NovelToon NovelToon
Immortal Legacy

Immortal Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di Era Keruntuhan Surga, langit terbelah dan hujan darah mengubah dunia fana menjadi neraka. Para dewa telah kehilangan keseimbangan, melepaskan Bencana yang meruntuhkan sekte-sekte agung dan melahirkan Yao Aberasi pembawa maut.

Zeng Niu adalah seorang bocah desa dengan akar spiritual sampah. Ia tidak memiliki guru yang bijaksana, tidak ada klan besar yang melindunginya, dan takdir tidak memberinya keajaiban. Ketika hujan darah membasahi desanya dan mengubah segalanya menjadi monster buas, Zeng Niu harus menyaksikan seluruh penduduk desa, termasuk orang tuanya, dikoyak hingga tak bersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Pelayan Kegelapan

Kata-kata Tetua Mo Yin jatuh seperti vonis dewa kematian di Pelataran Luar. Keheningan yang tercipta begitu kuat hingga suara jatuhnya sehelai daun pinus pun terdengar seperti dentuman.

Menjadi murid langsung dari seorang Tetua Agung adalah impian setiap jenius di Benua Utara. Itu berarti akses ke teknik tingkat dewa, pil langka, dan perlindungan. Namun, menjadi murid dari Mo Yin, Sang Bayangan Tanpa Suara... itu adalah undangan menuju mimpi buruk yang penuh dengan penyiksaan mental.

Lang Jue, yang masih terkapar dengan dada cekung dan pergelangan kaki hancur, menatap dengan ketakutan pada pria pucat itu. Kebenciannya pada Zeng Niu seketika digantikan oleh rasa syukur karena Mo Yin menghentikan injakan mematikan tersebut.

Zeng Niu menurunkan kaki kanannya perlahan. Niat membunuhnya ditarik kembali ke dalam tubuhnya dengan mulus, seolah tidak pernah ada. Ia menatap mata hitam pekat Tetua Mo Yin tanpa gentar.

"Aku menerimanya," jawab Zeng Niu datar. "Tapi, Dantianku menuntut banyak sumber daya. Aku tidak punya waktu untuk mengurus hal-hal remeh."

Zeng Niu menunjuk ke arah puing-puing pondoknya dengan ibu jarinya. "Babi gemuk dan gadis penipu itu adalah perbendaharaan dan mataku. Mereka ikut bersamaku."

Seluruh murid luar menahan napas. Pemuda fana ini berani mengajukan syarat kepada Tetua Mo Yin?!

Mo Yin melirik sekilas ke arah Bao Tuo yang sedang memeluk tanah dan Lin Xiaoyu yang gemetar hebat. Di mata Sang Bayangan, dua anak itu tidak lebih dari debu. Namun, seorang pembunuh bayaran memang membutuhkan pelayan untuk mengurus kehidupan fana agar pedangnya tetap tajam.

"Di Paviliun Penegak Hukum, nyawa pelayan lebih murah dari anjing liar," desis Mo Yin dingin, suaranya tidak memiliki intonasi. "Bawa mereka. Jika mereka mati karena menginjak jebakan formasiku, itu urusanmu. Ikuti aku."

Mo Yin berbalik, dan dengan satu langkah, tubuhnya seolah menyatu dengan bayangan puing pondok, meluncur menjauh tanpa menyentuh tanah dan tanpa membelah angin.

Zeng Niu menoleh ke arah Bao Tuo dan Xiaoyu. "Bangun. Bawa barang-barang kita. Kita pindah."

Bao Tuo bangkit dengan kaki seperti jeli, buru-buru mengemasi sisa barang dan kotak herba Zeng Niu. Xiaoyu mengusap darah di bibirnya, matanya menatap Lang Jue yang mengerang kesakitan dengan pandangan merendahkan, lalu segera berlari mengekor di belakang Zeng Niu. Hari ini, mereka resmi meninggalkan dasar rantai makanan.

Paviliun Penegak Hukum tidak terletak di puncak gunung yang disinari matahari, melainkan berada di dalam sebuah ngarai gelap yang tak pernah tersentuh cahaya siang, berbatasan langsung dengan Lembah Hukuman.

Udara di sini sangat dingin, dipenuhi oleh aroma darah tua dan dupa penenang jiwa. Tidak ada murid yang terlihat berlalu-lalang, tidak ada suara dentingan pedang yang berlatih. Semuanya diam. Bangunan-bangunannya terbuat dari batu obsidian hitam yang menyerap cahaya.

