lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 26
Gidion benar-benar berubah menjadi bayangan yang ketakutan. Keesokan paginya, ia tidak lagi menatap Jek dengan sinis. Sebaliknya, saat mereka berpapasan di dekat ladang, Gidion segera menunduk dan berpindah jalur seolah-olah baru saja melihat hantu yang mengenakan pakaian goni.
"Lihat itu," Maya berbisik sambil mengayunkan cangkulnya dengan malas. "Si Pipi Gores sekarang terlihat seperti kucing yang baru saja disiram air aki. Kau benar-benar merusak mentalnya, Jek."
"Lebih baik dia takut daripada penasaran," sahut Jek. Ia menghantamkan cangkulnya ke tanah, kali ini dengan tenaga yang lebih terkontrol. "Rasa takut itu stabil. Rasa penasaran itu berbahaya."
Namun, ketenangan mereka terganggu saat suara terompet kerang bergema dari gerbang utama kamp. Itu bukan tanda waktu makan atau pembagian air. Itu adalah tanda peringatan.
Sesosok pria dengan seragam yang masih tampak bersih—sisa-sisa protokoler dari wilayah kota yang lebih makmur—masuk ke dalam kamp dengan dikawal oleh empat orang bersenjata otomatis. Mereka bukan warga kamp biasa; mereka adalah orang-orang dari "Sektor Inti", wilayah yang konon masih memiliki listrik dan air mengalir karena bekerja sama dengan faksi militer sisa-sisa pemerintah lama.
"Perhatian!" pria berseragam itu berteriak, membuka sebuah gulungan kertas kuno. "Kami mencari tenaga ahli. Siapa pun di antara kalian yang memiliki kemampuan mekanik tingkat tinggi, atau siapa pun yang mengetahui keberadaan 'Pusat Saraf' yang sempat menyala dua hari lalu, harus melapor sekarang juga!"
Kerumunan warga mulai berbisik. Mata Gidion secara refleks melirik ke arah Jek, namun ia segera membuang muka dengan cepat, tubuhnya gemetar.
"Imbalannya adalah kewarganegaraan di Sektor Inti," lanjut pria itu. "Tiga kali makan sehari, tempat tidur yang layak, dan perlindungan penuh."
Maya menegang. "Jek, itu tawaran yang menggiurkan bagi orang-orang yang kelaparan di sini. Salah satu dari mereka pasti akan bicara."
"Mereka tidak mencari tenaga ahli, Maya," bisik Jek tanpa menghentikan aktivitas mencangkulnya, menjaga profil tetap rendah. "Mereka mencari baterai manusia. Mereka ingin seseorang yang bisa mengaktifkan kembali sisa-sisa Jaringan Hijau untuk kepentingan mereka sendiri."
Rara mendekat, pura-pura membantu Jek mengumpulkan rumput liar. "Jika mereka mulai menggeledah satu per satu, penyamaranmu akan sulit dipertahankan. Gidion mungkin diam karena takut padamu, tapi jika dia dijanjikan makanan enak dan keamanan..."
Tiba-tiba, pria berseragam itu berjalan menuju ke arah kerumunan teknisi, tepat di mana Gidion berdiri.
"Kau," pria itu menunjuk Gidion. "Aku dengar kau teknisi terbaik di sini. Kau memperbaiki generator air kemarin malam hanya dengan sekali lihat, bukan?"
Gidion mematung. Ia menoleh ke arah Jek yang sedang membungkuk di kejauhan, lalu kembali menatap pria berseragam itu. Jek bisa merasakan ketegangan di udara. Ini adalah momen krusial. Jika Gidion menjual Jek, kemiskinan mereka yang damai akan berakhir menjadi perbudakan teknologi.
"Bukan saya, Tuan," suara Gidion terdengar bergetar namun tegas. "Mesin itu menyala sendiri karena keberuntungan. Di sini... di sini tidak ada ahli. Kami semua hanya kumpulan orang bodoh yang mencoba bertahan hidup."
Pria berseragam itu menyipitkan mata, merasa tidak puas. Ia mulai berjalan mengelilingi kamp, mendekati area ladang tempat Jek berada.
"Dan kau, Kuli!" teriak pria itu pada Jek. "Angkat kepalamu!"
Jek perlahan berdiri, membiarkan kain kepalanya sedikit melorot menutupi mata. Ia memasang wajah paling kosong yang bisa ia buat, sedikit air liur di sudut bibir, dan memegang ubi kayunya seolah-olah itu adalah benda paling suci di dunia.
"Ubi... mau ubi, Tuan?" gumam Jek dengan nada bicara yang hancur.
Pria berseragam itu mendengus jijik, menutup hidungnya karena bau asap dan tanah dari baju Jek. "Menjijikkan. Tempat ini benar-benar sarang tikus yang tidak berguna. Ayo pergi, tidak ada 'Pusat Saraf' di sini. Hanya ada kotoran."
Begitu rombongan dari Sektor Inti itu pergi, Maya mengembuskan napas panjang. "Itu tadi... sangat dramatis, Jek. Aku hampir ingin memberimu koin karena akting gembelmu yang sangat meyakinkan."
"Tapi mereka akan kembali," ujar Jek, menatap debu yang ditinggalkan kendaraan mereka. "Dunia luar mulai mencium bahwa kekosongan kekuasaan ini bisa diisi. Kita tidak bisa terus bersembunyi di gubuk ini selamanya."
