Ditinggalkan ,dihina, dan dicap mandul, Azura kembali ke desa kerumah orang tuanya dengan hati hancur setelah 5 tahun pernikahan diceraikan suaminya . Namun saat hidupnya mulai bangkit, rahasia besar keluarga terungkap, ancaman, dan musuh berbahaya . Di tengah badai itu, Azura bertemu Rayyan ,duda kata dengan dua anak kembar dan luka masa lalu . Akankah Azura mempertahankan harga diri, keluarga, dan cintanya? Atau masa lalu kembali meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala NU Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Ujung Jalan yang Nyaris Padam
Enam jam perjalanan malam itu terasa seperti enam tahun penderitaan yang panjang. Mobil travel melaju perlahan meninggalkan gemerlap kota Jaya Metro. Lampu-lampu gedung megah berganti dengan bayangan pohon-pohon besar dan hamparan sawah yang sunyi. Satu jam terakhir, jalanan semakin rusak parah saat memasuki kawasan hutan yang gelap gulita tanpa ada rumah penduduk.
Azura duduk diam di kursi paling belakang. Wajahnya terasa berdenyut nyeri. Bekas tamparan Dimas membiru di pipi kirinya, bibirnya pecah, dan pergelangan tangannya dipenuhi memar cengkeraman kasar. Ia menarik kerudung lebarnya, menjadikannya cadar darurat agar sopir dan penumpang lain tak melihat luka yang memalukan itu.
Tas kecil berisi ijazah dan sisa uang simpanannya ia dekap erat di balik baju. Hidupnya hancur oleh cinta palsu, tapi tangisnya sudah habis semalam. Sekarang, hanya ada rasa bersalah yang menghimpit dada. Ia pulang dalam keadaan hancur, namun ia berjanji pada dirinya sendiri: Jangan lagi melihat ke belakang. Jangan pernah lagi dibutakan oleh cinta.
"Desa Kenanga," suara sopir memecah kesunyian.
Jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Udara dingin desa menusuk tulang, diselimuti kabut tipis yang merayap di atas tanah. Azura turun perlahan, berdiri sendirian saat mobil travel itu pergi menghilang dalam gelap.
Langkahnya tertatih menuju rumah masa kecilnya. Ketika, saat sampai di sana, jantungnya berdegup kencang. Rumah itu tampak asing; pagarnya bercat baru dan lampu terasnya menyala terang. Azura mengetuk pintu dengan ragu.
"Cari siapa?" seorang asing membuka pintu dengan wajah mengantuk.
Azura menelan ludah. "Ini... benar rumah Pak Hadi?"
"Oh, Pak Hadi yang dulu? Rumah ini sudah dijual kepada saya dua tahun lalu."
Dunia Azura seolah runtuh. Rumah kenangannya telah dijual? "Apakah Bapak tahu ke mana mereka pindah?"
"Di gubuk tua ujung jalan perbatasan. Rumah yang tidak ada listriknya itu." setelah mengucapkan kata terimakasih
Azura berjalan cepat menembus kegelapan menuju pinggiran desa. Jalanan tanah itu becek dan tidak rata. Tanpa lampu penerangan, ia berkali-kali nyaris tersandung akar pohon dan rumput liar yang setinggi pinggang.
Dan di sana, di ujung jalan yang sunyi, berdirilah sebuah gubuk kayu tua yang rapuh. Cahaya lampu minyak yang redup bergoyang dari balik celah dinding papan.
Azura mengetuk pintu dengan tangan bergetar. Tok... tok... tok...
Pintu terbuka. Sosok pria kurus dengan rambut yang hampir memutih sepenuhnya berdiri di sana. Matanya membelalak tak percaya. "Azura...?" suara Pak Hadi bergetar hebat.
Bu Sulastri muncul dari balik punggung suaminya. Begitu melihat wajah anaknya yang lebam di bawah sinar lampu minyak, ia menutup mulut dengan kedua tangan.
"Ya Allah... Nak... apa yang terjadi padamu?"
