NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak

Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.

Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 27

Angin laut Uluwatu berhembus lembut, membawa aroma garam dan keharuman ribuan kelopak bunga mawar putih yang disebar di sepanjang jalan setapak menuju altar. Sore itu, matahari perlahan turun ke garis cakrawala, melukis langit Samudra Hindia dengan semburat warna emas, persik, dan ungu keunguan.

Di dalam kamar rias Villa Karang Putih, Yvone berdiri mematung di depan cermin panjang.

Ia mengenakan gaun pengantin rancangannya sendiri sebuah mahakarya dari sutra putih gading yang jatuh menjuntai dengan sempurna, memeluk lekuk tubuhnya dengan elegan. Lengan panjang dari material lace transparan bermotif sulur daun memberikan kesan organik dan klasik. Tidak ada mahkota berlian yang berat; rambut hitamnya disanggul rendah dengan hiasan bunga melati segar, ditutupi oleh veil (kerudung) transparan yang menjuntai hingga ke lantai.

"Ya Tuhan, Yvone. Aku akan menangis hingga riasanku luntur sebelum acara dimulai," isak Tara, mengipasi wajahnya sendiri dengan tangan. Adik iparnya itu mengenakan gaun bridesmaid berwarna dusty pink, matanya berkaca-kaca menatap pantulan Yvone. "Kau adalah pengantin paling cantik yang pernah kulihat."

Yvone tersenyum, merasakan perutnya dipenuhi ribuan kupu-kupu yang berterbangan. "Terima kasih, Tara. Untuk segalanya. Berkatmu, aku tidak gila menghadapi kakakmu di bulan-bulan pertama."

Tara tertawa pelan, melangkah maju dan merapikan veil Yvone. "Kakakku yang gila karena menahan diri untuk tidak langsung jatuh cinta padamu sejak hari pertama. Bersiaplah, Sayang. Ayahmu sudah menunggu di luar."

Pintu kamar terbuka. Budi Larasati melangkah masuk dengan setelan jas hitam yang rapi. Melihat putri sulungnya dalam balutan gaun pengantin, langkah pria paruh baya itu terhenti. Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya.

"Vone..." panggil Budi dengan suara serak. Ia mendekat dan mengulurkan tangannya. "Bidadari kecil Ayah."

"Ayah, jangan menangis, nanti aku ikut menangis," Yvone terkekeh di sela isakannya sendiri, memeluk ayahnya dengan hati-hati.

"Ayah hanya tidak menyangka hari ini akan tiba," Budi mengelus punggung putrinya. "Dulu, Ayah mengira Ayah telah menyerahkanmu ke dalam neraka. Ternyata, Ayah mengantarmu kepada pria yang akan memberikan seluruh dunia untukmu. Ayo. Suamimu yang tidak sabaran itu sudah menunggu."

Yvone menarik napas panjang, mengaitkan lengannya di lengan sang ayah. Mereka berjalan beriringan keluar dari vila, menuju area tebing yang telah disulap menjadi tempat pemberkatan yang intim.

Hanya ada sekitar dua puluh kursi di sana. Tidak ada wartawan, tidak ada menteri, tidak ada pesaing bisnis. Hanya ada Lia yang tersenyum bangga, Marco yang berdiri tegak layaknya best man, Pak Joko yang tak bisa menyembunyikan senyum harunya, dan para staf vila.

Dan di ujung jalan setapak bertabur kelopak mawar itu, berdiri Dylan Alexander Hartono.

Pria itu mengenakan setelan tuksedo putih gading dengan celana hitam sebuah kombinasi klasik yang membuatnya terlihat seperti dewa yang turun ke bumi. Luka tembak di bahunya sudah pulih sempurna. Saat alunan instrumen biola Canon in D mulai mengalun, Dylan menoleh.

Napas Dylan benar-benar tertahan.

Dunia di sekelilingnya seakan memudar. Debur ombak, alunan musik, tamu undangan semuanya lenyap. Yang ada hanyalah sosok Yvone yang berjalan perlahan ke arahnya, diiringi cahaya keemasan matahari terbenam. Wanita itu memancarkan keanggunan, ketangguhan, dan cinta yang begitu murni hingga membuat dada Dylan terasa sesak oleh rasa syukur.

