Judul Awal: Reinkarnasi Gadis Polisi
-------
Dia adalah Zhu Liana, perempuan tangguh berumur 26 tahun. Jenderal wanita satu-satunya sekaligus yang termuda dalam sejarah perkumpulan organisasi Polisi Tentara antar benua yang bernama World Soldier Alliance (WSA) yang sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu.
Bakat yang menakjubkan, pestasi yang gemilang dengan dipadukan kecerdikan dan kecerdasannya membuatnya sangat dihormati oleh setiap orang dari negara-negara yang tergabung dalam organisasi itu.
Namun, seperti sebuah pepatah ‘Semakin tinggi kau mendaki, semakin kuat angin menerpa tubuhmu’. Bakat Zhu Liana tak sepenuhnya menjadi berkah, bakat yang tinggi itu malah mengundang keirian dari orang lain.
Ia dijebak dan mati dengan tragis karena rekannya sendiri.
Seolah takdir ingin bermain dengannya, Zhu Liana terbangun di dunia yang asing. Mengharuskannya memecahkan segala misteri yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Ayu Satika (Chana=nama pena), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25-Cerita Manis di Masa Lalu
“Pangeran apa perlu hamba menyediakan tempat duduk untuk anda? Duduk langsung di tanah akan membuat pakaian Pangeran kotor.”
Seorang pria yang kiranya terlihat berumur tiga puluh tahun menggunakan pakaian seorang Kasim tengah berbicara pada seorang anak kecil yang kini duduk di sebuah gundukan rumput bawah pohon sakura..
“Terimakasih Kasim Dao, tapi ini sudah terasa nyaman.” Anak kecil itu menjawab dengan senyuman tipis. Begitu manis.
Yah, anak kecil itu adalah sosok muda Wei Wuxian, Pangeran Ke-tiga Kekaisaran Naga.
Wuxian kecil duduk di bawah pohon sakura paling besar sambil membawa sebuah buku untuk di baca. Kegiatan yang paling dia gemari untuk mengusir kebosanan karena terlalu suntuk terkurung dalam istana.
Masih berdiri di sampingnya, Kasim Dao kembali membuka suara dengan nada khawatir melihat sang Pangeran dengan santainya lesehan sembari menyandarkan tubuh kecilnya di pohon dengan bunga merah muda yang cantik itu.
Dia masih berusaha membujuk Wuxian kecil agar mau duduk di kursi ketimbang di tanah yang kotor karena bisa saja membuatnya terserang penyakit. “Pangeran, tapi itu ....” Kasim Dao tak dapat meneruskan kalimatnya karena Wei Wuxian terlebih dahulu menyela.
“Kasim Dao, kalau begitu Kasim Dao boleh mengambilkanku beberapa cemilan untuk di makan,” pintanya mengalihkan tatapannya ke arah Kasim Dao yang semula berada di buku.
Kasim Dao mengehela napas karena sang Pangeran yang begitu keras kepala. Tapi dia tak menolak perintah sang majikan yang semestinya memang harus selalu ia turuti. Dirinya hanyalah seorang pelayan disini, tidak berhak dia menjadi begitu pemaksa.
Kasim Dao segera mengangguk terus bergerak memenuhi permintaan sang Pangeran kecil.
Wei Wuxian tersenyum kemudian lanjut memfokuskan pandangannya pada aksara yang ada di dalam buku. Sangat khidmat dan menghayati isinya.
Suasana tenang menjadi pendukung yang baik saat belajar. Namun itu tak bertahan lama saat seseorang tiba-tiba menubruk tubuhnya dengan begitu keras.
Wuxian sangat terkejut hingga membuatnya setengah berteriak. Keadaannya cukup menyedihkan untuk dilihat, yang mana tubuhnya berguling beberapa kali kemudian diakhiri dengan sebuah buku yang menghantam kepalanya, itu jatuh saat ia tak sengaja melemparnya ke atas dan kini malah mengenai kepalanya.
Wuxian merasa sedikit pusing karena tertimpa buku yang lumayan tebal isinya itu. Dengan perlahan dia terbangun dan mencari sosok yang menabraknya sembrono. Dilihatnya tak jauh dari termpatnya, seorang gadis kecil tengah tengkurap mencium rumput, kondisi gadis kecil tak kalah menyedihkan dengan dirinya.
Hal itu membuat Wuxian yang semulanya ingin menegur si gadis kecil menjadi kasihan.
“Aduduh, sakit sekali!” Suara menggemaskan terdengar mengaduh yang lagi-lagi membuat Wuxian tak tega jika harus memarahi gadis menggemaskan itu.
