satria baru mengetahui jika dirinya hanya seorang anak yang di temukan oleh kakek pandu saat berada di kaki gunung gede, saat kakek Pandu merasa ajalnya sudah dekat ia memberikan sebuah gelang yang ada bersama Satria langit saat ia menemukannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melumpuhkan Baron
Keringat mengucur deras dari dahi Baron, sementara Satria semakin dekat
" Ampun bang, gw ga lagi lagi, gw bisa ngasih uang buat kompensasi" rengek Baron, semua kesombongannya lenyap tergantikan sorot mata ketakutan
" Plaaak!"
" Plaaak"
Satria menampar Baron bolak balik, membuat pipi baron bengkak seketika
" Loe pikir uang loe bisa gantiin penderitaan teman gw!" dengus Satria lalu dengan gerakan cepat ia memukul tengkuk Baron , membuat Baron pingsan . empat preman yang melihat itu diam ketakutan, mereka baru menyesal mengusik Hadi yang ternyata mempunyai teman seperti ini
dengan gerakan cepat Satria membuat mereka pingsan, lalu dengan Jarum Naga ia memotong Vena Dorsalis mereka, membuat mereka menjadi kasim
Tak hanya sampai di sana, ia juga membuat mereka sama dengan keadaan oyot. lumpuh ,setelah selesai ia menelpon niken
" kak bantu aku bawa mobil ke kuburan Gang Pu " pinta Satria saat sambungan telepon nya tersambung
" Loe lagi ngapain di kuburan nyari togel" tanya Niken heran
" Nanti gw jelasin, buruan kesini" ucap Satria , Niken yang mendengar nada serius di ucapan Satria langsung menyadari ada sesuatu yang terjadi
" Tunggu bentar sepuluh menit nyampe, ge lagi di depan kampus UBL" jawab Niken , ia langsung menutup telponnya
Satria membuka tali yang mengikat Hadi, lalu menyalurkan tenaga dalamnya agar Hadi tersadar dari pingsannya
" Enggg"
Hadi melenguh dan membuka matanya
" Waaaaaa"
" hantuuuuu"
begitu ia membuka mata ia menjerit ketakutan, saat melihat topeng tengkorak di hadapannya
" Berisik" Satria segera membungkam mulut Hadi lalu membuka topeng yang di pakainya
" Ini beneran loe Sat?" tanya Hadi Ragu
" Bukan gw setan , Hiiiii" Satria memasang tampang seram
" Ha ha ha, ga seram muka loe" sahut Hadi tertawa lucu
" Eh kok gw ada di sini?" Hadi baru sadar jika dia di tempat yang tak di kenal
" loe lihat mereka?" satria menunjuk para preman yang sudah terkapar pingsan
" Ini preman yang mukulin gw, dan ini Baron " seru Hadi melihat siapa saja yang tergeletak disana
" tunggu , seinget gw , gw lagi di parkiran kampus ,terus ga inget apa apa lagi, kok sekarang gw ada di sini" Hadi mencoba mengingat kejadian sebelumnya tetapi yang ia ingat cuma ia lagi di kampus
" loe di culik" timpal Satria" Ayo keluar kak Niken lagi kesini" Satria menarik tangan Hadi yang masih bengong, ga menyangka dia di culik
Saat sampai di jalan mobil Brio merah berhenti
Satria yang tahu itu milik Niken langsung membuka pintu dan menyuruh Hadi masuk
" Mobil loe di mana?" tanya Satria
" Mobil gw masih di kampus, kak Nikek, kita ambil mobil dulu" pinta Hadi, Niken mengangguk dan langsung tancap gas
Ketiganya diam tak ada yang memulai membuka pembicaraan
" kuncinya mana?" pinta Satria karena ia tahu hadi masih syok , jadi ga mungkin dia nyuruh Hadi menyetir sendiri, Hadi mengeluakan kunci mobilnya dan memberikan pada Satria
" Kalian pulang duluan , aku di belakang" ucap Satria sambil turun dari mobil Niken
Niken mengangguk
Satria mengemudikan mobilnya mengikuti mobil Niken. saat sampai rumah Hadi, Bimo sudah menunggu di gerbang melihat mobil Niken dan mobil Hadi mendekat ia segera membuka pintu gerbang, Satria memang sudah mengirim pesan agar menunggu di gerbang
" Loe ga kenapa napa Hadi?" tanya Bimo saat melihat Hadi turun dari mobil Niken
" gw ga apa apa, cuma laper dikit " sahut Hadi
" kita ngobrol di balkon aja" ajak Satria
" Ya , " jawab mereka serempak
Satria masuk ke kamarnya untuk ganti baju, baju yang tadi ia pakai sudah bau keringat
setelah ganti baju satria kembali turun , ia bekumpul dengan Hadi, Niken dan Bimo yang sudah menunggu di balkon
Satria duduk di dekat Bimo,
"loe tadi ga keluar kan" tanya Satria
" ga gw ga kemana mana, gw di rumah " jawab Bimo, memang Satria berpesan agar Bimo jangan keluar dan dalam jangkauan CCtv rumah
" emang kenapa?" tanya Niken
" Baron mengira yang melumpuhkan Oyot itu Bimo, jadi gw nyuruh dia di rumah aja jadi nanti bisa jadi alibi" sahut Satria
" baron?" Niken bertanya heran
" Iya semua ini berawal dari Baron yang cemburu Hadi dekat dengan Rani, dia yang nyuruh preman itu memukuli Hadi
