NovelToon NovelToon
Antara Dua Pilihan Hati

Antara Dua Pilihan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Misteri / Perjodohan / Romantis / Pengantin Pengganti / Komedi
Popularitas:606
Nilai: 5
Nama Author: Gurania Zee

Karya terbaru Gurania Zee yang menceritakan tentang gadis tidak peka dan cinta segitiga antara Aluna, Arsen dan Prasha Arzelio.
memiliki kisah yang sedikit rumit perihal rahasia misteri kematian ayahnya dan adanya permainan bisnis yang menjadikannya sebuah kunci utama dari misteri tersebut. dan Cinta yang mulai tumbuh perlahan. Aluna seorang gadis yang polos tanpa sadar menjadi pusat permainan dalam dunia bisnis mendiang ayahnya. yang jauh lebih besar dari semua intriks itu bahkan paling tidak menyadari akan hal yang paling sederhana yaitu, perasaannya sendiri. karena terkadang misteri dalam hidup, bukanlah rahasia dari kisah masa lalu melainkan hati yang terlambat menyadari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Lola menelan ludahnya susah payah, dan masih meremas ujung bajunya. Seolah itu satu satunya pen ini “Lima… empat…” hitung Arden santai, tapi matanya tidak main-main.

“Mas, serius amat sih…” Lola mencebik kesal, mencoba berkelakar biar suasana tidak makin bikin napasnya pendek. Sedangkan jatungnya terus berlompatan tak.karuan sampai sekarang. “Tiga…”

“Mas!”,..

“Dua…”

“Ya Allah ini orang”

“Satu.” Arden berhenti menghitung. Tidak ada lanjutan maupun paksaan

Hanya tatapan. Dan itu justru yang bikin Lola makin tidak tenang. “Gue…” suara Lola kecil. Hampir tidak terdengar. Arden sedikit condongkan tubuhnya. “Apa?”

Lola menghela napas panjang. Lama. Seolah sedang menata isi kepalanya yang berantakan.

“Gue takut, mas…”Kalimat itu akhirnya keluar juga. Bukan jawaban iya ataupun tidak melainkan jawaban jujur dari dalam hati lola.

Arden tidak langsung menyela. Ia hanya diam, menunggu.

“Takut kenapa?” tanyanya pelan.

Lola mengangkat wajahnya sedikit. Matanya masih basah, tapi kali ini bukan karena tangis. Lebih ke… bingung.

“Takut kalau ini cuma karena keadaan. Takut kalau nanti mas nyesel. Takut kalau gue malah jadi beban baru buat mas.” Arden mendengus kecil. 

“Lo pikir gue segampang itu gue nyesel?”

Lola langsung mencebik. “Ya siapa tahu, mas kan random.” “Eh, random bukan berarti goblok ya,” balas Arden cepat.

Lola hampir tersenyum, tapi ditahan.

“Serius la,” lanjut Arden, kali ini lebih pelan. “Gue juga kaget kenapa bisa ngomong gitu barusan. Enggak ada rencana, enggak ada konsep.”

Ia menyandarkan kepalanya ke ranjang.

“Tapi anehnya… enggak terasa salah.”

Lola diam. Tangannya perlahan melepas ujung kaosnya.

“Mas…”

“Hm?” “Kalo misalnya ini bukan karena keadaan… tapi karena mas emang pengen… mas yakin?”

Pertanyaan itu menggantung.

Arden menoleh.

Menatap langsung ke arah Lola.

“Gue enggak bilang gue yakin 100% sekarang.”

Lola menunduk sedikit.

“Tapi gue yakin satu hal.”

“Apa?”

“Gue enggak mau liat lo dipaksa nikah sama orang yang jelas-jelas bukan pilihan lo.”Kalimat itu sederhana. Tapi nadanya sangatlah tegas.

Dan entah kenapa, dada Lola terasa hangat. Namun tidaklah lega sepenuhnya.melainkani cukup untuk membuatnya berhenti gemetar.

“Mas…” suara Lola melembut.

Arden langsung nyengir tipis. “Apa? Mau jawab sekarang?”

“Enggak,” jawab Lola cepat.

“Hilih.”

“Tapi…” Lola berhenti sejenak, lalu menatapnya lagi. “Kalau mas serius… jangan cuma lima detik.” Arden mengangkat alis.

“Maksud lo?,"

“Kasih waktu gue juga buat mikir.” telak.lola.

Arden menghela napas. “Oke.”

“Dan mas juga mikir.”

“Gue mikir kok.”

