NovelToon NovelToon
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."

Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.

Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.

Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Rambut yang Tergerai dan Jantung yang Berisik

Makan malam pertama di rumah itu berlangsung dengan iringan denting sendok yang beradu dengan piring porselen. Arlan memesan makanan hangat dari restoran langganannya, namun bagi Hana, rasa makanan itu seolah tertelan oleh kecanggungan yang luar biasa.

Mereka duduk berhadapan, namun mata mereka lebih sering menatap nasi daripada satu sama lain. Arlan sesekali mencoba mencairkan suasana dengan menanyakan progres skripsi, namun Hana hanya menjawab singkat, membuat suasana kembali sunyi.

"Hana, kamu istirahatlah lebih awal. Hari ini sangat panjang untukmu," ucap Arlan setelah mereka selesai membereskan meja makan.

Hana hanya mengangguk patuh, merasa lega karena "ujian" makan malam itu telah berakhir.

Tengah malam, kesunyian rumah itu terasa begitu pekat. Hana terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering, mungkin karena terlalu banyak menangis dan berbicara dalam beberapa hari terakhir. Dengan mata yang masih setengah mengantuk dan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya, ia bangkit dari tempat tidur.

Dalam kondisi autopilot, Hana melangkah keluar kamar menuju dapur. Pikirannya masih tertinggal di rumah orang tuanya, di mana ia bebas berkeliaran tanpa beban. Ia lupa bahwa statusnya telah berubah. Ia lupa bahwa ada pria lain di rumah ini.

Malam itu, Hana keluar tanpa mengenakan hijabnya. Rambut hitamnya yang panjang dan sedikit bergelombang tergerai bebas hingga ke pinggang, tampak sedikit berantakan namun memberikan kesan alami yang sangat cantik. Ia mengenakan baju tidur satin berlengan panjang yang longgar.

Hana sampai di dapur, menyalakan lampu kecil di atas dispenser, lalu mulai mengisi botol minumnya. Suara air yang mengalir menjadi satu-satunya bunyi di sana. Setelah botol terisi penuh, Hana memutar tubuhnya, berniat kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya.

DEG

Langkah Hana terkunci di lantai dapur. Botol minum di tangannya hampir saja meluncur jatuh jika ia tidak segera mencengkeramnya dengan kuat. Di depannya, berdiri Arlan yang tampak baru saja ingin mengambil air juga. Arlan hanya mengenakan kaus oblong putih dan celana kain panjang, penampilannya jauh dari kesan formal Pak Dosen di kampus.

Selama beberapa detik, dunia seolah berhenti berputar.

Hana mematung dengan mata membelalak. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa malu yang mendadak menyerang seluruh sel tubuhnya. Ini adalah pertama kalinya ia memperlihatkan mahkotanya kepada pria yang bukan mahramnya, ralat pria di depannya ini sekarang adalah suaminya. Pria yang secara sah berhak melihat setiap inci dari dirinya.

Di sisi lain, Arlan juga tak kalah kagetnya. Napasnya tertahan di tenggorokan. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi Hana yang begitu rapuh dan feminin tanpa balutan hijab yang biasanya membungkus rapi.

Cahaya lampu dapur yang temaram memantul di helai rambut Hana, menciptakan siluet yang sangat manis. Arlan merasa jantungnya berdebar dengan ritme yang aneh, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.

"Kamu... haus?" tanya Arlan lirih, suaranya terdengar sedikit serak.

Arlan berusaha memecah keheningan yang menyesakkan itu agar Hana tidak merasa terlalu terintimidasi.

Hana tidak menjawab. Ia menunduk dalam-dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambutnya yang jatuh menutupi pipi. Pikirannya kacau. Ingin rasanya ia menghilang saat itu juga. Meski Arlan adalah suaminya, tetap saja rasa kaku itu belum hilang.

Tanpa sepatah kata pun, dan dengan kecepatan yang luar biasa, Hana langsung melesat lari kembali menuju kamarnya. Ia menutup pintu dengan cepat, meninggalkan suara "klik" kunci yang terdengar jelas di telinga Arlan.

Di dapur, Arlan masih berdiri di posisi yang sama. Ia mengangkat tangan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan wajah yang tampak bingung sekaligus salah tingkah.

"Saya... saya salah bicara ya?" gumam Arlan pada dirinya sendiri.

Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran di dadanya yang masih belum mau berkompromi. Malam itu, Arlan menyadari satu hal, Hana bukan lagi sekadar "amanah" yang dititipkan Inggit. Ada sesuatu di dalam diri gadis itu yang mulai menarik perhatiannya sebagai seorang pria, meski ia masih belum berani mengakuinya.

1
Noona Rara
Aku mampir juga kak
Ai_Li: Terima kasih kakak🥰
total 1 replies
falea sezi
arlan pengecut amat yak
falea sezi
nyimakkk
Ai_Li: Terima kasih sudah mampir kak
total 1 replies
Ai_Li
🥰🥰
Ai_Li
Terima kasih sudah mampir ya🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!