"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.
Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangisan kehancuran
Melihat penolakan Kanaya yang begitu dingin, pertahanan Arman runtuh sepenuhnya. Laki-laki itu merosot dari tepi ranjang, menjatuhkan lututnya ke lantai porselen yang tadi sempat ia bersihkan. Ia duduk bersimpuh di samping kaki Kanaya, menyembunyikan wajahnya di atas kasur sambil menangis sesenggukan. Bahunya berguncang hebat, mengeluarkan seluruh tangis penyesalan yang selama ini tertahan oleh egonya.
"Maaf, Nay... Maafin aku..." ratap Arman dengan suara yang teredam seprai. "Aku tahu aku jahat. Aku tahu aku nggak pantes dimaafin. Tapi aku bener-bener takut kehilangan kamu, Nay. Tolong jangan usir aku..."
Mendengar tangisan Arman yang terdengar begitu hancur, pertahanan yang sejak tadi dibangun rapat-rapat oleh Kanaya perlahan mulai retak. Sedingin apa pun ia mencoba bersikap, Kanaya hanyalah seorang wanita yang baru saja kehilangan calon anaknya dan dikhianati oleh laki-laki yang teramat dicintainya. Rasa sakit, kecewa, hancur, dan sisa-sisa rasa cinta yang masih tertinggal mendadak bercampur aduk, mendesak dadanya hingga sesak.
Kanaya tidak bisa lagi membohongi perasaannya.
Dinding es yang tadi ia pasang seketika runtuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan mati-matian akhirnya pecah juga. Kanaya mulai menangis, awalnya perlahan tanpa suara, hingga akhirnya berubah menjadi isakan pilu yang menyayat hati. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, membiarkan bahunya ikut berguncang hebat di atas ranjang.
Di dalam kamar kos yang sempit itu, keheningan berganti menjadi ruang duka. Dua orang yang saling mencintai itu kini sama-sama menangis meratapi kehancuran yang mereka buat sendiri. Arman menangis karena penyesalan dan kepengecutannya, sementara Kanaya menangis karena meratapi nasibnya, anaknya yang telah tiada, dan fakta menyakitkan bahwa ia masih menangis untuk laki-laki yang telah menghancurkan hidupnya.
"Apa salahku, Arman? Apa salah darah dagingmu sendiri?!"
Suara Kanaya yang semula lirih kini meninggi, pecah bersama dengan tangisannya yang semakin histeris. Ia menurunkan tangan dari wajahnya, menatap Arman dengan mata yang merah dan basah oleh air mata kekecewaan yang teramat dalam.
"Kenapa kamu munafik sekali? Kenapa?!" cecar Kanaya lagi, dadanya naik turun memburu napas. "Setelah dia tiada... setelah anak kita sudah nggak ada, kamu baru datang dan meminta untuk menikahiku? Ke mana kamu dua puluh menit yang lalu saat aku bertaruh nyawa di lantai itu?!"
Pertanyaan-pertanyaan Kanaya yang beruntun itu menghujam tepat di dada Arman, bagai belati tak kasat mata yang menyayat dan menguliti seluruh harga dirinya. Setiap kata yang keluar dari bibir Kanaya adalah kebenaran yang paling kejam, yang membuktikan betapa menjijikkannya kepengecutan Arman sore itu. Arman tidak bisa membantah. Dia tidak punya hak untuk membela diri.
Tak tahan melihat kehancuran Kanaya yang disebabkan oleh ulahnya sendiri, Arman bangkit dari simpuhnya. Dengan sisa keberanian yang ada, ia merangsek maju dan menarik tubuh Kanaya ke dalam pelukannya.
"Jangan sentuh—"
"Maaf, Nay... Maaf..." potong Arman, langsung mendekap tubuh rapuh itu dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, Kanaya akan hancur berkeping-keping.
Kanaya sempat memberontak, memukul dada Arman dengan kepalan tangannya yang lemas, meluapkan seluruh rasa benci dan cintanya yang berbenturan di dalam dada. Namun, Arman tidak melepaskannya. Ia terus mendekap Kanaya, membiarkan daster gelap Kanaya basah oleh air matanya sendiri, sambil berulang kali membisikkan kata maaf di sela rambut sebahu perempuan itu.
Hingga akhirnya, tenaga Kanaya benar-benar habis. Pukulan lemah di dada Arman perlahan mengendur, berubah menjadi cengkeraman erat pada jaket laki-laki itu. Kanaya menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Arman, menumpahkan sisa-sisa kehancuran jiwanya. Di dalam kamar kos yang menjadi saksi bisu tragedi sore itu, Arman terus memeluk Kanaya dengan erat, bertahan dalam keheningan yang perlahan merayap, sampai suara tangis pilu Kanaya mulai mereda dan menyisakan isakan-isakan kecil yang sarat akan kepasrahan.