satria baru mengetahui jika dirinya hanya seorang anak yang di temukan oleh kakek pandu saat berada di kaki gunung gede, saat kakek Pandu merasa ajalnya sudah dekat ia memberikan sebuah gelang yang ada bersama Satria langit saat ia menemukannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan
Sasmita terdiam, berpikir sejenak.
"Ketua Candra, besok tolong antar aku ke sana. Aku ingin anakku sembuh. Tapi sebelum berangkat, aku ingin kau menghabisi orang yang mencelakai anakku!" ucap Sasmita tegas. Ia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto Bimo.
"Maksud Tuan Sasmita ingin menyewa kami untuk membereskannya?" tanya Ketua Candra sambil tersenyum senang. Bagaimana tidak, menyewa jasa pembunuh bayaran bayarannya bisa puluhan juta.
"Iya. Ada dua pemuda, Bimo dan Hadi. Tapi utamakan Bimo, dialah yang menghajar anakku hingga begini. Aku ingin dia merasakan penderitaan dua kali lipat!" jawab Sasmita cepat.
Baron yang mendengar itu menatap tajam, tangannya yang sudah bisa digerakkan kini terkepal kuat menahan amarah.
"Ya! Kubur Bimo hidup-hidup!" seru Baron penuh dendam.
"Untuk urusan itu gampang, hanya saja biayanya cukup besar, apalagi targetnya kabarnya punya ilmu bela diri," sahut Ketua Candra.
"Berapa pun harganya, aku pasti bisa membayarnya!?" tanya Sasmita angkuh.
"Tiga puluh juta. Apa kau keberatan?" jawab Ketua Candra.
"Tidak."
Sasmita langsung mengeluarkan buku cek, ia menulis nominal tersebut dan menyerahkannya pada Ketua Candra.
"Ini lima belas juta uang mukanya. Sisanya akan kulunasi setelah aku melihat mereka mati!" seru Sasmita.
"Deal!" Candra menerima cek itu dengan senyum lebar, lalu menyimpannya ke dalam laci meja besi yang tebal. "Tenang saja, aku akan menurunkan tangan kananku, Jarot dan Sugeng. Mereka tak pernah gagal menjalankan tugas."
Ketua Candra langsung menelpon orang yang dimaksud.
"Jarot, Sugeng, ke ruanganku sekarang!"
Hanya dalam hitungan menit, keduanya sudah datang ke ruangan itu.
"Ketua, ada apa memanggil kami?" tanya Sugeng.
"Kau cari dan bunuh orang ini!" Ketua Candra memperlihatkan foto Bimo di layar ponselnya.
"Siap Ketua. Bisa kasih info biasanya dia ada di mana?" tanya Jarot.
"Aku mendapat info mereka ada di Desa Munjuk. Ada teman mereka yang bekerja di sana," ucap Baron memberitahu lokasi.
"Baik, kami akan segera kesana. Kalian akan mendengar beritanya segera!" kata Jarot dengan sombong, seakan yakin bisa menghabisi Bimo dengan mudah.
"Oke, urusan Bimo beres," Candra menepuk tangan puas.
"Ketua, kapan bisa mengantar kami ke Kediaman Sutasoma?" tanya Sasmita tak sabar.
"Malam ini juga. Nanti ada anak buahku yang mengantar kalian kesana," sahut Ketua Candra. Ia sendiri tak bisa mengantar karena Harya masih ada di sana.
"Siapa yang akan kau utus mengantar mereka!?" tanya Harya tajam. Kediaman Sutasoma tak boleh sembarangan orang tahu, tidak boleh sembarang orang keluar masuk sembarangan.
"Biar Kuncoro yang mengantar mereka. Pak Harya tidak lupa kan dengan Kuncoro?" sahut Ketua Candra.
"Baiklah, jika Kuncoro yang akan mengantar, aku tak masalah," ucap Harya. Ia tahu orang itu, beberapa kali Candra kesana Kuncoro selalu ikut dan orang itu sudah menjalani sumpah setia tidak akan membocorkan keberadaan kediaman Keluarga Sutasoma.
