NovelToon NovelToon
Will You Marry Me

Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:210
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 2

Andi membuka map kulit itu di bawah temaram lampu meja, matanya bergerak cepat menyisir angka-angka koordinat dan grafik logistik yang rumit. Siska berdiri di ambang pintu, memerhatikan punggung pria itu yang tampak tegang namun kokoh. Ada rasa bersalah yang menyelinap; ia menyeret sahabat terbaiknya ke dalam sarang serigala yang selama ini ia hindari sendiri.

"Ada sesuatu yang aneh, Sis," gumam Andi tanpa menoleh. Pensilnya menunjuk pada satu titik di peta topografi. "Kenapa mereka memaksakan jalur distribusi melalui rawa selatan? Itu memakan biaya tiga kali lipat dan risiko amblasnya sangat tinggi. Padahal ada jalur perbukitan di sisi timur yang jauh lebih stabil."

Siska mendekat, ikut menatap dokumen itu. "Paman Hardi yang memegang kendali logistik di sana. Dia bilang jalur timur itu kawasan lindung yang tidak bisa disentuh izinnya."

Andi terkekeh sinis, jenis tawa yang jarang Siska dengar. "Kawasan lindung? Aku baru saja menyelesaikan proyek renovasi cagar alam di dekat sana bulan lalu, Sis. Jalur itu bebas izin untuk infrastruktur publik dan industri selama menggunakan sistem green-bridge. Pamanmu sengaja memilih jalur yang mahal agar ada 'kebocoran' dana yang bisa dia kantongi sendiri."

Siska terpaku. Jantungnya berdegup kencang. Jika Andi benar, ini bukan sekadar kegagalan proyek, tapi sabotase internal. Ini adalah peluru yang mereka butuhkan untuk membungkam para direksi, termasuk ayahnya.

"Kamu yakin bisa membuktikannya malam ini di depan Ayah?" tanya Siska, suaranya kini penuh harap.

Andi menutup map itu dengan suara berdebum pelan. Ia berdiri, memutar tubuhnya menghadap Siska, dan untuk pertama kalinya sejak percakapan ini dimulai, ketegangan di wajahnya berganti menjadi keyakinan yang tajam.

"Aku tidak hanya akan membuktikannya, aku akan menjadikannya alasan mengapa Ayahmu tidak punya pilihan lain selain menyingkirkan Pamanmu dan memercayakan proyek itu padaku—sebagai menantunya."

Siska menarik napas dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. "Waktunya sudah habis, Ndi. Mobil Ayah sudah di lobi. Ingat, jangan terpancing emosi kalau dia mulai membandingkanmu dengan calon pilihannya nanti."

Andi merapikan jasnya, menatap pantulan dirinya dan Siska di cermin besar ruangan itu. Dua orang yang dulu hanya berbagi tawa di taman belakang, kini bersiap memasuki medan perang korporat demi sebuah masa depan.

"Biarkan dia membandingkan," sahut Andi tenang. "Karena malam ini, dia akan sadar bahwa yang dia butuhkan bukan sekadar mitra bisnis, tapi seseorang yang cukup berani untuk menyelamatkan keluarganya dari dalam."

Lampu kristal di ruang makan kediaman utama keluarga Siska memantulkan cahaya yang dingin, sedingin tatapan Pak Gunawan yang duduk di ujung meja. Di sampingnya, seorang pria muda berjas rapi bernama Mahesa—anak dari rekan bisnis ayahnya—tersenyum meremehkan ke arah Andi yang baru saja duduk.

"Jadi, ini arsitek yang sering kamu ceritakan, Siska?" suara Pak Gunawan berat, memecah kesunyian denting sendok perak. "Saya dengar kamu punya 'pandangan berbeda' soal proyek Kalimantan."

Siska menggenggam serbet di pangkuannya erat-erat. "Andi menemukan sesuatu yang dilewatkan oleh tim konsultan kita, Yah."

Mahesa tertawa kecil, nada suaranya merendahkan. "Konsultan kita itu lulusan terbaik dari luar negeri, Siska. Agak lucu kalau seorang arsitek lepas berpikir dia bisa melihat celah dalam hitungan jam."

Andi tidak membalas tawa itu. Ia justru mengeluarkan ponselnya dan menggeser sebuah dokumen digital ke layar tablet yang ada di tengah meja, yang langsung terhubung dengan monitor besar di ruang makan tersebut.

"Masalahnya bukan pada kecerdasan konsultan Anda, Mahesa," ujar Andi tenang, matanya menatap lurus ke arah Pak Gunawan, mengabaikan Mahesa sepenuhnya. "Tapi pada kejujuran data yang mereka terima dari lapangan. Pak Gunawan, silakan lihat perbandingan biaya antara jalur rawa selatan dan jalur perbukitan timur jika kita menggunakan sistem green-bridge."

Pak Gunawan menyipitkan mata, mengamati angka-angka yang disodorkan Andi. Garis-garis grafik itu menunjukkan penghematan hampir 40% dari total anggaran logistik.

