Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan Menuju Desa
Adrian menurunkan ponselnya. Kamar kerja itu kembali senyap, namun kini ada seberkas kekuatan baru yang mengalir di dalam dirinya. Kehadiran Bagas, meski masih terpisah jarak ribuan kilometer, setidaknya memberi tumpuan bagi pundaknya yang nyaris luruh.
Dia berdiri, melangkah keluar menuju kamar tidur utama. Di sana, Dinda terduduk di tepi ranjang, memeluk Arya yang tertidur gelisah. Wajah istrinya pucat, matanya sembap memendam ketakutan yang luar biasa sejak peristiwa di dapur siang tadi.
"Dinda." panggil Adrian lirih, mendekat lalu berlutut di depan istrinya.
"Siapa yang telepon, Mas? Apa kata orang desa? Kita... kita aman di sini, kan?" Suara Dinda bergetar, tangannya semakin erat memeluk Arya. Dinda menengok dengan tatapannya yang bingung.
"Itu Bagas. Dia pulang hari ini dari Jerman. Dia langsung menyusul kita ke Jarian." Adrian menarik napas pendek, menatap langsung ke manik mata istrinya.
"Kita tidak bisa tinggal di sini, Din. Tempat ini sudah tidak aman. Besok pagi, kita berangkat ke Jarian. Kita menginap di rumah Kang Kosim." Adrian menggenggam jemari Dinda yang terasa sedingin es.
"Mas, kamu gila? Kamu mau membawa kita kembali ke tempat terkutuk itu? Setelah apa yang aku lihat di dapur? Setelah makhluk yang menyerupai Sinta itu muncul? Kita harusnya lari menjauh, Mas, bukan datang menyerahkan nyawa!" Dinda tersentak, persis seperti reaksi Bagas beberapa menit lalu.
"Lari ke mana, Dinda? Ke mana pun kita pergi, bau tanah kuburan itu mengikuti kita! Mereka sudah tahu kita di sini. Menghadapi ini di Jarian bersama Kang Kosim dan Bagas adalah satu-satunya cara untuk memutus kutukan ini sampai ke akarnya. Aku tidak mau seumur hidup kita dikejar ketakutan. Aku tidak mau Arya jadi korban selanjutnya." suara Adrian meninggi, namun segera ditahannya agar tidak membangunkan Arya.
Mendengar perdebatan yang tertahan itu, tubuh mungil di pelukan Dinda bergerak. Arya perlahan membuka matanya. Sepasang mata bocah berusia delapan tahun itu tampak sayu dan menyiratkan trauma yang terlalu berat untuk usianya.
"Ayah. Ibu." bisik Arya, suaranya serak.
"Iya, Sayang. Ibu di sini. Arya mimpi buruk lagi?" Dinda langsung mengusap rambut putranya, mencoba tersenyum meski air matanya luruh.
"Bukan mimpi, Yah. Perempuan yang di dapur kemarin, dia berdiri di pojok kamar ini waktu Ayah lagi telepon Om Bagas. Dia bilang. 'Pulang ke rumah Jarian.'." Arya menggeleng lemah, lalu menatap Adrian dengan pandangan kosong yang membuat bulu kuduk Adrian merinding.
Kata-kata Arya membuat suasana kamar seketika mencekam. Dinda terisap dalam histeria yang senyap, merapatkan tubuhnya ke kepala ranjang. Adrian terpaku. Tidak ada pilihan lain. Makhluk itu sudah berada di dalam dinding rumah mereka.
Ponsel Adrian di saku celananya bergetar. Sebuah pesan singkat dari Bagas masuk, melampirkan foto tiket pesawat elektronik.
Aku sudah di kereta menuju Bandara Frankfurt. Penerbangan langsung ke Jakarta. Besok siang aku mendarat. Jaga Dinda dan Arya. Jangan biarkan Arya melamun atau sendirian. Makhluk Jarian mengincar pikiran yang kosong. Aku menyusul.
"Kemasi barang-barang kita. Seperlunya saja. Kita berangkat subuh." Adrian menarik napas panjang, memasukkan kembali ponselnya, lalu menatap Dinda dan Arya dengan kyakinan.
"Arya anak pintar, anak kuat. Besok kita pergi sama Ayah, ya? Kita selesaikan semuanya." Dinda tidak lagi membantah. Ketakutan yang semula melumpuhkannya kini berubah menjadi kepasrahan yang dingin. Dia mengangguk pelan, lalu mengecup kening Arya.
Arya hanya mengangguk kecil, menyembunyikan wajahnya di dada ibunya.
Malam itu dilewati tanpa ada satu pun dari mereka yang memejamkan mata. Ketika langit Jakarta mulai memias abu-abu keesokan harinya. Dengan langkah tergesa dan kewaspadaan yang memuncak, Adrian memutar kunci kontak mobil. Roda pun berputar, membelah jalanan ibu kota yang masih lengang. Perjalanan menuju pusat mimpi buruk itu resmi dimulai. Tujuan mereka hanya satu. Desa Jarian.