Sasmita dan Baron pun berangkat malam itu juga ke Jawa Timur diantar oleh Kuncoro.
"Kalian juga cepat selesaikan tugas kalian!" perintah Ketua Candra pada Jarot dan Sugeng.
"Baik Ketua, kami berangkat sekarang!" sahut Jarot dan Sugeng serentak, lalu langsung pergi saat itu juga.
Sementara itu...
Di kaki gunung Rajabasa, Satria merasa ada getaran aneh yang mengganggu konsentrasinya saat berlatih. Gelang Candra Kirana di lengannya juga berdenyut kencang, seakan menyiratkan adanya bahaya besar yang sedang mengintai.
"Sebaiknya aku bermeditasi saja. Selain bisa meningkatkan tenaga dalamku, aku juga bisa menenangkan pikiranku," gumam Satria.
Ia duduk bersila dan mulai mengatur napas dengan ritme yang diajarkan oleh Eyang Resi Wiratama. Satria larut dalam semadinya. Tak terasa ia sudah berjam-jam duduk bersemedi, tenaga dalamnya kian menguat dan pikirannya menjadi lebih tenang.
Deg!
Satria tiba-tiba membuka mata karena jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Ada apa lagi ini?" gumamnya.
Tiba-tiba bayangan wajah Bimo muncul di benaknya.
"Celaka! Bimo dalam bahaya!"
Satria segera berdiri dan berlari secepat kilat menuju vila.
Braaak!
Tepat saat ia sampai di sana, ia melihat dua orang sedang mendobrak pintu vila dengan kasar.
"Siapa kalian!?" bentak Satria.
Suara kerasnya terdengar menggelegar, disertai aliran tenaga dalam yang kuat, membuat kedua orang itu kaget dan saling pandang. Mereka bisa menilai lawan mereka bukan orang sembarangan.
"Apa kita salah sasaran?" tanya Jarot pada Sugeng.
"Enggak. Ketua Candra sudah memperlihatkan fotonya," jawab Sugeng meyakinkan.
"Kalian tuli apa bisu!?" bentak Satria kesal karena diacuhkan.
"Di mana Bimo!?" seru Jarot mendesak.
"Mau apa kalian dengan temanku?" tanya Satria curiga.
"Kami akan membunuhnya!" seru Sugeng dengan nada dingin.
"Mimpi! Langkahi dulu mayatku!" raung Satria marah.
Hiaaaat!
Jarot yang mendengar ucapan Satria langsung melesat menyerang dengan gerakan kilat.
Wuuut... Plaaak!
Satria menangkis dengan cepat dan kuat.
Syuuuut!
Dari samping, Sugeng juga menyerang dengan pisau sangkur yang mengkilat tajam. Satria yang melihat senjata itu mengarah ke dadanya dengan cepat segera melompat mundur untuk menghindar.
"Sial, mereka memakai senjata tajam," gerutu Satria dalam hati. Ia mencoba mengerahkan kekuatan, bersiap mengeluarkan jurus Kuku Pancanaka.
Kreeek!
"Sat, ambil ini!?"
Tiba-tiba pintu vila terbuka, Hadi melempar gagang sapu kepada Satria.
Satria urung mengeluarkan jurusnya, ia menangkap gagang sapu itu.
"Kalian tunggu di dalam saja, berbahaya!" seru Satria memperingatkan.
"Enggak, kita bertarung bersama!" sahut Bimo pantang mundur.
Melihat Bimo keluar dari vila, Jarot dan Sugeng langsung menatapnya.
"Benar! Dia targetnya!" seru Sugeng sambil menunjuk Bimo.
"Target apaan sih!" teriak Bimo bingung.
"Gak perlu tahu, yang penting kamu harus mati sekarang!"
Hiaaaat! Wuuuut!
Jarot yang melihat Bimo ada di sana langsung menyerang dengan ganas.
