Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Sangkan Paraning Dumadi Rahasia ing Balik Kabut Lawu
Siang itu, dapur kediaman Wijaya terasa sangat damai. Faris Arjuna duduk lesehan bersama Simbok, para dayang, Eyang Buyut, dan anak-anak Majapahit. Aroma nasi liwet dan ayam goreng memenuhi ruangan, menciptakan suasana kekeluargaan yang jarang dirasakan sang Satrio.
"Ayo, Dikmas Faris, dhahar dhisik. Sampeyan wis sayah banget njogo keluarga iki," ucap Simbok sambil menyodorkan piring penuh lauk ke arah Faris.
(Ayo, Dikmas Faris, makan dulu. Kamu sudah sangat lelah menjaga keluarga ini.)
Faris tersenyum dan menerima piring itu. Namun, baru saja jemarinya hendak menyentuh nasi, tubuhnya mendadak kaku. Matanya yang keemasan bergetar hebat. Lewat indra batinnya, ia mencium bau dupa melati dan mendengar suara batuk yang sangat ia kenal di tengah dinginnya kabut.
PRANNGGGG!
(Suara piring jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai dapur).
"Dikmas! Wonten nopo?" tanya Arjuna Hidayat kaget melihat adiknya tiba-tiba pucat.
(Dikmas! Ada apa?)
Faris berdiri dengan air mata yang mengucur deras. "Simbok... Eyang... Nyuwun sewu, Faris mboten saged dhahar. Romo... Romo mboten seda! Romo wonten Puncak Lawu!"
(Simbok... Eyang... Mohon maaf, Faris tidak bisa makan. Romo... Romo tidak meninggal! Romo ada di Puncak Lawu!)
Tanpa menunggu jawaban, Faris berlari keluar. VROOOOOMMMMM! Ia memacu mobilnya menembus jalanan menuju lereng Gunung Lawu. Sesampainya di sana, ia berlari mendaki jalur terjal dengan ilmu meringankan tubuh, menembus kabut abadi hingga sampai di sebuah gubuk bambu kecil di dekat kawah.
Di depan gubuk itu, duduk seorang lelaki tua berkaos oblong putih dan sarung lusuh. Faris langsung ambruk bersujud di kaki lelaki itu. "Romo...! Niki Faris, Romo! Nopo sampeyan wonten mriki? Nopo sampeyan urip ngenes ngeten niki?"
(Romo...! Ini Faris, Romo! Kenapa Anda ada di sini? Kenapa Anda hidup menderita seperti ini?)
Romo menoleh perlahan, mengusap rambut Faris. "Ngger, anakku lanang... Wis, ojo nangis. Romo neng kene ayem. Romo wis mboten pengen dikenal wong."
(Nak, anak laki-lakiku... Sudah, jangan menangis. Romo di sini tenang. Romo sudah tidak ingin dikenal orang.)
Tiba-tiba, dari balik kabut muncul dua petani tua membawa cangkul. Yang satu berwajah teduh memegang tasbih, sementara yang satu berwajah gagah dengan sorot mata seperti macan. Faris tertegun melihat aura mereka yang sangat suci.
"Assalamu'alaikum, Ngger," ucap petani pertama. "Aku mung wong ndeso sing lagi nandur kebecikan. Wong-wong asring nyebut aku Kanjeng Sunan Kalijaga."
(Assalamu'alaikum, Nak. Aku cuma orang desa yang lagi menanam kebaikan. Orang-orang sering menyebut aku Kanjeng Sunan Kalijaga.)
Lalu petani kedua bicara dengan bahasa Sunda yang sangat berwibawa. "Anaking, Faris Arjuna... Teu kenging nangis. Satria mah teu kenging eleh ku kasedih."
(Anakku, Faris Arjuna... Tidak boleh menangis. Satria itu tidak boleh kalah oleh kesedihan.)
Faris gemetar, ia menyadari sedang berhadapan dengan Eyang Prabu Siliwangi. Faris menjawab dengan bahasa Sunda sebisanya. "Hatur nuhun, Eyang... Nanging kuring... kuring rumaos nyalira."
(Terima kasih, Eyang... Tapi saya... saya merasa sendirian.)
Eyang Prabu Siliwangi tersenyum. "Ulah ngarasa sorangan. Kami jeung para karuhun Nusantara salawasna aya di tukangeun hidep. Ayeuna, hidep kudu jadi maung nu gagah!"
(Jangan merasa sendiri. Kami dan para leluhur Nusantara selamanya ada di belakangmu. Sekarang, kamu harus jadi macan yang gagah!)
Kanjeng Sunan Kalijaga menepuk pundak Faris. "Wis krungu dhewe to, Ngger? Saiki, pilihane mung siji: dadi ksatria opo dadi pecundang?"
