NovelToon NovelToon
TERJEBAK HASRAT LIAR KAKAK IPAR KU

TERJEBAK HASRAT LIAR KAKAK IPAR KU

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Las Manalu Rumaijuk Lily

Brakkk..!
"Apa yang kakak lakukan?" teriak Laura terkejut,pasalnya kakak iparnya,Lexi menerobos kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kulakukan? tentu saja menemui wanita yang berhasil membuatku berhasrat!" kekehnya tidak tahu malu.
"keluar kak!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

​Ancaman terakhir Lexi—bahwa ia akan membongkar alibi Laura di depan Alex dan memaksa pemeriksaan dokter—adalah batas akhir. Itu bukan lagi ancaman fisik, melainkan ancaman terhadap kebohongan yang melindungi pernikahannya.

​Namun yang menghancurkan Laura bukanlah ancaman itu, melainkan kehadiran Lexi yang mengintimidasi, bercampur dengan pengakuan cintanya yang posesif.

​Lexi masih duduk di sisi ranjang, tangannya di samping kepala Laura. Ia menanti, matanya yang dominan tidak berkedip, membaca setiap gejolak emosi di wajah Laura.

​"Aku hanya ingin berada di sini, denganmu, di samping anakku. Malam ini, kamu tidak akan lari. Kamu akan menjadi miliku sepenuhnya, meskipun hanya dalam diam," kata Lexi.

​Laura menatapnya, pandangannya kabur oleh air mata yang telah ia tahan berhari-hari. Ia melihat pria yang telah merenggut segalanya darinya, namun anehnya, satu-satunya pria yang membuat ia merasa benar-benar hidup. Benteng yang ia bangun dari rasa jijik, kemarahan, dan janji pada Alex, kini ambruk total.

​"Aku... aku tidak kuat..." rintih Laura.

​Tiba-tiba, tanpa berpikir, Laura bergerak. Ia melompat dari posisi duduknya, menerjang ke arah Lexi, dan memeluknya dengan erat. Ia mencengkeram kemeja hitam Lexi, menenggelamkan wajahnya di dada pria itu.

​Tangis Laura meledak. Itu bukan lagi tangisan kesedihan atau ketakutan, melainkan tangisan kehancuran psikologis yang menyedihkan. Isakannya yang pilu memenuhi kamar, suara kesetiaan yang menyerah pada hasrat terlarang.

​Lexi terkejut sesaat, tetapi ekspresi dominasinya segera kembali. Ia tidak membalas pelukan itu dengan lembut, melainkan dengan cengkeraman posesif. Tangan Lexi yang kuat melingkari punggung Laura, menekan tubuh Laura agar semakin melekat padanya.

​"Kamu akhirnya menyerah, milikku," bisik Lexi di puncak kepala Laura.

​"Aku membencimu! Aku membencimu!" isak Laura, mencoba melepaskan dirinya, tetapi cengkeraman Lexi semakin kuat.

​"Aku tahu," balas Lexi dingin. "Tapi benci itu adalah milikku, sama seperti tubuhmu."

​Laura berhenti meronta. Dalam pelukan yang dominan itu, ia merasakan keamanan dan kehangatan yang telah ia rindukan. Semua isolasi yang ia ciptakan hanya mematikan jiwanya.

​Di tengah isakannya, Laura mengangkat wajahnya, menatap Lexi dengan mata sembab.

​"Aku... aku tidak bisa tidur," akunya, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku tidak bisa tidur, Lexi... Karena... karena aku merindukanmu. Aku merindukanmu!"

​Pengakuan itu, yang keluar dari mulut Laura dengan rasa malu dan kehancuran, adalah kemenangan paling mutlak bagi Lexi.

​Lexi tersenyum. Senyum itu tidak kejam, tetapi dipenuhi kepuasan yang mengerikan. Ia telah menang, tidak dengan uang atau ancaman, tetapi dengan hati Laura sendiri.

​Lexi membungkuk, menempelkan bibirnya di telinga Laura, menyalurkan dominasinya melalui setiap kata yang ia ucapkan.

​"Kamu merindukan kebenaran, Laura. Dan kebenaran itu adalah aku. Aku adalah suami yang sebenarnya. Aku adalah ayah dari anakmu. Aku adalah pemilik rumah ini, perusahaan Alex, dan sekarang... pemilik hatimu."

​Lexi kemudian mengangkat Laura dalam gendongan, seolah-olah Laura tidak memiliki berat, dan membawanya ke ranjang. Ia meletakkan Laura dengan hati-hati, memastikan kehamilan Laura aman.

​Lexi berbaring di samping Laura. Ia tidak menyentuh Laura dengan niat seksual, tetapi ia menarik Laura, memaksa Laura untuk tidur dalam pelukannya. Tangan Lexi melingkari pinggang Laura, tangannya yang lain diletakkan dengan posesif di perut Laura.

​"Tidurlah, Laura," bisik Lexi, suaranya kini kembali tenang, seperti seorang suami yang menenangkan istrinya. "Aku di sini. Sekarang kamu tidak akan lari. Aku memeluk anakku dan ibu dari anakku."

