Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.
Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.
Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.
Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.
“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”
Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.
Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tunangan Palsu - Chapter 7
HAPPY READING GUYS!
"Sayang, kau tidak ingin mengatakan sesuatu?"
Jantung Sophia langsung mencelos.
Ia buru-buru menoleh ke arah Damian dengan tatapan memohon, berharap lelaki itu akhirnya membuka mulut dan menghentikan semua kesalahpahaman ini. Situasinya sudah terlalu jauh. Semakin lama kebohongan itu dibiarkan, semakin besar rasa bersalah yang menekan dadanya.
Nyonya Sarah terlalu baik.
Itulah masalahnya.
Kalau wanita itu bersikap dingin atau merendahkannya, mungkin Sophia masih bisa merasa lebih tenang. Namun sejak tadi, Nyonya Sarah memperlakukannya dengan sangat hangat hingga membuat Sophia semakin tidak tega.
Sophia menggigit bibir pelan.
Mungkin setelah ini ia harus menyelesaikan semuanya dengan Damian. Bagaimanapun juga, hubungan palsu ini sudah mulai di luar kendali.
Namun alih-alih membantunya, Damian justru membalas tatapannya dengan ekspresi datar. Lelaki itu sedikit mengernyitkan alis, seolah bertanya, siapa yang kau panggil sayang?
Sophia nyaris kehilangan kesabarannya.
Dasar lelaki tidak berguna.
Ia menarik napas pelan sebelum kembali menoleh pada Nyonya Sarah. Senyum lembut segera terukir di wajahnya, meski dalam hati ia sedang mati-matian mencari cara keluar dari situasi ini.
Damian jelas tidak bisa diandalkan.
Jadi sekarang ia hanya bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
"Nyonya terlalu baik," ucap Sophia pelan dengan senyum canggung. "Bagaimana mungkin aku tidak menyukai Nyonya?"
Wajah Nyonya Sarah langsung berbinar senang.
"Benarkah?" katanya antusias. "Kalau begitu kita bisa segera menyiapkan pernikahan kalian."
Senyum Sophia langsung membeku.
"P-pernikahan?"
"Kenapa terkejut begitu?" Nyonya Sarah tertawa kecil. "Kalian saling menyukai, jadi buat apa menunggu terlalu lama?"
Sophia buru-buru melambaikan tangan panik.
"Nyonya, kami baru saling mengenal. Bukankah menikah terlalu cepat?"
Namun Nyonya Sarah justru tampak semakin yakin.
"Apa yang kurang dari Damian?" tanyanya sambil menunjuk putranya dengan bangga. "Dia tampan, mapan, tidak pernah membawa wanita aneh-aneh, bahkan belum pernah memperkenalkan siapa pun pada kami sebelumnya."
Tatapannya kembali melembut saat memandang Sophia.
"Ayahnya juga menyukaimu. Aku pun begitu. Jadi kenapa harus ditunda?"
Sophia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
Nyonya Sarah bahkan menggenggam tangannya hangat.
"Percayalah," ucap wanita itu lembut. "Kau akan bahagia bersama Damian."
Sophia hampir tersedak mendengarnya.
Bahagia?
Hidup bersama Damian saja sudah cukup membuat tekanan darahnya naik setiap hari.
Di tengah kepanikannya, Damian akhirnya berdiri. Tatapannya tetap datar seperti biasa saat memandang ibunya.
"Sudahlah, Bu. Pernikahan tidak bisa diburu-buru. Itu terlalu cepat," ucapnya tenang. "Kami baru saling mengenal dua minggu."
Sophia langsung menoleh cepat.
Untuk pertama kalinya malam ini, lelaki itu terdengar seperti manusia normal.
Namun Nyonya Sarah justru menghela napas kecil.
"Kalau kalian saling mencintai, waktu bukan masalah."
Sophia yang melihat celah langsung buru-buru mengangguk.
"Damian benar," katanya cepat sebelum lelaki itu berubah pikiran. "Kami masih harus saling mengenal lebih jauh."
Di sisi lain ruangan, Tuan Liam yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat pandangan. Tatapannya tertuju lurus pada Damian.
Dalam tatapan itu ada keraguan yang terlalu jelas untuk disembunyikan.
"Bagaimana kalian bertemu?" tanyanya tenang.
Sophia langsung menegang.
