Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diblokir
Di dalam kamar yang temaram, Ciara masih sesenggukan di atas kasur kapuk. Xarena memeluk erat putri kecilnya itu, mengusap punggungnya dengan gerakan berulang yang berusaha menenangkan, meski tangannya sendiri masih agak bergetar.
"Ssh... udah, Sayang. Nggak apa-apa, Om-om galak tadi udah pergi kok. Ada Ibu di sini," bisik Xarena, mengecup kening Ciara yang berkeringat.
Budhe Sum masuk membawa segelas air putih hangat, lalu duduk di tepi kasur. Wajah sepuh itu masih menyiratkan kecemasan yang mendalam. "Minum dulu, Nduk. Biar kamunya agak tenang."
Xarena menerima gelas itu, meminumnya sedikit, lalu menaruhnya di atas nakas kayu. "Matur nuwun, Budhe. Maaf ya, gara-gara masalah aku, rumah Budhe jadi disatroni orang-orang kayak gitu."
"Hush, ngomong apa kamu ini," potong Budhe Sum sambil mengelus lengan Xarena. "Budhe nggak mikirin rumah ini. Sing tak pikirke itu keselamatan kamu sama Ciara. Tapi, Nduk... apa bener si Alan itu terlibat urusan kriminal? Kok ngeri banget sampai bawa-bawa bos segala?"
Xarena tersenyum getir, matanya menatap kosong ke arah kelambu tempat tidur. "Dulu waktu di Jakarta, temennya pernah bilang ke aku, Budhe. Alan itu emang egois. Dia bakal halalkan segala cara buat dapetin apa yang dia mau. Sekarang, setelah dia bikin hidupnya sendiri berantakan di sana, dia lari ke sini. Dan jahatnya, dia sengaja umpetin masalahnya di balik punggung kita."
"Ya Gusti... kok tegel temen (kok tega sekali)," gumam Budhe Sum sambil mengelus dada. "Padahal pas semalem dia datang, tampangnya kayak orang melas yang bener-bener nyesel."
"Itu cuma akting, Budhe. Alan itu pinter banget kalau soal manipulasi orang," sahut Xarena, suaranya mendadak berubah datar dan dingin. "Dia sengaja pasang muka kasihan biar kita luluh. Terus begitu musuhnya nyariin, dia bisa berlagak jadi pahlawan yang nyelametin aku sama Ciara. Licik banget, kan?"
Pencarian di Sudut Kota
Sementara itu, di sebuah warung kopi pinggir jalan dekat Alun-Alun Purworejo, Alan baru saja menyelesaikan sarapan sederhananya. Sepiring nasi rames dan segelas teh hangat buatan warga lokal terbukti cukup ramah untuk dompetnya yang kian menipis.
"Pak, mau tanya," kata Alan sambil menyodorkan uang pas kepada pemilik warung, seorang pria paruh baya berkaus oblong. "Kalau di sekitaran sini, ada nggak ya info kontrakan atau kos-kosan kecil yang bisa bulanan? Yang penting bersih dan harganya agak miring, Pak."
Penjual kopi itu mengerutkan dahi sejenak, mengingat-ingat. "Wah, kalau kos-kosan bulanan biasanya banyak di deket daerah sekolahan atau kantor, Mas. Tapi kalau kontrakan rumah kecil, coba Masnya jalan agak ke barat, deket pertigaan sana. Ada rumahnya Pak Joko yang depannya ada pohon mangga gede. Kayaknya paviliun samping rumahnya kosong itu."
"Oh, gitu ya, Pak? Kira-kira harganya berapaan ya, Pak?" tanya Alan antusias.
"Paling dapet sejuta atau delapan ratus ribu sebulan, Mas. Pinter-pinter Masnya nawar aja nanti sama Pak Joko. Bilang aja dapet info dari Lek Darmo warung kopi," jawab pria itu sambil tersenyum ramah.
"Wah, pas banget itu. Maturnuwun banget ya, Lek," ucap Alan, mencoba mempraktikkan sedikit bahasa Jawa yang ia tahu.
Alan melangkah pergi dengan perasaan yang sedikit lebih ringan. Angin pagi Purworejo yang sejuk menerpa wajahnya. Di dalam benaknya, sebuah rencana sederhana mulai tersusun. Gua dapet kontrakan dulu hari ini. Habis itu gua cari kerjaan serabutan apa aja yang penting menghasilkan. Kalau gua udah mapan di sini, Xarena pasti bakal lihat kalau gua bener-bener serius mau berubah.
Dia tidak pernah tahu, bahwa pada detik yang sama, namanya sudah berubah menjadi sosok monster yang paling dibenci di desa Bruno.
Kembali ke rumah joglo, suasana masih diselimuti ketegangan. Xarena tidak bisa tinggal diam. Dia segera merapikan pakaian Ciara dan memasukkannya kembali ke dalam lemari, seolah-olah bersiap untuk kemungkinan terburuk jika para preman itu kembali.
Di teras rumah, tetangga sebelah mereka, Kang parman, datang tergesa-gesa sambil membawa sabit yang biasa dipakainya ke ladang.