Mo Yin berhenti di depan sebuah pintu gua raksasa yang tertutup oleh gerbang batu seberat puluhan ribu kati. Di atas gerbang itu, terdapat ukiran aksara darah berbunyi: Gua Kehampaan.

Bao Tuo dan Xiaoyu diinstruksikan untuk tinggal di asrama pelayan di luar ngarai, sementara Zeng Niu dibawa langsung menghadap gerbang batu tersebut.

"Pembunuh sejati tidak membunuh dengan amarah, seperti yang kau lakukan pada cecunguk di luar tadi," ucap Mo Yin perlahan, membelakangi Zeng Niu. "Amarah memancarkan hawa panas. Dendam memancarkan riak Qi. Jika kau memancarkan itu di hadapan monster tingkat Raja atau kultivator Nascent Soul, kau akan mati sebelum bilahmu ditarik."

Mo Yin menunjuk gerbang batu itu. "Gua Kehampaan. Di dalamnya, tidak ada cahaya, tidak ada suara, dan formasi di dindingnya akan menyedot habis indera perabamu. Kau tidak akan merasakan kakimu menyentuh tanah, dan kau tidak akan mendengar napasmu sendiri. Jika kau tidak memiliki kendali atas jiwa dan niatmu, kau akan menjadi gila dalam tiga hari."

Mo Yin menoleh, menatap Zeng Niu dengan mata hitamnya yang kosong. "Bertahanlah di sana selama tujuh hari. Pelajari cara membunuh tanpa niat membunuh. Berjalan tanpa menyentuh debu. Jika kau keluar dengan kewarasan yang utuh, aku akan mengajarkanmu Seni Bayangan. Jika kau gila, aku akan membuangmu ke Lembah Hukuman sebagai makanan monster eksperimen."

Mo Yin melambaikan lengan bajunya. Gerbang batu raksasa itu bergeser perlahan, mengeluarkan suara gesekan yang memekakkan telinga. Kegelapan yang menyerupai tinta hitam menyembur dari dalam.

Zeng Niu tidak ragu sedetik pun. Di tempat seperti ini, keraguan adalah kelemahan. Tanpa menoleh, ia melangkah masuk menembus kegelapan.

BUM!

Gerbang batu ditutup kembali, menyegel Zeng Niu di dalam dunia tanpa warna.

Begitu gerbang tertutup, hukum seolah lenyap.

Zeng Niu tidak bisa melihat tangannya sendiri meski diangkat ke depan wajahnya. Ketika ia memanggil namanya, tenggorokannya bergetar, tapi tidak ada suara yang sampai ke telinganya. Formasi kuno gua ini menelan segalanya. Terlebih lagi, ia tidak bisa merasakan suhu. Udara di sekitarnya terasa kosong.

Ini adalah siksaan mental yang dirancang untuk menghancurkan ego kultivator yang merasa dirinya perkasa. Kesunyian ekstrem biasanya akan membuat otak manusia menciptakan halusinasinya sendiri, menggerogoti kewarasan hingga hancur berkeping-keping.

Zeng Niu duduk bersila di tempat.

Di dalam Lautan Kesadarannya, sebuah tawa merdu namun mengejek terdengar.

“Ujian yang kekanak-kanakan,” dengus Lei Ling, sang dewi petir, dari atas singgasananya. “Bagi mereka yang terbiasa hidup disanjung Langit, kegelapan memang menakutkan."

"Diamlah," batin Zeng Niu datar.

Namun, ia tahu Lei Ling benar. Kesepian, kegelapan, dan keheningan bukanlah musuh bagi Zeng Niu; mereka adalah kawan lamanya. Alih-alih memberontak atau ketakutan, Zeng Niu menenangkan detak jantungnya hingga nyaris berhenti. Ia menyelaraskan ritme pernapasannya dengan ritme ketiadaan gua tersebut.

Membunuh tanpa niat. Berjalan tanpa debu.

Zeng Niu memutar Dantian berdarahnya. Qi merah kehitamannya mengalir perlahan, menyusuri meridian yang telah dilebarkan oleh penderitaan. Ia mulai memahami maksud Mo Yin. Jika tubuh fisiknya adalah pedang yang tajam, maka Qi harus menjadi sarung yang menyembunyikan kilauannya.