Dia menghampiri si gadis kecil kemudian membantunya untuk bangun.
"Kau ... kau tak apa?" Wuxian bertanya dengan suara lembut. Dia juga membantu gadis kecil itu membersihkan debu dan rumput yang menempel pada gaun hanfunya.
“Hng?” Gadis kecil itu memandang Wei Wuxian bingung kemudian matanya kembali melotot. "Ma- maafkan Li'er. Li'er tidak tahu jika ada kakak disana," ucapnya seraya menundukkan tubuhnya hingga 90 derajat.
Wuxian tentu terkejut melihat tingkah si gadis kecil. Dia buru-buru memegang bahu gadis kecil itu dan menyuruhnya untuk tidak membungkuk lagi. Dan panggilan kakak dari gadis itu membuatnya tertegun.
"Kakak memaafkan Li'er?" tanya gadis itu polos. Matanya sedikit berair hampir menumpahkan tangis dan hidungnya juga memerah, mungkin bekas menyeruduk tanah barusan.
Pipinya gembul lucu dan memiliki semburat merah alami, sangat jelas di kulitnya yang putih bersih. Sangat menggemaskan, mengundang tangan-tangan nakal untuk mencubitnya.
Wei Wuxian tak dapat berkata, wajahnya menampakkan rona malu melihat gadis kecil yang cantik. Apalagi dengan tatapan polos yang diarahkan padanya membuat hatinya merasa tertohok pesona mungil itu.
"Aa- anu baiklah, aku memaafkanmu," jawabnya begitu gugup. Padahal di depannya itu hanyalah gadis kecil yang imut-imut. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdebar kencang.
"Terimakasih telah memaafkan Li'er," ucap gadis kecil itu. Tapi air matanya langsung luruh seketika melewati pipinya yang tembam dan semakin memerah.
Wei Wuxian yang melihat itu gelagapan tak tahu harus melakukan apa. Ia tak pernah melihat seseorang menangis kecuali dirinya sendiri. Yah, tak pernah sama sekali. Karena selama ini dia terkurung sendiri tanpa teman bermain sebayanya di istana. Jika pun ada saudara-saudarinya, mereka hidup terpisah. Dia hanya sesekali bertemu mereka akan tetapi dirinya selalu diacuhkan. Dia tidak tahu kenapa mereka selalu menganggapnya tidak ada. Bahkan orang-orang di sekelilingnya juga sering melupakan keberadaannya.
Wuxian mendekati gadis itu menyuruhnya tenang dan berhenti menangis.
“Ada apa? Kenapa kau menangis. Apa ada yang sakit?" tanyanya khawatir.
Dia membantu gadis kecil itu mengusap air matanya karena tak tahu bagaimana caranya membujuk orang yang tengah menangis.
Gadis itu masih sesegukkan, tetapi dirinya kemudian berkata dengan suaranya yang manis. "Li'er ... Li'er ingin kembali ke ibu tapi tidak tahu jalan." Gadis kecil itu sesekali menarik cairan yang keluar dari hidungnya dengan cara menggemaskan.
Wuxian masih memperhatikannya saat menghapus sisa-sisa air mata menggunakan saputangan yang dia bawa. Wuxian menunggu gadis kecil itu berhenti menangis.
"Jadi kau tersesat?" Gadis kecil itu mengangguk cepat.
Wuxian terkekeh geli dibuatnya. "Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Aku akan mengantarmu kembali pada ibumu. Bagaimana?" tawarnya seraya menepuk pelan kepala gadis kecil itu yang kembali disambut anggukkan cepat.
Wuxian mengulurkan tangannya untuk digenggam gadis kecil itu kemudian menggandeng dan menuntunnya kembali.
“Gadis kecil, siapa namamu?” tanyanya lebih lembut dan hangat. Jantungnya masih berdebar kencang tapi entah kenapa membuatnya merasa nyaman.
Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya lucu, pipinya juga ikut menggembung, dia telah sepenuhnya berhenti dari tangis. Aakh! Ingin rasanya Wei Wuxian untuk menggigit, apakah itu akan sama seperti bakpao?
“Aku bukan gadis kecil! Jangan memanggilku gadis kecil!” teriaknya dengan suara nyaring mengagetkan Wuxian. Dia kesal karena dipanggil gadis kecil oleh anak lelaki yang bahkan belum berumur sepuluh tahun itu.
“Ah, maafkan aku. Jadi aku harus memanggilmu apa?” tanyanya sekali lagi, ia memiliki senyum tipis.
Gadis kecil itu terkikik geli. Suasana hatinya cepat sekali berubah.
