NovelToon NovelToon
Disayangi Anak Mantan

Disayangi Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Duda
Popularitas:17.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?

Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Langit mulai terlihat muram sore itu. Tanpa menoleh lagi ke arah ibunya, Nathan langsung berjalan tergesa menyusuri lorong rumah sakit.

Sesampainya di mobil, ia segera menghubungi kepala sekolah Darrel untuk menanyakan alamat Andin.

Dan ternyata… alamat perempuan itu masih sama. Masih di kontrakan kecil yang dulu sering ia datangi.

Nathan tertegun.

Untuk beberapa detik ia bahkan hampir kehilangan keberanian untuk kembali ke tempat itu, tempat yang dulu pernah dipenuhi tawa mereka berdua.

Tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan indah yang pernah mereka rajut bersama, namun semua itu kini hanyalah masa lalu. Kenangan yang terkubur bersama mimpi Nathan yang hancur pada waktu itu.

“Aku harus kuat,” gumamnya lirih, seolah menasehati dirinya sendiri.

“Ini tentang anakku… bukan tentang diriku.”

Mobilnya melesat membelah jalanan sore yang dipadati kendaraan. Tatapan Nathan lurus ke depan, di dalam kepalanya hanya ada satu nama.

Darrel.

Tidak ada pilihan lain. Ia harus membawa masa lalunya kembali… demi anaknya.

Sesampainya di depan kontrakan itu, mobil Nathan berhenti di pinggir jalan kecil. Pria itu masih sangat hafal dengan tempat ini.

Ia turun perlahan dari mobil. Langkahnya terasa berat, seolah setiap jejak yang ia ambil sedang menyeret kenangan lama yang ingin ia kubur dalam-dalam.

Rumah kontrakan kecil itu kini berdiri tepat di hadapannya.

Belasan tahun. Sudah selama itu Nathan tidak pernah lagi menginjakkan kaki di sini.

Dulu ia datang dengan cinta yang penuh. Sekarang… ia datang dengan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Nathan mengangkat tangannya dan mengetuk pintu.

Tok. Tok. Tok.

Tidak lama kemudian terdengar suara lembut dari dalam rumah.

“Tunggu sebentar.”

Langkah kaki kecil terdengar mendekat.

Pintu pun perlahan terbuka.

Dan saat itulah… keduanya membeku.

Deg!

Tak ada angin, tak ada hujan. Tiba-tiba saja Nathan berdiri di ambang pintu rumah perempuan yang pernah menjadi seluruh dunianya.

Andin tertegun.

Perempuan itu mengenakan dress hijau sederhana yang jatuh lembut hingga lututnya. Rambutnya tergerai rapi di bahu, membuat wajahnya yang cantik terlihat semakin lembut di bawah cahaya senja.

Untuk sesaat Nathan terdiam, sejak, gadis itu masih saja menggunakan dress hijau, belasan tahun berlalu, namun perempuan di hadapannya masih terlihat sama.

Masih secantik dulu, tapi tatapan mereka kini jauh berbeda. Andin menelan ludah pelan. Lidahnya terasa kelu hanya untuk sekadar menyapa, tatapan Nathan terlalu tajam. Terlalu penuh luka.

“Apa… yang Anda lakukan di sini?” tanya Andin akhirnya dengan suara pelan.

Nathan tersenyum tipis. Namun senyum itu sama sekali tidak hangat.

“Kenapa?” katanya dingin. “Rumah ini sekarang juga melarang orang datang?”

Andin menghela napas pelan.

“Aku hanya tidak menyangka… Tuan Nathan masih tahu alamat rumahku.”

Nathan tertawa kecil, tapi tawa itu terdengar pahit. “Alamat ini?” ujarnya pelan.

“Aku bahkan hafal setiap sudut rumah ini.”

Kalimat itu membuat dada Andin sesak. Karena ia tahu… itu benar. Nathan pernah menghabiskan banyak waktu di tempat ini dulu.

“Anda datang untuk apa?” tanya Andin lagi, mencoba menenangkan dirinya.

Nathan menatapnya tajam. Untuk beberapa detik ia tidak menjawab. Lalu akhirnya berkata dengan suara yang jauh lebih rendah.

“Masih ingat kejadian pagi tadi?" tanyanya sinis.

Andin tertegun, jelas ia masih ingat bagaimana tubuh kecil itu terbaring lemah di ranjang UKS.

"Sekarang bagaimana keadaannya?" tanyanya penuh khawatir.

  "Dia tambah drop."

Deg!

Tubuh Andin langsung menegang, seolah merasakan sakit yang dirasakan oleh anak itu.

“Demamnya masih tinggi… dan terus memanggil namamu.”

Andin menatap Nathan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Aku datang bukan karena ingin melihatmu,” lanjut Nathan dingin. “Jangan salah paham.”

Nathan mendekat satu langkah, seolah ingin memperingati gadis itu dengan cukup jelas.

“Hanya saja… anakku terus menyebut namamu.”

Tatapan mereka bertemu beberapa detik, ada getar di dasar sana, yang sengaja ditutup dengan egonya sendiri.

“Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku… aku terpaksa datang mencarimu.”

Andin menggenggam ujung dress hijaunya kuat-kuat, kata-kata itu cukup menyakitkan seolah dirinyalah pelaku sesungguhnya.

