Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arini, Aku Masih Culun yang Dulu
Hukuman dari Pak Broto setelah insiden "Bakso Lari" ternyata tidak seberat yang Satria bayangkan. Alih-alih skorsing, Satria hanya diminta membersihkan kolam ikan di taman belakang sekolah yang airnya sudah sehijau lumut dan dihuni oleh seekor hantu kura-kura raksasa yang hobi menggigit jempol kaki orang yang lewat. Namun, beban yang lebih berat justru terasa di dada Satria saat ia duduk di tepi kolam itu, menatap pantulan wajahnya yang berantakan di permukaan air yang tenang.
Arini sedang duduk di bangku taman, beberapa meter darinya, sambil mengayun-ayunkan kakinya yang terbalut sepatu sekolah putih bersih. Ia sedang asyik memakan es krim cornetto rasa stroberi yang tadi mereka beli di minimarket depan—es krim yang untungnya tidak melompat atau melakukan atraksi sirkus.
"Sat, kamu kok bengong terus?" suara Arini memecah keheningan sore itu. "Ikan-ikannya nggak akan mati cuma karena kamu liatin dengan tatapan sedih gitu, lho."
Satria menoleh, tersenyum kecut. "Gue cuma mikir, Rin. Kenapa ya, setelah sepuluh tahun, gue masih aja jadi penyebab keributan di sekitar lo?"
Arini berhenti menjilat es krimnya. Ia menatap Satria dengan intens. "Maksud kamu?"
"Ya... dulu waktu TK, gue nangis karena lihat hantu di perosotan, terus lo yang harus repot-repot nenangin gue. Sekarang, gue pindah ke sini, malah bikin kantin berantakan pakai bakso terbang. Gue ngerasa... gue masih Satria yang culun itu, Rin. Nggak ada yang berubah."
Satria menunduk, memainkan kerikil di tangannya. Emosi ini jujur. Ia merasa tidak cukup layak untuk bersanding dengan Arini yang kini menjadi primadona sekolah, ketua OSIS yang dikagumi semua orang, dan simbol kesempurnaan di SMA Wijaya Kusuma. Sementara dia? Dia hanya "Indigo Semprul" yang hidupnya dikelilingi tuyul kacamata hitam dan meneer tanpa kepala.
Di belakang Arini, Meneer Van De Berg tampak berdiri bersandar pada pohon kemboja. Sang Meneer tidak mengayunkan pedangnya kali ini. Ia justru tampak sedang memperhatikan Satria dengan semacam rasa ingin tahu yang dingin. Mungkin hantu kolonial itu bisa merasakan gejolak rasa rendah diri yang sedang melanda jiwa Satria.
Arini berdiri dari bangkunya, berjalan pelan menghampiri Satria, dan duduk di sampingnya di tepi kolam. Bau manis stroberi dari es krimnya bercampur dengan aroma tanah basah setelah hujan.
"Kamu mau tahu rahasia nggak, Sat?" Arini berbisik pelan.
Satria menoleh. "Rahasia apa?"
"Dulu, waktu kamu pindah tanpa pamit... aku benci banget sama kamu. Bukan karena kamu culun, tapi karena kamu satu-satunya orang yang bikin aku ngerasa 'dibutuhkan'. Kamu tahu kan, aku selalu dituntut jadi sempurna sama orang tuaku? Jadi juara kelas, jadi anak penurut. Tapi pas sama kamu, aku bisa jadi pahlawan. Aku bisa jadi Arini yang berani."
Arini menatap ke arah air kolam. "Dan sekarang, setelah kamu balik... aku justru seneng kamu masih 'culun'. Karena itu artinya, kamu masih Satria yang sama. Satria yang nggak pura-pura keren cuma buat disukai orang."
Mata Satria berkaca-kaca. Ia tidak menyangka Arini akan menyimpan perasaan sedalam itu tentang masa kecil mereka. "Tapi Rin, gue sering bikin lo malu. Tadi di kantin—"
"Tadi di kantin itu seru banget, tahu!" Arini memotong sambil tertawa renyah. "Aku nggak pernah ketawa sepuas itu selama sekolah di sini. Hidup di sekolah ini tuh kaku banget, Sat. Horornya kerasa, kompetisinya gila-gilaan. Tapi ada kamu... semuanya jadi kayak film komedi yang agak aneh."
Tiba-tiba, permukaan kolam di depan mereka bergejolak. Hantu kura-kura raksasa itu muncul ke permukaan. Kepalanya yang bersisik hijau tua menatap mereka berdua. Anehnya, kura-kura itu tidak mencoba menggigit kaki Satria. Ia justru menjulurkan lehernya ke arah Arini, seolah minta dielus.
"Loh, kura-kuranya lucu ya?" Arini mengulurkan tangan.
"Eh, jangan Rin! Itu hantu kura-kura zaman Megalitikum! Dia hobi gigit!" teriak Satria panik.
Tapi terlambat. Tangan Arini sudah menyentuh kepala kura-kura itu. Bukannya menggigit, si kura-kura justru mengeluarkan suara nguukk yang pelan dan tampak sangat manja. Ia bahkan menutup matanya menikmati belaian Arini.
Satria melongo. "Gila... bahkan hantu kura-kura purba pun takluk sama lo, Rin."
“Anak muda yang bodoh,” sebuah suara berat terdengar dari arah pohon kemboja. Meneer Van De Berg melangkah mendekat, bayangannya yang transparan menutupi sinar matahari sore. “Noni Arini memiliki aura kemurnian yang jarang dimiliki manusia zaman sekarang. Itulah kenapa makhluk-makhluk di sini tertarik padanya. Termasuk saya... dan kura-kura tua itu.”
