NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vania Muncul dengan Senyum Paling Manis

Tiga hari berlalu sejak hari pertamaku masuk sekolah, dan akhirnya dia datang juga.

Seperti yang masih tergambar jelas dalam ingatanku: rambutnya dipotong sebahu dengan poni menyamping yang rapi, mengenakan seragam putih-biru yang masih terlihat licin dan baru—ciri khas pakaian yang belum pernah dicuci berulang kali. Ia berjalan masuk ke dalam kelas 1C ditemani oleh Bu Dewi, wali kelas kami.

“Anak-anak, perhatikan sebentar,” sapa Bu Dewi dengan suara lembut namun tegas. “Ini teman baru kalian. Namanya Vania Maharani. Ia pindahan dari Bandung. Silakan, Vania, perkenalkan dirimu.”

Vania melangkah maju ke depan kelas dengan langkah yang percaya diri namun tetap terlihat sopan. Pandangannya menyapu seluruh ruangan—bukan dengan tatapan sombong, melainkan penuh rasa ingin tahu yang halus. Saat matanya akhirnya bertemu langsung dengan mataku, aku melihat sesuatu yang sangat akrab.

Sebuah senyum.

Senyum manis yang persis sama dengan yang ia tunjukkan padaku di kehidupan sebelumnya. Senyum yang terlihat tulus dan menawan, namun di baliknya tersimpan niat yang busuk.

“Halo semuanya,” sapanya dengan suara yang lembut, halus, dan terdengar menyenangkan didengar. “Namaku Vania. Aku suka membaca, mencoba resep masakan baru, dan tentunya ingin memiliki banyak teman. Mohon bantuannya ya, agar aku bisa cepat beradaptasi di sini.”

Beberapa anak laki-laki di barisan belakang terdengar bersiul pelan sebagai tanda kagum, sementara teman-teman perempuan lain mulai berbisik-bisik satu sama lain, memuji penampilan dan sikapnya yang terlihat menyenangkan.

Kemudian, Bu Dewi menunjuk ke arah bangku kosong yang persis berada di sampingku. “Vania, kamu bisa duduk di sebelah Nayla dulu ya. Nayla anaknya baik dan ramah, pasti dia bisa membantumu memahami pelajaran dan suasana sekolah ini.”

Aku hanya bisa menahan senyum tipis. Sungguh ironi yang luar biasa.

Vania berjalan mendekat sambil menenteng tas ransel berwarna merah muda pucat yang terlihat modis. Ia berhenti tepat di sampingku, lalu kembali melemparkan senyum manisnya. Aku membalasnya dengan senyum yang sama manisnya, seolah aku hanyalah gadis biasa yang senang mendapat teman baru.

“Hai, Nayla,” sapanya begitu ia duduk di bangkunya. “Kita akan sekelas mulai sekarang ya. Semoga kita bisa akrab dan berteman baik.”

Sasha, yang duduk di sebelah kiriku, menyenggol lenganku pelan dan berbisik, “Wah, teman barunya cantik sekali ya.”

“Iya, sangat cantik,” sahutku pelan.

Namun di dalam hatiku, aku berbisik dingin: Sayangnya, kecantikannya itu menyimpan bisa yang mematikan.

---

Satu Minggu Kemudian

Waktu berlalu dengan cepat, dan dalam waktu seminggu saja, Vania berhasil menjadi pusat perhatian di sekolah. Hampir semua orang menyukainya. Para guru menganggapnya siswa yang rajin, sopan, dan pandai bergaul. Teman-teman sekelas menyukainya karena ia selalu ramah, suka menolong, dan pandai mencairkan suasana. Bahkan petugas keamanan sekolah pun mengenalnya karena ia selalu menyapa dengan senyum lebar setiap kali datang dan pulang.

Aku membiarkannya berperan seperti itu. Aku sengaja bersikap biasa saja dan tidak terburu-buru. Aku sedang memainkan strategi jangka panjang.

Karena aku tahu persis bagaimana sifat aslinya. Di kehidupan sebelumnya, Vania tidak langsung menunjukkan taringnya di awal pertemuan. Ia butuh waktu untuk mengamati, butuh waktu untuk meraih kepercayaan orang lain, dan butuh waktu untuk memastikan rencananya berjalan sempurna. Dan saat semua orang sudah lengah dan percaya sepenuhnya padanya, barulah ia akan menyerang—menusuk dari belakang dengan senyum yang masih terukir manis di bibirnya.