“Bukan mikir lima detik ya.”

Arden tertawa kecil. “Iya iya, ibu guru.”

Lola ikut tertawa tipis.

Untuk pertama kalinya sejak tadi…

suasana terasa tidak seberat sebelumnya.

Malam semakin larut.

Lampu kamar hanya menyala setengah.

Arden masih duduk di lantai, bersandar. Sementara Lola sudah kembali ke atas ranjang, tapi tidak benar-benar tidur.

“Mas…” panggil Lola tiba-tiba.

“Hm?”

“Kalau… bapak tetap maksa gimana?”

Arden membuka satu matanya. “Lo mau kabur?”

Lola langsung melotot. “Mas!”

“Ya kan opsi juga,” Arden berkelakar santai.

“Enggak lucu.”

“Yaudah serius,” Arden duduk tegak lagi. “Kita cari jalan lain.”

“Kita?”

“Iya kita.”

Lola menatapnya beberapa detik. Kata itu…

terdengar asing namun bikin Lola kelewat nyaman.

“Mas yakin mau ribet sama masalah gue?”

Arden mencebik. “Gue dari awal udah ribet, la. Tinggal lanjut doang.” ucap Arden santai.

Lola tertawa kecil.

“Makasi ya mas.”

“Udah jangan makasih mulu. Gue jadi ngerasa orang baik banget.”

“Emang baik kok.”

“Gue takutnya cuma keliatan doang.”

Lola menggeleng. “Enggak.”

Kali ini jawabannya tanpa ragu.

Arden diam sejenak.

Lalu tersenyum tipis.

Di luar kamar, Langkah kaki pelan terdengar.

Arden Sanjaya menoleh.

Pintu sedikit terbuka.

Dari celah itu, ia melihat dua sosok yang sedang duduk santai, saling bicara pelan, Hanya bersandar di dinding.dan tersenyum kecil sendiri.

“Anjir… gue jadi peran utama juga ya sekarang…” Ia mengacak rambutnya.

Namun senyumnya pelan-pelan memudar.

Pikirannya kembali ke satu nama.

Kembali kekamar Lola…

“Mas…” celetuk lola.

“Iya?”

“Kalau nanti gue nolak perjodohan itu… mas bakal tetap bantu gue?” Arden menatapnya.

“Gue bantu bukan karena itu.”

“Terus karena apa?” Arden terdiam sebentar.

Lalu menjawab santai. “Karena gue mau.”

Lola mencebik. “Jawaban apaan sih itu.”

“Ya jujur.”

“Mas tuh ya…” kesal Lola pada Arden yangbsrlalu saja menjawabnya.

“Kenapa?”

“Nyebelin.”

“Tapi masih ditanya.” Lola langsung mengambil bantal kecil dan melemparnya ke arah Arden.

“Eh!” Arden tertawa. “Lumayan lah, udah bisa lempar-lempar. Tadi nangis mulu. "Mas jangan bahas itu lagi!” ucap.lola.

“Oke oke.”

*?**"

Mendengar kabar darinsingapur yang tidak baik baik saja mendadak Arden Sanjaya harus terbang ke Singapura menyusul Prasha dan Aluna.

Namun senyum itu tidaklahenghilamh begitu saja, beberapa saat kemudian suasana kembali hening. Tanpa disadari, Lola mulai memejamkan mata.

Napasnya mulai teratur, "jiah tidur." Arden menoleh, melihat itu Ia tersenyum tipis.

Pelan-pelan berdiri dan mengambil selimut yang berada dibawah kaki lola dan menariknya perlahan menutupi tubuh Lola.

“Tidur yang bener, La…” gumamnya pelan.

Tangannya sempat berhenti. Menatap wajah Lola lebih lama.

“ribet juga ya urusan hati…”

Ia menghela napas.

Lalu berjalan keluar kamar.

Menutup pintu pelan.

Di luar…

Ia bersandar lagi di dinding.

Menatap kosong ke depan.

Pikirannya tidak lagi sesederhana tadi.

Ada Lola Ada masalah keluarga dan ada Aluna.

“Anjir hidup gue kenapa jadi rame gini sih…”

celetuknya pelan, namun untuk pertama kalinya, ia tidak ingin lari,

Pintu ICU tertutup kembali di belakang Arden.

Suara mesin langsung menyambutnya. Bip… bip… bip… lngkahnya melambat saat melihat sosok itu.

Arden Maharana. terbaring lemah dengan selang dan kabel di hampir seluruh tubuhnya.