Wuuut... Plaaak! Aduuuh!
Jarot menjerit kesakitan. Saat ia menyerang, tiba-tiba Hadi dan Bimo mengeluarkan tongkat bisbol dan menghajarnya bersama-sama. Jarot yang lengah langsung terpukul keras di lengannya.
"Kalian ini..." seru Satria heran sekaligus kesal. Ia yang menghadapi Sugeng hanya diberi gagang sapu, padahal lawannya memegang pisau tajam.
"He he he, sorry salah ngasih," ucap Bimo sambil cengengesan.
"Serang lagi!" bentak Jarot yang melihat Sugeng berhenti menyerang malah memperhatikan kehebohan itu.
Hiaaaat! Plaaaak! Desh! Klontraaaang!
Pisau Sugeng terpental jauh saat tangannya dipukul menggunakan gagang sapu itu. Belum sempat ia pulih dari keterkejutannya, Satria sudah melesat menyerangnya kembali.
Wuuut... Bugh! Aaaargh!
Pukulan penuh tenaga dalam Satria mendarat tepat di dada Sugeng. Sugeng terjatuh tersungkur dengan jeritan yang memilukan, napasnya seakan terhenti.
Jarot yang melihat itu segera meninggalkan Bimo dan Hadi, ia melesat dengan kecepatan tinggi menolong rekannya.
Hiaaaat! Wuush!
Pukulan Jarot menghasilkan desir angin yang keras. Satria tak mau ambil risiko, ia tahu pukulan itu mengandung kekuatan besar. Ia segera mengumpulkan tenaga dalamnya dan mengalirkannya ke telapak tangan.
Wuuut... Blaaaar! Aaaaargh!
Dua kekuatan bertemu dan meledak! Jarot terpental bagai layang-layang putus hingga keluar halaman vila, tubuhnya membentur dinding dan langsung lemas tak berdaya.
Hadi dan Bimo tercengang melihat kekuatan temannya, namun Satria tak mempedulikannya. Ia langsung mendekat ke arah Sugeng yang terkapar.
"Katakan! Siapa kalian!?" seru Satria sambil mencekik leher Sugeng pelan namun menekan.
"Kami dari Perguruan Naga Hitam! Kau akan menyesal telah menentang kami!" seru Sugeng dengan marah.
"Aku tak ingin membunuhmu sekarang. Agar kau bisa menyampaikan pesanku pada perguruanmu. Bilang pada pimpinanmu, jika masih berani mengganggu aku dan temanku, lain kali aku tak akan segan menghabisi kalian semua!" ancam Satria.
Lalu dengan gerakan cepat, ia menotok salah satu urat besar di lengan Sugeng.
"Argh! Sakit!" raung Sugeng kesakitan luar biasa, lengannya langsung lemas tak bisa digerakkan.
"Ini hanya hukuman kecil untukmu. Pergi dan bawa temanmu sebelum aku berubah pikiran!" bentak Satria.
Sugeng sambil meringis menahan sakit segera bangun, menyeret rekannya yang pingsan, dan pergi meninggalkan tempat itu dengan terhina.
Keadaan menjadi hening seketika. Satria menghela napas panjang menetralkan detak jantungnya.
"Sat, loe pake apa tadi kok bisa meledak gitu terus dia terlempar jauh banget?" tanya Bimo masih ternganga.
"Itu namanya Tenaga Dalam!" jawab Satria singkat.
"Jadi kalau gw rajin latihan, gw bisa punya tenaga dalam kaya gitu juga?" tanya Bimo lagi, matanya berbinar penuh semangat.
"Iya. Makanya jangan males-malesan latihannya. Ayo kita masuk," ajak Satria sambil melangkah duluan ke dalam vila.
Bimo dan Hadi saling pandang, lalu mengikuti langkah Satria dari belakang
Tapi sayang kalau Satria jika dipecat dari kerjanya, soalnya kerjanya sudah mantap tuh, santai dan lingkungannya sangat mendukung untuk latihan²nya... 😁