NovelToon NovelToon
Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."

Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.

Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.

Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.

Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Sore itu, mobil Farez berhenti dengan tenang di depan pagar rumah. Aku turun dengan perasaan yang jauh lebih ringan, seolah beban berton-ton yang kupikul sejak melihat butik Wira Pratama tadi siang telah menguap di kafe tadi.

Aku melangkah masuk ke halaman rumah dengan wajah yang sudah jauh lebih tenang. Tidak ada lagi gurat kemarahan yang kaku, yang tersisa hanyalah kelelahan yang damai. Di belakangku, Farez mengikuti dengan langkah santai, masih membawa jasnya di lengan kiri, menjaga jarak yang sopan namun tetap terasa sebagai pelindung,sebuah gestur yang menunjukkan dia sudah melepaskan zirah Direkturnya demi menjadi bagian dari sore kami.

Gemerincing bel pintu menyambut kami. Di dalam, Ibu sedang duduk di meja makan, tampak sedang merapikan beberapa katalog benang. Beliau mendongak, dan sedetik kemudian senyumnya merekah saat melihatku pulang tidak sendirian.

"Rana? Sudah pulang, Sayang?" Ibu berdiri, matanya beralih ke sosok di belakangku. "Dan Farez? Kalian bareng?"

"Tadi... ada urusan mendadak di dekat sini, Bu. Farez sekalian mengantar Rana pulang," jawabku sambil mencium tangan Ibu. Aku tidak menyebutkan soal tangisanku di mobil atau luka di telapak tanganku yang kini tersembunyi di balik lengan blazer.

Farez melangkah maju, membungkuk hormat dan menyalami tangan Ibu dengan sangat sopan. "Selamat sore, Tante. Maaf mengganggu waktu istirahat Tante."

"Sama sekali tidak mengganggu, Farez. Malah Tante senang kamu mampir," ucap Ibu dengan binar mata yang tidak bisa berbohong. Ibu bisa melihat perubahan di wajahku—beliau tahu bahwa kehadiran Farez adalah alasan kenapa aku pulang dengan wajah setenang ini, bukan dengan wajah yang hancur seperti malam-malam sebelumnya.

"Ayo duduk dulu. Tante baru saja menyeduh teh melati," ajak Ibu hangat.

Kami bertiga duduk di ruang tengah yang aromanya selalu menenangkan. Farez duduk di kursi kayu tunggal, sementara aku duduk di samping Ibu. Suasana yang tadinya kupikir akan canggung, ternyata justru terasa sangat natural. Seolah waktu lima tahun itu tidak pernah ada, seolah Farez memang selalu menjadi bagian dari sore kami.

Ibu menatap Farez dengan pandangan yang dalam. "Farez, terima kasih ya sudah menjaga Rana. Tante tahu hari-hari di kantor pasti sangat melelahkan bagi kalian berdua."

Farez tersenyum tipis, melirikku sekilas sebelum menjawab Ibu. "Menjaga Rana itu bukan pekerjaan bagi saya, Tante. Itu adalah hal yang memang ingin saya lakukan. Selalu."

Aku tertunduk, menyesap teh melatiku untuk menyembunyikan pipiku yang mendadak terasa panas. Ibu hanya tersenyum simpul, beliau tahu segalanya tanpa perlu aku bercerita. Malam ini, di rumah kecil kami, kehadiran Farez bukan lagi sebagai "Direktur Abiwangsa" yang mengintimidasi, melainkan sebagai laki-laki yang akhirnya diizinkan masuk kembali ke dalam hidup kami

Obrolan sore itu mengalir begitu saja, jauh melampaui ekspektasiku. Tidak ada lagi pembahasan tentang strategi pasar, audit kain, atau draf kontrak yang menyesakkan. Ruang tengah yang bersambung langsung dengan area butik itu dipenuhi suara tawa kecil yang sudah sangat asing di telingaku selama lima tahun terakhir.

Ibu mulai bercerita tentang awal mula beliau membangun butik ini. "Dulu Farez, butik ini cuma satu rak kecil di pojok ruang tamu. Rana yang jadi modelnya, Rana juga yang bagian bungkus paket ke kurir," kenang Ibu sambil tertawa pelan.

Farez mendengarkan dengan antusiasme yang jujur. "Saya sudah curiga sejak lihat koleksi heritage Tante di pameran bulan lalu. Garis jahitannya khas sekali, rapi tapi berkarakter. Persis seperti Rana yang selalu teliti kalau ngerjain tugas sekolah dulu," sahut Farez sambil melirikku jenaka.

"Ih, apa sih Rez!" aku menyenggol lengannya, membuat teh di cangkir Farez sedikit bergoyang.

Kami tertawa bersama. Untuk pertama kalinya, aroma butik yang biasanya hanya terisi bau kain dan benang, kini bercampur dengan hangatnya kebersamaan. Farez bercerita tentang hobinya yang sekarang—memasak—yang langsung disambut Ibu dengan tawaran resep rahasia.

"Kapan-kapan Farez harus coba masakan Tante lagi. Rana bilang kamu kangen sambal bajak buatan Tante, kan?" pancing Ibu.

"Ibu!" wajahku memanas. Aku tidak menyangka Ibu akan membocorkan rahasia kecil itu.

Farez tertawa, suaranya yang berat dan soft-spoken memenuhi ruangan. "Saya nggak akan nolak, Tante. Malah saya sudah nunggu undangan itu sejak lima tahun lalu."

Suasana mendadak menjadi tenang, namun jenis ketenangan yang nyaman. Ibu menatap kami berdua bergantian, sebuah binar harapan terpancar dari matanya. Beliau melihatku bukan lagi sebagai wanita porselen yang kaku, melainkan sebagai Rana-nya yang mulai berani membuka diri.

"Butik ini jadi terasa lebih hidup kalau ada kamu, Rez," ucap Ibu tulus.

Sore itu, di tengah tumpukan kain sutra dan gulungan benang, aku menyadari bahwa kebahagiaan ternyata bisa sesederhana ini. Tidak butuh istana megah atau pengakuan dunia. Hanya butuh orang-orang yang tepat untuk membuat sebuah rumah benar-benar terasa seperti rumah.

Malam mulai turun, lampu-lampu butik yang berpijar hangat seolah menjadi saksi bahwa tembok es di hatiku telah retak sepenuhnya. Di bawah pendar cahaya itu, aku melihat Farez dan Ibu masih asyik mengobrol, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku tidak ingin waktu berlalu dengan cepat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!