Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Di dalam kabin, hanya terdengar deru mesin dan helaan napas yang masih memburu. Elvano bersandar pada jok kulit, mencoba menetralkan sisa adrenalin yang masih memompa jantungnya setelah aksi kejar-kejaran singkat di lorong gelap tadi.
Ia menoleh ke samping, menatap sosok wanita yang kini menjadi pusat dari seluruh kekhawatirannya.
"Kamu tidak apa-apa? Ada yang luka?" tanya Elvano dengan nada rendah, namun penuh otoritas yang tak terbantahkan.
Selena mencoba mengatur posisi duduknya yang sedikit miring akibat guncangan mobil tadi.
"Hanya kakiku, El. Rasanya sedikit perih," jawab Selena sambil meringis kecil.
Tanpa banyak bicara, Elvano membungkuk di depan Selena. Ruang van yang terbatas membuat gerakannya terasa begitu dekat dan intim. Jemari panjangnya yang biasanya lincah di atas tuts piano atau memegang naskah film, kini dengan sangat hati-hati melepas sepatu hak tinggi yang menjepit kaki mungil istrinya.
Dua garis merah lecet menghiasi tumit putih Selena. Elvano menatap luka itu sejenak, rahangnya tampak mengeras. Ada rasa bersalah yang menyelusup di antara kemarahannya pada media.
"Seharusnya aku tidak membawamu jalan kaki di area terbuka seperti itu. Maafkan aku, Sayang. Ketenanganmu jadi terusik karena kebodohanku," ucap Elvano tulus. Ia masih memegangi pergelangan kaki Selena, seolah takut luka itu akan bertambah parah jika ia lepaskan.
Di luar dugaan, Selena justru terkekeh pelan. Ia menyandarkan kepalanya ke jok mobil, menatap Elvano dengan binar yang tidak terlihat seperti orang tertekan.
"Kenapa minta maaf? Aku justru merasa ini pengalaman yang luar biasa," sahut Selena enteng.
Elvano mengangkat alis, menatap istrinya dengan dahi berkerut. "Luar biasa?"
"Iya. Selama ini aku hanya melihat adegan dikejar wartawan di drama-drama atau berita gosip yang lewat di timeline. Ternyata aslinya jauh lebih greget, ya? Jantungku rasanya mau melompat keluar, tapi ada sensasi seru yang aneh," ujar Selena sambil menggelengkan kepala, tulus dengan kejujurannya.
Darian yang sedang fokus memutar kemudi di depan tidak bisa menahan tawa. Suaranya pecah, memecah ketegangan yang sejak tadi membeku di kabin mobil.
"Selena, kamu ini memang unik sekali. Orang lain mungkin sudah pingsan atau menangis histeris kalau dikepung wartawan seperti tadi, tapi kamu malah menganggapnya seperti wahana di taman bermain," komentar Darian sambil sesekali melirik spion tengah.
Selena tersenyum tipis, tangannya bergerak merapikan helai rambut yang berantakan di wajahnya.
"Ya mau bagaimana lagi? Ini risiko memiliki suami seorang selebritas global, bukan? Lagipula, aku sudah terbiasa menghadapi pasien yang mengamuk di rumah sakit. Wartawan tadi setidaknya hanya membawa kamera, bukan membawa infus yang mau dilempar," guraunya lagi.
Elvano terdiam, menatap Selena cukup lama. Ada sesuatu dalam diri wanita itu yang perlahan mulai meruntuhkan dinding perfeksionismu yang selama ini menyekapnya. Ketenangan Selena bukan sekadar pura-pura, tapi memang sebuah ketegaran alami yang jarang ia temukan di industri hiburan yang penuh drama.
"Kamu terlalu meremehkan mereka, Sayang. Sekali identitasmu bocor, duniamu tidak akan pernah sama lagi," peringat Elvano sambil kembali duduk tegak, namun tetap menggenggam tangan Selena.
"Maka dari itu, kita harus pastikan mereka tidak mendapatkan foto yang jelas, kan? Aku percaya padamu dan Darian," jawab Selena mantap.
**
Mesin mobil van itu akhirnya mati tepat di depan selasar villa. Tanpa menunggu aba-aba, Elvano bergerak gesit. Ia menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Selena, lalu mengangkat tubuh istrinya itu dalam satu gerakan mantap.
“El, aku bisa jalan sendiri. Ini cuma lecet kecil,” protes Selena sambil mengalungkan tangan di leher Elvano agar tidak terjatuh.
