NovelToon NovelToon
Romansa Malam Di Jogjakarta

Romansa Malam Di Jogjakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.

Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Matahari pagi terbit merah menyala di ufuk timur, menyinari puing-puing Kota Van Der Wijck dengan cahaya yang menyeramkan, seolah langit sendiri sedang membakar sisa-sisa kepolosan yang tersisa. Udara pagi terasa dingin, lembap, dan tajam, berbau besi berkarat, tanah basah, dan sisa bau mesiu yang samar.

Pintu gerbang besi tua gedung administrasi terbuka berderit.

Kelompok itu keluar. Tapi susunannya sudah tidak lagi dikenali.

Di depan, berjalan paling depan, adalah Sari Dewi.

Gadis 13 tahun itu telah melakukan transformasi total. Jaket besar Raga yang sebelumnya ia pakai longgar dan kusut, kini sudah ia potong, rapikan, dan ikat pas di pinggang, membentuk siluet ramping tapi kokoh, seperti seragam militer mini. Rambut panjangnya yang dulu terurai indah, kini dipotong pendek kasar setinggi telinga—ia potong sendiri semalam menggunakan pisau kombat, membuang rambut panjang yang dianggapnya simbol kelembutan dan masa kanak-kanak. Potongan itu berantakan, tajam, liar, persis seperti jiwanya sekarang. Wajahnya bersih dicuci dari debu dan darah, kini pucat bersih, mulus, namun matanya... matanya adalah jendela kaca yang tertutup tirai baja tebal, dingin, tak terbaca, dan menakutkan.

Di pinggang kiri, terselip pisau tulang rusa pemberian Raga. Di pinggang kanan, revolver tua yang sudah ia bersihkan dan isi ulang peluru. Di dadanya, terselip kalung kunci emas itu—tapi sekarang bukan lagi sebagai simbol warisan nenek, melainkan sebagai Lencana Kekuasaan. Simbol bahwa dia adalah pemilik sah segala sesuatu yang terkunci.

Di sebelah kanannya, berjalan Raga Wijaya.

Pria itu terlihat lebih hidup, lebih tajam, dan lebih fokus daripada sebelumnya. Beban berat yang selama ini membebani bahunya—rasa bersalah, rasa rendah diri, rasa menjadi orang buangan—tiba-tiba lenyap. Dia tidak lagi merasa sendirian. Dia tidak lagi merasa salah. Dia merasa benar. Dia merasa berada di pihak pemenang. Tatapannya bukan lagi sinis dan malas, melainkan waspada, setia, dan siap membunuh atas perintah satu orang saja: Gadis kecil di sampingnya.

Dan di belakang, terikat tangan di belakang punggung, mulut disumpal kain, berjalan tertatih-tatih, adalah Arya Pratama dan Naya Andalan.

Mereka dipaksa berjalan. Setiap kali mereka melambat, ujung pisau Raga atau sentuhan dingin mata Sari Dewi akan mempercepat langkah mereka. Wajah Arya merah padam karena malu, marah, dan sakit hati yang tak terlukiskan. Pria yang dulu dihormati, ditakuti, dan dipuja sebagai pahlawan, sekarang diarak seperti penjahat perang, seperti tawanan rendahan. Matanya terus menatap punggung anaknya, penuh rasa tidak percaya, rasa kehilangan, dan rasa bersalah yang menghancurkan.

Naya... Naya sudah tidak ada air mata. Matanya kering, merah, kosong. Ia berjalan dengan tatapan lurus ke depan, jiwanya sudah mati sebagian. Ia melihat anaknya, tapi ia tidak mengenalinya. Ia melihat monster yang lahir dari rahimnya sendiri, dan setiap langkah terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca tajam yang merobek kakinya dan hatinya sekaligus.

Mereka menyeberangi jembatan besi reyot, meninggalkan Kota Van Der Wijck, meninggalkan tujuh mayat yang membusuk, meninggalkan masa lalu mereka selamanya.

"Kita tidak kembali ke hutan," suara Sari Dewi memecah keheningan pagi itu. Suaranya tenang, jernih, otoriter. "Kita bergerak ke arah sebaliknya. Ke Utara. Ke Kota Baru."

Raga mengerutkan kening sedikit, meski ia sudah bersedia patuh, rasa penasaran militernya bangkit. "Kota Baru? Itu kota terbesar di provinsi ini, Sari. Populasi lebih dari 200 ribu orang. Itu markas operasi utama Andri di wilayah ini. Ada kantor polisi, kantor pemerintah, gedung perusahaan Wijaya-Andalan. Di sana kita jadi sasaran empuk. Kita seperti masuk kandang harimau."

