.
Karena—
ia adalah bagian dari ini sekarang.
Dan sesuatu yang sudah jadi bagian—
tidak bisa dipisahkan.
Tok.
Satu ketukan.
Dari dalam dirinya.
Dan—
dibalas.
Tok.
Dari lantai.
Dan—
lagi.
Tok.
Dari luar.
Dan—
semuanya menyatu.
Menjadi satu ritme.
Satu suara.
Satu… kehidupan.
Dan Kinasih—
duduk di tengahnya.
Diam.
Menjadi pusat.
Menjadi sumber.
Dan dunia—
perlahan—
mulai berubah.
Tanpa ada yang sadar.
Tanpa ada yang bisa menghentikan.
Karena—
yang menyebar sekarang—
tidak terlihat.
Tidak terdengar.
Tidak terasa.
Sampai…
semuanya sudah menjadi sama.