NovelToon NovelToon
Takdir Gelap Huang

Takdir Gelap Huang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: Zerro One

Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.

Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Kompetisi Murid Luar

"Tunggu!" Terdengar suara dari belakang.

Huang menghentikan langkahnya, lalu berbalik perlahan. Di belakangnya berdiri Lan Dong bersama satu rekannya. Wajah keduanya terlihat penuh senyum tipis yang tidak hangat sama sekali. Beberapa murid luar di sekitar mulai melambatkan langkah mereka, diam diam memperhatikan keadaan.

Huang menangkup kedua tangannya dengan sopan. "Saudara, ada yang bisa saya bantu?"

Rekan Lan Dong langsung menunjuk Huang dengan wajah kesal. "Lancang! Panggil Kakak Lan Dong dengan sebutan senior."

Huang tidak menjawab. Tatapannya tetap tenang seolah angin baru saja lewat di depannya. Sikap itu membuat wajah pria tadi langsung berubah muram.

Lan Dong mengangkat tangannya, menghentikan rekannya. Lalu dia berjalan perlahan mendekati Huang sambil tersenyum samar.

"Kau selama ini bersembunyi di balik Tetua Mo. Hebat Huang... sungguh hebat."

Huang menyipitkan matanya sedikit. Dia bisa merasakan nada dingin tersembunyi di balik kata kata itu.

Lan Dong mendekat sampai jarak mereka hanya beberapa langkah. Tangannya terangkat lalu menepuk bahu Huang pelan.

"Perkembanganmu juga cukup bagus. Ranah Fana Tahap Kesempurnaan Agung? Itu sama denganku saat ini."

Matanya bergerak turun melihat gelang berat di tangan dan kaki Huang. "Pertumbuhan yang sangat cepat untukmu."

Huang memandang tangan di bahunya beberapa saat sebelum bertanya datar,

"Lalu...?"

Lan Dong tersenyum lebih lebar. "Pernahkah kau dengar... seekor babi yang tumbuh besar dengan cepat, akan menarik perhatian serigala di balik kegelapan?"

Huang perlahan melepaskan tangan Lan Dong dari bahunya. "Oh...?"

Tatapan Lan Dong langsung berubah muram sesaat, namun dia segera tersenyum lagi. "Kau jauh berubah sejak terakhir kali bertemu. Tapi perubahan ini cepat atau lambat akan menghancurkanmu."

Dia mencondongkan wajah sedikit mendekat. "Ini adalah kepastian... bukan ancaman."

Huang menatap mata Lan Dong tanpa gentar sedikit pun. Dua bulan lalu mungkin dia akan diam dan menghindar. Namun sekarang, setiap hari dia dipukul, ditendang, dan dilempar oleh Tetua Mo sampai tubuhnya nyaris remuk berkali kali. Tekanan seperti ini tidak lagi cukup membuat hatinya goyah.

Huang akhirnya menangkup kedua tangannya lalu berbalik sambil melambaikan tangannya santai.

"HUANG ADA BUKAN UNTUK DITINDAS!"

Suaranya bergema cukup keras di pelataran. Beberapa murid luar langsung membelalakkan mata. Bahkan beberapa murid yang sedang berjalan menghentikan langkah mereka dengan wajah terkejut. Tidak ada yang menyangka murid baru seperti Huang berani berbicara seperti itu di depan Lan Dong.

Lan Dong mengepalkan tangannya kuat sampai urat di dahinya terlihat samar. Rekannya langsung melangkah maju dengan niat menyerang, namun Lan Dong kembali mengangkat tangannya menahan.

"Tidak perlu," ucapnya dingin.

Tatapannya mengikuti punggung Huang yang semakin menjauh.

"Saat kompetisi nanti..." lanjut Lan Dong pelan, "banyak murid luar di Ranah Fana Tahap Kesempurnaan Agung yang akan menghancurkannya."

Rekannya menyeringai. "Dan rencana senior Dhu Yan... pasti berhasil."

Lan Dong mengangguk pelan. "Tentu."

Mereka berdua akhirnya pergi meninggalkan pelataran.

Sementara itu Huang sudah sampai di kediamannya. Dia membuka pintu depan, lalu langsung berjalan menuju kamar mandi kecil di samping ruang tengah. Air dingin membasuh tubuhnya perlahan. Bekas latihan keras selama dua bulan membuat tubuh Huang jauh lebih kokoh dibanding sebelumnya. Ototnya tidak besar, namun padat dan kuat seperti baja yang ditempa berkali kali.

