NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Nikah Kontrak
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: Royo Ekek

Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumor yang Membakar Kota

Anya terbangun dengan kepala yang berdenyut pening, seolah-olah ada ribuan jarum kecil yang menusuk ubun-ubunnya. Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden jendela kamar kosnya yang sempit di daerah petakan Jakarta. Namun, bukan alarm bising yang membangunkan tidurnya yang tidak nyenyak itu, melainkan getaran konstan dari ponselnya yang berisik tanpa henti sejak pukul enam pagi.

Dengan mata yang masih setengah terpejam karena kelelahan emosional pascamakan malam menegangkan bersama keluarga Alfarezel, Anya meraih benda persegi itu. Layarnya mendadak dipenuhi oleh ratusan notifikasi gila. Ada panggilan tak terjawab dari teman-teman lamanya yang sudah bertahun-tahun tidak menyapa, rentetan pesan WhatsApp dari kerabat jauh, hingga ribuan tagar baru yang membanjiri akun media sosial pribadinya.

Firasat buruk langsung mencengkeram dada Anya. Dengan tangan yang mulai dingin, ia membuka salah satu aplikasi berita daring nasional. Detik itu juga, jantung Anya rasanya berhenti berdetak. Seluruh pasokan udara di dalam kamarnya seolah menguap begitu saja.

Foto dirinya dan Devan malam tadi terpampang nyata di halaman utama sebagai *headline*. Foto itu diambil dari sudut yang sangat sinematik oleh kamera lensa panjang milik paparazi.

Memperlihatkan bagaimana tubuh mungil Anya yang basah kuyup tenggelam dalam dekapan protektif Devan Alfarezel di bawah gempuran lampu kilat kamera. Wajah Devan tampak begitu mengintimidasi sekaligus protektif, sementara Anya terlihat rapuh di dalam pelukannya. Judul beritanya tertulis dengan huruf kapital besar yang sangat provokatif

"KRETAK HARAPAN PARA SOSIALITA: DEVAN ALFAREZEL PERKENALKAN CALON ISTRI MISTERIUS DARI KALANGAN BIASA!"

"Ya Tuhan..." Anya membekap mulutnya sendiri, air mata kecemasan mendadak menggenang di pelupuk matanya. Tubuhnya gemetar hebat di atas kasur tipisnya.

Ia memberanikan diri untuk menggulir layar ke bawah, membaca kolom komentar. Netizen dan pemburu gosip bergerak lebih cepat daripada agen rahasia. Dalam waktu kurang dari dua belas jam, nama lengkap Anya, riwayat pendidikan, tempat kerja lamanya, bahkan alamat akun media sosial pribadinya yang sudah dikunci berhasil dikuliti dan disebarluaskan oleh orang-orang yang penasaran.

“Siapa wanita ini? Tidak punya latar belakang keluarga kaya kok bisa memikat Devan Alfarezel? Pasti pakai dukun atau cara kotor!”

“Lihat wajahnya, sok polos sekali. Pasti wanita haus harta yang sengaja menjebak CEO kita.”

“Cari perhatian saja, kasihan Pak Devan dimanfaatkan oleh perempuan kelas bawah.”

Komentar-komentar kejam, fitnah, dan penghakiman sepihak itu berkelebat di depan matanya seperti belati yang menghujam langsung ke ulu hatinya. Anya meremas rambutnya sendiri, merasa panik, telanjang, dan kewalahan yang teramat sangat. Ruang privasinya yang selama ini ia jaga rapat-rapat demi ketenangan hidupnya kini telah runtuh, dieksploitasi dan dihakimi oleh jutaan pasang mata yang sama sekali tidak mengenalnya.

Brak! Brak! Brak!

Suara gedoran keras dan kasar pada pintu kayu kosnya membuat Anya tersentak kaget hingga hampir melompat dari tempat tidur.

"Anya! Anya, keluar kamu sekarang! Ada apa ini di depan rumah?" Suara Bu Lastri, pemilik kosan yang terkenal galak, terdengar panik sekaligus penuh amarah dari luar lorong.

Anya bergegas bangkit dengan kaki yang lemas, membuka pintu kamarnya sedikit. Wajah Bu Lastri tampak memerah menahan kesal. "Anya, di depan gerbang kosan banyak sekali orang asing membawa kamera besar dan mikrofon! Mereka semua mencari kamu! Penghuni kosan lain jadi terganggu dan ketakutan karena dikira ada penggerebekan. Ibu tidak mau tahu, ya, selesaikan urusanmu sekarang dan minta mereka pergi, atau kamu angkat kaki dari sini hari ini juga!"

Anya melangkah ke arah jendela, menyibak sedikit gordennya untuk mengintip ke luar pagar.

Benar saja, beberapa wartawan infotainmen dan fotografer sudah bersiap di depan pagar kontrakannya, beberapa tetangga mulai berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah kamarnya. Tempat tinggalnya yang seharusnya menjadi satu-satunya zona aman di dunia ini kini telah terkepung sepenuhnya. Anya merasa terjebak di dalam sangkarnya sendiri, sesak dan tidak bisa bernapas.

Di tengah puncak kepanikan yang mendera, ponsel di tangannya kembali bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor tanpa nama, namun Anya tahu persis siapa pemilik nomor dengan digit akhir yang rapi dan cantik itu.

Anya menggeser tombol hijau dengan jari yang basah oleh keringat dingin. "Pak Devan... tempat tinggal saya sudah tidak aman. Banyak wartawan di luar. Mereka tahu di mana saya tinggal," adunya langsung dengan nada suara yang bergetar hebat menahan tangis yang siap pecah.

"Aku tahu. Tetap di dalam dan kunci semua pintu. Jangan bicara pada siapa pun," suara bariton Devan terdengar dari seberang telepon. Suaranya teramat tenang, berat, dan penuh kendali kontras dengan badai kepanikan yang sedang menggulung Anya saat ini.

"Bagaimana saya bisa keluar? Pemilik kos mengusir saya."

"Buka pintu belakang kosmu jika ada," potong Devan mutlak, tidak memberi celah untuk bantahan. "Asisten dan tim pengamanku sudah berada di lorong belakang kosmu sejak sepuluh menit yang lalu. Masukkan barang-barang penting dan obat ibumu ke dalam satu koper kecil sekarang juga, Anya. Kau tidak bisa tinggal di sana lagi. Mulai detik ini, kau harus pindah ke tempatku."

Anya tertegun, menatap koper tuanya di sudut ruangan. Ia tahu, melangkah keluar dari pintu belakang hari ini berarti ia secara resmi menyerahkan seluruh privasi dan kebebasan hidupnya ke dalam tangan sang tirani berjas hitam itu. Namun di depan gerbang, suara kamera dan tuntutan penjelasan dari dunia luar kian mendesak, memaksanya untuk melompat masuk ke dalam skenario gila yang telah disiapkan untuknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!