Arden berdiri di samping ranjang dan terdiam.

untuk beberapa detik… ia tidak tahu harus bagaimana.dan perlahan, ia pun duduk.

Tangannya ragu… tapi akhirnya menggenggam tangan sahabatnya itu. Dingin.

"Bro…" suaranya serak.

"Lo ini nyusahin banget sih…"

Ia tertawa kecil. tapi matanya sudah berkaca-kaca.

"Gue belum sempet marahin lo banyak hal… jangan kabur dulu." Hanya suara mesin. Arden menunduk. "Lo inget gak… dulu kita bilang apa?" Ia menghela napas. Kalo salah satu dari kita tumbang… yang lain harus narik dia balik."

Tangannya menggenggam lebih erat. "Jadi sekarang… giliran gue." Di luar ruangan…

Aluna menatap dari balik kaca. tangisnya kembali jatuh… tapi kali ini lebih tenang.

Seolah ia percaya,Arden bisa.

Di dalam dan Jari Arden Maharana bergerak pelan.

Tapi kali ini Arden merasakannya, Ia langsung mengangkat kepala.

"Bro?"

Matanya membesar, "Gue di sini… denger gue ya…"Bibir Arden Maharana bergetar sngat pelan, seperti berusaha keras melawan sesuatu. Arden mendekat "Ngomong… ayo…"

"...den…" suara itu sangat kecil.

Tapi cukup, Arden langsung tertawa kecil, campur haru. "Iya anjir, gue di sini…jangan…" Arden mengernyit. Jangan apa?"

Namun belum sempat kalimat itu selesai monitor kembali berubah. Bip… bip… bip… jadi tidak stabil. Dokter langsung masuk.

"Sir, please step aside!" Arden mundur, tapi matanya tidak lepas. "Come on… stay with us…"

Arden Maharana seperti berjuang. tubuhnya sedikit bergerak.

Alat berbunyi makin cepat "...Lu…na…" Nama itu keluar lagi. Di luar, Aluna langsung menutup mulutnya.

"Kak…" Namun semua tiba-tiba,Hening.

Biiiiiiip, "NO, we’re losing him!" Aluna langsung berteriak. "ENGGAK!!" Ayah Arsen hampir jatuh kalau tidak ditahan Prasha.

Arden membeku kali ini lebih parah dari sebelumnya, dokter melakukkan tindakan hingga beberapa kali. Waktu seolah terasa berhenti,semua orang… hanya bisa menunggu.

Detik demi detik, terasa seperti hukuman untuk lola , monitor kembali menyala. Tubuh yang masih tak 

berdaya dan terlihat sangat lemah.

Dokter langsung menarik napas panjang. "He’s back…" semua orang langsung lemas,Aluna terduduk lagi, Arden menutup wajahnya, tangannya gemetar.

"Anjir…"

Suara itu keluar pelan untuk pertama kalinya,Ia benar-benar takut kehilangan. Beberapa jam kemudian,keadaan mulai stabil lagi, meski masih kritis. Arden duduk di luar ICU. Diam,Arsen datang, duduk di sebelahnya.

"Lo pucet," komentar Arsen. Arden hanya menghela napas. "Dia hampir pergi dua kali, Sen… di depan mata gue."

Arsen terdiam lalu menepuk bahunya pelan. "Tapi dia balik lagi." Arden menatap lantai. Karena dia masih punya alasan." Arsen melirik.

"Alasan?" Arden tersenyum tipis. "Aluna."Arsen ikut tersenyum kecil. dan mungkin… lo juga." Arden diam, tidak menyangkal.

Malam kembali datang, lola berdiri di depan jendela kamar menatap langit. Tangannya memegang ponsel. Chat terakhir dari Arden masih terbuka.

"Tunggu gue ya." Lola menggigit bibirnya. Lalu perlahan mengetik. "Hati-hati di sana… gue tunggu." Pesan terkirim. Centang satu dan elum sampai.

Lola menarik napas panjang, dadanya terasa sesak entah kenapa, ia merasa sesuatu yang besar sedang terjadi. Dan ia tidak ada di sana, Air matanya jatuh lagi. Namun kali in,Ia tersenyum kecil. "Jangan lama-lama ya, Den…"

Kembali ke ICU. Di dalam ruangan yang sunyi itu, Arden Maharana kembali terbaring. Namun kali in detak jantungnya sedikit lebih stabil, Dan di sela kesadarannya yang samar. Satu nama terus ia genggam. "Lu…na…" Seolah itulah alasan ia terus kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!