Sedangkan Damian tetap terlihat santai. Lelaki itu membalas tatapan ayahnya tanpa sedikit pun terlihat gugup. Seolah ia sudah tahu apa yang dipikirkan pria itu.
Tuan Liam jelas curiga.
Bagaimana mungkin Damian bisa jatuh cinta secepat ini?
Pria dingin seperti putranya bahkan biasanya lebih tertarik bekerja daripada mengurus hubungan.
Namun Damian hanya menjawab singkat.
"Bagaimana kami bertemu tidak penting."
Suasana mendadak hening, lalu dengan nada tenang namun tegas, Damian melanjutkan, "Yang penting, aku sudah menentukan pilihanku sendiri."
Tatapan Tuan Liam menyipit tipis.
Beberapa detik kemudian, pria itu akhirnya mengangguk pelan.
"Kalau begitu kita lanjutkan pertunangannya."
Sophia langsung membelalak.
"Minggu depan waktu yang bagus," lanjut Tuan Liam santai. "Aku akan meminta semua orang menyiapkannya."
Kepala Sophia terasa pening seketika.
Pertunangan?
Minggu depan?
Apa keluarga ini memang suka membuat keputusan sepihak?!
Ia langsung menoleh pada Damian dengan panik, berharap lelaki itu menghentikan semua kegilaan ini. Namun Damian hanya menatap ayahnya dingin.
Tatapan mereka bertemu beberapa detik.
Suasana di ruangan itu mendadak terasa aneh.
Sophia bahkan bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres di antara ayah dan anak itu. Ia ingin membuka mulut. Namun Damian lebih dulu bicara.
"Silakan memutuskan sesuka hati kalian."
*****
"Apa yang sebenarnya kau pikirkan?!"
Begitu keluar dari rumah keluarga Damian, Sophia langsung meledak.
"Aku sudah bilang kalau aku tidak setuju dengan perjanjian ini! Jadi kenapa kau malah membiarkan mereka salah paham seperti itu?!"
Damian tetap berjalan santai menuruni tangga rumah besar itu tanpa sedikit pun berniat berhenti.
Seolah suara Sophia hanyalah angin lalu.
Sedangkan Sophia sudah hampir meledak karena kesal.
Ia berjalan di samping lelaki itu sambil terus berbicara tanpa henti. Kadang maju menghalangi jalannya, kadang kembali berjalan di sampingnya hanya untuk memastikan Damian mendengar semua omelannya.
Namun lelaki itu tetap tidak peduli.
Ekspresinya bahkan nyaris tidak berubah.
Menyebalkan sekali.
Jack yang berjalan beberapa langkah di belakang mereka juga sama tidak bergunanya.
Setiap Sophia bertanya sesuatu, asistennya itu hanya menjawab dengan wajah polos.
"Saya tidak tahu, Nona."
Atau ....
"Itu keputusan Tuan Damian."
Sophia curiga otak pria itu memang sudah dicuci bersih oleh atasannya.
Merasa kesabarannya habis, Sophia akhirnya menendang kaki Damian pelan.
Buk.
Langkah lelaki itu langsung terhenti.
Damian menoleh perlahan.
Tatapannya tajam.
Sophia yang tadinya penuh amarah mendadak sedikit ciut. Namun ia tetap memberanikan diri menatap balik.
"Aku tidak mau bertunangan denganmu," katanya tegas. "Jelaskan pada orang tuamu kalau hubungan kita sudah selesai."
Damian menatapnya beberapa detik tanpa bicara. Lalu ia berkata datar, "Jack."
Asisten itu langsung sigap.
"Ya, Tuan."
"Berikan nota pembeliannya."
Nada suaranya tajam dan dingin hingga membuat Sophia merinding.
Jack segera menyerahkan ponselnya.
Sophia mengambil benda itu dengan bingung, lalu mulai membaca daftar panjang di layar.
Matanya perlahan membesar.
"Apa ini?" tanyanya tidak percaya.
Ia memang tidak mengerti soal mobil. Namun bahkan orang bodoh pun tahu jumlah barang di daftar itu terlalu banyak. Padahal mobil Damian waktu itu tidak terlihat rusak separah itu.
Sophia langsung mengangkat kepala.
"Kau sedang menipuku, ya?"
Damian menatapnya malas.
"Itu mobil baru."
"Memangnya kenapa kalau mobil baru?"
"Karena setelah kecelakaan itu," jawab Damian tenang, "mobil itu tidak nyaman digunakan lagi."
