Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, rupa menawan dengan senyum mempesona.
Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.
Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.
Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.
Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter : 17
“Cuma pingsan kan? Bukan mati?” tantang Vinira tetap teguh pada keinginan, harus ada pengulangan lagi.
Sang sutradara menatap jengah, artis satu ini memang luar biasa congkak. Sayang saja terlahir dari keluarga berpengaruh, memiliki pengikut puluhan juta pada laman media sosial, terlebih setiap anggota kru serta lainnya sudah terikat kontrak hitam diatas putih berkekuatan hukum.
Ya, begitulah cara uang dan kekuasaan bekerja dalam membungkam setiap mulut agar tidak berani protes apalagi melawan.
Ayunda membungkuk, menahan beban tubuh dengan kedua tangan menekan lutut. Air hujan ini bagaikan butiran batu kerikil kecil menghujam kulitnya.
Rasa dingin tembus hingga tulang sumsum membuat badannya sedikit menggigil, perut perih. Pelan-pelan dia berdiri tegak, mengelap wajah yang basah, lalu mengatur napas.
Hampir saja dirinya ambruk saat berusaha melangkah kakinya terasa perih akibat berlari di atas aspal tanpa mengenakan alas kaki.
“Buruan lari lagi! Jangan buang-buang waktu berhargaku!” Vinira meneriaki adik yang dia labeli benalu, anak pelakor, wanita hina.
Salah satu kru pria yang tidak tega melihat sang pemeran pengganti, menghampiri dengan segelas teh hangat. “Minum dulu, biar badan mu anget.”
Ayunda menggeleng tegas, masih bisa mengatakan jelas meskipun bibirnya mulai kebas. “Tidak. Terima kasih. Tolong sampaikan ke kru, aku sudah siap.”
Pria tadi pun menyerah, wanita ini sungguh keras kepala dan sangat sulit didekati.
Bukan tanpa sebab Ayunda menolak, dia tidak ingin terlibat skandal yang bisa saja dimanfaatkan oleh Vinira.
Dunia hiburan tidak seindah yang dibayangkan serta terpampang di media sosial. Banyak kemunafikan, kecurangan, kepalsuan, intrik kotor di dalamnya.
Pernah dulu Ayunda ditawari seni peran, dengan tegas langsung ditolaknya tanpa pikir dua kali. Jadi artis bukan cita-citanya, terlebih tanpa pelindung kuat, yang ada dia dijadikan pion dilempar ke sana kemari demi mendapatkan peran dan namanya tidak tenggelam.
Para kru kembali ke posisi semula, yang punya andil mengatur tekanan air hujan buatan berteriak siap.
Ayunda sudah berdiri ditempat semula berjarak belasan meter dari sutradara. Dia mengambil ancang-ancang, mengatur napas, lalu berlari dengan sisa tenaga kala sang sutradara sudah berseru ‘action’.
Heuhhh heuhhh ….
Napas Ayunda sungguh berisik, raut wajahnya menahan sakit serta dingin. Setiap ayunan kaki seperti menginjak ujung tumpul batu-batu kecil.
Air kali ini jatuh lebih rapat, buliran besar layaknya hujan es, memberi efek kebas seolah mati rasa.
Pandangan Ayunda berkunang-kunang, sebisa mungkin dia mencoba untuk tetap terjaga berakhir tersungkur.
Akhhh!
Rintihan itu langsung dibungkam dengan menggigit bibir bagian dalam, kedua telapak tangannya tergores demi menahan badan agar tidak menghantam kuat permukaan aspal. Ayunda terduduk miring, air mata bercampur dengan air hujan, dia menangis tanpa suara.
Ini bukan kali pertama dirinya menggantikan peran beresiko seharusnya dilakukan oleh Vinira, sedari umurnya delapan belas tahun sudah akrab dengan adegan lari, badan terpental, terjatuh, menabrak mobil berhenti. Semua itu meninggalkan bekas lebam-lebam hingga berhari-hari baru sembuh.
“Perfect! Ini yang aku inginkan. Sangat menjiwai!” Vinira mengacungkan dua jari jempolnya. Sorot matanya berkilat, hati membuncah oleh rasa puas melihat sosok menyedihkan Ayunda. Kemudian dia masuk ke dalam tenda khusus untuknya.
Pemeran figuran berlari mendekati Ayunda, membantunya berdiri, dan memapah supaya memudahkan berjalan pelan.
“Kamu baik-baik saja? Apa perlu kami bawa ke klinik kesehatan?” sang sutradara terlihat cemas.
Ayunda menggeleng lemah. “Tidak perlu. Apa tugas saya sudah selesai?”
“Iya. Sebaiknya Kamu ganti pakaian, baru pulang. Oh ya … lebih baik diantar salah satu kru, biar _”
“Saya bawa mobil. Terima kasih atas perhatiannya. Permisi.” Dia menunduk, berkata formal.
Tidak ada yang bisa dilakukan oleh kru sinetron tengah kejar tayang itu, mereka kesulitan dekat dengan sang pemeran pengganti artis papan atas yang tabiatnya buruk, suka seenaknya sendiri.
Ayunda menjinjing sandal dan tasnya. Berjalan pelan dengan wajah diusahakan terlihat tidak menahan rasa sakit.
***
“Aku gak mungkin sanggup menyetir disaat menggigil gini.” Ayunda membuka tas kecilnya, bersandar pada mobil. Melakukan panggilan telepon, berbicara singkat, jelas, lalu dia memesan taksi online.
Tidak seberapa lama, sebuah kendaraan umum roda empat sudah berhenti di dekat wanita memeluk dirinya sendiri.
Tertatih-tatih Ayunda menuju taksi biru, lalu masuk dan mengakatan tujuannya. Soal mobil, akan ada yang datang mengurus, kebetulan juga memegang kunci cadangan.
.
.
Setibanya di dalam unit apartemen, Ayunda membuka pakaiannya hingga polos, berjalan menuju dapur, menyeduh minuman jahe kemasan.
Minuman itu dia bawa ke kamar mandi, diletakkan pada meja wastafel, lalu dirinya menyiapkan air hangat dalam bathtub.
Sembari berendam, tangis Ayunda lolos, bukan karena dia cengeng, tapi memang beginilah caranya mengatasi sesak dalam dada. Biasanya setelah menangis kencang, perasaannya jauh lebih baik, pikiran kembali jernih, meskipun perlakuan tidak adil tetap meninggalkan bekas dalam hati.
***
Keesokannya, rutinitas Ayunda sama seperti hari kerja – pagi-pagi pergi ke kantor.
Namun kali ini dia merasa ada yang berbeda, bagian resepsionis, orang yang berpapasan dengannya menatap aneh, seolah menilai, lanjut menghakimi.
Tiba-tiba Seila menarik tangan Ayunda, tadi dia berdiri tertutup orang yang mau masuk ke dalam lift.
“Ikut gua!” Ia melangkah ke pintu tangga darurat.
“Kenapa si, Sei?” Ayunda bersandar penuh pada dinding tembok, kakinya masih terasa perih sampi harus menambah sol empuk, padahal sudah diobati menggunakan salep.
“Lu lagi trending topik di kantor! Caption – salah satu karyawan Wangsa group, keciduk tengah tawar menawar dengan seorang pria misterius di belakang klub malam. Lihat ini!”
.
.
Bersambung.
jangan sampai kepulangan orang tua daksa untuk memaksa pernikahan sapi sama daksa. awas aja kalau kontrak belum selesai dah nikah lagi aku potong itu burung mu😤