Saat Budi menyerahkan tangan Yvone kepada Dylan, pria es itu menerimanya dengan genggaman yang sedikit bergetar.

"Aku serahkan putriku padamu, Dylan," bisik Budi.

"Dengan nyawa saya, Ayah," jawab Dylan mantap.

Dylan menuntun Yvone melangkah naik ke atas altar kecil di tepi tebing. Mereka berdiri berhadapan, tangan mereka saling bertaut erat. Mata kelam Dylan menelusuri wajah Yvone dari balik veil transparan itu, seakan ingin memahat setiap detailnya di dalam ingatan keabadiannya.

Pendeta memulai upacara dengan doa yang syahdu. Angin laut membelai mereka, menjadi saksi dari janji yang tak lagi terikat oleh kertas bermaterai.

Tiba saatnya pengucapan janji suci (vows). Mereka tidak membaca teks yang sudah disiapkan. Semuanya mengalir dari hati.

Dylan menatap lurus ke dalam manik mata istrinya. Suara baritonnya mengalun mantap, mengalahkan suara debur ombak.

"Yvone Larasati," ucap Dylan pelan, namun terdengar jelas oleh semua yang hadir. "Aku memulai kisah kita dengan sebuah arogansi. Aku menyodorkan sebuah kontrak untuk membeli sebuah ilusi perlindungan. Aku mengira aku bisa mengendalikan segalanya dengan uang dan kekuasaan."

Ibu jari Dylan mengelus punggung tangan Yvone.

"Tapi kau membuktikan bahwa aku salah. Kau meruntuhkan setiap dinding es yang kubangun selama lima belas tahun. Kau mengajariku bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari rasa takut, melainkan dari keberanian untuk mencintai. Di saat dunia memburuku, kau berdiri menjadi perisaiku." Mata Dylan berkaca-kaca, sebuah pemandangan yang membuat Marco di sudut sana ikut menelan ludah haru. "Hari ini, di hadapan Tuhan dan keluarga kita, aku membuang semua kontrak itu. Aku berjanji untuk mencintaimu, melindungimu, dan memujamu... bukan untuk satu tahun, bukan untuk sepuluh tahun, tapi sampai helaan napasku yang terakhir. Kau adalah ratuku, selamanya."

Setetes air mata lolos membasahi pipi Yvone. Ia tersenyum, meremas tangan besar pria itu.

"Dylan Alexander Hartono," suara Yvone bergetar karena emosi yang meluap. "Dulu, aku melihatmu sebagai sangkar emas yang memenjarakanku. Tapi kau menjadikannya sebagai tempat paling aman di dunia bagiku. Di balik sikap dinginmu, kau menyembunyikan hati yang sangat hangat dan terluka. Kau berdarah untuk melindungiku dan keluargaku."

Yvone menatap suaminya dengan pemujaan yang mendalam. "Aku tidak menjanjikan bahwa hidup kita akan selalu mudah. Badai mungkin akan datang lagi. Tapi aku berjanji, aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu. Aku akan menjadi tempatmu pulang, pelabuhanmu yang tenang, dan istrimu yang akan selalu mendampingimu dalam gelap maupun terang."

Marco melangkah maju, memberikan sepasang cincin platina polos yang baru cincin yang tidak memiliki sejarah kepalsuan.

Dylan menyematkan cincin itu di jari manis Yvone, dan Yvone melakukan hal yang sama pada Dylan.

"Dengan wewenang yang diberikan kepada saya," ucap Pendeta seraya tersenyum, "saya menyatakan kalian resmi menjadi suami dan istri. Tuan Hartono, Anda boleh mencium pengantin wanita."

Dylan tidak membuang waktu sedetik pun. Ia mengangkat veil Yvone, menangkup wajah istrinya dengan kedua tangan, dan menundukkan kepalanya.

Ciuman itu disambut dengan tepuk tangan riuh dan sorakan bahagia dari keluarga mereka. Ciuman yang tidak ditujukan untuk kamera wartawan atau untuk memanipulasi politisi, melainkan ciuman yang meledak dari cinta yang murni dan absolut.