"Mbak Xarena! Budhe Sum! Tadi ada apa toh? Saya pas di ladang denger suara motor kemresek sama orang teriak-teriak. Tak susul rene kok wis sepi?" tanya Kang Parman dengan napas terengah-engah.
Xarena keluar menemui Kang Parman. "Nggak apa-apa, Kang. Cuma ada orang asing salah alamat tadi, agak kurang sopan."
"Kurang sopan piye? Itu pager bambunya sampe mleyot begitu kok," sahut Kang Parman sambil menunjuk pagar rumah Budhe Sum yang sudah miring. "Kalau mereka macem-macem, bilang saya, Mbak. Biar tak kumpulin cah-cah (anak-anak) kampung sini. Jangan sok-sokan bikin onar di desa orang!"
"Iya, Kang. Makasih banyak ya. Nanti kalau mereka dateng lagi, aku pasti langsung teriak minta tolong," kata Xarena berusaha ramah, meski hatinya bergemuruh.
Setelah Kang Parman pergi untuk membantu membetulkan pagar yang rusak, Xarena kembali masuk dan duduk di ruang tengah. Handphone di tangannya bergetar. Sebuah nomor baru yang tidak dikenalnya masuk ke aplikasi pesan singkatnya.
0812-xxxx-xxxx: Xarena, ini aku Alan. Ini nomor baru gua yang khusus buat di Purworejo. Lu sama Ciara baik-baik aja kan di sana? Gua cuma mau ngabisin waktu hari ini buat cari kontrakan. Gua nggak bakal ganggu lu dulu sampai keadaan tenang, tapi tolong izinin gua buat tetep mantau Ciara dari jauh ya.
Membaca pesan itu, tawa sinis langsung lolos dari mulut Xarena. Air matanya menetes lagi, tapi kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa muak yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Hebat ya kamu, Lan," desis Xarena sambil mengetik balasan dengan jemari yang gemetar karena amarah. "Bisa-bisanya kamu kirim pesan sok peduli kayak gini, setelah beberapa menit yang lalu orang-orang suruhan musuh kamu dateng hampir ngerobohin rumah orang tua!"
Xarena langsung mengetik balasan singkat namun menohok:
Xarena: Nggak usah akting lagi, Alan. Tadi orang-orang yang kamu utangin atau musuh bisnis kamu udah dateng ke sini. Mereka nyariin kamu! Kamu sengaja kan numbalin aku sama Ciara ke desa ini biar kamu aman? Kamu bener-bener iblis berwajah manusia, Lan. Pergi kamu dari Purworejo, atau aku yang bakal laporin kamu ke polisi atas pasal ancaman kekerasan!
Setelah menekan tombol kirim, Xarena langsung memblokir nomor tersebut tanpa memberikan kesempatan bagi Alan untuk membela diri. Bagi Xarena, semua bukti sudah nyata di depan mata. Tidak ada lagi yang perlu didengar dari mulut seorang Alan.
Di teras rumah Pak Joko, Alan baru saja selesai berjabat tangan dengan pemilik rumah. Dia baru saja sepakat untuk menyewa paviliun kecil di samping rumah tersebut dengan harga sembilan ratus ribu rupiah per bulan.
"Maturnuwun ya, Pak Joko. Sore nanti saya langsung pindahan ke sini membawa barang-barang saya dari hotel," kata Alan sopan.
"Yo wis, Mas Alan. Santai aja. Nanti kuncinya tak taruh di bawah keset ya, soalnya saya mau ke sawah dulu," jawab Pak Joko ramah.
Tepat setelah Pak Joko berjalan menjauh, Alan merogoh kantong celananya karena merasakan getaran beruntun dari ponselnya. Senyumnya sempat mengembang saat melihat nama Xarena di layar kunci—berpikir bahwa wanita itu mungkin mulai melunak.
Namun, senyum itu langsung luntur seketika saat dia membaca baris demi baris pesan dari Xarena. Jantung Alan rasanya seperti berhenti berdetak. Plong. Kepalanya mendadak pening luar biasa.
"Preman? Musuh bisnis?" Alan bergumam sendiri dengan wajah pucat pasi. "Utang? Sejak kapan gua punya utang sama bos preman di Purworejo? Gua baru nyampe sini semalem!"
Alan mencoba menekan tombol telepon untuk menghubungi Xarena balik, namun yang terdengar hanyalah nada sibuk. Dia mencoba mengirim pesan WhatsApp, namun indikatornya hanya menunjukkan centang satu berwarna abu-abu.
"Sial! Gua diblokir!" Alan mengusap wajahnya dengan kasar, frustrasi. "Siapa sih yang dateng ke sana? Ini nggak bener. Gua harus ke desa Bruno sekarang juga!"
Alan berlari kencang menuju jalan raya, mengabaikan rasa lelahnya demi meluruskan kesalahpahaman fatal ini. Dia tidak tahu, bahwa di Jakarta, Riko dan Monique sedang bersulang merayakan keberhasilan rencana mereka yang telah memotong habis seluruh jalur pulang bagi Alan.