Setelah selesai mandi, Huang kembali menuju kamarnya. Dia duduk bersila di atas ranjang batu lalu mulai bermeditasi dengan tenang. Energi spiritual di sekitar perlahan bergerak memasuki tubuhnya. Kultivasinya saat ini sudah benar benar kokoh di Ranah Fana Tahap Kesempurnaan Agung.

Waktu berlalu perlahan.

Saat siang hari tiba, suara ketukan terdengar dari luar.

Tok tok tok.

Huang membuka matanya perlahan. "Tunggu."

Dia bangkit dari ranjang batu, lalu keluar kamar dan melewati ruang tengah sebelum akhirnya membuka pintu depan. Di luar berdiri Lei Shan dan Luo Mei.

Huang segera menangkup kedua tangannya. "Kakak senior, salam. Ada yang bisa saya bantu?"

Lei Shan tersenyum lalu memijat bahu Huang kuat kuat. "Bagus. Perkembangan yang cepat. Tidak mengecewakan."

Huang berdiri tegak. "Terima kasih kakak senior."

Luo Mei langsung berbicara tanpa basa basi. "Huang, saat kompetisi murid luar... kau harus mendapatkan minimal posisi tiga."

Huang sedikit terdiam. "Untuk apa, sehingga menjadi keharusan?"

Lei Shan melangkah maju sedikit sebelum menjelaskan dengan tenang. "Mungkin kau belum tahu. Untuk itu aku akan memberitahumu."

Dia menatap Huang serius. "Hadiah posisi pertama hingga ketiga langsung mendapatkan status menjadi murid dalam."

Mata Huang sedikit bergerak. Menjadi murid dalam berarti mendapatkan lebih banyak sumber daya, status lebih tinggi, dan perlindungan yang jauh lebih baik dibanding murid luar.

Luo Mei melanjutkan dengan suara dingin seperti biasa. "Posisi ketiga meskipun tidak mendapatkan hadiah lebih, tapi dengan menjadi murid dalam..." Dia berhenti sesaat. "Itu lebih baik daripada mendapatkan dua ratus batu roh tingkat rendah sekalipun."

Mendengar itu semangat di mata Huang langsung muncul. Saat ini dia benar benar kekurangan sumber daya kultivasi. Bahkan batu roh miliknya sudah habis seluruhnya.

Lei Shan kembali berbicara. "Kalau kau sudah menjadi murid dalam, Tetua Xu yang merupakan guru kami tertarik melatihmu."

Huang sedikit terkejut.

"Kalau kau sampai jadi murid dalam," lanjut Lei Shan sambil tersenyum, "itu artinya kita menjadi saudara seperguruan."

Luo Mei menambahkan pendek, "Itu pun kalau kau berniat menjadi murid Tetua Xu."

Huang terdiam cukup lama. Pikirannya langsung tertuju pada Tetua Mo. Lelaki tua pemabuk itu memang kasar dan aneh, namun selama dua bulan terakhir dia benar benar melatih Huang tanpa menahan apa pun. Bahkan Teknik Pedang Gravitasi yang mengerikan itu diwariskan kepadanya.

Huang akhirnya menjawab pelan. "Akan saya usahakan kakak senior. Terima kasih sudah berbagi informasi."

Lei Shan dan Luo Mei mengangguk bersamaan.

"Yasudah," kata Lei Shan sambil melangkah mundur, "kami kembali dulu. Bersiaplah untuk dua hari lagi."

Huang menangkup kedua tangannya sekali lagi. "Baik."

Kedua murid dalam itu segera pergi meninggalkan kediaman Huang.

Huang menutup pintu, lalu berjalan menuju kamarnya sambil berpikir dalam diam.

"Guru bagaimana..." gumamnya pelan.

Dia sekarang adalah murid Tetua Mo. Jika nanti menjadi murid Tetua Xu, apakah itu berarti dia meninggalkan gurunya sekarang? Huang tidak mengerti aturan seperti itu.

Huang menghela nafas panjang. "Nanti akan kubicarakan dengan guru."

Dia lalu duduk bersila kembali dan mulai bermeditasi.

 

Dua hari berlalu dengan cepat.

