NovelToon NovelToon
Sumpah Badai

Sumpah Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Fantasi
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: andre kurnia

11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunci hidup kitab legendaris

Bibi Liana menatap Brisa dengan pandangan yang makin sayu, sarat akan beban masa lalu yang teramat berat. Menyadari bahwa halaman terbuka bukan tempat yang aman untuk membicarakan rahasia sebesar ini, Liana memberi isyarat agar Brisa mengikutinya ke sudut selasar yang lebih sepi dan tertutup, jauh dari jangkauan pendengaran Yuse.

"Duduklah, Brisa," bisiknya, suaranya terdengar sangat parau.

Setelah Brisa duduk dengan tubuh yang kaku dan tegang, Liana mulai membuka segala rahasia tentang tanda Kumaliti yang selama ini menjadi misteri terbesar dalam hidup gadis itu.

"Tanda Kumaliti di pergelangan tanganmu itu, dalam bahasa kuno berarti 'Ikatan Jiwa dan Alam'. Itu bukan sekadar tanda magis biasa, Brisa. Tanda ini adalah sebuah anugerah, sekaligus kutukan berdarah yang hanya muncul pada satu orang dari setiap generasi keturunan suci pemilik darah angin murni di ujung utara."

Brisa menahan napas, mendengarkan dengan sepenuh perhatiannya.

"Kitab Janma Manunggal membagi kekuatan alam menjadi tiga elemen utama, dan tanda di tubuhmu adalah kunci paling penting untuk membangkitkan kekuatan sejati elemen Angin Pembalik Takdir. Pemilik tanda ini memiliki kemampuan luar biasa: bisa mengendalikan atmosfer, menyembuhkan penyakit, dan memberi kesuburan pada tanah tempatnya berpijak. Itulah sebabnya ibumu, dan juga dirimu, memiliki naluri alami sebagai penyelamat dan penyembuh."

Mendengar kata 'ibuku', mata Brisa segera berkaca-kaca.

"Namun ada alasan kenapa tanda ini juga disebut kutukan," lanjut Liana sambil menatap tajam, memberi peringatan yang sangat serius. "Sifat dasar elemen angin itu bebas dan murni. Tapi jika pemiliknya membiarkan hatinya dikuasai rasa benci, sakit hati, atau dendam yang membara, aliran energi murni itu akan berbalik arah menjadi kekuatan hitam yang merusak.

Energi angin yang seharusnya memberi kehidupan, akan berubah menjadi angin pembusukan. Ia akan mencabut paksa esensi kehidupan dari segala makhluk di sekitarmu. Itulah yang menyebabkan bencana kelaparan dan gagal panen bertahun-tahun lamanya di Desa Angin setelah kamu difitnah lima tahun lalu. Tanpa kamu sadari, rasa sakit dan amarahmu waktu itu telah membalikkan fungsi tanda Kumaliti, hingga berubah menjadi petaka bagi tanah kelahiranmu."

Brisa tertegun, tubuhnya gemetar hebat saat menyadari bahwa bencana yang menimpa desanya ternyata berkaitan erat dengan gejolak emosinya sendiri.

"Dua puluh tahun yang lalu, ada wanita lain yang memiliki tanda yang sama persis sepertimu, dan ia berakhir tragis. Kekuatannya direbut paksa oleh sekte hitam tepat saat hatinya sedang rapuh dan goyah," tambah Liana lirih, menatap Brisa dengan tatapan yang penuh rasa iba. "Itulah sebabnya aku memperingatkanmu. Kau harus mampu menjaga ketenangan jiwamu selama tinggal di sini. Jika hatimu runtuh oleh kegelapan, bukan hanya dirimu yang hancur, tapi seluruh wilayah ini bisa binasa tersapu badai pembusukan yang kau ciptakan sendiri."

Brisa masih terpaku diam di tempat duduknya. Seluruh sendi tubuhnya terasa lemas setelah mendengar penjelasan tentang bahaya tersembunyi yang ada di dalam dirinya sendiri. Namun di tengah rasa syok yang melanda, sebuah pertanyaan besar muncul di benaknya.

Ia mendongak, menatap lekat-lekat wajah Bibi Liana. Tatapannya yang tadinya penuh ketakutan, kini berubah menjadi tajam dan penuh tuntutan jawaban.

"Tetua..." suaranya terdengar bergetar namun tegas. "Bagaimana mungkin Anda tahu begitu banyak hal soal tanda Kumaliti? Dan yang paling membuatku heran... dari mana Anda mengenal nama Kitab Janma Manunggal? Apa sebenarnya buku itu?"

Pertanyaan bertubi-tubi itu membuat Liana sedikit tersentak. Wanita yang berparas awet muda itu mengalihkan pandangannya sebentar ke arah halaman luar, memastikan keponakannya yang ceroboh masih sibuk mengomeli daun-daun kering dan tidak mendengar pembicaraan mereka. Setelah menarik napas panjang, ia kembali menatap Brisa dengan raut wajah yang makin berat dan kelam.

"Wajar jika kamu belum tahu, Brisa. Kitab Janma Manunggal adalah catatan pusaka kuno yang sudah dianggap punah dan hilang ratusan tahun yang lalu," jawabnya dengan suara rendah, hampir berbisik.

Liana melipat kedua tangannya di atas meja, menyampaikan kebenaran yang selama ini sengaja disembunyikan dari dunia luar.

"Itu bukan sekadar kitab bela diri biasa. Ia adalah kitab suci yang berisi rahasia penyatuan jiwa manusia dengan esensi empat elemen alam yang paling murni: Api Phoenix, Petir Elang, Angin Pembalik Takdir, dan Siapa pun yang mampu menguasai atau menyatukan ketiga kekuatan itu, akan memiliki kekuatan mutlak yang setara dengan dewa. Ia bisa menciptakan kedamaian abadi, atau menghancurkan seluruh kerajaan dalam satu malam saja."

Liana menjeda sejenak, lalu menatap tajam ke arah pergelangan tangan Brisa.

"Alasan aku tahu semua ini... karena dua puluh tahun lalu, keluarga kami adalah salah satu dari segelintir penjaga rahasia yang ditugaskan untuk menjaga lembaran-lembaran kitab itu, agar tidak jatuh ke tangan sekte aliran hitam. Dan tanda Kumaliti di tanganmu adalah satu-satunya kunci hidup yang bisa membuka dan mengaktifkan bagian elemen angin di dalam kitab legendaris itu."

Brisa membelalakkan mata, lalu memeluk erat pergelangan tangannya sendiri.

"Kunci... hidup?"

"Benar," Liana mengangguk pelan dengan nada penuh penyesalan. "Dua puluh tahun lalu mereka memburu ibumu, dan lima tahun lalu mereka memburumu lagi, bukan karena ingin menyelamatkan desa. Mereka sebenarnya sedang mengincar darahmu. Mereka butuh mengekstrak esensi darah dari pemilik tanda Kumaliti, supaya bisa membuka segel terlarang dan menguasai kekuatan elemen angin dari kitab itu."

Mendengar kenyataan yang jauh lebih mengerikan dari yang pernah ia bayangkan, Brisa merasa seluruh dunianya berputar. Ternyata rahasia di balik buku kuno itu jauh lebih besar, dan dirinya terperangkap di dalam pusaran sejarah masa lalu yang melibatkan keluarga Liana dan Yuse sendiri.

1
broken home
semoga lebih diperbaiki kosakata dan penempatan katanya
andara
berikan saran kalian terhadap karya ini, pendapat kalian adalah kunci ku untuk terus maju agar lebih berkembang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!