Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Onimaru Rascall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Clara masih berdiri diam sambil menunduk. Bekas tamparan di pipinya semakin jelas.
Doni memperhatikannya beberapa detik sebelum menghela napas pelan.
“Ayo.”
Clara mengangkat wajahnya. “Ke mana?”
“Ke rumahku dulu.”
“Tidak usah. Aku tidak apa-apa.”
“Pipimu merah seperti habis ditampar wajan panas dan kamu bilang tidak apa-apa.” Doni menggeleng pelan. “Jangan keras kepala malam ini.”
Clara terdiam.
Jujur saja, ia memang tidak ingin sendirian di kontrakan malam itu.
Akhirnya Clara mengangguk kecil.
Doni menyuruhnya masuk ke mobil.
Clara menurut tanpa banyak bicara.
Sepanjang perjalanan, Clara hanya diam sambil memegang sisi jaketnya sendiri. Pikirannya kacau. Ia tidak menyangka Tony akan datang dan membuat keributan seperti itu.
Sementara Doni beberapa kali melirik memastikan Clara baik-baik saja.
Begitu sampai di rumah Doni, lampu ruang tamu masih menyala terang. Rumah sederhana itu terlihat hangat dibanding dinginnya malam di luar.
Bu Suci yang sedang melipat pakaian di ruang tamu langsung berdiri kaget ketika melihat Doni masuk bersama Clara.
“Ya ampun, Clara!”
Wanita paruh baya itu segera menghampiri Clara begitu melihat luka di pipinya.
“Ini kenapa?”
Doni melepas jaketnya lalu menjawab cepat, “Tadi waktu pulang aku lewat gang kontrakan Clara. Tony datang dan maksa Clara masuk mobil.”
Wajah Bu Suci langsung berubah.
“Apa?”
“Clara melawan, terus dia menampar Clara.”
Bu Suci langsung menatap Clara penuh khawatir. “Astaga... duduk dulu, Nak.”
Clara sebenarnya merasa tidak enak merepotkan mereka, tetapi Bu Suci sudah lebih dulu menarik tangannya pelan menuju sofa.
“Ibu ambil kotak P3K dulu.”
Wanita itu berjalan cepat ke lemari kecil dekat dapur lalu kembali membawa kotak obat. Wajahnya tampak benar-benar marah.
“Laki-laki macam apa itu...” gumamnya kesal.
Clara hanya menunduk diam.
Ia benar-benar tidak ingin membahas Tony lagi.
Bu Suci duduk di depan Clara lalu membuka kapas dan obat antiseptik dengan hati-hati.
“Sedikit perih ya.”
Clara mengangguk pelan.
Saat kapas menyentuh pipinya, Clara sedikit meringis.
“Nah, begitu. Ditahan sedikit.” Bu Suci menghela napas panjang. “Cantik-cantik malah disakiti orang tidak jelas. Heran ibu.”
Doni berdiri di dekat meja sambil memperhatikan Clara. Wajahnya masih terlihat kesal sejak tadi.
“Tony memang sudah keterlaluan.”
Bu Suci langsung menyahut, “Kalau ibu ada di sana tadi, ibu siram pakai air cucian beras sekalian.”
Doni hampir tersenyum mendengar ucapan ibunya.
Clara juga sedikit menahan senyum tipis meski wajahnya masih murung.
Bu Suci melanjutkan mengobati luka Clara dengan lembut seperti sedang merawat anaknya sendiri.
“Dia masih sering ganggu kamu?”
Clara terdiam beberapa detik sebelum menjawab pelan, “Belakangan ini mulai sering datang.”
“Untuk apa?”
“Minta aku kembali.”
“Dan dia pikir menampar perempuan bisa bikin perempuan mau kembali?” Bu Suci mendecih kesal. “Logika laki-laki kadang seperti sandal putus. Tidak berguna tapi masih dipaksa dipakai.”
Doni menahan tawa kecil sambil mengambil air minum untuk Clara.
Clara menerima gelas itu pelan. “Terima kasih.”
Bu Suci kemudian menatap Clara serius.
“Malam ini kamu menginap di sini saja.”
Clara langsung menggeleng cepat. “Tidak usah, Bu. Saya tidak mau merepotkan.”
“Repot dari mana? Rumah ini tidak runtuh hanya karena satu orang tambahan.”
“Tapi saya bisa jaga diri.”
“Kamu tadi juga bilang bisa jaga diri, ujungnya pipimu jadi korban.”
Clara langsung diam.
Doni akhirnya ikut bicara.
“Jangan ambil risiko.”
Nada suaranya tenang, tetapi tegas.
“Tony sedang emosi. Tidak ada yang tahu dia bakal datang lagi atau tidak.”
“Saya tidak mau merepotkan kalian.”
“Kamu mengulang kalimat itu terus,” sahut Doni. “Kalau memang merepotkan, ibu saya dari tadi sudah nyuruh kamu pulang.”
Bu Suci langsung mengangguk setuju. “Benar.”
Clara menggigit bibir pelan.
Jujur saja, ia memang takut kembali ke kontrakan malam itu. Tempat kecil itu terasa semakin sunyi sejak kejadian tadi.
Doni kemudian duduk di kursi seberang Clara.
“Besok cuti saja.”
Clara langsung menoleh. “Tidak usah.”
“Perlu.”
“Saya baik-baik saja.”
“Wajahmu tidak terlihat baik-baik saja.”
Clara terdiam lagi.