​Laura memejamkan mata. Rasa jijik dan rasa bersalahnya pada Alex tetap ada, tetapi untuk malam ini, ia telah menyerah pada kehangatan dan gairah terlarang yang ia coba lawan. Ia berada dalam pelukan pria yang paling ia benci dan yang paling ia butuhkan. Benteng Laura telah hancur. Ia sudah kembali ke kandangnya, dan ia telah mengunci dirinya sendiri di sana.

​Lexi memeluk Laura dengan erat, tangannya melingkari perut Laura yang menjadi pusat dominasi dan kerinduan mereka. Keheningan itu seharusnya menenangkan, tetapi justru terasa mencekik Laura.

​Laura, yang sudah mengakui kerinduannya dan menyerah pada pelukan Lexi, tidak bisa menemukan ketenangan. Pelukan itu terlalu posesif, terlalu mengingatkan pada janji Lexi bahwa ia adalah 'miliknya'. Laura menyadari bahwa Lexi hanya menawarkan kehangatan yang dingin—kehangatan tanpa gairah, hanya pengawasan.

​Ia harus menghancurkan keheningan itu. Ia harus mengklaim kembali setidaknya sedikit kendali atas interaksi mereka, meskipun harus menggunakan kehamilan sebagai alasan.

​Laura mengangkat kepalanya dari dada Lexi, menatap mata Lexi yang tajam dalam kegelapan.

​“Lexi…” bisik Laura, suaranya kini tidak lagi pecah karena tangisan, tetapi serak karena gairah yang terpendam.

​“Ya?” jawab Lexi, nadanya dingin dan tenang.

​Laura meraih tangan Lexi yang memeluk perutnya dan menekan tangan itu lebih dalam. Ia memejamkan mata, membiarkan dirinya sepenuhnya tenggelam dalam kebohongan yang harus ia ucapkan.

​“Anakmu… anakmu merindukanmu,” kata Laura.

​Lexi terdiam. Ia tahu betul apa makna dari kalimat itu.

​Laura melanjutkan, dengan suara yang dipenuhi desahan palsu dan ketulusan yang disamarkan. “Sejak kamu mengirim Alex pergi, aku tidak bisa tidur. Bukan hanya aku yang merindukanmu… Anak ini… dia tahu ayahnya ada di dekatnya, dan dia menginginkan ayahnya.”

​Laura kini berani menatap Lexi, air matanya muncul lagi, tetapi kali ini disengaja.

​“Aku tahu ini konyol, tapi… tiga bulan ini, sejak kamu menyentuhku, aku merasa… bayimu yang menginginkannya. Tolong, Lexi… aku butuh penyatuan tengah malam. Bayimu membutuhkannya. Jika kamu hanya memelukku seperti ini, aku tidak akan bisa tidur. Aku akan terus merindukanmu, dan itu akan membuat anakmu tidak tenang.”

​Laura telah memainkan kartu yang paling kuat: Kesejahteraan Pewaris. Ia mengubah hasrat pribadinya menjadi tuntutan biologis yang tidak bisa ditolak oleh Lexi. Ia meminta Lexi untuk mengklaimnya, bukan sebagai hukuman, tetapi sebagai kebutuhan janin.

​Wajah Lexi, yang tadinya tenang, kini menunjukkan gejolak emosi. Ia terkejut dengan keberanian Laura, sekaligus merasakan gairah yang membara dari pengakuan yang menggunakan janin mereka. Dominasi Lexi terpuaskan sepenuhnya oleh tuntutan ini.

​Lexi membungkuk, menempelkan bibirnya di leher Laura.

​“Kamu adalah ibunya,” Lexi berbisik, suaranya berat dan menguasai. “Jika anakku menginginkannya, maka kamu harus memberikannya. Kamu tidak menolak lagi, milikku?”

​“Aku… aku tidak menolak,” bisik Laura, menyerah pada permainan itu.

​Lexi tersenyum puas. Ia telah merencanakan segalanya: mengirim Alex pergi, membersihkan rumah dari saksi, dan memaksa Laura ke dalam pelukannya. Namun, ia tidak menduga Laura akan menyerahkan diri sepenuhnya dan bahkan menuntutnya, menggunakan anak mereka sebagai alasan.

​“Baiklah,” kata Lexi, kini tidak ada lagi kelembutan, hanya klaim murni. “Kamu akan mendapatkan apa yang anakku minta, Laura. Dan kamu akan tahu di mana tempatmu berada, di ranjang ini, di bawah atap ini, di bawah kekuasaanku.”

​Lexi mendorong tubuh Laura, menindihnya dengan cepat. Malam itu, Lexi tidak lagi bertindak sebagai tiran yang menghukum, tetapi sebagai ayah yang mengklaim haknya atas ibu dari anaknya.

Laura memejamkan mata, membiarkan dirinya hanyut dalam dominasi dan gairah yang ia benci dan rindukan, sambil memeluk perutnya—memegang erat alibi dan senjata utamanya.