Perjalanan menuju Desa Jarian terasa begitu menekan. Udara di dalam mobil terasa berat dan dingin, seolah bayang-bayang masa lalu ikut menumpang di kursi belakang. Setelah berkendara selama beberapa jam membelah jalan tol, kelelahan fisik dan mental mulai mendera. Adrian memutuskan untuk membelokkan mobil ke sebuah rest area yang tampak agak sepi untuk beristirahat sejenak.
"Mas, aku temani Arya ke toilet sebentar, ya. Kamu tunggu di mobil saja, wajahmu kelihatan capai sekali," ujar Dinda sambil membuka sabuk pengamannya.
"Iya, Din. Hati-hati. Jangan lepas gandengan tangan Arya." Adrian hanya mengangguk lemah.
Dinda dan Arya pun keluar dari mobil, berjalan membelah pelataran rest area menuju fasilitas umum. Adrian menyandarkan kepalanya ke jok mobil, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. Suasana di luar tampak temaram, awan mendung menggelayut rendah membuat siang itu terasa seperti senja yang mati.
Tidak sampai lima menit, pintu belakang mobil tiba-tiba terbuka. Brak. Pintu itu tertutup kembali dengan cepat.
Adrian terkejut dan menoleh ke belakang. Di kursi penumpang belakang, Arya sudah duduk. Bocah itu mengenakan pakaian yang sama, namun tubuhnya kaku, wajahnya pucat pasi dan menunduk dalam-dalam hingga dagunya hampir menyentuh dada.
Adrian mengernyitkan dahi, merasa ada yang ganjil. Kenapa cepat sekali? Dan di mana Dinda?
"Arya? Kok cepat banget? Ibu mana?" tanya Adrian, mencoba mengusir rasa tidak enak yang mendadak menyergap dadanya.
Anak itu tidak menjawab. Dia tetap menunduk, meremas jemarinya sendiri dengan erat.
Rasa curiga Adrian semakin menguat. Bulu kuduknya meremang hebat, dan hawa dingin yang luar biasa mendadak memenuhi kabin mobil. Bau tanah basah yang busuk, bau yang sama seperti di dapur rumah mereka kemarin kembali tercium, kali ini jauh lebih pekat dan menusuk hidung.
"Arya jawab Ayah. Kamu kenapa?" Adrian bertanya lagi, suaranya mulai bergetar. Kali ini, dia tidak berani menoleh langsung. Dia memilih melirik lewat kaca spion tengah mobil untuk melihat wajah putranya.
"Ayah." sebuah suara keluar dari mulut anak itu. Suaranya serak, berat, dan sama sekali tidak terdengar seperti suara bocah delapan tahun.
Secara perlahan, anak itu mulai mengangkat wajahnya yang semula menunduk.
Adrian mematung. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat tatapan mereka bertemu di kaca spion. Sosok di kursi belakang itu bukan Arya.
Ketika wajah itu terangkat sepenuhnya, Adrian melihat pantulan dirinya sendiri di cermin sosok yang menyerupai wajah Arya, namun dalam kondisi yang amat mengerikan. Kulit wajah itu hancur terkelupas, dagingnya membusuk kehitaman dengan bola mata yang melotot kosong tanpa putih mata, hanya menyisakan kegelapan yang pekat. Makhluk yang menyerupai Arya yang hancur itu menyeringai lebar hingga merobek sudut mulutnya, memperlihatkan deretan gigi yang menghitam.
"Pulang... Adrian... kita pulang..." desis makhluk itu, suaranya menggema langsung di dalam kepala Adrian.
"AAGHH!!"
Adrian berteriak histeris. Rasa takut yang murni memompa adrenalinnya. Tanpa berpikir panjang, dia langsung mendorong pintu kemudi, mencopot sabuk pengaman dengan panik, dan melompat keluar dari mobil hingga terjatuh di atas aspal rest area. Napasnya memburu, keringat dingin bercucuran, dan tubuhnya gemetar hebat saat dia merangkak mundur menjauhi mobilnya sendiri.
"Mas! Mas Adrian! Kamu kenapa?!"
Sebuah suara yang dikenal memecah kepanikan Adrian. Dia mendongak dengan wajah pucat. Di hadapannya, Dinda berjalan setengah berlari sambil menggandeng erat tangan Arya yang asli. Wajah Arya tampak bingung melihat ayahnya ketakutan setengah mati di atas aspal.
Adrian menatap Dinda, lalu beralih menatap Arya, memastikan bahwa mereka benar-benar nyata. Dengan tangan gemetar, Adrian menunjuk ke arah kaca mobil belakang yang gelap. Namun, saat dia melihat ke dalam mobil, kursi belakang itu sudah kosong melongpong. Tidak ada siapa-siapa di sana.
"Mas, kamu kenapa? Ada apa di dalam mobil?" Dinda ikut panik, langsung berlutut dan memeluk suaminya yang masih syok, sementara Arya memeluk kaki ibunya dengan ketakutan.
Adrian hanya bisa menggeleng dengan bibir yang kelu. Teror Jarian tidak lagi menunggu mereka di desa teror itu sudah ikut melakukan perjalanan bersama mereka.