Sari Dewi berhenti sejenak, berbalik menghadap pamannya. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum miring yang cerdas, licik, dan penuh teka-teki.

"Justru itulah alasannya, Paman," bisik Sari Dewi, matanya berkilau jenius. "Di mana musuh paling kuat, di situlah dia paling lengah. Andri dan semua anak buahnya berpikir: Kelompok buronan Wijaya pasti bersembunyi di hutan, di gua, di tempat terpencil. Mereka pasti takut, lari, dan kelaparan. Itu asumsi dasar mereka. Itu pola pikir mereka. Dan orang bodoh selalu bergerak sesuai ekspektasi musuhnya. Tapi orang pintar..."

Ia melangkah maju, menepuk dada bidang pamannya dengan tangan kecilnya, gerakan perlindungan sekaligus dominasi.

"...orang pintar bergerak melawan ekspektasi. Siapa yang akan mencari buronan berbahaya di tengah keramaian pasar? Di tengah gedung tinggi? Di tengah kantor polisi sendiri? Siapa yang akan berpikir bahwa gadis kecil yang mereka cari dengan foto tersebar di seluruh pos polisi, sedang berjalan santai di trotoar kota, tersenyum, membeli es krim, dan menyapa petugas keamanan? Keberanian terbesar adalah bersembunyi di tempat paling terbuka."

Sari Dewi menunjuk ke arah Arya dan Naya di belakang.

"Dan untuk mereka..." Tatapannya berubah dingin, tajam, menilai. "...di kota, mereka berguna. Di hutan, mereka beban. Di kota, mereka adalah paspor kita, kartu identitas kita, dan topeng kita. Siapa yang akan curiga pada keluarga bahagia: Ayah ganteng, Ibu cantik, anak gadis manis, dan saudara jauh yang pendiam? Ini bukan lagi perang fisik, Paman. Ini Perang Bayangan. Dan di perang ini, senjata terbaik bukanlah pisau atau peluru. Senjata terbaik adalah Wajah Polos."

Raga menatap keponakannya dengan kagum campur ngeri. Ia mengerti sekarang. Ia baru saja diajari pelajaran strategi tingkat tinggi oleh seorang anak SMP. Logikanya tak terbantahkan. Psikologinya sempurna.

"Baik," gumam Raga pelan, mengangguk hormat. "Ke Utara. Ke Kota Baru."

Perjalanan memakan waktu dua hari. Dua hari yang mengubah segalanya.

Di sepanjang jalan, Sari Dewi menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa, mengerikan, dan hampir tidak manusiawi.

Setiap kali ada orang, ada warga desa, ada polisi patroli, ada truk lewat... Sari Dewi menghilang.

Atau lebih tepatnya, Topengnya Turun.

Dalam sekejap mata, gadis dingin, tajam, dan mematikan itu lenyap. Berganti menjadi: Gadis kecil manis, lugu, pendiam, sedikit pemalu, rambut pendek ikal yang lucu, mata besar berbinar polos, wajah ceria, dan senyum lebar yang tulus.

Dia berubah menjadi Malaikat Kecil.

Dia yang memimpin interaksi. Dia yang menyapa. Dia yang meminta tumpangan. Dia yang merayu sopir truk tua supaya mau mengantar mereka gratis sejauh 50 kilometer.

"Om... tolong kami ya... Ayah sakit, Bunda lelah, kami mau ke rumah nenek di Kota Baru... kami sudah jalan jauh sekali..." rengek Sari Dewi dengan suara manja, mata berkaca-kaca memelas, tangan kecilnya memegang lengan sopir truk tua itu, wajahnya dipenuhi ekspresi ketidakberdayaan yang menyayat hati.

Sopir truk itu, pria kasar berwajah garang, langsung meleleh. Hatinya luluh lantak melihat wajah polos dan mata jernih itu. "Ya ampun, Nak... ayo masuk, ayo masuk! Kasihan sekali kalian! Sini, sini, naik belakang!"

Dan di dalam kabin truk, saat sopir itu sibuk menyetir, Sari Dewi duduk di depan, di sebelah sopir, tersenyum manis, mengobrol riang, sementara di belakang, Arya dan Naya duduk diam, terikat tangan di bawah selimut (berpura-pura tidur/lelah), dan Raga duduk kaku di pojok, matanya tak lepas dari keponakannya, merinding melihat akting yang luar biasa itu.

