Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Panggung yang Dipaksakan
Dua hari setelah rapat yang membawa petaka itu, suasana di kediaman Omerly masih terasa seperti berjalan di atas lapisan es tipis.
Zerya memilih untuk lebih banyak diam, melakukan tugas-tugas administratifnya tanpa banyak bicara, menghindari tatapan Papih yang masih dipenuhi kekecewaan yang sunyi.
Hingga sebuah surel resmi dari Talandra Group masuk ke meja Aldric Omerly.
"Zerya, ke ruangan Papih. Sekarang."
Zerya menarik napas panjang sebelum melangkah masuk. Di sana, Aldric sedang menatap layar komputernya dengan kening berkerut.
"Talandra setuju dengan draf awal kerjasama kita," ucap Aldric. Suaranya datar, tapi ada nada keheranan di sana. "Tapi mereka menambahkan satu syarat mutlak."
Zerya menunggu.
"Mereka ingin proyek ini memiliki divisi Corporate Social Responsibility (CSR) bertema lingkungan hidup, persis seperti yang kamu bicarakan kemarin." Aldric menoleh, menatap putrinya dengan tatapan menyelidik. "Dan Javian Talandra meminta kamu, Zerya Clarissa Omerly, sebagai penanggung jawab utamanya. Dia tidak mau bicara dengan manajer lain selain kamu."
Jantung Zerya berdegup kencang. Ia tidak tahu apakah ini sebuah berkah atau kutukan baru.
"Papih ingin kamu mengambilnya," lanjut Aldric. "Bukan karena Papih percaya pada idemu, tapi karena Papih tidak ingin kehilangan kontrak Talandra. Ingat satu hal: jangan buat kesalahan. Jika proyek ini gagal, namamu yang akan Papih hapus dari daftar ahli waris."
Zerya hanya bisa mengangguk pelan. "Baik, Pih."
Pertemuan pertama untuk proyek CSR itu dilakukan di sebuah galeri seni yang tenang, bukan di kantor. Javian yang menentukan lokasinya.
Saat Zerya sampai, Javian sudah duduk di sana, menyesap kopi hitamnya sambil menatap satu lukisan abstrak di dinding. Ia tidak terlihat seperti pria kejam yang kemarin menekan ayahnya di ruang rapat. Hari ini, ia hanya mengenakan kemeja putih tanpa dasi.
"Duduklah, Nona Zerya," ucap Javian tanpa menoleh.
Zerya duduk di depannya, segera mengeluarkan tablet dan berkas kerja.
"Terima kasih atas kesempatannya, Tuan Javian. Saya sudah menyiapkan—"
"Simpan dulu berkas itu," potong Javian tenang. Ia akhirnya menoleh, menatap Zerya dengan mata tajamnya yang kini terlihat sedikit lebih tenang. "Saya ingin tahu, apakah itu benar-benar ide Anda, atau Anda hanya sedang mencoba melawan ayah Anda?"
Zerya tertegun. Ia tidak menyangka Javian akan langsung masuk ke ranah pribadi. "Itu riset saya, Tuan. Saya tidak menggunakan urusan profesional untuk masalah pribadi."
"Bagus," jawab Javian singkat. "Karena saya tidak suka membuang waktu dengan anak kecil yang sedang merajuk pada orang tuanya."
Zerya mengepalkan tangannya di bawah meja. "Saya bukan anak kecil, Tuan Javian. Dan saya sangat serius dengan proyek ini."
Javian memperhatikan jemari Zerya yang bergetar namun suaranya tetap terjaga. Gadis ini punya harga diri yang luar biasa tinggi, meski ia hidup di bawah tekanan yang bisa menghancurkan orang biasa.
"Kalau begitu, buktikan," tantang Javian. "Saya memberi Anda anggaran besar, tapi saya juga menuntut hasil yang sempurna. Jangan biarkan opini ayah Anda tentang Anda menjadi kenyataan."
Zerya terdiam sejenak, lalu menatap lurus ke mata Javian. "Kenapa Anda melakukan ini? Menunjuk saya secara spesifik?"
Javian menyesap kopinya, matanya beralih kembali ke lukisan di dinding. "Karena saya tidak suka melihat potensi yang disia-siakan. Dan karena..." Javian menjeda, suaranya merendah. "Saya ingin melihat, sampai kapan Anda bisa terus memakai topeng 'putri penurut' itu sebelum akhirnya Anda benar-benar meledak."
Kalimat itu membuat Zerya merasa seolah seluruh rahasianya telah terbongkar. Pria di depannya ini berbahaya. Dia bukan hanya ingin berbisnis, dia sedang membedah jiwanya.
Tiba-tiba, ponsel Javian berdering. Ia melihat layarnya dan ekspresinya berubah 180 derajat menjadi hangat.
"Halo, Mommy? Iya, Javian sedang rapat sebentar. Makan malam di rumah? Tentu, Javian akan pulang tepat waktu. Sayang Mommy juga."
Setelah menutup telepon, Javian kembali menatap Zerya yang sedang terpaku melihat perubahan drastis itu.
"Ada masalah, Nona Zerya?"
Zerya menggeleng cepat, meski hatinya terasa sangat perih. "Tidak ada. Hanya... Anda sangat menyayangi ibu Anda."
Javian mengangkat bahu ringan. "Tentu saja. Bagi saya, keluarga adalah tempat di mana kita tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain. Bukankah begitu?"
Pertanyaan itu telak menghantam Zerya. Ia ingin tertawa miris. Bagi Javian, rumah adalah tempat melepas topeng. Bagi Zerya, rumah adalah tempat di mana topengnya harus terpasang paling kuat.
"Ya," bisik Zerya bohong. "Tentu saja."
Bab ditutup dengan Javian yang memperhatikan Zerya dari balik cangkir kopinya, menyadari bahwa kebohongan baru saja keluar dari bibir gadis itu.