Sophia langsung terpaku.
Apa-apaan alasan itu?!
"Itu tetap tidak masuk akal!" bantahnya kesal. "Kau sengaja membesar-besarkan kerusakannya!"
Damian memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Ekspresinya tetap tenang.
"Apa itu mobilmu?"
Sophia langsung terdiam sesaat sebelum menggeram pelan.
"Memang bukan, tapi mataku tidak buta!"
Damian menatapnya datar.
"Kalau begitu bayar."
Sophia hampir muntah darah.
Lelaki ini benar-benar tidak punya hati.
Ia langsung melipat tangan di depan dada sambil mendelik kesal.
"Kau sedang berusaha membuatku miskin?"
"Aku tidak punya urusan dengan kondisi keuanganmu."
Jawaban Damian begitu dingin hingga Sophia nyaris tertawa saking kesalnya. Namun sebelum ia sempat membalas, Damian kembali bicara.
"Dan semua barang yang diberikan ibuku padamu akan dihitung sebagai bagian pembayaran."
Sophia mengernyit.
"Maksudmu?"
"Hubungan kita palsu." Tatapan Damian turun menatap Sophia. "Jadi semua yang kau dapatkan dari hubungan ini juga bukan milikmu."
Sophia melongo.
Tidak habis pikir.
Bagaimana mungkin pria sekaya ini bisa begitu pelit?! Baik. Daftar hitam Damian sebagai calon suami resmi bertambah satu lagi.
Sophia langsung mengembalikan ponsel Jack dengan kesal.
"Aku akan membayar semuanya," katanya ketus. "Dan setelah itu aku tidak akan bekerja sama lagi denganmu."
Damian tertawa pendek. Tatapannya bahkan terlihat seperti sedang mengejek anak kecil yang baru mengucapkan sesuatu bodoh.
"Dengan apa?" tanyanya pelan. "Ah, iya ...." Damian sedikit menunduk mendekat. "Kau ingin meminta Arkan membayarnya? Bagaimana dia bisa menolongmu?"
Sophia membeku.
Damian melanjutkan dengan nada santai yang justru terasa semakin mengintimidasi.
"Besok semua harus lunas. Kalau tidak, aku akan membawa masalah ini ke pengadilan."
"Apa kau gila?!" Sophia membelalak tidak percaya. "Mana mungkin aku punya uang sebanyak itu!"
Damian tersenyum tipis. Senyum kecil yang sama sekali tidak terlihat ramah.
"Kalau sudah tahu tidak mungkin," bisiknya pelan di dekat telinga Sophia, "berhentilah melawan."
Sophia langsung bergidik. Entah karena kesal atau karena suara rendah lelaki itu terdengar terlalu dekat.
Damian kembali menatapnya. "Sebaiknya, kau menurut, dan hidup tenang." Lalu ia lebih mendekatkan wajahnya, kemudian tersenyum simpul. "Lagipula memiliki satu anak atau lebih bukan jadi satu masalah bagiku."
Sophia membulatkan mata.
Hah?!
Lelaki itu benar-benar sudah gila!
Damian pergi begitu saja meninggalkannya dalam keadaan membeku di tempat.
Sedangkan Jack hanya tersenyum canggung.
"Nona Sophia," katanya hati-hati, "biar saya antar pulang."
*****
Begitu sampai di apartemen, Sophia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.
Tubuhnya terasa remuk.
Hari ini benar-benar melelahkan. Kepalanya berdenyut, pundaknya pegal, dan emosinya sudah hampir habis terkuras hanya karena menghadapi satu orang bernama Damian.
Sophia menutup wajahnya menggunakan bantal sambil menggeram pelan.
Bertemu lelaki itu jelas merupakan karma buruk dalam hidupnya.
Beberapa detik kemudian, Sophia mengangkat wajahnya pelan. Tatapannya kosong menatap langit-langit kamar sebelum akhirnya bergerak ke arah cermin di samping lemari.
Dan saat itulah matanya tertuju pada pakaian yang masih melekat di tubuhnya.
Sophia langsung duduk tegak.
Tunggu.
Tatapannya menyipit curiga.
Damian tidak mungkin mempermasalahkan baju ini juga, kan?
B e r s a m b u n g ....
Jangan lupa tinggalkan jejak, yah! Aku kirim 2 part hari ini. Makasih (◍•ᴗ•◍)❤