Kaniya, seorang wanita muda yang berani, menolak perjodohan yang diatur oleh orang tuanya. Dia kabur dari rumah dan mencari perlindungan di perusahaan tempatnya bekerja. Di sana, dia bertemu dengan atasannya, Agashtya, yang juga kabur dari perjodohan orang tua. Mereka berdua bekerjasama untuk menjaga rahasia masing-masing, tapi suatu malam, mereka tak sengaja tidur bersama.
Beberapa bulan kemudian, mereka berdua terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang dijodohkan oleh orang tua mereka tak lain adalah mereka sendiri. Kaniya dan Agashtya harus menghadapi kenyataan bahwa mereka telah jatuh cinta, tapi adakah kesempatan bagi mereka untuk bersama? Dan apa yang terjadi ketika adik mereka, Bintang dan Shanaya, juga saling jatuh cinta satu sama lain?
Kaniya dan Agashtya duduk di ruang kantor, mencoba memahami situasi mereka.
"Apa bapak percaya ini?" tanya Kaniya, suaranya hampir tidak terdengar
Agashtya menggelakkan kepalanya. "Saya tidak tahu apa yang harus dikatakan. Aku tidak pernah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perencanaan
Agashtya dan keluarganya sedang dalam penerbangan dari India menuju Jakarta, membawa harapan dan kegembiraan untuk pertunangan Agashtya dengan Kaniya besok malam. Sementara itu, di Jakarta, Alex sibuk mengatur segala persiapan di rumah dan di perusahaan atas instruksi Pak Narendra.
Alex berbicara dengan tim dekorasi, "Pastikan semuanya sempurna, terutama dekorasi di rumah dan di venue acara. Kami ingin membuat kesan yang baik untuk keluarga mas bos Agashtya..."
Tim dekorasi mengangguk, "Sudah kami siapkan, Pak. Semua sesuai dengan permintaan Pak Narendra..."
Di sisi lain, di keluarga Prasetya pagi ini disibukkan dengan acara penyiapan dekorasi dan juga pembuatan hidangan untuk acara penyambutan keluarga pihak laki-laki.
Bu Anindika sibuk mengawasi para koki, "Pastikan hidangannya sesuai dengan tradisi, ya..."
Sementara itu, Pak Arya Bhaskara Prasetya sibuk mengatur tamu yang akan hadir pada acara nanti malam.
Kaniya hanya berdiam diri di kamarnya karena tidak setuju dengan perjodohan ini. Dia merasa terjebak dalam keputusan orang tua yang tidak mempertimbangkan perasaannya sama sekali.
Shanaya, adiknya, sibuk membantu mendekorasi ruangan, "Kak Niya, ayo bantu! Kamu harus terlihat cantik nanti malam. Aku tahu kamu pasti akan sangat cantik dengan gaun pilihan mama mertuamu..." ucap Shanaya yang menunjuk dengan dagunya dimana bingkisan pakaian yang diantar oleh Alex pagi tadi
Kaniya hanya menggeleng, "Aku gak mau, Naya. Aku gak mau semua ini. Aku gak tahu apa-apa tentang dia, tapi kenapa harus aku yang dipaksa? Kenapa gak bisa aku yang milih sendiri?"
Shanaya mendekati Kaniya dan memegang tangannya, "Kak Niya, mungkin saja dia baik, makanya papa milih dia buat dijodohin sama kakak. Soalnya Bintang adeknya aja baik apalagi kakaknya kan. Mungkin saja kamu akan bahagia. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu kak..."
Kaniya menarik napas dalam-dalam, "Aku gak tahu, Naya. Aku cuma ngerasa ini semua terlalu cepat. Aku belum siap..."
Shanaya tersenyum, "Kamu pasti siap, Kak Niya. Aku yakin kamu bisa buat keputusan yang tepat. Kalau kakak gak mau sama dia, aku punya plan B gimana..." ucap Shanaya sembari menaik turunkan alisnya
Hal itu sukses membuat Kaniya tersenyum sumringah dari wajahnya yang semula begitu menyedihkan.
Shanaya berhasil membujuk kakaknya itu untuk tetap mengikuti alur kedua orang tuanya dalam mempersiapkan acara pertunangan nanti malam.
Tentu Shanaya sudah membisikkan sebuah rencana B pada Kaniya sehingga Kaniya pun pada akhirnya bersikap seperti biasa bahkan ia keluar dari kamar dan menyambut beberapa kerabat yang hadir pagi ini dengan senyum manis.
"Selama ini, aku cuma pengen Kak Niya bahagia," ucap Shanaya dalam hati, merasa puas dengan reaksi kakaknya
Kaniya berjalan ke ruang tamu, menyambut kerabat dengan senyum manis, sementara di dalam hatinya masih bergolak dengan berbagai pikiran. Shanaya memperhatikan kakaknya dari jauh, memastikan Kaniya tetap tenang.
