NovelToon NovelToon
Di Jodohin Sama Santri

Di Jodohin Sama Santri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Romansa
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.

Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Malam itu, setelah acara pengajian selesai, Zuhair tidak kembali ke kamar Sarah. Langkah kakinya terasa berat, menuntunnya ke sisi gelap Ndalem Agung yang menghadap langsung ke jendela kamar Celina. Hatinya berkecamuk antara rasa tidak percaya, cemburu, dan kehinaan yang mendalam.

Dengan napas tertahan, ia merapat ke dinding kayu, perlahan-lahan mengintip dari celah jendela yang sedikit terbuka.

Deg. Jantung Zuhair seolah berhenti berdetak.

Di dalam sana, di bawah cahaya lampu tidur yang remang-remang, ia menyaksikan pemandangan yang menghancurkan jiwanya. Celina, istri sahnya, sedang bersetubuh dengan Raka di atas ranjang yang seharusnya menjadi tempat suci pernikahan mereka. Suara de*ahan napas yang memburu dan erangan kepuasan Celina terdengar jelas di telinganya—suara yang belum pernah ia dengar saat bersamanya.

Zuhair mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya memanas, namun air matanya tak sanggup keluar. Ia ingin mendobrak pintu itu, ingin menyeret Raka keluar dan menghajarnya habis-habisan. Namun, sebuah pikiran pahit menghantam logikanya seperti gada besi.

Siapa kamu untuk marah, Zuhair? bisik batinnya yang paling dalam.

Ia teringat Sarah. Ia teringat bagaimana ia sendiri telah menggauli Sarah berkali-kali di kamar sebelah hingga wanita itu hamil. Meskipun ia merasa dijebak, faktanya ia sudah melakukan hal yang sama. Ia merasa kotor, merasa tidak ada bedanya dengan apa yang sedang ia lihat sekarang. Ia merasa tidak punya otoritas moral untuk menghakimi Celina ketika dirinya sendiri terjebak dalam dosa yang legal secara status, namun hina secara cara.

Di dalam kamar, Raka yang sedang bergerak di atas tubuh Celina sebenarnya menyadari ada sepasang mata yang mengawasi dari balik kegelapan jendela. Ia bisa merasakan hawa keberadaan seseorang di luar sana. Namun, bukannya berhenti, Raka justru menyeringai tipis di balik bahu Celina.

Raka sengaja memperdalam sentuhannya, membuat Celina mengeluarkan suara yang lebih keras. Ia ingin Zuhair melihatnya. Ia ingin "Gus" yang diagung-agungkan itu tahu bahwa di dunia nyata, status dan gelar tidak ada artinya dibanding koneksi yang ia miliki dengan Celina. Raka tetap diam, tidak memberi tahu Celina bahwa mereka sedang ditonton, ia justru menikmati momen di mana ia berhasil menginjak-injak harga diri sang pemilik pesantren tepat di depan matanya sendiri.

Zuhair memejamkan mata rapat-rapat, menyandarkan kepalanya ke dinding luar yang dingin. Ia mendengar setiap detil suara dari dalam sana—suara yang menandakan pengkhianatan total atas pernikahannya.

"Astagfirullah... ya Allah..." gumam Zuhair sangat lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.

Ia merasa seperti pecundang paling malang. Di satu sisi ada istri yang hamil karena fitnah, di sisi lain ada istri yang ia cintai dalam diam sedang menyerahkan jiwa dan raganya pada pria lain. Dengan langkah gontai dan bahu yang merosot, Zuhair menjauh dari jendela itu. Ia berjalan menembus kegelapan malam, membiarkan suara-suara di dalam kamar itu terus menghantuinya, menyadari bahwa mulai malam ini, ia benar-benar telah kehilangan segalanya sebagai seorang suami dan seorang pemimpin.

Besoknya saat Zuhair yang baru saja hendak melangkah menuju perpustakaan pesantren membeku di balik pilar besar koridor. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat mendengar tawa kecil yang sangat ia kenali. Itu suara Sarah, istri sirinya yang selama ini ia anggap sebagai "korban" dari kekhilafannya.