Karena Raga tahu. Dia melihatnya dari dekat. Dia melihat bahwa di balik senyum manis itu, di balik mata yang berbinar itu, tidak ada apa-apa. Kosong. Dingin. Kalkulasi murni. Setiap kata, setiap senyum, setiap kedipan mata, setiap gerakan tangan... semuanya dihitung, dipelajari, dan dilaksanakan demi satu tujuan: MEMANIPULASI.

Sari Dewi sedang bermain dengan perasaan orang lain seperti sedang memainkan boneka tali. Dan dia menikmatinya. Dia menikmati kekuasaan mutlak atas emosi manusia. Dia menikmati betapa mudahnya manusia bisa ditipu, dibohongi, dan dikendalikan hanya dengan wajah cantik dan kata-kata manis.

Manusia itu lemah, pikir Sari Dewi sambil tersenyum cerah pada sopir truk, sementara otaknya berputar cepat menganalisis rute, posisi, dan bahaya. Manusia itu bodoh. Mereka percaya apa yang mereka ingin percayai. Mereka ingin percaya aku anak baik. Jadi aku jadi anak baik. Mereka ingin percaya kami keluarga biasa. Jadi kami jadi keluarga biasa. Betapa mudahnya.

Malam kedua, mereka sampai di gerbang Kota Baru.

Kota itu besar, ramai, bising, berpolusi, terang-benderang oleh lampu jalan dan neon toko. Berbeda dengan kesunyian, kegelapan, dan ketenangan hutan, di sini suaranya riuh, baunya campuran asap knalpot, makanan jalanan, debu, dan keringat manusia.

Bagi Arya dan Naya, kota ini adalah neraka. Mereka terbiasa hidup bersih, terhormat, di lingkungan elit. Sekarang mereka dipaksa berjalan kaki di pinggir jalan berdebu, dihimpit orang banyak, dipandangi orang asing, tangan terikat di balik punggung di balik jaket besar yang disamarkan. Rasa malu dan hinaan membakar jiwa mereka setiap detik.

Tapi bagi Sari Dewi... kota ini adalah Taman Bermain.

Matanya bersinar terang, bukan karena kagum, tapi karena lapar. Dia melihat ribuan orang berjalan lalu lalang. Ribuan potensi pion. Ribuan potensi alat. Ribuan potensi musuh atau sekutu. Dia melihat jaring laba-laba raksasa, dan dia baru saja masuk ke pusatnya.

"Makanan, pakaian, tempat tinggal, identitas baru. Semua butuh uang," bisik Sari Dewi saat mereka bersembunyi sejenak di lorong sempit di belakang pasar malam yang bau sampah dan air selokan.

Ia menatap Arya. Tatapan dingin, menuntut.

"Ayah punya kartu ATM? Uang tunai? Akses dana rahasia?"

Arya melotot, napasnya naik turun, matanya menyala amarah dan penghinaan. Ia menggeleng keras, menolak bicara, menolak membantu makhluk yang ia ciptakan ini.

Sari Dewi tidak marah. Dia tidak terkejut. Dia hanya menghela napas pendek, bosan, seolah sedang berhadapan dengan anak kecil yang rewel.

"Paman, tolong bantu Ayah ingat," kata Sari Dewi santai, lalu berbalik membelakangi mereka, memperhatikan lalu lintas jalan raya.

Di belakangnya, terdengar suara PLAK! keras, diikuti erangan tertahan Arya. Raga bekerja cepat, efisien, tanpa ragu. Dua menit kemudian, Raga berbisik:

"Dompet di saku celana belakang. Ada kartu, ada uang tunai 4 juta, dan kode PIN tertulis di kertas kecil di saku rahasia. 120485."

Sari Dewi tersenyum tipis. "Terima kasih, Ayah. Lihat, tidak sakit kan kalau mau kooperatif?"

Ia mengambil dompet kulit hitam milik ayahnya. Ia membukanya. Di dalamnya, ada foto. Foto keluarga. Foto Arya, Naya, dan Sari Dewi saat berlibur di pantai dua tahun lalu. Mereka tersenyum bahagia, mata bersinar, kulit cokelat terkena matahari. Keluarga sempurna.

Sari Dewi menatap foto itu lama. Wajahnya tidak berubah. Tidak ada kerinduan. Tidak ada kesedihan. Hanya analisis dingin.

Wajah di foto ini sudah mati, pikirnya. Orang-orang di foto ini sudah mati. Yang tersisa hanyalah sampah di belakangku, dan monster di depanku.