(Sudah dengar sendiri kan, Nak? Sekarang, pilihannya cuma satu: jadi ksatria atau jadi pecundang?)
Faris Arjuna berdiri dengan tegap. Air matanya kering, digantikan sorot mata tajam sekeras baja. "Nggih, Kanjeng Sunan. Eyang Prabu, hatur nuhun pisan kana amanatna. Kuring bade tandang makalangan!"
(Iya, Kanjeng Sunan. Eyang Prabu, terima kasih banyak atas amanatnya. Saya akan terjun ke medan laga!)
Romo memberikan sebilah keris tua kepada Faris. "Balio, Ngger. Rampungke tugasmu."
(Pulanglah, Nak. Selesaikan tugasmu.)
Faris membalikkan badan, melangkah turun dari Gunung Lawu dengan aura pemimpin sejati. Ia siap menghancurkan siapapun yang berani mengusik kedamaian Nusantara.
Faris Arjuna sudah melangkah beberapa meter meninggalkan gubuk bambu itu. Namun, baru saja sampai di kelokan jalur pendakian, langkahnya mendadak berhenti. Ia menoleh ke belakang, melihat gubuk reyot itu diselimuti kabut dingin. Hatinya hancur membayangkan Romo-nya harus kedinginan sendirian.
"Mboten... kulo mboten tega..." bisik Faris.
(Tidak... saya tidak tega...)
Faris memutar balik badannya dan berlari kecil kembali ke arah Romo dan para sesepuh agung yang masih berdiri di sana. Ia menghampiri Kanjeng Sunan Kalijaga dan Eyang Prabu Siliwangi dengan wajah memelas namun penuh hormat.
"Eyang... Kanjeng Sunan... Kulo nyuwun tulung sanget. Tulung jagi Romo nggih, Eyang?" ucap Faris sambil membungkuk dalam.
(Eyang... Kanjeng Sunan... Saya minta tolong sekali. Tolong jaga Romo ya, Eyang?)
Faris menatap gubuk itu dengan mata berkaca-kaca. "Tulung dijagi maeme, rokokane kaleh ngopine Romo. Romo niku remen ngopi kaleh rokokan, Eyang."
(Tolong dijaga makannya, rokoknya dan kopinya Romo. Romo itu suka ngopi dan rokok, Eyang.)
Tanpa menunggu jawaban, Faris langsung melesat turun gunung menggunakan ilmu peringan tubuhnya secepat kilat. Hanya dalam hitungan menit, ia kembali lagi ke puncak sambil menenteng bungkusan besar. Nafasnya terengah-engah, tapi matanya puas.
"Niki Romo... kulo gowo kopi, rokok, kaleh maeman tigo bungkus. Kangge Romo kaleh Eyang-eyang sedoyo," ucap Faris sambil meletakkan bungkusan itu di meja kayu yang sudah lapuk.
(Ini Romo... saya bawa kopi, rokok, sama makanan tiga bungkus. Untuk Romo sama Eyang-eyang semuanya.)
SREEEKKK...
(Suara Faris membuka bungkusan nasi hangat yang aromanya langsung menusuk dinginnya udara Lawu).
Faris kemudian meraih tangan Romo, lalu beralih menyalami Kanjeng Sunan dan Eyang Prabu Siliwangi dengan sangat takzim. Ia mencium tangan para sesepuh itu satu per satu dengan khusyuk.
"Kulo pamit saestu, Romo. Eyang Prabu, Kanjeng Sunan... matur nuhun sanget pun kersa njagi Romo kulo," ucap Faris dengan suara yang bergetar menahan tangis.
(Saya pamit sungguhan, Romo. Eyang Prabu, Kanjeng Sunan... terima kasih banyak sudah mau menjaga Romo saya.)
Eyang Prabu Siliwangi menepuk pundak Faris sambil tersenyum bangga. "Hade, Anaking. Bakti hidep bakal jadi kakuatan nu moal aya tandingna. Jung geura miang!"
(Bagus, Anakku. Baktimu bakal jadi kekuatan yang tidak ada tandingannya. Cepatlah berangkat!)
Kanjeng Sunan Kalijaga hanya mengangguk sambil memegang tasbihnya. "Wis, Ngger... gowoen dungane wong tuwomu iki. Ojo lali ubat-ubet golek slamet."
(Sudah, Nak... bawalah doa orang tuamu ini. Jangan lupa bergerak mencari keselamatan.)
Faris Arjuna berjalan mundur perlahan, matanya terus menatap Romo sampai bayangan gubuk itu tertutup kabut tebal. Kali ini, ia benar-benar pergi. Bukan dengan kesedihan, tapi dengan api semangat yang menyala karena tahu para wali dan raja besar sedang menjaga Ayahandanya