NovelToon NovelToon
Lini Masa Dibalik Lensa

Lini Masa Dibalik Lensa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Anak Genius / Konflik etika / Murid Genius
Popularitas:433
Nilai: 5
Nama Author: Donny Kusuma Jaya

Arlan adalah seorang remaja SMA kelas 2 yang lebih suka mengamati dunia dari balik lensa kamera analognya daripada berinteraksi langsung. Baginya, cinta adalah konsep abstrak yang sulit difokuskan, sampai ia menemukan sebuah gulungan film tua di laboratorium sekolah yang tertukar dengan miliknya. Pencarian pemilik film itu membawanya pada perjalanan yang tidak hanya mengenalkannya pada cinta, tetapi juga pada keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donny Kusuma Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Shutter Speed di Bawah Terik Matahari

Matahari Jakarta siang itu seolah sedang memamerkan amarahnya. Cahaya yang jatuh ke lapangan SMA Garuda begitu tajam, menciptakan bayangan-bayangan kontras yang pekat di atas aspal. Bagi kebanyakan siswa, ini adalah waktu untuk mengeluh, berlindung di balik kipas angin kelas, atau menenggak es teh manis di kantin yang pengap. Namun bagi Arlan, cahaya ini adalah anugerah teknis.

Arlan berdiri mematung di sudut koridor lantai dua yang sepi. Tubuhnya terbungkus jaket denim pudar yang tampak terlalu gerah untuk cuaca seperti ini. Namun, jaket itu adalah zirah. Di balik kain tebal itu, Arlan merasa aman dari tatapan dunia yang sering kali menuntut interaksi yang tak ia kuasai. Tangannya yang sedikit kasar karena sering bersentuhan dengan bahan kimia ruang gelap, menggenggam erat sebuah kamera DSLR tua. Kamera itu bukan sekadar alat; itu adalah perpanjangan jiwanya, sebuah jendela tunggal yang memungkinkannya melihat dunia tanpa harus benar-benar berada di dalamnya.

Ia mengangkat kamera itu ke depan wajahnya. Klik.

Satu bidikan ke arah lapangan basket di bawah. Ia menangkap momen di mana seorang pemain melompat, tubuhnya melayang di udara, dengan butiran keringat yang memantulkan cahaya matahari seperti kristal kecil. Arlan memeriksa layar LCD kecil di kameranya. Hasilnya tajam. Shutter speed tinggi yang ia atur berhasil membekukan waktu.

"Foto lo selalu bikin mading sekolah kelihatan punya nyawa, Lan," sebuah suara berat tiba-tiba memecah keheningan koridor.

Arlan tersentak kecil, namun tidak menurunkan kameranya. Ia mengenali suara itu. Tito. Satu dari sedikit orang yang cukup sabar menghadapi sikap diamnya.

"Tapi sayangnya, yang punya kamera justru kelihatan kayak mayat hidup," sambung Tito sambil bersandar di pilar beton, tepat di samping Arlan. "Lo udah berdiri di sini hampir setengah jam cuma buat nunggu satu lompatan itu?"

Arlan akhirnya menurunkan kamera, namun pandangannya tetap terpaku pada lensa yang kini telanjang tanpa penutup. "Momentum nggak pernah datang dua kali, To. Kalau gue kedip sedikit aja, ceritanya hilang."

Tito menggelengkan kepala, tertawa kecil yang terdengar lebih seperti desahan prihatin. "Dunia itu buat dijalanin, Bro. Bukan cuma buat ditonton lewat lubang intip kecil itu. Lo terlalu sibuk ngatur pencahayaan buat orang lain, tapi lo sendiri selalu milih buat tetep di balik bayangan."

Arlan tidak menjawab. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa di balik bayangan itulah ia merasa paling hidup. Baginya, bicara itu merepotkan. Kata-kata sering kali salah diartikan, emosi manusia terlalu labil untuk diprediksi. Namun, sebuah foto? Foto itu jujur. Ia menangkap apa yang ada, tanpa perlu basa-basi. Ia percaya bahwa dengan memotret, ia bisa memahami perasaan orang lain dari jarak yang aman—sebuah observasi tanpa risiko harus merasakannya sendiri.

"Ayo, ke Kafe Tua. Panas banget di sini, otak lo bisa angus kalau kelamaan dijemur," ajak Tito.

Mereka akhirnya melipir ke sebuah kafe tua yang terletak tepat di seberang sekolah. Kafe itu adalah anomali di tengah hiruk-pikuk kota. Aromanya selalu sama: campuran antara biji kopi yang terpanggang gosong, debu buku-buku tua yang memenuhi rak di sudut, dan sedikit bau lembap dari kayu bangunan yang sudah mulai mengelupas peliturnya. Arlan menyukai tempat ini karena pencahayaannya yang dramatis—cahaya matahari sore masuk melalui jendela-jendela tinggi, menciptakan garis-garis cahaya yang membelah ruangan yang remang.

