Cerita Chef yang ogah nikah dan Dokter yang juga ogah menikah.
Arletta Peterson, cucu-cicit-buyut chef terkenal dari keluarga Reeves McCloud itu belum kepikiran menikah di usianya yang menginjak 26 tahun. Chef cantik itu sangat menikmati hidup lajangnya. Hingga di bulan Desember, dia melayani pesta natal di sebuah rumah sakit di London Inggris . Disana Arletta bertemu dengan Dokter Jeff Clarke yang 12 tahun lebih tua darinya. Gara-gara sebuah mistletoe dan kecerobohan Arletta, dokter Jeff mencuri dua kali ciuman dari chef cantik itu. Pertemuan kacau mereka, membuat dokter tampan itu jatuh cinta pada Arletta. Bagaimana cara Dokter Jeff bisa meyakinkan chef cantik itu kalau mereka memang berjodoh?
Generasi ke delapan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jeff Mendapatkan Kiriman
Jeff dan Dokter Lucky meletakkan tubuhnya di ruang istirahat dokter setelah hampir tiga puluh enam jam berjibaku menyelamatkan banyak korban kecelakaan. Mereka tidak perduli terdengar mengorok karena memang selelah itu.
Bahkan para dokter yang masuk, tidak berani membangunkan mereka berdua karena sudah menyelamatkan banyak korban.
***
"Papa kok nggak pulang ya Mama?" tanya Kenzie.
"Coba lihat berita ... Bagaimana para korban tabrakan maut kemarin," jawab Daisy sambil menyalakan televisi.
Kenzie melihat ada wartawan yang sedang meliput dan dia kaget melihat ayahnya bersama Jeff sibuk menyelamatkan para korban. Bahkan Dokter Lucky sampai naik ke atas brankar untuk memberikan pompa jantung manual. Termasuk sampai masuk ke dalam ruang tindakan.
Pompa jantung manual, atau lebih dikenal sebagai Resusitasi Jantung Paru ( RJP ) atau CPR ( Cardiopulmonary Resuscitation ), adalah tindakan pertolongan pertama darurat dengan menekan dada secara cepat dan kuat (100–120 kali/menit) sedalam 5–6 cm. Tujuannya untuk memompa darah ke organ vital saat jantung berhenti berdetak.
"Kamu lihat, papamu sibuk menolong orang meskipun di negara orang lain. Kalau Kenzie besok mau jadi dokter, harus sesuai dengan sumpah dokter. Jangan pandang bulu siapa yang terluka karena nyawa adalah yang utama," ucap Daisy lagi.
"Kenzie mau jadi dokter tapi nggak mau macam papa dan mama ... Dokter yang beda," jawab Kenzie.
"Dokter apa?" tanya Daisy.
"Dokter Anak!" jawab Kenzie yakin.
"Eh?" Daisy terkejut mendengarnya.
***
Royal Hospital London
Dokter Lucky dan Jeff terbangun setelah ponselnya berbunyi alarmnya. Mereka memang sengaja memasang weker dua jam tidur demi bisa sedikit segar.
"Kita harus bangun dan pulang Jeff," gumam Dokter Lucky sambil memakai kacamatanya. "Istri dan anakku pasti bingung aku kok tidak pulang dua hari."
"Iya ... Aku sudah tidak sanggup menghadapi pasien lagi." Jeff menguap lebar. "Mari kita pulang Lucky."
"Aku juga ingin mandi!" balas Dokter Lucky. "Dan dipijit Jeng Daisy."
***
Kenzie berseru heboh saat Dokter Lucky pulang dengan wajah lelah. Ayahnya menolak dipeluk Kenzie karena dirinya bekas rumah sakit dan Dokter Lucky tidak mau putranya kena bakteri apapun.
"Tunggu Papa mandi dulu, Kenz. Baru nanti kita berpelukan. Oke?" senyum Dokter Lucky.
"Nanti papa ceritain ya apa yang sudah papa lakukan buat nolong orang-orang yang celaka kemarin," senyum Kenzie.
"Oke Boy."
Daisy yang sedang menggendong Elina. "Mandi dulu mas. Pasti segar nanti kalau mandi air panas."
"Siap Jeng Daisy sayangku."
***
Apartemen Jeff
Jeff merasakan nikmatnya berendam di bathtub miliknya sementara Snowy tiduran diatas keset di dalam kamar mandi. Tadi mereka mengambil Snowy saat Kenzie masih tidur dan Dokter Lucky mengantar hingga ke apartemen Jeff.
Jeff memejamkan matanya sembari relaksasi setelah adrenalin di rumah sakit. Dia tidak tahu sudah menyelamatkan berapa orang tapi juga kehilangan.
"Dua puluh orang terluka dan lima orang tewas di Royal Hospital," gumam Jeff sambil membaca berita di ponselnya. "Setidaknya kita berhasil menyelamatkan banyak nyawa."
Jeff menoleh ke arah Snowy yang tampak nyaman.
"Kamu sama Kenzie dimanja yaaaa?" kekeh Jeff sementara Snowy hanya menaikkan sebelah telinganya.
Jeff tertawa. "Lama-kelamaan kamu bisa minta ikut sama Kenzie."
***
Usai mandi, Jeff berjalan ke arah dapur dengan hanya memakai celana pendek tanpa baju dan membuka kulkasnya. Dia mengambil bir dingin dari dalam dan membukanya lalu menenggaknya langsung dari botolnya.
Tiba-tiba terdengar suara bel di pintu apartemennya dan Jeff berjalan ke arah intercom. Dilihatnya Paul, penjaga pintu apartemennya, berdiri di depan dan Jeff pun membukanya.
"Paul? Ada apa?" tanya Jeff bingung.
"Aku hanya mengantarkan ini, Dokter Clarke." Paul memberikan sebuah paper bag ke Jeff.
"Dari siapa?" Jeff melihat logo di tas itu. RR'S Meals. "Chef ... Arletta?"
"Tadi ada kurir datang sih dan sepertinya memang dari Chef Arletta," jawab Paul.
Jeff menerima tas itu dan tersenyum. "Terima kasih Paul."
"Sama-sama Dokter Clarke."
Jeff pun masuk ke dalam apartemennya dan berjalan menuju dapur usai menutup pintu. Dia pun merasa lapar karena mencium harum masakan dari dalam tas itu.
"Aku dikasih makan apaan ini?" gumam Jeff sambil membuka kotak-kotak dari aluminium foil itu. "Whoah ... Lasagna, salad, grilled salmon dan mashed potatoes."
Jeff tersenyum dan mengambil ponselnya lalu menghubungi Arletta.
"Halo?"
"Arletta ... Terima kasih sudah mengirimkan makanan untukku ... Ini sangat spesial!" ucap Jeff penuh semangat.
"Oh, aku juga mengirim untuk Mbak Daisy dan Oom Lucky. Jadi tidak usah geer. Aku tahu kamu belum makan kan?" jawab Arletta cuek.
Jeff melongo. "Apa kamu tidak bisa bicara lembut sedikit?"
"Terima kasih sudah menyelamatkan banyak nyawa kemarin," jawab Arletta pada akhirnya.
"Sama-sama Arletta. Kakak kamu juga seorang dokter bedah yang hebat. Dia tidak mau menyerah begitu saja. Aku akui, Dokter Lucky adalah dokter yang sangat berdedikasi," puji Jeff.
"Jangan sampai Oom Lucky dengar!" ucap Arletta.
"Kenapa?"
"Karena dia akan besar kepala dan jumawa menyebalkan!"
***
Yuhuuuu up malam Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
letta mulai nyaman dg jeff ya😁😁😁