Namun kali ini, aku sudah memegang peta permainannya. Aku tidak akan membiarkan sejarah terulang persis sama.

“Sasha,” panggilku sambil menyisir rambutku yang sedikit berantakan setelah selesai mengikuti pelajaran olahraga. “Kamu ingat cowok yang sering terlihat sendiri, kelas 1A, yang selalu membawa buku bersampul biru itu?”

Sasha mengerutkan kening sejenak, mencoba mengingat. “Yang tubuhnya tinggi, wajahnya terlihat dingin dan jarang tersenyum, serta lebih suka menyendiri itu?”

“Iya, dia.”

“Oh, aku tahu siapa yang kamu maksud. Kenapa? Apakah kamu menyukainya?” tanya Sasha sambil menyeringai menggoda.

“Tidak sama sekali!” jawabku agak tergesa, membuatku sedikit terkejut dengan reaksiku sendiri. “Aku hanya merasa penasaran saja. Dia terlihat… agak aneh dan tertutup.”

“Semua anak laki-laki memang terkadang terlihat aneh,” jawab Sasha santai sambil membereskan alat tulisnya. “Tapi kalau yang kamu tanyai itu namanya Rasya. Konon katanya dia murid pindahan dari Surabaya. Orangnya sangat pendiam dan jarang berbicara. Bahkan teman sekelasnya saja merasa sedikit segan dan takut untuk mendekatinya.”

“Kenapa sampai merasa takut?”

“Entahlah, sulit untuk dijelaskan,” jawab Sasha sambil menggaruk kepalanya. “Kalau dia menatap orang, rasanya aneh saja. Seolah-olah dia sedang membaca isi pikiran orang itu, atau seolah dia sudah mengetahui rahasia apa yang disimpan orang tersebut.”

Aku tersenyum tipis dengan perasaan yang campur aduk. Kalau saja Sasha tahu betapa benarnya perasaannya itu.

Belum sempat aku membuka mulut untuk menjawab, tiba-tiba seseorang mendekat dari arah belakang. Bau wangi parfum beraroma vanila yang manis dan khas langsung tercium oleh hidungku.

“Nayla! Kamu pasti berkeringat banyak sekali setelah berlari mengelilingi lapangan, kan? Ayo minum dulu,” sapa Vania yang tiba-tiba muncul sambil membawa dua botol air mineral yang masih dingin. Ia menyodorkan satu botol itu kepadaku. “Pasti lelah sekali ya.”

“Terima kasih, Van,” jawabku sambil menerima botol itu. Namun, aku tidak langsung membukanya. Aku hanya memegangnya di atas meja.

Vania duduk di bangku kosong di sampingku. Ia memeluk kedua lututnya dengan wajah yang tampak ceria dan riang. “Seru ya pelajaran olahraganya. Di sekolah lamaku, lapangannya sangat sempit dan tidak seluas ini. Di sini rasanya nyaman sekali.”

“Senang mendengarnya kalau kamu merasa betah di sini,” sahutku singkat.

“Iya, apalagi karena orang-orang di sini sangat baik. Seperti kamu misalnya. Kamu adalah orang pertama yang menyapa dan berbicara denganku sejak aku datang,” ucapnya sambil menatapku dengan tatapan yang terlihat tulus. “Terima kasih ya sudah mau berteman denganku.”

“Sama-sama,” jawabku tenang.

“Eh, tapi ada satu hal yang membuatku penasaran,” lanjutnya sambil tersenyum sedikit memelas. “Kenapa ya akhir-akhir ini kamu jarang sekali mengajakku pergi bersama atau sekadar makan di kantin? Aku kan masih anak baru, jadi kadang merasa canggung kalau harus memulai duluan.”

Aku membalas senyumannya dengan senyum yang sama tenangnya. “Maaf ya kalau terlihat begitu. Memang akhir-akhir ini aku agak sibuk dengan beberapa urusan di rumah. Tapi jangan khawatir, minggu depan sepertinya aku punya waktu luang. Kita bisa pergi ke mal, atau bahkan kamu boleh berkunjung ke rumahku jika mau.”

Ke rumahku. Tempat yang di kehidupan sebelumnya sering dikunjungi Vania. Tempat di mana ia pernah menyimpan buku harian yang berisi rincian kebencian dan rencana jahatnya terhadapku.