Ia memfokuskan pikirannya, menarik seluruh "hawa keberadaan" dan "niat membunuh" yang biasanya meluap-luap dari tubuh Penempatan Tubuhnya, mengompresnya dalam-dalam ke dalam Dantian.

Sehari. Dua hari. Tiga hari.

Di dalam kesunyian mutlak itu, Zeng Niu berlatih melangkah. Tanpa indera peraba, ia harus menggunakan insting murninya untuk menyeimbangkan otot. Ia melangkah maju, mundur, dan menyamping di dalam kegelapan. Awalnya goyah, tapi di hari kelima, langkahnya menjadi sangat sempurna. Jika ada daun kering di lantai gua ini, kaki Zeng Niu tidak akan meremukkannya; ia hanya akan menekannya selembut hembusan napas.

Hari Ketujuh tiba.

Di luar gua, Tetua Mo Yin berdiri diam layaknya patung. Di masa lalu, dari puluhan Murid Dalam jenius yang ia bawa ke sini, sembilan puluh persennya menangis histeris di hari ketiga, memohon dikeluarkan sambil mencakar gerbang batu hingga kuku mereka copot.

Mo Yin mengayunkan lengan bajunya.

BUM.

Gerbang batu bergeser terbuka, membiarkan seberkas cahaya suram Ngarai Kegelapan masuk ke dalam.

Mo Yin menunggu. Ia menatap ke dalam bayangan gua.

Tidak ada suara isak tangis. Tidak ada teriakan.

Tiba-tiba, tanpa ada fluktuasi udara, tanpa ada suara gesekan pakaian, sebilah belati somplak yang terbuat dari besi biasa menempel tepat di leher Tetua Mo Yin, hanya berjarak sehelai rambut dari urat nadinya.

Mata hitam Mo Yin membelalak tipis sebuah reaksi keterkejutan yang sangat langka.

Ia menoleh perlahan. Zeng Niu berdiri tepat di sampingnya, di dalam jangkauan bayangannya. Pemuda itu tidak memancarkan hawa pembunuh sedikit pun. Detak jantungnya statis. Tatapannya tenang seperti air sumur yang mati. Ia seperti sesosok hantu yang tercipta dari ketiadaan, menyatu dengan kesunyian.

"Tujuh hari," ucap Zeng Niu pelan, suaranya sangat datar dan kering. "Aku lapar."

Bibir pucat Tetua Mo Yin perlahan tertarik ke atas, membentuk sebuah senyum mengerikan yang tidak pernah terlihat selama puluhan tahun. Ia tidak marah karena ancaman belati di lehernya. Sebaliknya, ia telah menemukan mahakaryanya.

"Turunkan pisau tumpulmu, Bocah," bisik Mo Yin puas. "Mulai malam ini... kau akan mempelajari bagaimana cara memenggal seekor Naga tanpa membangunkannya dari tidur."

1
eka suci
baca disini tuh banyak tahan nafas🤭 seru deg" n eh nama MC sama dgn kembaran Zhao xuan ya🤭
eka suci
ngajarin predator buat bunuh kamu tetua mo😄
saniscara patriawuha.
cepat ambil pedang yang kabur dari mang zhao xuan,,,
.
absen Thor
Sang_Imajinasi: siap lanjutkan
total 1 replies
eka suci
si gendut SDN gadis ilusi di ajak ngga🤔
eka suci
paling brutal woy🤭
Xiao Bar
lnjut
Xiao Bar
ada kaitan nya kah ini? pedang Zhao xuan
Xiao Bar
ngeri 💪
eka suci
ini perpaduan Shen yu yg merangkak dari nol juga Zhao xuan yg di yg di hinggapi jiwa licik dan arogan 👍
eka suci
Lei Ling kau itu nasibnya ngga lebih baik dari kakek gu yg dulu bersemayam di Zhao xuan😄
saniscara patriawuha.
lanjutttt keunnnnn....
i
jangan kendor
i
gas niu
k
gasss
k
lanjut thor😍
p
lanjut thor👍
1
lanjut kan thor👍
eka suci
MC mu semuanya di luar nurul😄 lanjutkan 💪
p: kwkwk
total 1 replies
eka suci
pedang nya masuk cincin kah🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!