Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Satu jam sudah Arga menunggu taksi dalam keheningan malam. Angin dini hari menusuk kulit, lalu menyilangkan tangan untuk mengurangi hawa dingin di tubuhnya. Nyamuk yang sesekali menghisap darah, membuatnya menggeser kakinya gelisah di halaman apartemen.
Ia melirik jam tangan, sudah hampir jam dua malam. Berdiri di sana, tapi aplikasi taksi online di genggamannya masih menampilkan tulisan "Mencari pengemudi..." dengan garis pemuat yang tak kunjung habis.
"Dasar sial," gerutunya pelan, napasnya memburu menahan emosi.
Bukan cuma soal taksi yang tak kunjung datang, tapi pikiran tentang Kartini yang sengaja meninggalkan dirinya membuatnya semakin kesal. Arga tahu dirinya salah, tapi bukan berarti wanita itu boleh bertindak seenaknya.
"Tunggu-tunggu, tidak mungkin si gembul bisa menyetir mobil, jangan-jangan Kenzo datang menjemput," gumam Arga kesal. Adik sepupunya itu kenapa selalu ikut campur?
Arga mengacak rambutnya kasar. Seharusnya sekarang ini sudah nyaman di balik kemudi, melaju tenang menuju rumah, bukannya berdiri seperti orang bodoh diterpa angin malam dan dikeroyok nyamuk. Setiap kali kendaraan lewat, matanya otomatis mengikuti, berharap itu adalah taksi yang ia pesan, tapi selalu saja melaju pergi.
Kesabaran Arga semakin habis. Jemarinya mengetuk layar ponsel dengan kasar, mencoba memesan ulang, berganti layanan. Namun, hasilnya tetap sama. Arga mendengus kasar, menyandarkan punggungnya ke tiang lampu sambil menatap langit yang gelap, berharap waktu bisa berjalan lebih cepat atau setidaknya sebuah mobil segera muncul dan membawanya pergi dari situasi menyebalkan ini.
"Ojek," gumam Arga sambil berjalan dengan langkah gontai menuju pangkalan. Tiba di pos, beberapa pria tengah tertawa bahagia sambil membanting kartu di atas balai yang mereka duduki. Mereka adalah Kang ojek yang menunggu penumpang. Bagi mereka mendapat rezeki yang cukup untuk besok pun sudah sangat bahagia.
"Bang, bisa antar saya?" Tanya Arga mengejutkan tiga Kang ojek yang sedang main domino tanpa uang.
"Bisa, mau saya antar kemana, Pak?" Tanya salah satu ojek bersemangat. Malam-malam gini ada yang mau kasih rezeki, padahal sejak sore sepi penumpang siapa yang akan menolak.
"Antar ke jalan xxx..." Arga menyebutkan alamat.
Tukang ojek bersemangat naik ke atas motor lalu starter dengan cepat. "Mari Pak," lanjut Kang ojek.
Jalanan malam itu cukup lengang, Kang ojek yang sudah paham area tempat tinggal orang-orang berduit itu, hanya dia tempuh selama lima menit.
Arga tiba di depan pagar kediaman kakek, lalu membayar ojek. Namun, begitu ojek pergi masalah belum juga selesai. Dia melihat pos satpam tampak sepi, entah kemana perginya pria itu. Arga diam berpikir di depan pagar cukup lama. Menekan bel? Tidak mungkin. Ia khawatir jika Kartini yang membuka pintu, membayangkan gadis tukang ngorok itu pasti akan mentertawakan dirinya hingga jungkir balik melihat dirinya pulang dalam keadaan seperti ini. Belum lagi tentang kakek yang akan memarahinya karena membiarkan Kartini pulang sendiri.
"Telepon saja," gumamnya, tanpa membuang waktu Arga telpon bibi. Benar saja, tidak lama kemudian bibi keluar.
"Den..." ucap bibi kaget, terpaku di depan pagar.
Seeettt...
Arga minta bibi untuk memelankan suaranya. "Kakek sama Kartini sudah tidur kan, Bi?" Arga bertanya lirih ingin tahu dulu sebelum masuk, begitu pagar dibuka oleh bibi.
"Sudah Den..." bibi memandangi Arga yang tampak lelah itu bertanya-tanya.
Arga membiarkan bibi menggembok pagar, sementara dirinya mendorong pintu rumah perlahan-lahan. Sebelum kakinya melangkah masuk, memindai ruangan yang diterangi lampu temaram.
"Aman," batin Arga lalu melanjutkan perjalanan, ketika hendak naik anak tangga mendadak berhenti mendengar suara tegas memanggilnya.