Pukul 21.00 WITA.

Pesta makan malam yang intim telah usai. Budi, Lia, dan para tamu lainnya telah mundur ke vila tamu di sayap barat untuk beristirahat.

Dylan dan Yvone kini berada di Master Suite mereka. Kamar itu telah didekorasi ulang dengan sangat romantis. Taburan kelopak mawar merah menutupi ranjang king-size, dan puluhan lilin aromaterapi menyala di setiap sudut ruangan, memancarkan cahaya keemasan yang temaram.

Pintu balkon terbuka lebar, membiarkan suara ombak dan angin malam masuk, menyatu dengan alunan musik instrumental pelan yang diputar dari speaker.

Dylan berdiri di belakang Yvone di tengah ruangan. Pria itu telah melepaskan jas dan dasinya. Tangan besarnya dengan perlahan menyusuri punggung Yvone, mencari deretan kancing kecil yang menyembunyikan ritsleting gaun pengantin wanita itu.

"Gaun ini sangat indah," bisik Dylan tepat di telinga Yvone. Napas hangatnya membuat bulu kuduk Yvone meremang. "Tapi aku sudah tidak sabar ingin melepaskannya darimu sejak melihatmu berjalan di altar tadi."

Yvone tertawa pelan, suara tawanya terdengar serak dan menggoda. Ia memejamkan mata saat merasakan jari-jari Dylan dengan cekatan membuka kancing gaunnya satu per satu. Setiap sentuhan pria itu pada kulit punggungnya mengirimkan aliran listrik yang menyengat.

Saat ritsleting gaun itu turun, sutra berat itu meluncur jatuh ke lantai, menumpuk di sekitar pergelangan kaki Yvone bagaikan buih ombak. Yvone kini hanya mengenakan lingerie putih berenda yang sangat tipis dan menggoda.

Dylan memutar tubuh Yvone hingga mereka berhadapan. Mata pria itu gelap, terbakar oleh gairah dan kepemilikan yang menggebu-gebu. Ia menatap istrinya seolah Yvone adalah satu-satunya sumber oksigen di ruangan itu.

"Nyonya Hartono," geram Dylan rendah, mengangkat tangannya untuk membelai rahang Yvone, lalu turun menelusuri leher dan tulang selangkanya. "Kau tahu, mulai malam ini... kau tidak akan bisa lari dariku lagi."

Yvone mendongak, matanya yang sayu membalas tatapan membara suaminya. Tangannya naik, mengelus rahang tegas Dylan, lalu menyusup ke rambut hitam pria itu.

"Aku tidak pernah berniat untuk lari," bisik Yvone menantang. "Tunjukkan padaku, Dylan. Tunjukkan bahwa kau sepenuhnya milikku."

Kata-kata itu adalah pemantik yang meledakkan pertahanan terakhir sang miliarder. Dylan meraup bibir Yvone dengan ciuman yang menuntut dan posesif. Tidak ada lagi kelembutan yang ragu-ragu; ciuman itu adalah klaim teritorial, sebuah deklarasi bahwa wanita ini adalah miliknya seutuhnya.

Yvone membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama. Lidahnya menyambut lidah Dylan, menari dalam ritme panas yang memabukkan. Tangan Yvone dengan cepat membuka kancing kemeja putih Dylan, mendorong kain itu hingga jatuh dari bahu lebar suaminya, mengekspos otot-otot dada dan perut yang mengeras sempurna.

Dylan mengangkat tubuh Yvone dengan mudah. Kaki Yvone secara insting melingkar di pinggang ramping pria itu saat Dylan membawanya menuju ranjang. Pria itu merebahkan Yvone di atas taburan kelopak mawar merah, lalu menindihkan tubuhnya, menopang berat badannya dengan kedua siku agar tidak menyakiti istrinya.

Bibir Dylan turun, menjelajahi leher Yvone, memberikan kecupan-kecupan basah dan gigitan pelan yang membuat wanita itu mengerang tertahan.

"Dylan..." desah Yvone, punggungnya melengkung refleks saat tangan besar suaminya menyusup ke balik lingerie berendanya, menyentuh kulitnya yang paling sensitif dengan kelembutan yang menyiksa.