Rara menggenggam tangan Jek, merasakan mur rongsokan itu. "Kalau begitu, kita harus membuat gubuk ini terlihat lebih tidak berharga lagi."
"Kau gila," bisik Maya saat mereka kembali ke dalam gubuk yang gelap. "Tadi itu benar-benar di ujung tanduk. Sektor Inti tidak akan menyerah begitu saja. Mereka punya sumber daya, dan mereka punya rasa lapar akan kekuasaan yang sama besarnya dengan Ares."
Jek duduk di atas balai-balai bambu yang berderit. Ia melepaskan ikat kepalanya dan menyeka debu dari wajahnya. "Kita tidak bisa lari lagi, Maya. Sektor Inti punya radar statis. Jika kita pindah ke pedalaman dalam kelompok kecil, kita justru akan terlihat mencurigakandi sensor gerak mereka. Kita harus tetap di sini, menjadi bagian dari kebisingan latar belakang."
Rara mengamati sisa ubi di atas meja. "Tapi Gidion... dia baru saja membuktikan kesetiaannya karena takut. Tapi ketakutan punya masa kedaluwarsa. Bagaimana jika Sektor Inti kembali dengan tawaran yang lebih gila? Kedudukan? Obat-obatan?"
Jek terdiam sejenak. Ia melihat ke arah tangannya yang kasar. "Maka kita harus membuat kamp ini menjadi tempat yang paling tidak menarik untuk dikunjungi. Kita harus membuat 'kegagalan sistem' yang sistematis."
"Maksudmu?" tanya Maya.
"Maya, kau tahu sisa-sisa pemancar frekuensi rendah yang ada di tumpukan sampah sektor barat?" Jek mulai menggambar skema di atas tanah berdebu menggunakan jarinya. "Jika kita bisa merangkainya secara manual—tanpa aliran listrik digital—kita bisa menciptakan distorsi magnetik di sekitar kamp ini. Bagi radar Sektor Inti, tempat ini akan terlihat seperti zona radiasi yang tidak stabil. Tidak ada teknologi yang bisa bertahan di sini, dan tidak ada manusia yang mau tinggal di zona beracun."
"Tapi itu akan membuat alat medis mereka rusak juga, Jek!" protes Rara.
"Hanya jika mereka membawa teknologi tinggi ke sini," sahut Jek. "Bagi kita yang hidup dengan cangkul dan tungku api, itu tidak akan berpengaruh. Ini adalah cara untuk mengunci pintu dari dalam tanpa menggunakan kunci."
Maya tersenyum licik. "Jadi, kau ingin kita menjadi 'Zona Terlarang'?"
"Tepat. Kita akan dikenal sebagai kamp terkutuk yang penuh penyakit dan kerusakan alat," Jek berdiri. "Malam ini, kita mulai mengumpulkan barang rongsokan itu. Kita akan membangun pertahanan dari sampah."
Keesokan harinya, penyamaran mereka naik ke tingkat yang lebih ekstrem. Jek tidak hanya berakting bodoh, ia mulai membantu warga kamp membangun tumpukan logam yang tampak acak di sekeliling perbatasan. Bagi mata awam, itu hanya barikade pertahanan terhadap binatang buas. Tapi di dalamnya, Jek dan Maya telah menyisipkan kumparan magnetik kuno yang saling terhubung.
Gidion memperhatikan mereka dari jauh. Ia mendekati Jek saat Rara sedang tidak melihat.
"Kau sedang membangun sesuatu yang besar, kan?" bisik Gidion, suaranya gemetar.
Jek menoleh, wajahnya masih kaku. "Aku hanya sedang menyusun sampah agar angin tidak masuk ke ladang, Gidion. Jangan terlalu banyak berpikir. Itu tidak baik untuk kesehatanmu."
Gidion menelan ludah dan segera pergi memungut batu, ikut membantu tanpa bertanya lagi.
Satu minggu kemudian, kendaraan dari Sektor Inti kembali. Namun, kali ini ada yang aneh. Saat mereka mendekati jarak satu kilometer dari kamp, mesin kendaraan mereka mulai batuk-batuk. Monitor komunikasi mereka mengeluarkan suara statis yang menyakitkan telinga.
Pria berseragam itu keluar dari mobilnya, wajahnya memerah karena marah sekaligus ngeri. "Apa yang terjadi dengan tempat ini?! Sensor radiasiku menggila!"
Jek, yang sedang duduk di pinggir jalan sambil mengunyah batang rumput dengan tatapan kosong, hanya melambaikan tangan dengan lemas. "Tanah... tanahnya sakit, Tuan... besi-besi di sini suka bicara..."
Pria itu melihat ke arah kompasnya yang berputar liar, lalu ke arah warga kamp yang tampak sangat kumal dan "terbelakang". Ia segera kembali ke mobilnya. "Cepat balik! Tempat ini sampah! Radiasinya bisa membakar saraf kita dalam hitungan jam!"
Debu kendaraan mereka menghilang di cakrawala. Maya, Rara, dan Jek berdiri di gerbang, menatap kepergian mereka.
"Berhasil," bisik Maya. "Kita resmi menjadi tempat paling menjijikkan di dunia."
"Selamat," ujar Rara sambil merangkul lengan Jek. "Sekarang, 'Kaisar Sampah', ubinya sudah matang. Ayo makan sebelum radiasi bohonganmu membuatku lapar sungguhan."
Jek tertawa, sebuah tawa yang tenang. Untuk pertama kalinya, kemiskinan dan isolasi terasa seperti kemerdekaan yang paling mewah.