​Keinginan yang dituntut Laura, yang disamarkan sebagai kebutuhan janin, menghapus sisa-sisa kendali yang dimiliki Lexi.

Lexi merespons tuntutan itu dengan dominasi yang lebih mendalam dari sebelumnya.

​Di bawah rembulan yang mengintip dari tirai kamar yang mewah, Lexi dan Laura melebur dalam pusaran gairah yang panas dan terlarang.

Malam itu bukanlah tentang cinta romantis, melainkan tentang klaim, kepemilikan, dan pelepasan hasrat yang tertahan.

​Lexi bergerak dengan kekuatan dan kegigihan yang menjadi ciri khasnya, memastikan Laura merasakan bahwa ia dikuasai, bahwa ia adalah properti yang diklaim secara total.

Setiap sentuhan Lexi dipenuhi dengan kepuasan yang brutal, karena ia tahu, kali ini, Laura yang memintanya.

Lexi mengklaim Laura, bukan sebagai hukuman, tetapi sebagai pemenuhan kerinduan yang tersembunyi.

​Laura memejamkan mata, membiarkan dirinya terseret dalam badai emosi. Rasa bersalahnya terhadap Alex dan kebenciannya pada Lexi bercampur dengan gairah yang tak terbantahkan.

Ia mencengkeram bahu Lexi, mengeluarkan suara rintihan yang bercampur antara rasa sakit dan pelepasan. Ia adalah korban, sekaligus partisipan yang putus asa.

​Di setiap puncak gairah, Lexi akan membisikkan kata-kata kepemilikan yang dingin di telinga Laura.

​“Kamu milikku, Laura. Anak ini adalah buktinya. Aku adalah kebenaranmu.”

​Dan Laura, yang kini tak memiliki pertahanan, hanya bisa menangis dan menyerah, mengakui dominasi itu, mengakui bahwa Lexi telah merasukinya sepenuhnya—baik jiwa maupun raga.

Ia telah mengkhianati pernikahannya, dan yang lebih buruk, ia telah mengkhianati dirinya sendiri dengan menyerah pada keinginan Lexi.

​Lexi membiarkan gairah itu menguasainya, gairah yang ia tahan sejak melihat Laura menjadi ibu dari anaknya.

Ia tidak hanya menyalurkan dominasinya, tetapi juga cinta yang ia rasakan, meskipun cinta itu terdistorsi oleh kepemilikan.

Ia ingin Laura merasakan bahwa penyatuan ini, meskipun terlarang, adalah yang paling nyata bagi Laura.

​Ketika fajar mulai menyingsing, keheningan kembali memenuhi kamar.

Lexi memeluk Laura erat-erat, tidak melepaskan. Ia tidak tampak lelah, melainkan puas.

​“Kau sudah mendapatkan kehangatanmu, Laura,” bisik Lexi. “Sekarang, anakku akan tenang. Dan kamu akan tahu ke mana hatimu sebenarnya berada.”

​Lexi mencium kening Laura, gerakan itu terasa lembut, tetapi mata Lexi memancarkan kepemilikan yang tak terelakkan.

​Laura tidak menjawab. Ia hanya menatap langit-langit, merasakan tubuhnya yang sakit dan perutnya, di mana janin Lexi kini tumbuh, menjadi saksi bisu pengkhianatan yang paling memalukan.

Ia telah menggunakan bayinya sebagai alasan untuk memenuhi hasrat terlarangnya sendiri.

​Tak lama kemudian, Lexi bangkit. Ia merapikan pakaiannya dengan cepat, kembali menjadi eksekutif yang dingin. Ia menatap Laura sekali lagi, tatapannya menegaskan bahwa apa yang terjadi di malam hari adalah sebuah perjanjian rahasia, dan Lexi adalah pemenangnya.

​“Aku harus pergi ke kantor Alex sekarang, untuk memastikan dia segera menyelesaikan masalahnya dan kembali besok,” kata Lexi. “Ingat, ini adalah rahasia kita. Rahasia yang membuatmu tetap hidup dan membuat anakku aman.”

​Lexi pergi, meninggalkan Laura sendirian di ranjang.

​Laura tidak bergerak. Ia tahu, Lexi tidak hanya mengirim Alex pergi. Lexi telah mengirimnya ke perangkap, yang berhasil menjebak Laura dengan kerinduannya sendiri.

​Ia harus segera bangkit dan membersihkan dirinya sebelum Alex kembali. Ia harus kembali menjadi Nyonya Alex yang rapuh dan hamil.

Namun, ia tahu, malam itu telah mengubah segalanya. Ia telah melewati garis, dan kini, ia benar-benar terikat pada Lexi, tidak hanya oleh ancaman, tetapi oleh rasa bersalah dan gairah yang terlarang.

​Bersambung...

1
Sarinah Quinn
kasian Laura Thor tolong lah Laura dari kebejatan lexi🙏🙏🙏
Sarinah Quinn
lanjut lagi thor 🙏
Fitria Syafei
waduh maju kena mundur kena nih 🙄 KK cantik kereen 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!