Elvano tidak menyahut. Ia hanya mempererat gendongannya, membawa Selena melewati pintu utama menuju ruang santai yang temaram. Ia mendudukkan Selena di atas sofa beludru, lalu berlutut di lantai tanpa mempedulikan celana kain mahalnya akan kotor.
“Diam di sini. Jangan bergerak,” perintah Elvano pendek.
Pria itu kembali beberapa saat kemudian dengan kotak kotak obat. Dengan telaten, ia membersihkan sisa debu pada tumit Selena dan mengoleskan salep dingin. Gerakannya sangat hati-hati, seolah-olah kulit Selena adalah porselen yang bisa retak kapan saja.
“Selesai,” gumam Elvano setelah menempelkan plester medis. Ia berdiri, menatap Selena dengan tatapan yang sedikit lebih lunak dari sebelumnya. “Aku harus ke ruang kerja dulu. Ada hal mendesak yang harus kubicarakan dengan Darian.”
Selena mengangguk, ia bisa melihat gurat kelelahan sekaligus kemarahan yang tertahan di balik mata suaminya.
“Iya, El. Aku juga mau langsung ke kamar. Kepalaku agak berat, sepertinya butuh tidur.”
Elvano mengulurkan tangan, mengelus puncak kepala Selena pelan—sebuah gestur yang menjadi caranya untuk mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
“Istirahatlah. Aku tidak akan lama.”
Setelah memastikan Selena masuk ke kamar, Elvano berbalik. Langkah kakinya yang berat menuju ruang kerja diikuti oleh Darian dari belakang. Begitu pintu tertutup, suasana hangat tadi menguap, berganti dengan aura otoriter yang dingin.
Elvano menghempaskan tubuhnya ke kursi kerja. Ia menyandarkan punggung, menatap langit-langit ruangan dengan rahang yang mengeras.
“Darian, pastikan tidak ada satu pun foto yang menampakkan wajah Selena secara jelas beredar besok pagi. Gunakan semua koneksi kita di dewan pers jika perlu,” ujar Elvano. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang nyata. “Ini murni kesalahanku. Gara-gara kecerobohanku, istriku sampai terluka dan dikejar-kejar seperti tadi.”
Darian berdiri tegak di depan meja kerja, mencatat poin-poin penting di tabletnya. “Aku sudah bergerak, El. Beberapa portal berita sudah setuju untuk memburamkan wajah wanita dalam foto itu dengan imbalan rilis eksklusif naskah film baru minggu depan.”
Elvano mendengus sinis. “Bereskan semuanya sampai ke akar. Aku tahu bagaimana pola permainan para investor itu. Proyek film ini diprediksi akan meledak, dan mereka terlalu serakah. Mereka sengaja menciptakan gosip murahan untuk mendongkrak popularitas film tanpa peduli dampaknya padaku.”
Ia menjeda kalimatnya, lalu menatap Darian tajam. “Mendorongku ke dalam dua skandal berbeda dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam? Pertama dengan lawan mainku, lalu dengan 'wanita misterius' di lorong? Mereka pikir aku tidak tahu kalau salah satu dari mereka yang membocorkan lokasi restoran itu kepada paparazzi?”
“Kau curiga ada orang dalam yang bermain, El?” tanya Darian hati-hati.
“Aku yakin. Investor atau bahkan salah satu produser eksekutif mungkin merasa chemistry di layar tidak cukup kuat, jadi mereka butuh bumbu skandal nyata. Tapi mereka salah sasaran. Mereka menyentuh hal yang paling pribadi dalam hidupku,” desis Elvano. Satu kalimatnya itu cukup untuk memberi sinyal bahwa akan ada kepala yang terjatuh di rapat dewan direksi lusa.
Elvano memijat pangkal hidungnya, lalu mengibaskan tangan sebagai tanda sesi bicara malam itu berakhir.
“Pulanglah, Darian. Beristirahatlah. Besok akan jadi hari yang sangat panjang untuk tim humas kita.”
Darian mengangguk, merapikan tabletnya ke dalam tas. “Baik, El. Kau juga harus istirahat. Jangan biarkan overthinking-mu mengambil alih malam ini. Sampaikan salamku untuk Selena, semoga kakinya cepat sembuh.”
Setelah Darian pergi, Elvano tidak langsung menyusul Selena ke kamar. Ia tetap duduk di kegelapan ruang kerjanya, memandangi layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV gerbang villa.
***