Seorang siswa culun yang hidupnya selalu di warnai luka dan derita, ternyata memiliki garis keturunan dewa kultivator. Ia belum menyadarinya hingga suatu hari, ia nyaris tewas karena di keroyok oleh siswa lainnya yang tak suka kepadanya.
Di saat ia sekarat, seorang gadis cantik membawanya masuk ke dalam sebuah dimensi yang jauh dari peradaban manusia.
Namun, tentu saja hal itu membuatnya menjadi bingung saat tersadar, ia menganggap dirinya sudah mati, lalu bagaimana cara ia memulai kembali kehidupannya di dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Merasa tak di beri muka oleh Aruna dan Nova, Vanesha menjadi kesal, ia menghentakkan kakinya sambil mengumpati keduanya.
“Awas aja kalian! Huft!”
Sementara itu, Aruna mengajak Nova ke sebuah gerai ponsel yang cukup ternama. Nova yang tak pernah sekalipun membeli ponsel mahal, hanya bisa berdecak kagum. Kini ia tak perlu khawatir karena uang di dalam rekeningnya sudah lebih cukup membeli sebuah ponsel, bahkan untuk membeli seisi toko itu pun ia sanggup.
“Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?” sapa seorang sales wanita saat melihat Aruna dan Nova masuk ke dalam toko mereka.
Sementara sales ponsel yang lainnya hanya acuh tak acuh, karena saat melihat penampilan Nova yang sederhana mereka enggan untuk melayaninya. Hanya satu yang maju, dan menghampiri Nova dan juga Aruna.
“Kak, teman saya mau beli ponsel, apa ada yang terbaru?” tanya Aruna.
Sementara Nova memperhatikan ponsel dan berbagai merek lainnya di meja display, ia tertarik dengan berbagai macam barang.
“Baik, nona. Sebentar, akan saya ambilkan,” ucap si sales.
Aruna memperhatikan Nova yang sedang mencoba sebuah tab yang ada di meja display toko itu.
“Apa kamu suka itu? Kalo suka beli saja, kan kamu sekarang udah punya banyak uang,” ucap Aruna sambil tersenyum kepada Nova.
Nova mengangguk pelan.
“Oke, aku akan membeli yang ini juga untuk ibuku,” ucapnya dengan antusias mengingat ibunya yang seorang guru hanya mengandalkan laptop jadul, dan seringkali rusak dan mengharuskan service berulang kali.
Mendengar itu Aruna semakin kagum dengan sosok Nova, terlebih ia begitu sayang dengan ibunya.
Beberapa karyawan toko memperhatikan itu dengan tatapan yang meremehkan ke arah Nova.
“Halah, palingan cuman liat-liat doang, gaya-gayaan aja masuk kesini,” ucap salah satu karyawan toko.
“Udah biarin, ntar yang rugi kan si Nina, bukan kita.”
Wanita itu mengangguk setuju dan keduanya kembali memperhatikan Nova dan Aruna.
Sementara itu, sales yang tadi melayani Nova dan Aruna kembali membawa tiga dus kecil sambil tersenyum.
“Ini, Nona tiga model terbaru kami di toko ini,” ucap Nina. “Silahkan duduk lah,” lanjutnya.
Nova dan Aruna duduk memperhatikan penjelasan produk dari si sales, tanpa banyak berbasa-basi Nova langsung menunjuk salah satu merk terbaru.
“Apa kamu yakin adik?” tanya Nina saat Nova memilih ponsel yang termahal, karena ia menyukai spesifikasi ponsel itu, cukup untuk ya menyimpan data penting dengan kapasitas memory yang memadai.
Nova mengangguk dengan yakin lalu mengeluarkan kartu berwarna hitam tanda prioritas utama yang hanya di miliki oleh beberapa orang di kota Meikarta. Saat melihat kilau dari kartu itu Nina langsung menelan ludahnya berkali-kali. Dua sales yang melihat itu langsung di buat terdiam sambil membelalakan matanya.
“APA! KARTU PRIORITAS?!” ucap keduanya.
“Dan satu lagi, aku mau laptop terbaru itu kak, tolong kemas dan kirim ke alamatku ya,” ucap Nova sambil tersenyum puas, terlebih saat melihat ekspresi kedua sales yang merendahkannya.
Nina langsung mengangguk, dan meraih kartu hitam dengan kilau emas itu dengan tangan bergetar.
“B-baik adik, tolong tunggu sebentar.”
Transaksi berhasil!