"Katakan kau milikku," perintah Dylan dengan suara serak di telinga Yvone, napasnya memburu.

"Aku milikmu... selamanya milikmu," jawab Yvone terengah-engah, matanya terpejam meresapi gelombang kenikmatan yang mulai menyapunya.

Pakaian terakhir yang memisahkan mereka dilucuti dengan cepat. Di bawah cahaya lilin yang bergoyang, kulit mereka yang bersentuhan terlihat berkilau oleh peluh. Dylan menatap Yvone yang terbaring polos di bawahnya. Mahakarya yang kini sepenuhnya mempercayakan diri padanya.

Dylan menautkan jari-jarinya dengan jari-jari Yvone, menekannya pelan di atas bantal di sisi kepala wanita itu. Saat penyatuan itu terjadi, Yvone menarik napas tajam, matanya melebar menatap mata kelam suaminya.

Dylan berhenti sejenak, membiarkan Yvone menyesuaikan diri dengan kehadirannya, menatap dalam-dalam ke manik mata istrinya yang berkaca-kaca oleh emosi.

"Aku mencintaimu," bisik Dylan, mencium kening Yvone, lalu turun ke hidung, dan akhirnya melumat bibirnya. "Aku sangat mencintaimu, Yvone."

Mendengar pengakuan yang begitu jujur dan rapuh dari sang dewa perang, air mata kebahagiaan Yvone kembali menetes. Ia membalas ciuman pria itu dengan penuh penyerahan.

Dylan mulai bergerak, membangun ritme yang lambat dan memabukkan. Setiap dorongan dipenuhi oleh cinta yang mendalam dan pemujaan yang absolut. Gairah yang selama ini mereka tahan di tengah intrik dan bahaya kini tumpah ruah, membakar keduanya dalam api asmara yang tak tertahankan.

Ruang kamar itu dipenuhi oleh suara napas yang terengah, erangan tertahan, dan bisikan-bisikan cinta yang menyayat hati. Yvone mencengkeram bahu kokoh Dylan, kuku-kukunya tanpa sadar menancap pelan di kulit pria itu saat gelombang kenikmatan semakin memuncak dan membawanya terbang tinggi.

"Dylan... kumohon..." Yvone terisak pelan dalam kenikmatan, tubuhnya menegang saat ia mencapai puncaknya, meneriakkan nama suaminya di tengah malam Uluwatu.

Merasakan pelepasan istrinya, Dylan mengerang keras. Pria itu mempercepat ritmenya beberapa kali sebelum akhirnya mencapai puncaknya sendiri, melepaskan segala hasratnya dengan tubuh yang bergetar hebat di atas pelukan Yvone.

Dylan menjatuhkan dirinya di samping Yvone, menarik wanita itu erat ke dalam dekapannya. Napas mereka berdua masih memburu, dada mereka naik turun secara bersamaan. Peluh membasahi kulit mereka yang masih saling bersentuhan.

Yvone menyandarkan kepalanya di dada bidang Dylan, mendengarkan detak jantung suaminya yang berpacu kencang namun berangsur tenang. Pria itu mencium puncak kepala Yvone, tangannya tak henti mengelus punggung telanjang istrinya.

"Kau tidak akan pernah bisa lari dariku lagi, Yvone Larasati," gumam Dylan parau, memejamkan matanya dengan senyum puas yang sangat damai.

Yvone tertawa kecil, mengecup dada pria itu. "Aku adalah istrimu, Tuan Hartono. Ke mana pun kau pergi, di situlah istanaku berada."

Malam itu, di pulau dewata, sangkar emas yang dingin telah sepenuhnya menjelma menjadi surga yang hangat. Mereka telah melewati neraka bersama-sama, dan kini, hanya keabadian cinta yang tersisa untuk mereka nikmati.

1
Titien Prawiro
Bacanya deg2gan terus.
k
bagus sekali
k
lia kasihan
p
memang bagus😍
p
👍👍👍👍
1
lanjut
1
absen
Sang_Imajinasi
Jangan Lupa beri vote dan dukungan 🙏
Xiao Bar
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!