NovelToon NovelToon
The Instant Obsession

The Instant Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.

Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.

Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.

Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Kecemburuan Sang "Ratu" Panti

Suasana ruang makan malam itu terasa sangat berbeda. Meja kayu panjang yang biasanya hanya dipenuhi suara denting sendok, kini riuh dengan celoteh anak-anak. Di tengah mereka, Damian duduk dengan kemeja yang digulung, terlihat sangat kontras namun entah bagaimana mulai menyatu dengan kesederhanaan di sana.

"Wah! Ikan gorengnya enak sekali! Kak Damian hebat!" seru Rio sambil mengunyah dengan lahap.

"Betul! Lebih garing dari biasanya. Kak Damian pasti koki rahasia ya?" timpal Mia, yang sejak tadi tidak berhenti menatap wajah tampan Damian.

Damian, yang biasanya hanya menyantap makanan dari koki bersertifikat internasional, merasa dadanya membusung bangga hanya karena pujian anak-anak kecil itu. "Rahasianya ada di teknik membaliknya," sahut Damian dengan nada serius yang dibuat-buat, membuat anak-anak itu ber-"oh" ria seolah baru saja mendengar strategi bisnis tingkat tinggi.

Selene, yang duduk di seberang Damian, meletakkan sendoknya dengan suara yang sengaja diperkeras. Ia melipat tangan di dada dan memanyunkan bibirnya, menatap anak-anak itu dengan pandangan protes yang jenaka.

"Oh, jadi begitu sekarang?" tanya Selene dengan nada merajuk yang dibuat-buat. "Siapa yang tadi memotong sayurnya? Siapa yang meracik bumbunya sampai mataku perih? Kenapa sekarang semua pujian hanya untuk Kak Damian?"

Anak-anak tertawa melihat ekspresi Selene. Namun, mereka tetap kembali menggoda. "Tapi Kak Selene kan sudah biasa masak enak. Kalau Kak Damian kan jarang-jarang!"

"Benar, Kak Selene jangan marah ya. Nanti cantiknya hilang, loh!" goda Mia sambil terkikik.

Selene membuang muka ke arah lain, pura-pura tidak peduli. "Sudahlah, mulai besok Kak Selene tidak mau masak lagi. Biar Kak Damian saja yang mengurus kalian semua. Lihat saja, apakah dia bisa membuat cokelat hangat yang enak tanpa bantuanku."

Melihat Selene yang pura-pura merajuk, Damian tidak bisa menahan senyum kemenangannya. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke arah meja, menatap Selene yang wajahnya memerah karena campuran antara kesal dan malu.

"Jangan dengarkan Kak Selene," ucap Damian kepada anak-anak, namun matanya tetap terkunci pada Selene. "Dia hanya sedang cemburu karena posisinya sebagai favorit kalian terancam oleh asisten tampan ini."

"Damian!" protes Selene sambil melemparkan sepotong kecil kerupuk ke arah pria itu.

Damian menangkap kerupuk itu dengan tangkas dan langsung memakannya sambil tertawa rendah. Ia merasa sangat bahagia. Di dunia Nicholas yang kaku, ia tak pernah mendapatkan interaksi sehangat ini. Dan melihat Selene merajuk seperti itu, ia merasa sisi posesifnya semakin menggila—ia ingin melihat semua sisi Selene, mulai dari ketegasannya hingga sisi kekanak-kanakannya yang menggemaskan.

"Baiklah, sebagai permintaan maaf karena telah mencuri perhatian anak-anak," bisik Damian cukup pelan agar hanya Selene yang mendengar. "Nanti aku yang akan mencuci semua piring kotor ini. Kau boleh istirahat, Bos."

Selene menatapnya curiga. "Kau? Mencuci piring? Kau tahu cara memakai sabun cuci piring, kan?"

"Kau akan terkejut melihat apa saja yang bisa dilakukan oleh 'asisten' ini untuk menyenangkan hatimu, Selene," jawab Damian dengan kerlingan mata yang membuat jantung Selene seolah berhenti berdetak sesaat.

"Cieee! Kak Damian mau gantiin Kak Selene cuci piring!" sorak Rio yang langsung memicu paduan suara dari anak-anak lainnya.

"Cieee! Kak Selene mukanya merah kayak kepiting rebus!" sahut Mia sambil menutup mulutnya, terkikik geli.

Ruang makan yang tadinya hanya riuh oleh suara denting piring, kini meledak dengan godaan-godaan polos dari anak-anak panti. Tidak hanya mereka, Ibu Panti dan beberapa pengurus yang sedang berjaga di sudut ruangan pun tak bisa menahan senyum. Mereka saling berpandangan, merasa hangat melihat atmosfer yang dibawa oleh pria asing berwibawa ini. Sejak kehadiran Damian, panti asuhan yang biasanya diselimuti kecemasan akan penggusuran itu mendadak terasa penuh kehidupan kembali.

Selene benar-benar ingin menenggelamkan wajahnya ke dalam mangkuk bubur saat itu juga. "Sudah, sudah! Makan yang benar, jangan berisik!" perintahnya dengan suara yang diusahakan tegas, meski nada bicaranya gemetar karena malu.

Damian, di sisi lain, justru terlihat sangat menikmati momen itu. Ia tidak membantah, tidak pula menjauh. Ia malah menyandarkan punggungnya ke kursi kayu tua itu dengan santai, menatap Selene dengan seringai tipis yang terlihat sangat tampan sekaligus menyebalkan bagi gadis itu.

"Lihat, Selene. Bahkan anak-anak pun mendukungku untuk 'menyenangkan' hatimu," bisik Damian lagi, kali ini lebih berani karena suara riuh anak-anak menutupi bisikannya.

"Kau... kau benar-benar pencari perhatian yang handal ya?" desis Selene, namun ia tidak bisa menahan sudut bibirnya untuk tidak ikut terangkat.

Ibu Panti menghampiri mereka sambil membawa teko teh hangat. "Nak Damian, terima kasih ya. Sudah lama sekali rumah ini tidak sedamai dan seriuh ini. Kehadiranmu benar-benar membawa warna baru di sini."

Damian berdiri sedikit sebagai bentuk hormat pada Ibu Panti. "Saya yang berterima kasih, Bu. Saya baru menyadari bahwa kebahagiaan ternyata bisa sesederhana ini."

Pandangan mata Damian kembali beralih pada Selene. Kata-katanya bukan sekadar basa-basi. Di tengah riuh rendah suara anak-anak, ia merasa seolah-olah ia telah menemukan "pulang" yang selama ini tidak pernah ia dapatkan di rumah mewahnya sendiri. Dan ia bersumpah dalam hati, ia akan melakukan apa pun—termasuk melawan keluarganya sendiri—untuk menjaga senyum di ruangan ini tetap ada.

1
Leny Enick
ditunggu selajutnya 💪semngat thor
YuWie
ada2 aja tingkah org kaya tuh ya..nyamar segala..adakah di dunia nyata..hmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!