Di balik tembok, Sarah sedang duduk bersama Sukma, santri senior yang selama ini menjadi teman dekatnya. Mereka tidak menyadari bahwa sosok yang mereka bicarakan berdiri hanya beberapa meter dari posisi mereka.

"Ya... setidaknya aku sudah dapetin Gus Zuhair, meskipun kemarin aku harus sedikit main drama buat ngejebak dia, hihi," ucap Sarah dengan nada bangga yang terdengar sangat menjijikkan di telinga Zuhair.

Sukma berbisik dengan nada cemas namun penasaran, "Tapi Sarah, gimana dengan kandungan kamu? Ini benar-benar anak Gus Zuhair?"

Tawa Sarah kembali pecah, kali ini lebih pelan namun penuh kelicikan. "Bukan! Ini anak pacar saya, si Malik. Waktu kejadian di kamar itu, sebenarnya aku sudah telat datang bulan dua minggu. Pas dicek, eh ternyata positif."

Zuhair memejamkan mata, tangannya mencengkeram pinggiran pilar hingga buku jarinya memutih. Amarah yang selama ini ia tekan kini mulai mendidih, bercampur dengan rasa muak yang luar biasa.

"Karena saya nggak mau nikah sama santri biasa macam Malik, ya sudah, saya jebak saja Gus Zuhair," lanjut Sarah tanpa dosa. "Lagian setelah nikah siri kan kita juga sudah beberapa kali bergumul, jadi ya saya dengan bebas ngaku kalau ini anak dia. Nggak akan ada yang curiga, kan?"

Sukma tampak menutup mulutnya karena syok. "Gila kamu, Sarah... Kamu berani bohongin satu pesantren, bahkan bohongin Abi dan Ummi?"

"Demi masa depan aku, Sukma. Jadi Ning itu lebih enak daripada jadi istri santri miskin," sahut Sarah.

Zuhair menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai dirinya agar tidak langsung melabrak mereka di sana. Ia memilih untuk merekam detik-detik akhir percakapan Sarah dan Sukma. Pikirannya berputar cepat. Jadi selama ini ia merasa hina, merasa berdosa, dan harga dirinya diinjak-injak oleh Celina karena kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Ia merasa seperti orang bodoh yang masuk ke dalam perangkap murah seorang wanita yang ia anggap berakhlak.

Logika Zuhair mulai bekerja. Jika Sarah berbohong soal anak itu, berarti kejadian di malam itu adalah rekayasa. Ia teringat bagaimana Celina juga mengkhianatinya dengan Raka karena menganggap Zuhair adalah pria pezina.

Zuhair berbalik arah dengan langkah yang jauh marah dari sebelumnya. Ia tidak akan melabrak Sarah sekarang. Ia harus segera memberikan bukti rekamannya kepada Ummi, Abinya dan ia juga harus membereskan kekacauan ini sebelum semuanya terlambat. Namun, di tengah amarahnya, ada satu luka yang makin perih: ia menyadari bahwa kehancuran rumah tangganya dengan Celina berakar dari kebohongan besar ini.

Kamu sudah keterlaluan, Sarah, batin Zuhair dengan tatapan mata yang kini berubah menjadi sangat tajam dan dingin. Kamu tidak hanya membohongi saya, tapi kamu sudah menghancurkan kehormatan pesantren ini demi nafsu duniawimu.

Siang itu, udara di pesantren terasa sangat menyengat, tapi tidak sepanas amarah yang membakar dada Zuhair. Ia tidak pergi ke kantor Abi, tidak juga menemui Sarah. Tujuan utamanya hanya satu: Kamar Celina.

Zuhair mendobrak masuk tanpa mengetuk. Celina yang sedang asyik rebahan sambil main HP langsung meloncat kaget. Raka tidak ada di sana, syukurlah, karena kalau ada, Zuhair tidak menjamin tangannya tidak akan melayang.

"Apa-apaan sih lo, Gus? Main masuk aja!" bentak Celina ketus.

