Di abad 21 aku Anna Chandrawathi, wanita karir yang dihormati.
> Satu kedipan, aku terbangun di tahun 1980 sebagai "si jelek"—istri yang dibenci Jendral Chandra, dikurung 5 tahun di gudang tua, dinyatakan mati terbakar.
> Tapi aku nggak mati. Aku melahirkan.
> Putraku cerdas, ayahnya Jendral yang membenciku.
> Aku bisa saja pergi. Tapi pemilik tubuh ini menitipkan satu pesan: "Bersihkan namaku."
> Maka aku akan keluar. Menghadapi selir-selir haus kuasa, ibu tiri licik, dan suami yang menganggapku sampah.
> Sebab kali ini, yang terbakar bukan aku. Tapi mereka.
> *Yuk ikuti kisahku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tuh kan bukan Ratna
“Bukannya yang nyelamatin aku itu Ratna?”
Kalimat itu keluar dari mulut Chandra. Pelan. Ragu. Kaya anak SD ditanya 7x7.
Akibat cinta buta 20 tahun bikin otak Jendral bego. Bego banget. Bintang tiga di pundak nggak nolong kalau urusan logika.
Rangga ketawa. Pendek. Pahit. Lebih serem dari bentakan.
“Mana mungkin?” sahutnya. Matanya nggak lepas dari muka mantu. “Waktu itu Ratna jalan aja masih dipapah Bi Siti. Gimana mau lari terus lompat ke kolam? Kakinya lemes, napasnya aja ngos-ngosan.”
Jeda. Rangga maju selangkah. Wibawa Komandan senior nusuk-nusuk dada Chandra.
“Lagi pula, Ratna baru liat kamu 5 kali. 5 kali ketemu, udah sok jadi pahlawan.”
“Nggak kaya Anna. Anna udah liat kamu 5 tahun. Tiap hari. Nungguin kamu pulang sekolah, ngintip kamu latihan, ngekor kamu sampe ke tepi kolam.”
Ucapan mertuanya lagi-lagi nancep pas di dada. Nggak meleset. Tepat di jantung.
Semuanya jadi keliatan masuk akal. Film 20 tahun lalu muter ulang di kepala Chandra. HD. Nggak buram lagi.
Ratna sama Chandra duduk berdua di tepi kolam bukan karena Ratna yang nolong dia. Bukan.
Karena panik, Bi Siti langsung tarik Chandra yang pingsan ke pinggir. Digeletakin asal. Kebetulan di samping Ratna yang bajunya basah karena lagi main air, ciprat-ciprat doang.
Bi Siti liat gelembung di permukaan air. Liat gaun putih ngambang terus pelan-pelan tenggelam. Sadar nona pertamanya — Anna — nggak naik-naik.
Dia nyebur. Ke dasar. Buat nyelamatin Anna yang udah biru, yang paru-parunya kemasukan air kolam.
Kesimpulannya? Pas Chandra sadar, batuk-batuk, yang dia liat cuma Ratna. Duduk di samping, bajunya basah, tangannya gemeter.
Antara Bi Siti lagi nyelam di bawah buat bawa Anna naik, atau udah gendong Anna lari ke dalam buat ketemu dokter.
Yang jelas, Anna nggak ada di frame. Jadi otak bocah 10 tahun Chandra otomatis: “Oh, yang basah ini yang nyelamatin.”
Bego.
“Chandra,” suara Rangga narik dia balik ke ruang kerja. Tegas. Penuh wibawa. “Dari saat kamu lindungi Ratna hari itu, saya sadar kamu nggak pantes buat Anna dan Cikal. Tinggalin mereka.”
Nggak ada nawar. Perintah.
Rangga sadar. 20 tahun anaknya menderita. Dia nggak tau gimana sikap Rukmini dan Ratna ke Anna di rumah itu. Nggak tau Anna disuruh ngepel jam 3 pagi. Nggak tau Anna makan nasi sisa.
Dan jauhin Anna dari orang yang bakal nyakitin dia adalah cara Rangga buktiin sayang. Buktiin dia mau nebus 20 tahun ketidak-tahuan dengan lindungi putrinya seumur hidup. Titik.
“Nggak bisa,” Chandra bela diri. Refleks. “Anna istri saya. Kaisar nyaksiin pernikahan kami langsung. Kamu, biarpun ayahnya, kalau maksa misahin kami sama aja kaya raguin Kaisar.”
Keluarin kartu Kaisar. Jurus terakhir Jendral kejepit.
Rangga diem. Terus senyum. Tipis. “Bahkan kalau bintang tiga ini dicabut,” ucap rangga. Sedietik Chandra Panik. “Pengabdian puluhan tahun dilupain. Asal Anna dan Cikal hidup bahagia, bakal saya buang semua.”
PLAK.
Chandra ketabok lagi. Bukan pake tangan. Pake gelar.
Gelar “Bapak” yang pangkatnya ngalahin Kaisar, ngalahin Jendral, ngalahin semua.
“Istri kamu cuma Ratna,” Rangga ngomong pelan. Tapi tiap kata kaya palu. “Iblis yang kamu peluk tiap malam di ranjang empuk. Yang apa-apanya selalu kamu turutin. Yang kamu belain sampe buta.”
“Sementara Anna...” Rangga napas. Berat. “Sampai kapanpun bakal tetep jadi anak saya. Anak yang dulu wajahnya jelek, item, dekil. Tapi hatinya bidadari.”
“Waktu Ratna ngaku-ngaku jadi orang yang nyelamatin kamu, Anna nggak lawan. Tau kenapa?” Rangga deketin wajah Chandra. “Dia bilang ke saya: ‘Takut Kak Chandra makin benci, Yah. Biarin aja Kak Chandra bahagia sama Ratna.’”
“Padahal,” suara Rangga pecah, “saya yang tiap hari liat dia sesek napas. Batuk-batuk tengah malem. Paru-paru kerendem air kolam 20 tahun lalu nggak pernah bener-bener sembuh. Dia demam, nggak ada yang tau. Dia mimisan, dia lap sendiri.”
Chandra mundur selangkah. Napasnya patah. Dada sesek kaya ditindih tank.
Gaun putih. Darah. Sesek napas. Anna.
Semua nyatu. Nusuk. Ngebor otaknya.
20 tahun. Dia peluk ular. Dia buang bidadari. Dia kasih gelar “istri” ke iblis, dan kasih gelar “pengganggu” ke penolongnya.
“Pantes...” bisik Chandra. Suaranya hilang. “Pantes Cikal tanya terus... ‘Paman Jahat lagi apa?’...”
Karena dia emang jahat. Dari 20 tahun lalu sampe sekarang.
Rangga balik badan. Ngadep jendela lagi. Ke arah gazebo. Ke Anna dan Cikal.
“Pulang, Chandra.” Perintah terakhir. “Sebelum saya lupa kamu mantu, dan ingetnya kamu cuma laki-laki yang bikin anak saya tenggelam dua kali.”
lnjut thor