“Benarkah? Asyik sekali! Terima kasih banyak ya, Nayla!” seru Vania dengan gembira, lalu secara tiba-tiba memelukku erat.

Sasha yang melihat kejadian itu hanya menatap dengan ekspresi yang agak aneh—bukan rasa cemburu, melainkan lebih seperti kecurigaan yang samar.

Dan aku tahu, Sasha memiliki insting yang lebih tajam dan pandangan yang lebih jujur daripada yang disadari orang lain.

---

Malam Harinya

Jam dinding di kamarku menunjukkan pukul sembilan malam. Aku berbaring santai di atas tempat tidur, memandangi lampu tidur berbentuk bintang yang menerangi sisi meja kecil di sampingku. Tiba-tiba, ponsel pemberian Ayah untuk hadiah ulang tahunku yang keempat belas bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal dan tidak tersimpan di daftar kontakku.

Aku membukanya. Isinya singkat namun membuat detak jantungku berubah.

“Hati-hati dengan Vania.”

Aku langsung duduk tegak di atas kasur. Dengan cepat aku mengetikkan balasan.

“Aku sudah mengetahuinya.”

Tidak butuh waktu lama, pesan balasan pun datang.

“Kamu merasa sudah tahu, tapi kenyataannya belum tentu kamu mengetahui semuanya.”

Aku mengerutkan dahi, merasa penasaran sekaligus kesal.

“Siapa ini?”

Hanya beberapa detik kemudian, nama pengirim terlihat jelas di layar.

“Rasya.”

Jantungku berdegup kencang. Bagaimana ia bisa mendapatkan nomor ponselku? Dan mengapa ia mau repot-repot mengirim pesan peringatan seperti ini?

“Kenapa kamu peduli? Di kehidupan sebelumnya kita bahkan tidak saling mengenal dan tidak pernah berinteraksi sama sekali.”

Di layar muncul tanda tiga titik, menandakan bahwa lawan bicara sedang mengetik. Tanda itu muncul, hilang sebentar, lalu muncul kembali. Akhirnya pesan itu terkirim.

“Karena di kehidupan sebelumnya, aku datang terlambat. Kali ini aku tidak akan membiarkannya terulang.”

Aku menatap layar ponsel dengan pandangan kosong, mencoba memahami makna di balik kalimatnya. Tangan kananku mulai terasa lembab oleh keringat dingin.

“Apa maksudmu?”

“Nanti kamu akan mengerti. Yang paling penting saat ini: jangan pernah memakan atau meminum apa pun yang diberikan oleh Vania. Waspadalah selalu.”

Pesan itu berhenti sampai di situ. Aku segera menekan tombol panggilan untuk menelpon balik nomor tersebut, namun suara operator memberitahukan bahwa nomor itu sedang tidak aktif atau tidak dapat dihubungi.

Sial. Sungguh sial.

Aku melempar ponsel itu ke atas kasur dengan kasar, lalu memijat pelipisku yang mulai terasa pening.

Ia tahu. Rasya tahu tentang kemungkinan adanya bahaya yang lebih besar? Di kehidupan sebelumnya, Vania tidak pernah meracuniku—setahuku, ia hanya memfitnah namaku, merusak reputasiku, lalu bersekongkol dengan Andre untuk menjatuhkanku hingga masuk penjara.

Tapi racun? Apakah ini hal yang tidak aku ketahui sebelumnya?

Apakah ada bagian dari kejadian di masa lalu yang luput dari ingatanku?

Aku meremas kuat kain seprai di tanganku. Apakah kematianku dulu bukan hanya sekadar kecelakaan mobil biasa? Apakah kecelakaan itu sudah direncanakan jauh-jauh hari? Apakah mobilku sengaja dirusak?

Dan Rasya… Mengapa ia mengetahui hal-hal yang bahkan tidak aku sadari?

Aku menatap langit-langit kamar yang redup, berusaha keras mengingat-ingat kembali bayangan sosoknya di kehidupan sebelumnya. Sosok yang berdiri di pinggir jalan saat hujan deras, basah kuyup, memegang sebuah amplop cokelat, dan berteriak dengan suara putus asa:

“NAYLA! JANGAN PERCAYA PADA ANDRE!”

Dan sekarang, ia mengirim pesan peringatan yang lebih serius lagi.

“Rasya…” bisikku pelan di tengah kegelapan kamar. “Siapa sebenarnya dirimu?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!