NovelToon NovelToon
Runtuhnya Tahta Langit

Runtuhnya Tahta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Bisikan dari Bola Kristal

Matahari pagi menyinari padang rumput liar di utara Kota Batu Hitam. Xiao Chen berjalan dengan langkah gontai, tubuhnya masih terasa berat setelah mengaktifkan Formasi Penghalau Surga di katakomba. Luka di bahu kirinya—bekas tusukan jarum cahaya Utusan Langit—masih terasa perih, meskipun Energi Chaos di tulang-tulangnya perlahan menetralisir sisa-sisa energi asing itu.

Hui berjalan di sampingnya, sesekali menoleh ke belakang. Kota Batu Hitam sudah tidak terlihat, hanya menjadi bayangan gelap di balik perbukitan. Tapi awan pengawas di langit masih mengikuti, berputar-putar seperti burung pemakan bangkai yang menunggu mangsanya mati.

"Kita butuh tempat istirahat," gumam Xiao Chen.

Mereka menemukan sebuah gundukan batu besar di tengah padang, cukup untuk berlindung dari angin. Xiao Chen duduk bersandar di batu, menghela napas panjang. Hui berbaring di sampingnya, kepalanya di atas pangkuan Xiao Chen, mata merahnya setengah terpejam.

Xiao Chen mengeluarkan Inti Kenangan Leluhur dari dalam jubahnya. Bola kristal hitam itu seukuran kepalan tangan, dingin di telapaknya, dan di dalamnya galaksi mini terus berputar tanpa suara. Ini adalah warisan terakhir dari wanita tua tabib desa—ibu dari Shen Yuan, Jenderal Tanpa Bayangan yang memilih mati di katakomba.

"Kau akan membukanya sekarang?" tanya Yue Que.

"Aku tidak tahu caranya."

"Coba alirkan Energi Chaos-mu. Inti ini diciptakan oleh Ras Dewa Patah. Dia akan merespons."

Xiao Chen menutup mata. Ia mengatur napas, membiarkan Energi Chaos dari tulang dada dan tulang punggungnya mengalir perlahan ke tangannya. Bola kristal itu mulai menghangat. Retakan-retakan kecil di permukaannya menyala keemasan.

Lalu dunia di sekitarnya menghilang.

---

Xiao Chen berdiri di sebuah desa kecil.

Bukan desa yang dikenalnya. Rumah-rumah kayu sederhana dengan atap jerami. Jalanan tanah yang bersih. Anak-anak berlarian sambil tertawa. Di kejauhan, sawah-sawah hijau terbentang hingga kaki gunung.

Ini bukan dunia nyata. Ini adalah kenangan.

Seorang wanita tua keluar dari salah satu rumah. Usianya mungkin tujuh puluhan, rambutnya putih semua, wajahnya penuh keriput. Tapi matanya—matanya sama dengan mata Shen Yuan. Satu emas, satu hitam. Tanda garis keturunan Ras Dewa Patah yang tidak sempurna.

Ia berjalan ke arah Xiao Chen, langkahnya ringan meskipun tubuhnya renta. Senyumnya hangat.

"Kau akhirnya datang," katanya. Suaranya lembut seperti angin musim semi. "Aku sudah menunggumu... cucuku."

Xiao Chen tertegun. "Cucu?"

Wanita tua itu tertawa kecil. "Bukan cucu kandung, tentu saja. Tapi dalam garis keturunan Ras Dewa Patah, kita semua adalah keluarga. Aku adalah Shen Lian, keturunan terakhir sebelum kau. Dan kau... kau adalah harapan yang kutunggu selama delapan puluh tahun."

Shen Lian berjalan menyusuri jalan desa, dan Xiao Chen mengikutinya tanpa sadar. Pemandangan di sekitar mereka berubah-ubah—kadang menjadi hutan, kadang menjadi gua, kadang menjadi lautan bintang.

"Aku menghabiskan hidupku bersembunyi," kata Shen Lian. "Berpindah dari satu desa ke desa lain, menyamar sebagai tabib, tidak pernah tinggal lebih dari sepuluh tahun di satu tempat. Surga selalu memburu kita. Tapi aku belajar sesuatu yang tidak diketahui leluhur-leluhur kita."

"Apa itu?"

"Cinta adalah kelemahan di mata Surga. Tapi bagi kita... cinta adalah kekuatan." Shen Lian berhenti, menatap Xiao Chen. "Aku mencintai seorang pria biasa. Petani desa. Dari cinta itu, lahirlah Shen Yuan. Anakku. Dan meskipun Surga mengambilnya dan mengubahnya menjadi Utusan Langit... cinta kami memanggilnya pulang. Dia membelot. Dia kembali padaku, meskipun hanya dalam ingatan."

Xiao Chen teringat wajah Shen Yuan—separuh tampan, separuh membusuk—yang memilih mati daripada terus hidup sebagai monster setengah Surga.

"Apa yang ingin kau sampaikan padaku, Shen Lian?"