" ooh jadi begitu , memang orang tua Baron ingin menjodohkan Rani dengan nya, tapi di tolak karena Rani ga suka " ucap Niken
" Sat, gw belajar bela diri kaya elo" celetuk Bimo tiba tiba
" eh, kenapa tiba tiba loe mau belajar bela diri?" tanya Satria
" buat jaga jaga, bukan ga mungkin nanti kejadian Hadi menimpa gw" sahut Bimo
" Iya gw juga, nanti kalau ada kejadian kaya kemaren gw bisa ngelawan" timpal Hadi
" belajar Bela diri itu ga gampang, butuh ketekunan, kalian berdua yakin mau belajar ?" Tanya Satria
" ya gw yakin" sahut Hadi cepat
" Gw juga"
Ya udah kalau elo yakin besok pagi gw ajarin jangan ngeluh nanti, ngeluh gw hajar" ucap Satria
" Belum apa apa udah galak" gerutu Bimo
" Den Hadi ini makanannya taruh di mana?" dari arah tangga bi Jumiah datang membawa makanan
" Taruh di sini aja bi" sahut Hadi cepat, bimo membantu bi Jumiah membawa makanan itu ke meja
" dah makan dulu laper gw" ucap Hadi, ia mengambil sepiring nasi goreng dan langsung makan dengan lahap, ia memang belum makan , hanya sarapan pagi saja
Di rumah Baron, ayah Baron mengamuk melihat anaknya lumpuh,
Braaaak
Meja kayu jati di gebrak dengan keras, kopi dan teh yang ada di atas meja tumpah
" mereka harus di penjara!" raung Sasmita ayah Baron
" ya ayah penjarakan !" seru Baron yang duduk di kursi roda, kaki kanannya lumpuh
" Aku pasti akan memenjarakan dia!" seru Sasmita, ia menelpon seseorang
Tak lama ia menutup sambungan teleponnya dengan senyum menghias wajahnya
" Sudah nanti ada yang mengurus anak itu masuk penjara, sekarang kita berobat ke Sangkal putung" ucap Sasmita
Baron mengangguk ia meminta tolong pada pelayan agar mendorong kursi rodanya ke mobil
Sangkal putung yang di tuju oleh Pak Sasmita ternyata sama , Balai Pengobatan Sangkal putung milik Pak Sunarto, guru Satria
Saat sampai di sana Baron langsung di tangani oleh pak Narto, karena kebetulan ia baru beres pemeriksaan rutin pada pasiennya pagi itu
Saat memeriksa Baron Pak Narto mengernyit, karena itu bukan patah tulang tetapi otot putus, ia memeriksa beberapa tempat dan yakin ini putus oleh kekuatan tenaga dalam,
" apa Satria yang melakukannya?" tanya pak narto dalam hati, ia kembali memeriksa , ia semakin yakin jika ini perbuatan muridnya
" Maaf pak Sasmita aku tak bisa mengobatinya" ucap Pak Narto sambil menggelengkan kepala, ia memang tak bisa menyambungkan urat yang di putus seperti itu, jika tulang yang patah ia pasti bisa
" Lho kenapa !? seru pak Sasmita kaget, Pengobatan sangkal putung terkenal tetapi mengapa tak bisa mengobati anaknya Baron
" ini bukan tulang patah pak, tetapi ini urat yang putus" jawab Pak Narto
" baiklah terima kasih pak, kami permisi" dengan perasaan kecewa pak Sasmita membawa pulang Baron
Pak Narto mengantar mereka sampai depan balai pengobatan, saat mobil telah meninggalkan balai pengobatan ia segera menghubungi Satria
Di rumah Hadi, Satria sedang melakukan push Up , bersama Hadi Dan Bimo, pagi itu mereka mulai berlatih silat, Satria memulai dengan pemanasan , berlari kecil mengelilingi halaman belakang rumah Hadi , sit Up dan Push up
Niken yang datang pagi itu tak ikut berlatih ia hanya melihat dari pinggir halaman, saat sedang melihat Satria yang sedang melakukan push Up , hp satria yang berada di meja bergetar
Niken mengambil hp itu dan melihat siapa yang menelpon
" guru?" gumam Niken saat melihat siapa yang menelpon Satria
" Satria, ada yang nelpon" teriak Niken memberitahu
" Siapa?" tanya Hadi
" Guru , namanya !" balas Niken lagi
Satria yang mendengar nama Guru langsung mendekat dan mengangkat panggilan itu
" assalamualikum , ya guru ada apa?" tanya satria saat panggilan telepon tersambung
" Waalaikum salam, Satria ,Kamu ke sini sekarang , penting" ucap Pak Narto dan langsung menutup sambungan teleponnya
Satria bengong, karena sambungan di putus dan ada nada marah di suara gurunya
" ada apa dengan guru?" gumam Satria dalam hati
" Ada apa ?" Niken yang melihat Satria terdiam setelah menerima telpon bertanya
" aku di panggil guru" sahut Satria
" Ayo aku antar" Niken menawarkan bantuan
Satria mengangguk, setelah memberikan cara berlatih pada Bimo dan Hadi ia berangkat bersama Niken ke Pringsewu
Tapi sayang kalau Satria jika dipecat dari kerjanya, soalnya kerjanya sudah mantap tuh, santai dan lingkungannya sangat mendukung untuk latihan²nya... 😁