Caramel Willem, cucu mafia terbesar di dunia mengalami transmigrasi ke dalam buku novel.
Ding!
"Selamat datang di dunia paralel, saya sistem 014 akan menemani perjalanan anda."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga gila
Arga dan Caramel menyerang Erlangga dengan sangat ganas. Tidak ada belas kasihan, benar-benar melawan dengan niat membunuh.
Erlangga terus menahan dan melawan sekuat tenaga, dia mendapatkan luka dan pukulan dimana-mana tapi Arga dan Caramel sama sekali tidak berhenti.
Erlangga terus melawan, semakin terdesak karena ruangan kamar yang sempit. Kamar Erlangga sudah hancur lebur karena perkelahian ini, Arga jadi menyesal karena sudah bertindak kekanakan yang membuat orangtuanya marah.
BUGH
"ARRRGGGGGHHHHHHH"
BRAKKKK
Caramel menendang Erlangga hingga terlempar keluar kamar, menabrak pembatas tangga hingga akhirnya jatuh ke lantai satu.
Erlangga yang tidak memiliki pengalaman jatuh dari ketinggian, mengalami patah tulang di lengan kiri karena berusaha mendarat dengan tangannya. Erlangga mengerang kesakitan, namun Arga dan Caramel mengejar dan tidak berhenti sampai di sana.
"BERHENTI, AKU MENGAKU SALAH. MAAFKAN AKU, MAAF." Erlangga sudah ketakutan, dia menangis.
Duaaghh
Arga tidak berhenti, dia menendang Erlangga hingga tersungkur. Caramel juga berlari hendak menyerang, Erlangga berhasil menghindar dan melempar barang di sekitar nya.
Erlangga berdiri dan melawan dengan tekad bertahan hidup. Hingga akhirnya Erlangga berhasil menarik lengan kanan Arga dengan satu tangan nya, lalu membantingnya ke lantai dengan keras.
BRAAKKKKKK
hoshh
hoshh
Hening, seketika Caramel berhenti dan menatap Erlangga dengan terkejut. Dengan satu lengan yang patah dan stamina yang terkuras habis, Erlangga masih bisa menyerang dan membanting Arga.
Jika di lihat dari sudut pandang Caramel, Arga sama sekali tidak mengalah jadi serangan Erlangga barusan pure karena insting bertahan hidup.
"Lihat kan? anakku tidak payah." Arga bersuara.
Erlangga terdiam, menatap Caramel dan Arga dengan tatapan bingung. Antara takut dan sedih menjadi satu, dia menyentuh lengannya yang patah dan berniat berlari pergi dari rumah itu.
Greb
"Maaf, kami hanya ingin kamu tau bahwa di situasi terdesak antara hidup dan mati, semua orang pasti memiliki insting bertahan hidup yang tinggi, seperti hal nya yang di lakukan Kevin. Dia mendorong dirinya keluar dari batasan, agar dia bisa tetap hidup. Apa kamu mengerti sekarang setelah mengalami nya sendiri?." Arga memeluk Erlangga, merasa bersalah karena sudah menyerangnya separah ini.
Erlangga masih terdiam, dia linglung setelah mengalami hal mengejutkan. Dia berpikir akan mati saat jatuh dari lantai dua, apalagi untuk pertama kalinya dia merasakan patah tulang.
"Tatapan insecure itu, buang jauh-jauh. Jika merasa tertinggal maka berlatih lah jauh lebih keras, bukan malah terpuruk di dalam kamar menyalahkan diri sendiri dengan sebutan payah. Jika ingin kuat kau harus menghargai proses, baru empat bulan berlatih kau sudah bisa mengalahkan atlet pro yang berlatih bertahun-tahun. Apa menurut mu kau masih tertinggal?." Caramel memarahi karena memang ingin marah.
Erlangga menyadari satu hal, dia bukan insecure karena tertinggal tapi dia insecure karena tidak senang ada yang jauh lebih kuat dari nya. Dia telah menjadi pecundang, dia merasa malu bahkan untuk mengangkat kepalanya.
"Kemari, kau sudah bertahan dengan sangat baik." Caramel merentangkan tangannya.
Erlangga masih tidak bergeming, dia malu atas sikapnya. Arga menepuk pundak Erlangga lalu tersenyum hangat, tidak ada lagi tatapan dingin atau aura membunuh. Arga sudah kembali seperti sebelumnya yang tenang dan penyayang.
"Pa...
"Ya, pergi lah." Arga mengangguk.