"Jalur timur itu kawasan lindung, Anak Muda. Izinnya mustahil," sela Pak Gunawan, namun nadanya mulai beralih dari meremehkan menjadi penasaran.

"Izinnya tidak mustahil jika tujuannya adalah infrastruktur berkelanjutan. Saya punya dokumen pendukungnya di sini," Andi mengetuk layar lagi. "Paman Hardi mungkin lupa memberitahu Anda bahwa peraturan daerah baru saja berubah bulan lalu. Pertanyaannya, kenapa beliau tetap memaksakan jalur rawa yang mahal itu?"

Suasana di meja makan mendadak mencekam. Siska bisa melihat rahang ayahnya mengeras. Ia tahu ayahnya mulai mencium aroma pengkhianatan dari orang kepercayaannya sendiri.

"Kamu berani menuduh adik ipar saya melakukan mark-up?" tanya Pak Gunawan dengan nada mengancam, meski matanya tak lepas dari data Andi.

"Saya tidak menuduh," sahut Andi mantap. "Saya hanya menyajikan solusi yang lebih efisien untuk perusahaan. Jika Anda ingin perusahaan ini tetap tegak untuk diwariskan kepada Siska, Anda butuh efisiensi, bukan sekadar loyalitas buta."

Siska menahan napas. Ia melihat ayahnya terdiam cukup lama, memandangi Andi seolah sedang menimbang-nimbang antara kemarahan dan kekaguman. Di sisi lain, wajah Mahesa mulai memucat karena merasa panggungnya telah dicuri sepenuhnya.

"Cukup," Pak Gunawan mengangkat tangan, menghentikan Mahesa yang baru saja hendak membuka mulut untuk memprotes. Keheningan kembali menyelimuti ruangan, hanya suara detak jam besar di sudut ruang makan yang terdengar.

Pak Gunawan berdiri, berjalan pelan mengelilingi meja hingga ia berdiri tepat di belakang kursi Andi. Tangannya yang mulai keriput namun masih tampak kuat itu menumpu pada sandaran kursi.

"Kamu tahu, Andi? Selama tiga puluh tahun saya membangun bisnis ini, saya paling benci dua hal: orang yang mencoba membodohi saya, dan orang yang terlalu pengecut untuk mengatakan kebenaran," suara Pak Gunawan merendah, menciptakan aura intimidasi yang kuat.

Siska merasa jemarinya membeku. Ia sudah siap pasang badan jika ayahnya mengusir Andi detik itu juga. Namun, Pak Gunawan justru menoleh ke arah Mahesa. "Mahesa, sampaikan pada ayahmu, kerja sama kita soal logistik di Kalimantan ditunda sampai saya melakukan audit menyeluruh terhadap Hardi."

"Tapi Om, ini bisa merusak hubungan keluarga kita!" Mahesa membelalak, wajahnya yang tadi penuh percaya diri kini tampak goyah.

"Hubungan keluarga tidak dibangun di atas pencurian, Mahesa," potong Pak Gunawan pendek. Ia kembali menatap Andi, kali ini dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Dan kamu, Arsitek... kamu punya waktu satu bulan untuk membuktikan bahwa teori 'green-bridge' kamu itu bisa berjalan di lapangan. Saya akan berikan surat tugas resmi besok pagi."

Siska hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia menatap Andi, dan melihat pria itu hanya mengangguk tenang, seolah ia sudah tahu hasil ini akan terjadi.

"Terima kasih, Pak. Saya tidak akan mengecewakan perusahaan," jawab Andi tegas.

"Jangan berterima kasih dulu. Satu kesalahan kecil, dan kamu bukan hanya kehilangan proyek itu, tapi juga hak untuk menemui putri saya lagi," Pak Gunawan kemudian beralih menatap Siska. "Siska, temani dia keluar. Saya mau bicara berdua dengan Mahesa."

Begitu sampai di lobi depan yang luas, Siska langsung menarik napas lega, seolah baru saja keluar dari air setelah tenggelam lama. Ia meraih lengan Andi, menariknya ke sudut yang lebih sepi.

"Ndi, kamu gila! Kamu hampir saja membuat Ayah mengusirmu!" bisik Siska, namun ada binar bangga yang tak bisa ia sembunyikan.

Andi tersenyum, kali ini senyumnya jauh lebih lepas. "Dia tidak akan mengusirku, Sis. Orang seperti Ayahmu lebih takut kehilangan aset daripada kehilangan muka. Sekarang, aku punya waktu satu bulan untuk memastikan kita menang."

Siska menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Andi. "Satu bulan yang akan sangat berat."

"Tapi setidaknya," Andi berbisik sambil menggenggam tangan Siska, "malam ini kita sudah membuktikan satu hal: kita tidak bisa lagi dianggap hanya sebagai anak kecil yang sedang bermain cinta-cintaan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!