Dengan tenang, Sari Dewi mengambil foto itu, merobeknya menjadi empat bagian kecil tepat di tengah wajah masing-masing orang, lalu melempar remah kertas itu ke genangan air kotor di selokan, membiarkannya hanyut terbawa arus gelap.

"Sudah tidak berguna," gumamnya pelan.

Malam itu, mereka menginap di sebuah hotel losmen murah, kumuh, dan remang di pinggiran kota, dekat terminal bus. Tempat yang tidak akan dikunjungi orang terhormat, tempat yang penuh orang-orang buangan, penjahat, dan orang-orang yang tidak ingin dilihat orang lain.

Sari Dewi menyewa dua kamar, membayar tunai.

"Kamar satu buat aku dan Paman. Kamar dua buat kalian," kata Sari Dewi sambil menyerahkan kunci kamar nomor 203 pada Arya. "Pintu dari luar aku kunci ganda. Jangan coba teriak. Dinding tipis, tapi suaranya bising. Kalau kalian berisik atau bikin masalah... aku akan tahu. Dan kalian tahu aku tidak segan-segan mengikat mulut kalian pakai kawat besi kalau perlu. Mengerti?"

Arya menatap putrinya dengan tatapan penuh kebencian yang murni, murni, dan mutlak. Benci yang sama persis seperti benci dia pada Andri Andalan.

"Kau setan..." bisik Arya parau, matanya berair karena marah. "Kau bukan anakku. Kau iblis murni."

Sari Dewi tertawa. Tawa renyah, nyaring, manja, persis seperti tawa gadis remaja normal. Tapi matanya tetap dingin seperti es kutub.

"Terima kasih pujiannya, Ayah. Itu tujuan hidupku. Sekarang masuk. Istirahat. Besok kita mulai pekerjaan nyata."

Pintu kamar nomor 203 tertutup rapat di depan wajah Arya dan Naya. Kunci diputar dua kali dari luar. Mereka terkurung di dalam kamar sempit, bau apek, kasur tipis, jendela tertutup papan kayu. Penjara pribadi mereka.

Di seberang lorong, di kamar nomor 204, suasana sangat berbeda.

Sari Dewi duduk bersila di atas kasur bersih, di hadapan Raga. Di depannya, terhampar dokumen, peta kota, koran lokal, dan daftar nama yang ia minta Raga beli di warung internet tadi siang. Lampu kamar redup, hanya diterangi satu bohlam 5 watt yang bergoyang pelan terkena angin malam.

"Langkah selanjutnya," kata Sari Dewi, jarinya menunjuk satu nama besar di halaman depan koran bisnis lokal: PT WIJAYA-ANDALAN GLOBAL.

"Di kota ini, Andri punya tiga pilar kekuasaan," jelas Sari Dewi, suaranya serius, akademis, seolah sedang mengajar kuliah strategi.

"Pilar Pertama: Bisnis. Perusahaan konstruksi, pertambangan, properti. Ini sumber uang. Tanpa uang, dia tidak bisa bayar pasukan, tidak bisa bayar polisi, tidak bisa bayar pengacara.

Pilar Kedua: Politik & Hukum. Walikota, Kepala Kepolisian Daerah, Jaksa Utama, semua di saku dia. Dia punya hukum. Dia punya senjata negara.

Pilar Ketiga: Jaringan Bawah Tanah. Geng motor, bandar narkoba, judi, prostitusi. Ini tangan kotornya. Ini yang kerjakan pekerjaan yang tidak boleh diketahui publik."

Sari Dewi mengangkat kepalanya, menatap pamannya.

"Untuk menjatuhkan raksasa, kita tidak perlu bunuh dia duluan. Kita harus potong kakinya dulu. Kita harus bikin dia jatuh. Kita harus ambil ketiga pilar itu satu per satu. Kita harus bikin dia miskin. Kita harus bikin dia diburu hukum. Kita harus bikin anak buahnya saling bunuh karena tidak percaya lagi sama pemimpinnya."

Raga mendengarkan dengan mulut sedikit terbuka, terkesan sekaligus ngeri. Raga adalah prajurit terbaik, pembunuh elit, orang yang bisa masuk ke benteng terkuat dan membunuh target dalam 10 detik. Tapi dia tidak pernah berpikir sejauh ini. Dia tidak pernah berpikir soal ekonomi, politik, psikologi massa. Dia hanya berpikir: Siapa yang harus dibunuh?

Tapi Sari Dewi... Sari Dewi berpikir seperti seorang Kaisar, seperti seorang Jenderal Besar, seperti seorang Mastermind jahat. Dia berpikir dalam skala Sistemik.