Tangis pecah di tengah dinginnya malam. Azura menghambur ke pelukan ibunya, menghirup aroma kasih sayang yang lima tahun ini ia lupakan demi seorang pria kejam.
"Maaf... Azura baru pulang... maafkan Azura, Bu..."
Pak Hadi membawa Azura masuk ke dalam rumah yang hanya beralaskan tanah itu. Belum sempat Azura menjelaskan luka-lukanya, terdengar suara langkah berat yang menyeret.
Tak... tak... tak... suara kayu menghantam tanah.
Seorang pria muncul dari balik tirai kain. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari usianya yang baru kepala tiga. Tubuhnya kurus, dan kaki kirinya tampak kaku, disangga oleh tongkat kayu sederhana.
"Mas Farhan..." suara Azura tercekat di tenggorokan.
Farhan tersenyum getir dengan mata berkaca-kaca.
"Akhirnya kamu pulang juga, Ra..."
Azura memeluk kakaknya erat, air matanya jatuh ke pundak Farhan.
"Apa yang terjadi dengan kaki Mas?"
Pak Hadi menghela napas berat.
"Dua tahun lalu, proyek bangunan tempat Masmu bekerja runtuh. Dia tertimbun, Ra. Kakinya tidak bisa pulih sempurna."
Hati Azura terasa seperti disayat sembilu. Farhan dulu adalah pengawas pabrik yang mapan, punya rumah, mobil, dan masa depan cerah. bagaimanapun kenyataan pahit belum berakhir.
"Satu bulan setelah kecelakaan, istrinya melahirkan... lalu menceraikan Farhan," bisik Bu Sulastri perih. "Dia pergi membawa rumah dan mobil yang memang atas namanya. Farhan hanya punya sedikit tabungan rahasia yang tidak ia ketahui, itu yang kami pakai untuk bertahan hidup."
"Dia meninggalkan Mas Farhan dan anaknya hanya karena Mas cacat?" Azura tak percaya ada wanita sekejam itu.
Seorang balita berusia tiga tahun keluar dari balik tirai, mengucek matanya yang besar. Ia memeluk kaki Farhan.
"Papa... siapa itu?"
"Ini Rafa, keponakanmu, Ra," Farhan menggendong anaknya ke pangkuan.
Anak kecil itu menatap wajah Azura dengan polos. "Papa... kenapa wajah Tante itu bengkak?"
Pertanyaan polos Rafa menembus jantung Azura. Ia berlutut, memeluk keponakannya itu sambil terisak. Selama ini ia merasa paling menderita di rumah mewah Dimas, sedangkan keluarganya berjuang hidup-mati di gubuk tanpa listrik, di atas lantai tanah, hanya demi bisa makan esok hari.
Keributan di ruang tamu membangunkan Alya dan Fikri, kedua adiknya. Mereka berlari keluar dan langsung memeluk Azura dengan tangis haru. Dalam remang lampu minyak, mereka larut dalam cerita hingga pukul 04.00 pagi.
Azura menatap dinding papan yang berlubang, menatap Ayahnya yang terlihat tua renta meski baru berusia 46 tahun, dan menatap keponakannya yang tumbuh dalam gelap.
"Mulai besok... kita bangun ulang semuanya," ucap Azura tegas.
Pak Hadi terdiam. Farhan menatap adiknya dengan ragu. "Kamu yakin, Ra?"
Azura tersenyum. Senyum yang kini tak lagi mengandung kelemahan, melainkan tekad yang membara.
"Selama ini aku salah tempat berjuang. Sekarang aku tahu untuk siapa aku harus memberikan segalanya."
Fajar mulai menyingsing. Cahaya tipis masuk melalui celah-celah papan gubuk tua itu. Setelah sholat subuh berjamaah, Azura merebahkan tubuhnya di dipan kayu yang keras. Lelahnya luar biasa, tapi hatinya telah menetapkan janji.
Luka di wajahnya hanyalah sebuah awal. Kebangkitan sesungguhnya baru saja dimulai dari ujung jalan perbatasan ini.