Wanita tua itu menatapnya dalam. "Dua hal. Pertama, Pematah Langit yang kau cari... dia bukan sekadar senjata. Dia adalah kesadaran. Leluhur Pertama tidak hanya menciptakan pedang. Dia menciptakan makhluk hidup yang terbuat dari Energi Chaos murni. Pematah Langit memiliki kehendaknya sendiri. Dia akan mengujimu. Dan jika kau gagal... dia akan menghancurkanmu."

Xiao Chen menelan ludah. Ujian lain. Tentu saja.

"Di mana dia berada?"

"Di Puncak Langit Terbalik. Sebuah gunung yang mengambang terbalik di atas Laut Mati. Peta menuju ke sana ada di dalam Inti ini, bersama dengan semua pengetahuan yang kukumpulkan selama delapan puluh tahun."

Laut Mati. Tempat yang disebut Tetua Agung Shen Wuji sebagai bekas pusat peradaban Ras Dewa Patah yang dihancurkan Surga. Laut tanpa kehidupan, air hitam, langit kelabu. Dan di atasnya, sebuah gunung terbalik.

"Hal kedua," lanjut Shen Lian, suaranya kini lebih pelan. "Jangan ulangi kesalahan leluhur kita."

"Kesalahan apa?"

"Leluhur Pertama bertarung melawan Surga sendirian. Dia kuat. Sangat kuat. Tapi dia tidak punya siapa-siapa. Dia mendorong semua orang menjauh, takut mereka akan terluka. Dan saat dia akhirnya jatuh... tidak ada yang membantunya bangkit." Mata Shen Lian berkaca-kaca. "Kau tidak boleh sendirian, Xiao Chen. Temukan teman. Temukan sekutu. Bangun pasukanmu sendiri. Surga tidak akan mengirim satu Utusan. Mereka akan mengirim sembilan Bencana. Dan kau tidak akan selamat jika menghadapi mereka semua sendirian."

Xiao Chen terdiam. Kata-kata itu menusuk. Selama ini, ia selalu berpikir harus menanggung semuanya sendiri. Tapi Shen Lian benar. Bahkan Leluhur Pertama, dengan segala kekuatannya, kalah karena ia bertarung sendirian.

"Aku mengerti," katanya akhirnya.

Shen Lian tersenyum. Ia mendekat, meletakkan tangan keriputnya di pipi Xiao Chen. Sentuhannya hangat, seperti sentuhan nenek pada cucunya.

"Kau anak yang baik. Aku bisa melihatnya di matamu. Kau bukan hanya bertarung untuk bertahan hidup. Kau bertarung karena kau peduli. Itu yang membuatmu berbeda."

Kenangan itu mulai memudar. Desa, sawah, Shen Lian—semuanya perlahan menghilang seperti kabut pagi.

"Pergilah ke Laut Mati, Xiao Chen. Tapi jangan langsung ke Puncak Langit Terbalik. Kau belum siap. Pergilah dulu ke Kota Karang Hitam di pesisir timur. Di sana ada seseorang yang bisa membantumu. Seseorang yang berutang budi padaku."

"Siapa?"

Tapi Shen Lian sudah menghilang. Kenangan itu berakhir.

---

Xiao Chen membuka mata. Ia kembali ke padang rumput, bersandar di batu besar. Bola kristal di tangannya kini redup, tapi ia bisa merasakan informasi baru di dalam benaknya. Peta. Pengetahuan. Nama-nama tempat yang belum pernah ia dengar.

Dan sebuah nama: Lian Xin. Pemilik Penginapan Bulan Sabit di Kota Karang Hitam.

"Kau melihat sesuatu," kata Yue Que. "Wajahmu berbeda."

"Aku bertemu Shen Lian. Ibu Shen Yuan." Xiao Chen menatap langit. "Dia memberiku petunjuk. Kita harus ke Kota Karang Hitam dulu, sebelum ke Laut Mati."

"Kota pelabuhan di timur? Itu perjalanan berminggu-minggu."

"Aku tahu. Tapi dia bilang aku tidak boleh sendirian. Aku butuh sekutu." Xiao Chen menatap Hui yang masih tidur di pangkuannya. "Aku punya kau, Yue Que. Aku punya Hui. Tapi itu tidak cukup. Aku butuh lebih banyak."

Yue Que tidak menjawab. Tapi Xiao Chen bisa merasakan pedang itu setuju.

Ia bangkit, meregangkan tubuhnya. Luka di bahunya sudah jauh lebih baik. Energi Chaos di tulang-tulangnya mulai pulih.

"Kota Karang Hitam," gumamnya. "Dan seseorang bernama Lian Xin."

Ia melangkah ke timur, meninggalkan batu besar itu. Hui mengikutinya. Awan pengawas di langit masih di sana, tapi Xiao Chen tidak lagi memedulikannya.

Ia punya tujuan sekarang. Dan ia tidak akan berhenti sampai tiba di sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!