Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
( 8 Tahun kemudian )
Rizal memelankan laju mobil saat dirasa ada yang kurang mengena. Menepi lalu berhenti di depan sebuah ruko kosong untuk mengecek kondisi mobil yang ia curigai bermasalah dengan ban nya.
"Ada apa?" Naka yang duduk di bangku belakang, sibuk dengan laptop di pangkuan, menatap Rizal dari spion tengah.
"Sepertinya salah satu ban mobilnya ada yang kempes, saya cek dulu," izinnya lalu keluar setelah mematikan mesin mobil.
Ternyata dugaannya benar, Rizal berdecak lalu mengumpat melihat ban bagian belakang sebelah kiri kempes. Sepertinya terkena sesuatu, tapi kondisi bannya sendiri memang sudah sangat tipis, bisa dibilang tidak layak. Ia merutuki Adrian, supir kantor yang ada di pabrik Jombang, bisa-bisanya tidak mengecek kondisi mobil secara berkala.
Yang ia pakai saat ini adalah mobil kantor karena sedang berada di luar kota, tepatnya di sebuah kota kecil di Jawa Timur, Jombang. Bosnya sedang melakukan kunjungan sekaligus audit ke pabrik mereka yang ada disana.
"Gimana?" tanya Naka saat Rizal kembali ke dalam mobil.
"Bocor, Bos. Adrian sepertinya terlalu abai, kurang perhatian dengan kondisi mobil, hanya terus dipakai saja," gerutu Rizal sambil kembali memasang sabuk pengamannya. "Semoga saja ada bengkel tak jauh dari sini," ia memang kurang familiar dengan daerah sini. Sekarang saja, untuk menuju Surabaya, ia menggunakan map agar tidak salah jalan.
"Gak ada ban serep?"
"Gak ada."
Rizal kembali menjalankan mobil, berdoa dalam hati sembari mencari bengkel terdekat. Beruntung, sekitar 3 kilometer dari tempat ia berhenti tadi, ada sebuah bengkel mobil, langsung saja ia belokkan mobil kesana. Sebuah bengkel mobil yang tak begitu besar, ada tulisan Arjuna motor di bagian depannya. Terlihat ada dua mobil di dalam yang sedang diperbaiki.
Keluar dari mobil, Naka menunggu di sebuah kursi panjang dari bahan stainless steel yang ada di sisi kanan bengkel, sementara Rizal bicara dengan salah satu pegawai. Melihat jam di tangannya menunjukkan pukul 11.00 WIB, ia mulai gelisah. Bagaimana tidak, pukul 13.00 WIB nanti, ia ada meeting di sebuah hotel di Surabaya, takutnya tak bisa tiba tepat waktu. Terlihat karyawan bengkel sibuk memperbaiki dua buah mobil yang ada disana, tapi semoga mobilnya bisa didahulukan mengingat hanya ganti ban.
"Gimana?" tanya Naka saat Rizal duduk di sebelahnya.
"Langsung ditangani, gak akan lama," sahut sang asisten pribadi dengan wajah sedikit lega.
Naka membuka laptop yang ada di pangkuannya, sambil menunggu, memeriksa kembali materi meeting sebentar lagi. Kondisi di bengkel sedikit bising, membuat agak susah untuk konsentrasi.
"Tadi pesen es teh jumbo ya?"
Deg
Naka tersentak mendengar suara itu. Suara seorang perempuan yang amat ia kenal. Meski sudah lama tak mendengar suara itu, namun ia masih bisa mengingat dengan jelas. "Ze," gumamnya pelan, seraya mengangkat wajah, mencari sumber suara.
"Ini buat Mas nya yang jumbo, Mbaknya yang sedang."
Tatapan Naka langsung terkunci pada sosok perempuan yang berdiri di sisi bagian lain bengkel, di seberangnya, berdiri memunggunginya. Wanita berambut panjang yang dikuncir kuda, berpostur tubuh tinggi semampai, tampak sedang sibuk membagikan es teh dalam kemasan cup.
"Berapa semuanya Mbak?" tanya wanita muda yang memesan es teh.
"Total 10 ribu, Mbak. Jumbo 6 ribu, sedang 4 ribu."
Setiap wanita yang memiliki suara seperti Zea itu bicara, jantung Naka berdebar kencang. Ia tak bisa berpaling meski hanya sedetik, mengabaikan ponselnya yang berdering saking tak sabarnya melihat wajah wanita itu. Detik demi detik terasa lama, menunggu wanita itu menunjukkan wajahnya. Zea berumur 21 tahun saat meninggalkan, itu artinya, saat ini usianya sudah 29 tahun.
"Zara, aku pesen jumbo satu," teriak pemuda yang baru keluar dari kolong mobil. Pemuda pekerja bengkel yang mengenakan cattle pack warna biru dengan wajah dan tangan belepotan oli.
Zara? Kening Naka mengkerut, jadi namanya Zara, bukan Zea. Sekarang wanita itu menatap ke arah pegawai bengkel, membuatnya bisa melihat wajahnya dari sisi samping. Dari samping tampak masih muda, tapi entahlah kalau dari depan.
"Ish, kenapa gak bilang dari tadi, kan sekalian bisa aku bawain," gerutu Zara, menatap Andi sambil melotot.
"Halah, deket juga. Buruan, haus banget nih!" Andi mengusap lehernya. "Tawarin tuh, ada yang baru datang, kali aja mau es teh juga," menunjuk dagu ke arah Naka dan Rizal. "Kamu kalau pakai baju kuning gini, makin cantik deh," godanya sambil mengedipkan sebelah mata.
Zara hanya berdecak sambil geleng-geleng, bosan mendengar Andi yang tak pernah lelah gombalin dia.
Jika sejak tadi Naka fokus pada wanita bernama Zara, lain halnya dengan Rizal, ia malah fokus menatap Naka yang bengong, menatap wanita penjual es teh. Bosnya itu sama sekali tak menghiraukan ponselnya yang menggelepar-gelepar di atas kursi dan menimbulkan suara bising, dia "Pak, ponsel anda."
Naka yang tegang menunggu detik-detik Zara menatap ke arahnya, tak menghiraukan ucapan Rizal. Jantungnya berpacu, detik demi detik serasa sangat lambat, bahkan saat membalikkan badan, gerakan Zara terlihat seperti adegan slow motion, sungguh membuatnya tak sabar. Namun penantiannya akhirnya terbayar lunas, ia bisa menatap wajah wanita itu meski jaraknya agak jauh.
"Ze," gumam Naka pelan, nyaris tak terdengar. Tatapannya terpaku pada wanita muda yang berjalan ke arahnya. Cantik, usianya ia terka sekitar kepala dua. Mungkinkah dia memang Zea?
"Pak," Rizal menepuk bahu Naka. "Ponsel an," ucapannya menggantung di udara melihat Naka mengangkat telapak tangan, mengisyaratkan agar dia diam.
Naka terpaku, jantungnya berdebar kencang menyaksikan Zara dengan senyuman tipisnya berjalan ke arahnya. Namun tiba-tiba, langkah wanita itu terhenti sebelum sampai di depannya. Ekspresinya berubah, senyumnya hilang, menatap ke arahnya, lama.
"Ze," gumam Naka. Ia tak pernah tahu seperti apa wajah Zea, namun entah kenapa, hatinya meyakini jika wanita itu adalah Zea. Zea nya yang pergi 8 tahun lalu bersama uang 1 milyar.
o...o'o... kycduk kalian....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
itu sih Aku ya Ze😄🤣