"Dari mana kamu?!" Tandas kakek yang mendorong kursi roda sendiri dengan kedua tangannya.
"Kakek kenapa belum tidur? Sudah hampir pagi loh," Arga mendekati kakeknya.
"Jangan mengalihkan Arga!" potong Kakek Chandresh suaranya mantul di ruang tamu.
"Sa-saya..." lirih Arga berdiri mematung di bawah tangga. Sungguh apes nasibnya. Masalah yang lain belum selesai, tapi saat ini harus berhadapan dengan Kakeknya yang menatapnya tajam.
"Kakek tanya, dari mana kamu?!" Kakek mengulangi pertanyaan lebih kencang lagi.
"Saya..." Arga benar-benar tidak bisa menceritakan apa yang ia lakukan. Jika berani jujur baru saja kencan dengan Nadine, dia pastikan begitu terbit matahari sudah tidak lagi menjabat sebagai Ceo.
"Si gembul pasti sudah mengadu macam-macam!" ucap Arga dalam hati, wajahnya seketika merah.
"Kakek beri tanggung jawab untuk menjaga Kartini tapi malah kamu biarkan pulang sendiri," Kakek benar-benar kecewa. "Diam-diam kamu masih menjalin hubungan dengan Nadine bukan?"
Arga kaget lalu menatap Chandresh lekat. "Ti-tidak Kakek, pasti Kenzo yang mengarang cerita."
"Jangan bawa-bawa Kenzo, kamu pikir Kakek tidak tahu apa yang terjadi di pesta tadi? Kakek tidak mau tahu, cepat tinggalkan gadis murahan itu!" Tegas kakek lalu memutar kursi roda kembali ke kamar.
Sementara Arga hanya bisa menelan ludah, begitu kakek tidak terlihat lagi melanjutkan naik tangga dengan langkah berat. Ia cengkeraman kenop pintu lalu ke kamar.
Ngerr... ngerrr... ngerrr
Arga berhenti di pinggir tempat tidur dengan ekspresi terkejut ketika ranjangnya ditiduri oleh Kartini. Badanya yang lebar itu nyaris memenuhi tempat tidur King size miliknya.
Tidak mau ribut lagi karena sudah lelah Arga ke kamar mandi, tidak lama kemudian kembali ganti kaos yang nyaman kemudian mendorong tubuh Kartini yang terasa berat ke pinggir. Tetapi rupanya dorongan yang kuat itu tidak membuat Kartini terganggu.
Arga pun merebahkan tubuhnya di sebelah Kartini, memejamkan mata, berusaha mengabaikan segala gangguan di sekitarnya. Suara dengkuran halus Kartini sebenarnya sudah tidak menjadi masalah baginya, karena tidur satu kamar hampir satu bulan telinganya sudah terbiasa dan justru kadang menjadi suara pengantar tidurnya. Namun, malam ini ujian sebenarnya adalah gerakan istrinya yang tak bisa diam.
Kartini seperti sedang berlari dalam mimpi. Kakinya menendang-nendang sembarangan, bahkan kena wajahnya kadang mengenai betis.
"Astaga... ini manusia atau Kerbau sih!" Arga menyingkirkan kaki Kartini yang numpang di dada dengan seenaknya.
Plak!
Kaki berhasil Arga singkirkan, ganti tangannya yang menggampar pipi Arga.
"Duh, kurang ajar ini cewek! Lagi tidur saja tangannya keras sekali," gerutu Arga memegangi pipinya.
Namun, itu belum seberapa, posisi tidur Kartini pun terus berubah-ubah, dari terlentang, miring ke kanan, hingga akhirnya kepalanya malah bertumpu di lengan Arga dengan posisi nyaman, sungguh menyebalkan bagi Arga.
"Aduh, Mbul... bisa diam tidak sih?" Arga akhirnya berteriak.
"Nyam-nyam, nyam," mulut Kartini bersuara semacam bergumam tapi matanya terpejam.
Arga mencoba menggeser tubuhnya hingga ke tepi tempat tidur, tapi Kartini pun mengikuti, bahkan semakin menempel. Kakinya kini melingkar di atas pinggul Arga, tangannya merangkul dadanya erat seolah Arga itu guling.
"Hah? Kenapa Kobra gue bangun sih? Sial!"
...~Bersambung~...
lnjut kk👍
siapa.tuh yg datang jangan bilang itu Nadine yah
atau....gundik mu Arga...🤣🤣🤭🤭🤭 entahlah hy emak yg tau
kenzo?
nadine?
siapa sih thorr bikin penasaran aja 🤭
dia bisa...msk mobil kmu aj GK bisa...🤣🤣🤭