"Aku harus pastikan rencana B berjalan lancar," bisik Shanaya pada dirinya sendiri
Agashtya yang berada di dalam pesawat bersama dengan keluarganya masih dengan ekspresinya masing-masing, hanya Agashtya yang merasa begitu kacau. Bagaimana tidak, pasalnya dia memikirkan tentang Kaniya dan calon buah hatinya.
Di sisi lain kedua orang tuanya justru tetap akan menetapkan pertunangannya dengan gadis yang belum pernah ia kenal sama sekali. Bintang yang disampingnya selalu menguatkannya dengan kata-kata bijak dan tak berhenti selalu mengusap pundak Agashtya agar tetap tenang.
"Hey, bhai, kamu kuat. Kamu bisa melewati ini semua..." ucap Bintang lembut sembari mengusap bahu kanan Agashtya
Agashtya pun berkata pada Bintang setengah berbisik "gimana sama nasib anak gue bin?"
Dadi maa yang tak sengaja mendengar obrolan mereka pun terkejut kemudian bertanya dengan bahasa Indonesia yang masih berantakan.
"Apa? Apa yang kamu bicarakan, Agashtya? Nasib anak kamu? Apa maksudmu?" dadi maa bertanya dengan nada yang sedikit keras, membuat Agashtya dan Bintang saling menatap.
"Ehm, gak ada apa-apa, Dadi Ma. Aku hanya...hanya berbicara tentang...tentang anak...ya...anak penumpang di kursi depan ahahaha...ya kan Bin," Agashtya mencoba mengalihkan perhatian
Bintang langsung membantu, "Iya, dadi maa. bhai ya hanya ingin tahu apa yang dibicarakan oleh anak di kursi depan..."
Dadi maa masih terlihat tidak percaya, "Hmm, apa? Anak penumpang? Kamu berdua ini...okay, aku percaya. Tapi Agashtya, kamu harus fokus pada acara sagai nanti malam, ya. Jangan pikirkan hal lain," dadi maa memperingatkan dengan nada lembut dan bahasa Indonesia yang masih sangat kacau
Agashtya hanya mengangguk, "Iya, Dadi Ma. Aku tahu..."
Bintang tersenyum dan mengusap punggung Agashtya, "Jangan khawatir, dadi maa. bhaiya Agashtya akan baik-baik saja..."
Agashtya mencoba menutupi kekawatirannya, tapi pikirannya terus melayang ke Kaniya dan calon buah hatinya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib mereka jika dia harus menerima perjodohan ini.
Bintang yang duduk di sebelahnya bisa merasakan kekawatirannya, "Bhai, kamu masih memikirkan itu?" bisik Bintang
Agashtya hanya mengangguk pelan, "Aku gak tahu, Bin. Aku gak bisa ngebayangin hidupku tanpa Kaniya..."
Bintang pun tersenyum dengan sikapnya yang bijaksana, dia terus membujuk kakaknya Agashtya dan berkata, "Bhai, aku dan adiknya Shanaya menjalin hubungan asmara dan ya, jika adiknya saja baik, bahkan sikapnya manis, bisa dipastikan kakaknya pasti juga memiliki karakter yang sama seperti adiknya..."
Agashtya terkejut dengan pengakuan Bintang, "Benar, Bin? Kamu dan Shanaya? Kenapa kamu gak bilang sebelumnya?"
Bintang tersenyum, "Aku pengen memastikan dulu, Bhai. Tapi aku yakin Shanaya adalah orang yang tepat untukku. Dan aku juga yakin kakaknya akan sama bagusnya..."
Agashtya masih terlihat skeptis, tapi ada secercah harapan di matanya, "Kamu benar, Bin. Aku harus percaya pada pilihanmu..."
Agashtya kemudian memikirkan tentang Kaniya, gadis yang telah mencuri hatinya. Dia tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa Kaniya, tapi dia juga tidak bisa melawan keputusan orang tuanya. Bintang yang duduk di sebelahnya bisa merasakan kekawatirannya.
"Bhai, aku tahu kamu peduli dengan Kaniya. Aku akan membantu kamu, kita akan cari jalan keluar bersama..."
Agashtya menatap Bintang dengan rasa terima kasih, "Thanks, Bin. Aku gak tahu apa yang bakal aku lakukan tanpa kamu..."
Bintang tersenyum, "Kamu gak akan pernah sendirian, Bhai. Aku selalu ada di sampingmu. Forever and ever..."
Bintang pun membisikkan rencana B pada Agashtya jika diperlukan nantinya, Agashtya yang mendengarkan dengan seksama pun manggut-manggut seolah setuju dengan rencana B Bintang dan Shanaya. Padahal Bintang memiliki satu lagi rencana cadangan yang tidak ia beritahu pada Agashtya dan Shanaya.
Bersambooo.... 🤭
Guys minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin yah... 🙏😊🌷🌹
btw thor belum mau tamat kan yh? kok kyk bau2 mau ending gituh?