“Kalau begitu… kenapa Anda terlihat seperti orang yang sedang menahan amarah?” tanya Andin lirih.

Nathan tertawa kecil.

“Karena perempuan yang paling tidak ingin aku temui lagi dalam hidupku…” katanya pelan. “…justru menjadi orang yang dicari oleh anakku.”

Sunyi seketika, hanya suara angin sore yang lewat di antara mereka. Lalu Andin berkata pelan.

“Kalau ini tentang Darrel… aku akan datang.”

Nathan menatapnya dingin.

“Dan kedatanganku ini murni tidak ada niat lain,” lanjut Andin dengan suara bergetar.

"Oh, jelas, memang itu yang harus kamu lakukan," sahut Nathan segera. "Memangnya kamu masih mengharap pada siapa?" tanyanya begitu menusuk.

"Aku tidak ada niatan apapun selain Darrel, jadi anda tidak perlu risau," jawab Andin tak kalah menusuk.

"Kau berani?" pertanyaan itu bagaikan cambuk yang siap menghantam dadanya, namun Andin tidak goya sedikit pun.

"Aku tidak akan takut pada siapapun termasuk anda!" jelas Andin dengan tegas.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu lagi, Nathan tidak bisa langsung membalas kata-katanya.

☘️☘️☘️☘️☘️

Setelah percakapan sengit itu, akhirnya mereka masuk ke dalam mobil, keduanya saling membuang tatapan, Nathan fokus mengemudi, sementara Andin hanya menatap ke arah depan, tanpa sekali pun menoleh ke arah Nathan.

Di sepanjang perjalanan keduanya hanya diam, namun untuk beberapa detik Nathan mulai membuka pembicaraan.

"Pakai seatbelt-nya, di depan ada polisi lalu lintas," ucapnya singkat namun penuh tekanan.

  Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Andin meraih sabuk pengaman di samping kursinya. Ia mencoba memasangnya sendiri, namun gerakannya tampak kikuk. Sudah terlalu lama ia tidak pernah duduk di dalam mobil seperti ini.

Sabuk itu beberapa kali lolos dari genggamannya. Andin menunduk, mencoba sekali lagi, tetapi tetap saja gagal.

Nathan yang sedari tadi menatap jalan akhirnya melirik sekilas. Alisnya sedikit berkerut melihat perempuan di sampingnya yang tampak kesulitan.

Entah dorongan apa yang menggerakkan dirinya.

Tangan pria itu tiba-tiba terulur. Dalam satu gerakan cepat, Nathan menarik sabuk itu lalu memasangkannya di tubuh Andin.

Klik.

Suara pengait sabuk terdengar pelan, namun di saat yang sama, jarak mereka begitu dekat.

Terlalu dekat. Andin refleks mengangkat wajahnya, dan tanpa sengaja tatapan mereka kembali bertemu, sepersekian detik. Tapi cukup untuk membuat dada Andin terasa sesak.

Wajah Nathan masih sama seperti dulu… tegas, dingin, dan sulit ditebak. Hanya saja kini ada jarak yang tak kasat mata di antara mereka.

Nathan segera menarik kembali tangannya seolah baru saja menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya ia sentuh.

"Begitu saja lemot." ucapnya dengan tatapan dingin, seolah tidak terjadi apa-apa.

Sementara Andin hanya bisa menelan ludah pelan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan.

Mobil kembali melaju, membawa dua orang dengan masa lalu yang belum benar-benar selesai.

Bersambung ....

1
Siti Nugraheni
sukaaaaaaaa banget
Soraya
lanjut
Lisa
Lembutkan hatimu Andin..Nathan sekarang sudah berubah..
kaylla salsabella
lanjut
ria rosiana dewi tyastuti
luka andin msh menganga ya.....
kaylla salsabella
syukur
Oma Gavin
sukurin rasakan kamu nathan makanya jgn goblok dipelihara percaya sama fitnah ibu mu makan itu derajat dan nama baik
Bunda Bagaz
bagus tpi syg up ny dikit.
Lisa
Nathan skrg menyesal tp itu tdk dpt mengembalikan nama baiknya Andin..gmn y hubungan mrk selanjutnya
Nar Sih: moga mereka clbk aja kak
total 1 replies
kaylla salsabella
penyesalan mu tiada artinya nathan🤣🤣
Soraya
lanjut thor
Nar Sih
ahir nya semua terungkap kan ,dan ibu mu dalang dri semua mslh mu dgn andin ,semagat nathan💪
Nar Sih
,saat nya ngk bisa ngelak lgi vivian🤣
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
nah lo vivian🤣🤣
Lisa
Good job Nathan..biar kebenaran terungkap..bahwa ibumu yg memfitnah Andin..
Lisa
Pasti wanita itu disuruh oleh ibunya Nathan..ayo Nathan kamu harus bertindak tegas terhadap ibumu..
Oma Gavin
mampusss kamu vivian kali ini kepercayaan nya nathan terhadap diri mu sudah musnah
Mira Hastati
bagus
kaylla salsabella
eh kemana tuh ular betina tadi...... enak aja main pergi
Ayumarhumah: gak pergi cuma mundur
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!