"Dan kita mulai dari mana?" tanya Raga, suaranya berbisik kagum.

Sari Dewi tersenyum, senyum yang membuat bulu kuduk Raga berdiri tegak.

"Kita mulai dari Pilar Kedua. Hukum. Karena hukum adalah senjata paling tajam. Dan kebetulan sekali... kita punya dua senjata rahasia di kamar seberang."

Mata Raga membelalak kaget. "Maksudmu... Arya dan Naya?"

"Persis," jawab Sari Dewi santai, memutar pisau kombatnya di tangan. "Arya Pratama, mantan Komandan Pasukan Khusus, Pahlawan Nasional, Saksi Mata Kunci. Naya Andalan, Putri Darah, Saksi Hidup. Selama ini Andri lindungi mereka bukan karena sayang, tapi karena dia takut kalau mereka bicara. Dia takut kalau cerita aslinya keluar. Dia takut skandalnya pecah.

Tapi selama ini, Arya dan Naya diam. Kenapa? Karena mereka punya hati. Karena mereka takut reputasi keluarga hancur. Karena mereka takut aku akan dibenci publik. Karena mereka masih punya moral bodoh itu. Mereka rela jadi korban demi kebaikan nama baik.

Tapi sekarang..." Sari Dewi tertawa kecil, dingin, dan kejam. "...nama baik itu sudah hancur. Hati mereka sudah remuk. Moral mereka sudah mati. Dan aku... aku tidak peduli siapa yang dibenci. Aku tidak peduli apa yang orang pikirkan tentang aku. Aku sudah dianggap monster, kan? Jadi kenapa harus jaga citra?"

Sari Dewi berdiri, berjalan ke arah jendela, mengintip celah papan ke jalanan kota yang terang benderang di bawah sana.

"Besok pagi, Paman. Kita akan bikin pengumuman besar. Kita akan bikin keributan yang akan mengguncang seluruh Kota Baru sampai ke ibu negara. Kita akan seret nama Andri Andalan ke lumpur. Kita akan seret nama Wijaya-Andalan ke penjara. Dan kita akan gunakan mulut Ayah dan Bunda sebagai peluru pertama kita."

Ia berbalik, matanya menyala dengan api kehancuran yang murni.

"Besok, kita mulai Perang Terbuka. Dan ingat satu hal, Paman... di perang ini, tidak ada aturan. Tidak ada belas kasihan. Dan yang paling penting: Semua orang adalah musuh, sampai terbukti sebaliknya. Dan bahkan saat terbukti... tetap curiga."

Malam itu, di kamar hotel kumuh itu, lahirlah rencana jahat paling brilian yang pernah dirancang di kepala manusia manapun.

Di kamar sebelah, Arya dan Naya mendengar samar-samar suara tawa anak mereka. Tawa renyah, manja, dan gembira.

Mereka tidak tahu bahwa tawa itu adalah tawa seseorang yang baru saja menandatangani surat kematian sosial, politik, dan mungkin fisik, ribuan orang. Termasuk diri mereka sendiri.

Di kantor pusat megah PT Wijaya-Andalan, di lantai paling atas, di ruangan kantor berlapis emas dan marmer, Andri Andalan sedang duduk di kursi kebesarannya, merokok cerutu mahal, menatap peta wilayah. Ia tersenyum puas. Intelnya melapor: Buronan masih di hutan. Masih lari. Masih ketakutan. Masih saling bunuh.

Tenang saja, Sayangku, pikir Andri sambil mengelus foto Sari Dewi di mejanya. Tunggu saja sampai Ayah jemput. Ayah akan ambil kamu. Kita akan hidup bahagia selamanya. Dunia ini akan jadi milik kita.

Andri tidak tahu. Ia sama sekali tidak tahu. Bahwa anak yang ia cintai, anak yang ia cari, anak yang ia pikir sedang menangis, kelaparan, dan menderita di hutan...

...sedang duduk nyaman di hotel murah di kotanya sendiri, sedang merencanakan detail demi detail cara paling menyakitkan untuk menghancurkan hidupnya sampai ke akar-akarnya.

Dan rencananya dimulai besok pagi.

...😈 Catatan Penulis...

...Sari udah gak bisa diselamatkan. Dia udah pilih jalannya: Jalan Darah & Kekuasaan. 🩸⚔️...

...Gak ada ampun, gak ada maaf. Musuhku \= Mati....

...🔥 UPDATE BERIKUTNYA:LEBIH GILA!...

...✅ FOLLOW biar gak ketinggalan momen paling epik!...

...💛 Support kalian segalanya buat aku....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!