Nina membeku di tempat saat melihat saldo yang tertera di mesin EDC ( Electronic Data Capture ), setelah itu Nina mengembalikan kartu dan segera mengemaskan barang yang di minta oleh Nova.
Nova bangkit berdiri lalu menatap ke arah Nina. “Kalo begitu, kami pamit kak, tolong kirim ke alamat yang sudah aku tulis,” ucapnya.
“B-baik tuan muda,” ucap Nina dengan sura yang bergetar.
Transaksi puluhan juta seakan tidak ada apa-apanya bagi Nova, meskipun ia sedikit menyayangkan uang yang ia keluarkan. Tapi ia tidak terlalu khawatir karena ia sudah memiliki banyak berlian di ruang dimensi, dan jika mau ia akan mengambilnya kembali untuk di jual.
Saat Nina kembali ke tempatnya, kedua temannya langsung menghampiri dia sambil bertanya-tanya.
“Nin, beneran bocah itu beli hp sekaligus dua sama satu laptop yang harganya puluhan juta?” tanya salah satu rekan kerja Nina.
Nina mengangguk pelan, lalu tersenyum kepada dua temannya.
“Iyaa, ini aku mau bungkus barangnya buat di kirim ke alamat pemuda itu,” jawabnya.
Kembali ke Nova dan Aruna, keduanya berjalan menyusuri setiap sudut mall, mencari sesuatu yang di inginkan oleh Aruna. Tanpa disadari keduanya seseorang mengikuti mereka dari belakang,
“Apa kamu mau membeli....”
Belum selesai kalimat Aruna Nova langsung menarik tangan Aruna masuk ke sebuah lorong di antara toko yang tertutup.
“Ehh mau kemana kita?” ucap Aruna.
Nova pun berhenti dan langsung menghadap ke arah belakang.
“Ada yang mengikuti kita,” jawabnya.
Mendengar itu, Aruna langsung mengikuti kemana Nova melihat.
Benar saja, tak lama setelah itu dua orang berjaket kulit datang, dan langsung terhenti saat melihat Nova dan Aruna di hadapan mereka.
“Jadi, kau sudah tahu ya jika kami mengikutimu?” ucap salah satunya.
Nova hanya diam tak bergeming, matanya berkilat dan sekilas menyala keemasan, membuat kedua orang yang mengikuti Nova langsung terdiam dan merasakan tekanan yang luar biasa saat menatap mata Nova.
“T-ternyata benar apa yang di katakan oleh guru,” bisik pria yang satunya. “Anak ini, bukan manusia biasa,” lanjutnya sambil melangkah mundur.
Sementara pria di sebelahnya langsung tersenyum miring dan berdecak pelan.
“Ck! Kau takut dengan seorang bocah? Memalukan!” ejeknya sambil melangkah maju.
Nova dapat merasakan, bahwa kedua orang di hadapannya itu adalah seorang praktisi jiwa tingkat rendah, cukup mudah baginya untuk melawan mereka meskipun ia hanya seorang remaja berusia delapan belas tahun.
“Sebaiknya kalian pergi saja paman, aku tidak ingin mencari masalah dengan siapapun,” ucap Nova dengan suara yang datar.
Aruna merapatkan tubuhnya ke samping Nova dan menggenggam erat tangannya. “Sebaiknya kita pergi Nova, mereka sangat menakutkan,” bisiknya.
Nova hanya menoleh sekilas lalu kembali menatap ke arah dua orang di hadapannya itu.
“Tenang saja, tidak akan terjadi apapun.”
Pria di hadapan Nova menyeringai, sambil melakukan peregangan seperti seseorang yang sedang bersiap untuk bertarung. Namun, belum sempat pria itu bereaksi.
wussh!
Bugh!
Hoeeggh!
Nova meninju tepat di perut pria itu, hingga membuatnya terdorong beberapa meter.
”Bocah sialan!” umpat pria itu.
Namun, belum sempat ia berdiri Nova sudah ada di hadapannya dan mencengkram leher pria itu, membuat pria yang satunya gemetar ketakutan.
“Sebaiknya kalian pergi, dan jangan menggangguku!” ujarnya dengan nada suara yang penuh dengan tekanan.
Dua pria itu hanya bisa menelan ludah, dan saat Nova melepaskan cengkramannya kedua pria itu langsung lari terbirit-birit.
Aruna hanya bisa diam membeku di tempatnya, saat melihat Nova yang menurutnya sudah jauh berbeda.
“Nova... Kamu...”