Arlan duduk di meja paling pojok, tempat favoritnya. Ia segera mengeluarkan kameranya dan mulai menggulir hasil foto-fotonya hari itu. Tito dan Rian, yang baru saja menyusul, duduk di depannya sambil membawa segelas es kopi susu.

"Coba gue liat hasil buruan lo hari ini," kata Tito sambil mencoba meraih kamera Arlan.

Refleks, Arlan menarik kameranya menjauh. "Jangan. Lensa ini sensitif, To. Tangan lo penuh bekas gorengan kantin."

"Pelit amat sih si Jaket Denim ini," gerutu Tito, meski ia tetap tersenyum. "Eh, lo udah denger belum? Maya lagi cari fotografer buat proyek teater sekolah bulan depan. Katanya dia butuh sudut pandang yang 'beda'."

Mendengar nama Maya, gerakan tangan Arlan yang sedang menyeka lensa terhenti sejenak. Maya. Semua orang di SMA Garuda tahu siapa dia. Dia adalah pusat gravitasi di setiap ruangan yang ia masuki. Ekspresif, berantakan dengan noda cat di seragamnya, dan selalu penuh warna. Dia adalah kebalikan dari semua yang Arlan yakini.

"Cinta itu merepotkan, To. Kayak nyari fokus di tengah kabut," gumam Arlan pelan, mencoba kembali ke kegiatannya. "Apalagi urusan teater. Terlalu banyak orang, terlalu banyak drama."

"Tapi lo jago, Lan. Lo bisa nangkep emosi yang bahkan orangnya sendiri nggak sadar kalau mereka punya," timpal Rian yang sedari tadi diam memperhatikan. "Sayang kalau bakat lo cuma berakhir di mading yang orang-orang cuma liat sekilas sambil lewat."

Arlan terdiam. Ia menunduk, menatap pantulan dirinya di permukaan lensa kameranya. Ia melihat seorang remaja yang tampak lelah, dengan mata yang selalu waspada seolah-olah sedang mencari sesuatu yang salah dalam komposisi hidupnya.

Ia meraba saku jaketnya, memastikan tutup lensa berukir inisial A.R. masih ada di sana. Tutup lensa itu adalah benda paling berharga miliknya, warisan dari kakeknya yang juga seorang fotografer perang. Bagi Arlan, tutup lensa itu adalah simbol kendali. Selama ia bisa menutup lensanya, ia bisa menutup dirinya dari dunia.

Namun, di tengah keheningan kafe itu, Arlan tak sengaja mengarahkan pandangannya ke jendela. Di seberang jalan, ia melihat Maya baru saja keluar dari gerbang sekolah. Gadis itu sedang tertawa lebar, rambutnya yang kecokelatan tertiup angin sore yang hangat. Cahaya matahari golden hour jatuh tepat di wajahnya, menciptakan kontras yang begitu indah hingga membuat Arlan secara refleks mengangkat kameranya.

Tangannya gemetar sedikit saat jarinya menyentuh tombol rana. Ia melihat melalui lubang intip, mencoba mencari fokus. Di detik itu, Arlan menyadari satu hal: selama ini ia memotret untuk memahami orang lain agar ia tidak perlu mendekat. Tapi saat melihat Maya melalui lensa, ada keinginan aneh yang muncul—keinginan untuk tidak sekadar memotret, tapi untuk benar-benar mengerti mengapa cahaya matahari tampak lebih terang saat menyentuh wajah gadis itu.

"Apa yang lo liat, Lan?" tanya Tito penasaran.

Arlan segera menurunkan kameranya, wajahnya sedikit memerah. "Nggak ada. Cuma cahaya yang bagus buat tes ISO."

Ia berbohong. Di dalam sensor kameranya, kini tersimpan sebuah siluet yang nantinya akan menjadi awal dari keruntuhan benteng denimnya. Sebuah foto yang diambil tanpa izin, namun dengan sepenuh hati. Arlan segera memasang kembali tutup lensanya dengan bunyi klik yang mantap, seolah mencoba mengunci perasaan asing yang baru saja masuk ke dalam dadanya.

Ia tidak tahu bahwa besok, di mading sekolah yang sunyi, ia akan melakukan hal paling gila yang pernah ia lakukan seumur hidupnya: membiarkan sebuah foto bicara untuknya, dan membiarkan sebuah penutup lensa hilang untuk selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!