Zuhair tidak bicara. Ia melempar ponselnya ke atas kasur tepat di depan Celina. Layarnya menunjukkan rekaman suara yang baru saja ia ambil. Suara Sarah terdengar sangat jelas di sana: "...Ini anak pacar saya si Malik... ya saya jebak saja Gus Zuhair."

Celina terpaku. Ia mendengarkan rekaman itu sampai habis dengan mata yang perlahan membelalak. Ponsel itu hampir jatuh dari tangannya.

"Lo... lo dijebak?" suara Celina mendadak pelan, hilang sudah nada angkuhnya.

"Iya," jawab Zuhair dengan suara parau yang menahan tangis. "Saya tidak pernah menyentuhnya malam itu, Cel. Saya pingsan karena obat yang dia kasih. Semua itu bohong. Anak yang dia kandung itu bukan anak saya."

Zuhair melangkah maju, menatap Celina dengan tatapan yang sangat dalam, penuh luka namun masih terselip rasa sayang yang besar. "Saya diam selama ini karena saya pikir saya memang bersalah. Saya biarkan kamu injak-injak harga diri saya karena saya merasa pantas mendapatkannya. Tapi sekarang kamu dengar sendiri... saya tidak seburuk yang kamu pikirkan."

Celina terdiam seribu bahasa. Rasa bersalah menghantamnya seperti tsunami. Ia teringat bagaimana ia menghina Zuhair, bagaimana ia membawa Raka masuk ke kamar ini, dan bagaimana ia melakukan hal yang jauh lebih parah di atas ranjang ini hanya untuk membalas dendam pada kesalahan yang ternyata tidak pernah dilakukan suaminya.

"Gue... gue nggak tahu," gumam Celina lirih. Ia menunduk, tidak berani menatap mata Zuhair yang memerah.

"Saya tahu tentang Raka," ucap Zuhair tiba-tiba, membuat jantung Celina seolah berhenti. "Saya lihat semuanya semalam dari balik jendela. Saya dengar semuanya."

Celina menutup mulutnya dengan tangan, "Gus..."

"Saya suka sama kamu, Celina. Dari awal kita dijodohkan, saya sudah berusaha menjaga hati untuk kamu," bisik Zuhair, suaranya pecah. "Tapi melihat kamu dengan pria lain di kamar ini, di saat saya sendiri sedang berjuang dengan fitnah... itu jauh lebih sakit daripada fitnah Sarah."

Zuhair tertawa getir, tertawa di atas kehancurannya sendiri. "Sekarang semuanya sudah jelas. Sarah pembohong, dan kamu... kamu sudah menemukan kebahagiaan kamu pada pria lain."

Celina ingin memeluk Zuhair, ingin minta maaf, tapi ia sadar ia sudah terlalu kotor. Ia sudah menyerahkan segalanya pada Raka. Ia merasa tidak pantas lagi berada di samping pria setulus Zuhair.

"Terus sekarang lo mau apa?" tanya Celina dengan suara bergetar.

"Saya akan bereskan Sarah di depan Abi sore ini," jawab Zuhair dengan dingin. "Setelah itu... saya akan bebaskan kamu. Kamu bisa pergi sama Raka kalau itu yang kamu mau. Saya tidak mau lagi memaksakan pernikahan yang isinya cuma luka."

Zuhair berbalik dan keluar dari kamar tanpa menoleh lagi. Celina jatuh terduduk di lantai, menangis sejadi-jadinya. Ia mendapatkan kebenarannya, tapi ia kehilangan satu-satunya pria yang benar-benar tulus mencintainya. Di sisi lain, ia tahu Raka mungkin sudah menunggunya, tapi bayangan tatapan hancur Zuhair terus menghantuinya.

1
Ulfa 168
seru lanjut thor
Veronicacake: aaaaa maacie udah baca yaaaa, jan lupa like komennya yahhhh! aku update tiap hari kok ka💕💕
total 1 replies
ChaManda
😭😭
Veronicacake: kak😭😭
total 1 replies
Ntaaa___
Jangan lupa mampir di ceritaku kak🤭😇
Anonim
SUKAAAA, GA TAMPLATE NARASINYAAAA! SEMANGAT THOR DI TUNGGU UDATE💕💕💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!