Satria menatap si Meneer. "Meneer... Anda nggak cemburu?"
Meneer itu diam sejenak. Lehernya yang buntung tampak bergerak sedikit ke atas dan ke bawah, seolah ia sedang mendesah. “Saya cemburu pada kebahagiaannya yang nyata. Selama sepuluh tahun, saya melihatnya tumbuh tanpa teman sejati karena ketakutan orang-orang pada saya. Tapi kau... kau tidak takut pada saya, dan kau membuatnya tertawa. Itu nilai yang cukup tinggi untuk seorang pemuda dekil seperti kau.”
Satria tersenyum tipis. "Makasih, Meneer. Itu pujian paling tulus yang pernah saya denger dari orang mati."
"Sat? Kamu ngomong sama pohon lagi?" Arini menatap Satria dengan dahi berkerut, tapi senyum masih menghiasi bibirnya.
"Eh, nggak Rin. Gue cuma... lagi baca mantra biar kura-kuranya nggak gigit lo. Manjur kan?" Satria ngeles dengan lihai.
Arini berdiri, membersihkan sisa roknya. "Ayo pulang, Sat. Udah mau magrib. Katanya kalau magrib di sekolah ini, hantu-hantunya suka ngadain konser dangdut ghaib."
Satria tertawa. "Wah, lo tahu juga soal itu?"
"Tahu dari Ucok," jawab Arini santai sambil mulai berjalan menuju gerbang.
Langkah Satria terhenti mendadak. Jantungnya serasa mau copot. "Ucok? Lo... lo bisa lihat Ucok?"
Arini berhenti, menoleh ke arah Satria dengan tatapan misterius. Ia kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah koin seribuan yang sudah agak kusam. "Ucok sering minta koin ke aku kalau dia lagi bosen ngitung absen. Dia bilang, ada cowok baru yang namanya Satria, yang sering kasih dia permen karet stroberi."
Satria terpaku di tempat. Jadi selama ini... Arini tahu? Arini bisa melihat mereka semua?
"Rin... lo..."
Arini mengedipkan sebelah matanya. "Aku nggak se-'buta' yang kamu kira, Sat. Tapi aku lebih suka lihat kamu yang berusaha keras buat jagain aku dari hal-hal yang sebenarnya aku juga udah tahu. Itu... manis banget."
Arini melanjutkan langkahnya sambil bersenandung pelan. Satria masih berdiri mematung di tepi kolam, sementara hantu kura-kura itu kembali menyelam ke dalam lumut.
Meneer Van De Berg melewati Satria, memberikan tepukan dingin di bahunya. “Sudah saya bilang, dia itu spesial. Sekarang cepat kejar dia, atau saya akan berubah pikiran dan menebasmu di tempat parkir.”
"Sial! Gue beneran dikerjain sama tuyul dan Arini!" teriak Satria sambil berlari mengejar Arini.
"Rin! Tunggu! Jadi selama ini lo tahu si Meneer ada di belakang lo?!"
"Tahu dong! Dia kan yang suka bikinin aku PR Sejarah kalau aku lagi capek!" jawab Arini sambil tertawa kencang, suaranya menggema di koridor sekolah yang mulai menggelap.
Sore itu, di SMA Wijaya Kusuma, Satria menyadari bahwa ia memang masih culun seperti sepuluh tahun yang lalu. Ia masih sering tertipu, masih sering panik, dan masih sering bertindak semprul. Tapi ia juga menyadari satu hal yang jauh lebih penting: Arini mencintai ke-culun-an itu lebih dari apa pun.
Dunia indigo Satria yang tadinya terasa seperti kutukan dan beban, kini terasa seperti panggung pertunjukan di mana ia adalah pemeran utamanya, Arini adalah penonton setianya, dan hantu-hantu sekolah adalah kru produksi yang sangat menyebalkan namun suportif.
"Rin! Berhenti dulu! Gue mau nanya! Si Meneer pinter Matematika juga nggak?!"
"Nggak! Dia cuma pinter Sejarah dan cara pakai pedang!"
Satria sampai di samping Arini, napasnya tersengal. Ia menatap gadis itu dengan perasaan yang jauh lebih lega. "Gue seneng lo tahu, Rin. Jadi gue nggak perlu pura-pura gila lagi kalau mau ngomong sama mereka."
"Lho, siapa bilang? Kamu tetep kelihatan gila kok kalau lagi ngobrol sama tembok," goda Arini sambil mencubit lengan Satria.
Mereka berjalan keluar gerbang sekolah berdampingan. Di atas gerbang, si hantu peneer Belanda yang sedang mengupil tadi pagi melambai ke arah mereka. Satria membalas lambaian itu dengan jari tengah secara sembunyi-sembunyi, yang langsung dibalas dengan lemparan upeti ghaib ke arah kepalanya.
Puk!
"Aduh!" Satria mengusap kepalanya.
"Kenapa, Sat?" tanya Arini khawatir.
"Nggak apa-apa, Rin. Cuma... ada 'salam' dari atas gerbang."
Cinta memang aneh. Di sekolah normal, orang kencan nonton film romantis. Di SMA Wijaya Kusuma, Satria dan Arini kencan sambil bernegosiasi dengan penghuni alam lain. Dan bagi Satria, itu adalah kencan terbaik yang pernah ia miliki selama tujuh belas tahun hidupnya yang semprul ini.
Malam mulai turun, lampu-lampu jalan mulai menyala. Satria berjanji dalam hati, bab-bab selanjutnya dalam hidupnya tidak akan lagi diisi dengan rasa minder. Karena meskipun dia culun, dia adalah culun kesayangan Arini. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk menghadapi seribu Meneer tanpa kepala sekalipun.