Saat Huang membuka matanya kembali, auranya terasa jauh lebih stabil. Kultivasi Ranah Fana Tahap Kesempurnaan Agung miliknya sudah sangat kokoh. Bahkan energi spiritual di dalam tubuhnya bergerak lebih lancar dibanding sebelumnya.

Huang bangkit lalu mencuci mukanya menggunakan air dingin sebelum segera pergi menuju pelataran tempat kompetisi murid luar dilaksanakan.

Di sepanjang perjalanan pikirannya terus memikirkan satu hal aneh.

Kenapa dia tidak terlalu merasa lapar?

Sebenarnya perasaan itu sudah lama dia sadari. Sejak dia terbangun dari tidur panjang di dalam kolam misterius dulu, rasa laparnya menjadi sangat lemah dibanding manusia biasa. Kadang dia hanya makan sekali dalam beberapa hari namun tubuhnya tetap baik baik saja.

Huang mengernyit pelan.

"Apa yang dilakukan senior itu pada tubuhku..." gumamnya dalam hati.

Dia masih mengingat sosok tua misterius yang pernah menyelamatkannya dahulu. Namun sampai sekarang Huang tidak memahami apa sebenarnya yang terjadi pada tubuhnya.

"Mungkin dia membuat perutku lebih tahan lapar..." pikir Huang pelan.

Dia benar benar tidak mengerti.

Tidak lama kemudian Huang sampai di pelataran kompetisi. Tempat itu sudah sangat ramai. Murid luar berkumpul di sekitar arena batu besar yang berada di tengah pelataran. Bahkan banyak murid dalam juga datang menonton sambil berdiri di tempat tinggi.

Para tetua luar duduk berjajar di atas panggung batu. Huang langsung melihat Tetua Mo di antara mereka. Lelaki tua itu masih terlihat sama seperti biasanya. Duduk malas sambil membawa kendi araknya sendiri, seolah dia datang bukan untuk melihat kompetisi melainkan tidur siang.

Tetua Mo menyadari kedatangan Huang lalu mengangguk kecil.

Huang segera membalas dengan menangkup kedua tangannya hormat sebelum berjalan menuju kumpulan murid luar lain di sekitar arena.

Tidak lama kemudian Tetua Wushuang berdiri dari kursinya. Seketika seluruh pelataran menjadi diam.

Aura kultivator Ranah Inti Emas Tahap Akhir miliknya langsung menyelimuti area luas itu. Bahkan beberapa murid luar tanpa sadar menundukkan kepala karena tekanan besar tersebut.

Tetua Wushuang mulai berbicara tentang aturan kompetisi, larangan membunuh sesama murid, dan hadiah bagi pemenang. Semua murid mendengarkan dengan serius.

Setelah pidato pembukaan selesai, seorang diaken tua melangkah maju menuju tengah arena. Suaranya menggema keras ke seluruh pelataran.

"Aku akan menjadi penengah pertarungan dalam kompetisi kali ini!"

1
yos helmi
tamat.. jgn tunggu up.. thornya dah modaaar 🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
💪😄😄😄💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣😄😄
yos helmi
yg anehnya ko lan dong bisa di murid dalam.. ??? thor jgn terlalu tolol buat cerita..
Tinta Abadi: Ini komentar nya juga aneh. Padahal udah ada narasi. Huang heran mengapa Lan Dong yang murid luar bisa ikut eksplorasi murid dalam. Kau tolol, tapi ngatain orang tolol. Padahal cerita pengenalan Dhu Yan udah dijelaskan. kalau dhu yan itu orang yang memiliki banyak koneksi.

ngakak banget bro ini salah mulu🤣
kok bisa ya kek gitu. bacanya di lompat lompat kah?
total 1 replies
yos helmi
banyak yg ketinggalan dlm cerita ini.. ilmu dari org misterius..
Tinta Abadi: Otak bro yang ketinggalan. Literasi minus. Jadi pembaca itu yang teliti sedikit bro. Jangan dungu.

Saran: Baca ulang bab 4 berulang-ulang sampai paham. Mungkin anda sudah tua, jadi otaknya lemot, saya memahami🙏

Kasihan authornya ditanya mulu. Kebiasaan baca novel warisan, jadi beberapa pembaca nganggep warisan itu kekuatan sakti. Padahal pemahaman dasar loh tentang kultivasi.
total 1 replies
yos helmi
👍👍👍💪💪
yos helmi
😄😄😄😍😍😍
yos helmi
😄😄😄😄😄💪💪💪👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!