Erlangga melangkah dengan ragu-ragu, dia masuk ke dalam pelukan Caramel dan menangis dalam diam. Caramel tersenyum, memeluk Erlangga erat dan mengelus rambutnya dengan sayang.
"Maaf.... Mama sungguh tidak ingin melukai mu." Caramel menangis karena merasa bersalah.
Arga tersenyum melihat pemandangan hangat itu, dia mendekat dan ikut berpelukan bersama. Meskipun sedikit ekstrem, setidaknya Erlangga sudah tidak lagi insecure atau iri pada pencapaian orang lain.
"Mama.. Papa.. Maaf." Lirih Erlangga.
"Maafkan kami nak, Papa/Mama mencintaimu." Arga dan Caramel menjawab bersamaan.
Tangisan Erlangga semakin keras, selain emosional dia juga merasa tangannya yang patah semakin sakit. Badan dan wajahnya yang babak belur juga mulai terasa sakit, dia merasa tubuhnya remuk.
"Sakit..." Cicit Erlangga, sebelum kegelapan menelannya.
Erlangga bangun saat langit sudah gelap, dia terbangun di kamarnya yang sudah kembali seperti semula. Tidak ada barang yang hancur, meskipun aneh Erlangga sudah biasa dengan keanehan itu.
Tangan kiri Erlangga di gips, wajahnya sudah penuh plaster dan ada kantung es batu di atas nakas. Erlangga menarik nafas dalam-dalam, mengingat pertarungannya dengan Arga dan Caramel.
"Gila, gue pikir mereka cuma bisa bela diri. Tapi ternyata se kuat dan semenakutkan itu? sial, gue jadi ngga tahu diri karena selama ini mereka kelihatan penyayang. Haah.. nyaris aja gue mati." Gumam Erlangga bersyukur masih hidup.
klakk
"Sudah bangun?." Caramel masuk ke dalam membawa makan malam.
"I-iya." Erlangga jadi takut pada Caramel.
"Kenapa takut? Mama dan Papa masih sama seperti sebelumnya. Kami hanya sedang mendidik anak nakal." Ucap Caramel tersenyum penuh arti.
"Maaf." Lirih Erlangga.
"Sudah ayo makan dulu." Caramel menyuapi Erlangga.
Erlangga menerima suapan Caramel dengan tenang, pikirannya kemana-mana. Dia jadi merasa sungkan, lalu dia juga jadi merasa bersalah dan malu pada Kevin karena sempat merasa iri dengki.
"Ma, besok aku mau ketemu Kevin." Ucap Erlangga.
"Boleh, mau ditemani?." Tanya Caramel tersenyum hangat.
"Ngga, aku cuma mau ngobrol sebentar dan minta maaf. Ngga seharusnya aku merasa iri sama Kevin yang nyawa nya nyaris dalam bahaya, bener-bener sikap pecundang memalukan." Ucap Erlangga.
Caramel tersenyum bangga, ternyata parenting salam olahraga memang sangat efisien sekali. Andai saja kemarin Caramel memilih mengajak bicara, pasti hanya akan menjadi ribut dan tidak akan pernah selesai.
Pukulan memang sangat bagus untuk menyadarkan pikiran, semoga saja ini terakhir kalinya Caramel memukuli anak sendiri.
Besoknya Erlangga berangkat sekolah bersama Yohan, mereka naik mobil karena tangan Erlangga patah dan tidak bisa naik motor.
Yohan sendiri heran, kemarin dia hanya pergi keluar sebentar dan saat kembali Erlangga sudah babak belur dengan kondisi rumah yang seperti kapal pecah.
Yang lebih mengherankan lagi renovasi rumah hanya memerlukan waktu satu malam saja, Yohan merasa aneh tapi tidak berani banyak tanya.
"Sebenernya kemarin ada apa si?." Tanya Yohan penasaran.
"Gue cuma latihan sparing." Jawab Erlangga.
"Latihan sampe patah tulang?." Heran Yohan.
"Iya, dua lawan satu gimana ngga remuk." Lirih Erlangga.
"Emang siapa aja lawannya?." Yohan penasaran.
"Nyokap sama bokap gue, untung aja gue ngga mati." Jujur Erlangga.
Yohan langsung membisu, dia pernah sparing satu kali bersama Arga dan Caramel. Dia langsung kalah telak dalam sekali serangan, tapi Erlangga bisa bertahan dan menyerang balik? Yohan merasa Erlangga juga sama menakutkan nya dengan Arga dan Caramel.
"Dasar keluarga gila." Batin Yohan tertekan.
aneh ga sih 🤔🤔🤔