Doni melanjutkan, “Aku akan jelaskan semuanya pada Pak Agung.”
Mendengar nama ayahnya disebut, Clara langsung terlihat cemas.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Nanti Ayah khawatir.”
“Memang seharusnya khawatir.”
Clara menunduk pelan. “Aku takut ayah malah membatalkan hukumanku.”
Bu Suci terlihat bingung. “Hukuman?”
Doni menghela napas kecil sebelum menjelaskan singkat, “Pak Agung sengaja membiarkan Clara hidup mandiri supaya Clara belajar berubah.”
Bu Suci langsung mengerti.
Wanita itu menatap Clara beberapa saat lalu tersenyum tipis.
“Kenapa memangnya? Bukankah kembali ke rumah yang nyaman lebih enak?”
Clara memegang gelasnya pelan.
“Karena saya ingin berubah.”
Bu Suci memperhatikannya serius.
“Sebelum tinggal sendiri, saya terlalu manja.” Clara tersenyum pahit kecil. “Saya selalu merasa semua hal harus tersedia untuk saya.”
Doni diam mendengarkan.
“Saya tidak pernah berpikir soal uang. Tidak pernah berpikir orang lain capek membantu saya. Saya cuma hidup sesuka hati.”
Bu Suci mendengarkan tanpa memotong.
“Setelah tinggal sendiri...” Clara menarik napas pelan, “baru terasa kalau hidup itu tidak semudah ambil kartu lalu semua selesai.”
Doni sedikit menundukkan kepala menahan senyum kecil. Kalimat itu terdengar sangat Clara. Jujur dan kadang terlalu polos.
Clara melanjutkan, “Saya harus bangun pagi sendiri. Harus hemat uang. Harus mikir kalau mau beli sesuatu.”
“Dan itu membuatmu merasa berubah?” tanya Bu Suci lembut.
Clara mengangguk.
“Saya jadi lebih menghargai banyak hal.”
Bu Suci tersenyum tipis.
“Kalau begitu yang membuat kamu dewasa itu bukan tempat tinggalmu.”
Clara terlihat bingung.
“Melainkan cara berpikirmu.”
Clara terdiam.
Bu Suci menutup kotak P3K lalu melanjutkan dengan nada tenang.
“Mau tinggal di rumah besar atau kontrakan kecil sebenarnya tidak menentukan seseorang jadi dewasa atau tidak.”
“Tapi kalau saya kembali ke rumah, saya pasti jadi manja lagi.”
“Belum tentu.”
“Saya kenal diri saya sendiri, Bu.”
Bu Suci tertawa kecil.
“Kamu ini lucu.”
Clara mengerutkan dahi. “Lucu bagaimana?”
“Kamu berpikir satu-satunya cara berubah itu harus hidup susah.”
Clara terdiam.
Bu Suci lalu bersandar santai di sofa.
“Padahal yang perlu diubah itu kebiasaan burukmu, bukan hidupmu yang harus terus sengsara.”
Doni diam mendengarkan pembicaraan mereka.
“Kamu bisa tetap hidup nyaman tanpa jadi manja.”
Clara masih tampak berpikir.
Bu Suci melanjutkan lagi, “Kalau semua makanan tersedia di rumah, bukan berarti kamu harus berhenti belajar masak.”
“Tapi saya pasti malas bangun pagi.”
“Kalau begitu biasakan disiplin.”
“Saya juga jadi boros.”
“Itu berarti kamu harus belajar mengatur diri, bukan kabur dari kenyamanan.”
Clara perlahan terdiam memikirkan ucapan itu.
Selama ini ia memang selalu berpikir bahwa hidup sulit adalah hukuman yang harus dijalani agar dirinya berubah.
Namun Bu Suci justru melihatnya dari sisi berbeda.
“Kedewasaan itu bukan soal tinggal di mana,” ucap Bu Suci pelan. “Tapi soal bagaimana kamu bersikap saat punya pilihan.”
Ruangan menjadi hening beberapa saat.
Clara menatap wanita di depannya dengan tatapan yang perlahan melembut.
Entah kenapa, nasihat sederhana itu terasa lebih menenangkan dibanding ceramah panjang yang biasa ia dengar dulu.
Doni kemudian berdiri.
“Sudah malam. Kamu istirahat saja dulu.”
Bu Suci langsung ikut berdiri. “Benar. Nanti ibu ambilkan baju tidur.”
“Tidak usah repot, Bu.”
“Kamu ini dari tadi repot terus pikirannya.” Bu Suci menggeleng geli. “Tenang saja. Ibu senang rumah jadi ramai. Daripada cuma dengar Doni jalan mondar-mandir seperti satpam gagal.”
“Bu...” protes Doni malas.
Clara akhirnya tertawa kecil untuk pertama kalinya malam itu.
Melihat Clara tertawa membuat Doni sedikit lega.
Setidaknya gadis itu tidak lagi terlihat setakut tadi.
Bu Suci tersenyum puas melihat suasana mulai mencair.
“Sudah, malam ini istirahat dulu. Besok baru pikirkan semuanya.”
Clara mengangguk pelan.
Dan untuk pertama kalinya setelah kejadian tadi, dadanya terasa sedikit lebih ringan. Meski hidupnya masih berantakan, setidaknya malam itu ada tempat yang membuatnya merasa aman. Manusia memang aneh. Kadang rumah bukan tempat paling mewah, tapi tempat yang membuat seseorang berhenti merasa sendirian.