“Kakak bisa memanggilku Li’er seperti Ayah, Ibu dan Kakak Wan Feng. Kata ibu, nama Li'er adalah Zhu Liana,” ucap gadis itu dengan senyuman lebar nan manis. Memang balita yang polos.
Zhu Liana? Bukankah Zhu Liana adalah nama gadis yang dijodohkan dengannya?
"Gadis ... ah bukan. Li'er, apa Li'er putri dari bibi Xiening dan paman Moran?" tanya Wuxian memastikan.
"Kakak mengenal Ibu dan Ayah Li'er?" tanya balik gadis kecil Li'er.
Wuxian mengangguk. "Tentu saja kenal, bibi Xiening adalah adik Ayah Kaisar. Dan paman Moran adalah suaminya."
“Begitu. Jadi, kakak! Nama kakak siapa? ” tanya Liana kecil, terlihat polos sekali.
"Na- namaku ...?" Wuxian sebenarnya agak gugup karena baru pertama kali berinteraksi dengan orang asing meskipun Liana nantinya bukanlah orang asing lagi, tapi tetap saja mereka baru bertemu hari ini.
Liana menganggukkan kepalanya gemas. Hal itu membuat Wei Wuxian tersenyum.
Wajahnya tetap menampilkan rona merah sejak dirinya melihat Li'er dan kini tengah menggenggam tangan mungil itu. “Xian, namaku Wei Wuxian,” jawabnya dengan senyuman yang tidak luntur sedikit pun.
“Woah!” Li'er si gadis kecil berseru tak percaya, ia menutup mulut dengan kedua tangannya karena genggaman Wei Wuxian sudah terlepas, matanya yang bulat membesar semakin membuat gemas.
“Jadi kakak adalah Pangeran Ke-tiga, Wei Wuxian? Orang yang akan menikahi Li'er nanti?” tanyanya polos. “Jadi Li'er akan menikah denganmu? Woah, ini hebat sekali. Kata ayah, jika orang berjodoh akan dipertemukan. Jadi kita adalah jodoh!”
Wei Wuxian terbatuk karena tersedak salivanya sendiri mendengar ungkapan terang-terangan Li'er. Wajahnya semakin memerah mengulang kata Menikah di pikirannya. Benarkah dia akan menikahi gadis kecil menggemaskan ini di masa depan?
Dia semakin berdebar memikirkan hal itu. Oh ayolah, dia sekarang hanyalah anak lelaki enam tahun. Pernikahan itu masih lama. Tapi kenapa dia malah gugup sekarang?
Yah, meski seorang Wei Wuxian memiliki wujud anak enam tahun, tapi pemikirannya bahkan jauh lebih dewasa dari itu. Dia mengerti apa itu Pernikahan. Dan sekarang dia mendengar kata itu dari seorang balita, dia merasa malu sendiri. Siapa yang mengajarkan gadis kecil yang bahkan belum berumur lima tahun itu tentang kata-kata yang tidak sesuai umurnya?
“Jadi, kakak. Li'er akan memanggilmu Xian gege. Boleh?”
Ucapan Li'er spontan membuat Wuxian tersadar dari lamunannya.
“I- itu ... itu ....” Terlalu gugup, Wuxian bahkan tak berbicara dengan jelas.
“Tidak boleh ya?” Liana kecil murung, suaranya menjadi lirih berpikir bahwa anak laki-laki itu tak menyukainya.
Matanya kembali berair siap untuk menangis kembali. Namun Wuxian berucap dengan buru-buru tak ingin membuat gadis kecil itu kecewa padanya.
“Aaa, baik ... baiklah. Kau boleh memanggilku seperti itu!” Ia gelagapan.
“Bagus! Jadi, Xian gege. Xian gege." Saking senangnya, Li'er terus mengulang panggilan itu berkali-kali dan malah membuat Wuxian bertambah tersipu malu.
"Kelak, jika kita sudah menikah. Aku akan menjadi istri yang baik seperti ibu,” ucapnya mantap seraya mengganggukkan kepalanya lucu.
Baiklah, Wei Wuxian mungkin akan memiliki gula darah yang tinggi sekarang. Liana kecil sangatlah manis, jantungnya tak pernah berhenti berdetak cepat. Jika ini berlangsung lama, mungkin dirinya sudah memiliki penyakit jantung. Sangat berbahaya!
Apalagi kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan seorang bocah keluar dari mulut mungil Li'er membuat Wuxian gemas sendiri. Dia harus protes nanti pada Paman dan Bibinya itu yang telah mengajari Li'er kecil.
~o0o~
Hari ini Up 3 episode mengganti jadwal yang bolong kemarin.
cowok?