Black Rose julukannya, ada tatto mawar hitam di punggungnya. Dia agen rahasia XpostOne 06 yang paling ditakuti. Sepak terjangnya terdengar sampai belahan dunia. menyamar sebagai jurnalis dan presenter hot news di sebuah televisi swasta milik ayahnya.
Kini ia ditugaskan untuk menangkap seorang pemb*nuh bayaran yang lari ke luar negeri. Konon pemb*nuh ini sangat licik dan dilindungi oleh sindikat bawah tanah.
Mampukah dia menangkap pemb*nuh itu atau dia malah terb*nuh?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.29. BERTENGKAR
Suara derit pintu terbuka, diikuti ketukan lambat sepatu hak tinggi di lantai yang sunyi. Perlahan, bunyi itu berhenti tepat di depan pintu kamar Qai.
"Qai kau dimana kenapa sepi, apa kau tidur. Kenapa ada sepatu Agung disini jangan katakan kau berdua di kamar." rentetan suara itu membuat Qai berdiri.
"Aku dan Agung lagi main dengan Adrian..." sahut Qai membuka pintu.
"Jadi begini tingkah kalian, setelah aku pergi kalian cari kesempatan berdua. Dasar munafik, murahan...."
"Agung kangen dengan Adrian apa salah dia datang kesini. Kau berselisih dengan Agung tapi aku tidak, aku masih butuh pertolongan Agung."
"Apa yang kau harapkan dari lelaki pengecut itu, pernah dia ke Afrika, Sudan atau Timur Tengah?"
"Dewi kau kenapa sewot banget, kita ini satu team. Kenapa kau mempersoalkan aku, mari kita kerja bareng kalau kau merasa tertekan, jangan salahkan Qai."
"Aku tidak bicara denganmu aku muak melihat laki-laki yang tidak tahu diri."
"Aku tidak mengerti maksudmu, perasaan aku tidak ada salah. Atau mungkin kau sengaja ingin mengusir ku dari sini."
"Jika itu naluri mu, pergilah. Aku tak butuh kau!!"
Dewi lalu melangkah ke kamarnya. Qai dan Agung langsung menutup pintu dan melihat cctv lewat hapenya Agung.
Seperti dugaan Agung, Dewi memeriksa kopernya dan mengambil botol sianida.
"Kalau dikasi minum jangan mau, dia ingin kita mati. Atau kucing suruh minum."
"Kita harus hati-hati dengan Dewi, nanti kita buang saja air galon, nasi, apapun yang disentuh olehnya.
Terdengar suara pintu tertutup keras, sepatu high heels mengeluarkan bunyi klik yang bergema di lantai marmer yang sepi. Terdengar bunyi 'tapak' yang cepat dan berderap ke depan, seperti memburu langkahnya yang mulai kehabisan napas.
"Aghhh...akhirnya dia pergi, sepertinya dia membawa botol itu pergi. Apa kita buntuti? kau terlihat tenang, apa kau tak peduli?" ucap Agung geram.
"Mobil dia yang bawa mana mungkin kita buntuti. Sekarang kita menunggu atau kita naik taxi keluar pura-pura belanja."
"Qai...aku tak percaya keberhasilanmu selama ini, apa kau menunggu dia membunuh kita?"
"Diam, tenang dan laksanakan, itu harus kau miliki. Tidak terburu-buru, kadang kita hanya dipancing, saat dia merasa ketahuan. Jangan bodoh belum saatnya kita bergerak, biarkan dia memasang umpan."
"Yach..aku tunggu." ucap Agung keluar dari kamar sambil menggendong Adrian.
"Qai, waktu kau ke tugas lapangan gimana caramu, siapa yang mengajak Adrian?"
"Ada jasa penitipan, terjamin. Bagaimana kalau kita titip Adrian dan kita cari Dewi kemana dia pergi?"
"Oke, ingat bawa pistol. Sekarang lagi marak penjualan organ tubuh dan scammer, konon sumbernya dari sini."
"Itu benar, aku yang ikut meringkus mereka dan banyak korban dari pihak mereka dan dari pihak kita." ucap Qai.
PHUKET
Suasana Phuket di sore hari perpaduan sempurna antara relaksasi pantai tropis dan transisi kehidupan malam yang meriah. Udara menjadi lebih sejuk dan langit menyajikan pemandangan matahari terbenam spektakuler di tepi laut, serta kawasan bersejarah dipenuhi lampu antik yang bersinar temaram.
Banyak wisatawan menghabiskan sore hari dengan mendaki ke area yang lebih tinggi, seperti Monkey Hill View point untuk melihat pemandangan kota atau berkunjung ke kuil seperti Wat Chalong dalam suasana yang lebih tenang menjelang malam.
"Kita sudah berkeliling mencari jejaknya, tapi dia pandai bersembunyi. Pemburuan hari ini gagal."
"Perempuan biasanya datang kesini punya tujuan khusus, disamping plesir tentu operasi plastik. Kita akan mencari salon kecantikan." ucap Qai antusias.
Mereka mencari salon yang paling top di Phuket. Ada Bathali dan Chi Mehong. Tidak begitu sulit mencari keberadaan Dewi, mereka menemukan Dewi sedang bercengkrama dengan seorang laki-laki lokal.
"Kau memang genius, itu mobilmu yang diparkir. Nanti aku turun menempel alat pelacak."
"Nanti dulu, sepertinya mereka ada kerja sama terlihat begitu akrab, kenapa pria itu mengeluarkan peta?"
"Dulu Dewi pernah kerja disini, jadi sudah banyak kenal orang. Mungkin salah satu dari mereka menemaninya."
"Sudah lah... Yang penting dia dapat hasil dari misi ini dan Jhon Meyer senang. Daripada kau datang kesini tak di undang dan pulangnya minta ditendang."
"Aku datang atas perintah bos untuk mengajak mu pulang. Sudah seminggu disini tidak ada titik terang. Dewi sangat lamban bergerak."
"Aku mau bantu Dewi dan selesaikan misi ini. Target biasa muncul saat hari minggu. Mereka mencari mangsa dengan tukar kontak, mendekati turis asing, pura-pura membantu dengan iming-iming uang fantastis."
"Aku mau jadi target, wajah ku menarik perhatian mereka. Kita pulang dulu, besok minggu malam kita kesini. Kita pura-pura pacaran."
"Sipp...kita pulang dan jemput Adrian." ucap Agung meninggalkan.
*****