NovelToon NovelToon
Penantian Sheilla

Penantian Sheilla

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: chocolate_coffee

Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.

Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa Rasa di Antara Putihnya Dinding Bangsal

Dua minggu berlalu sejak mata itu terbuka. Montreal di luar sana masih saja dingin, tapi di dalam kamar 402, suasana berubah jadi sesuatu yang sulit didefinisikan. Ardhito sudah sepenuhnya sadar. Ajaibnya, meski luka tusukan itu cukup dalam, hasil MRI dan observasi dokter menunjukkan nggak ada saraf vital yang putus permanen. Dia nggak cacat. Dia hanya butuh waktu untuk pemulihan fisik dan terapi otot agar bisa kembali bugar seperti dulu.

Sheilla masih di sana. Setia.

Banyak orang termasuk Maya bertanya-tanya, kenapa? Kenapa seorang perempuan yang sudah dihancurkan berkali-kali masih mau duduk di samping ranjang pria yang jadi sumber traumanya? Sheilla sendiri nggak punya jawaban yang logis. Dia cuma mengikuti apa yang disebutnya sebagai "panggilan kemanusiaan", walau di sudut hatinya yang paling gelap, dia tahu ada sesuatu yang lebih dari sekadar iba.

--

Pagi itu, Sheilla datang membawa bubur hangat dan jus jeruk segar. Dia melihat Ardhito sedang mencoba duduk, dibantu oleh bantal yang ditumpuk. Wajah pria itu masih pucat, badannya jauh lebih kurus, tapi yang paling kentara adalah sorot matanya yang nggak lagi punya "api" kesombongan.

"Sini, aku bantu," kata Sheilla pelan saat melihat Ardhito kesulitan meraih gelas air di nakas.

Ardhito menatap tangan Sheilla yang memegang gelas. Ada getaran kecil di tangan pria itu saat jari mereka bersentuhan. "Makasih, Sheil. Kamu... kamu beneran nggak harus ngelakuin ini setiap hari."

Sheilla cuma tersenyum tipis sambil merapikan selimut Ardhito. "Anggap aja ini bagian dari terapi aku juga buat bener-bener ngelepasin masa lalu. Kalau aku bisa jagain kamu tanpa benci, berarti aku sudah menang dari luka itu."

Ardhito terdiam. Kata-kata Sheilla kayak sembilu yang halus tapi nyelekit. "Kamu sudah menang jauh, Sheil. Akulah yang kalah. Kalah telak."

--

Ardhito tahu dia punya banyak dosa. Dia tahu dia mungkin nggak pantas dapat kesempatan kedua, apalagi dari Sheilla. Tapi, melihat Sheilla yang masih mau datang, yang masih mau menyuapinya saat tangannya terlalu lemah, atau sekadar membacakan koran, bikin ego Ardhito yang dulu setinggi langit runtuh jadi debu.

Dia mulai "berjuang". Tapi kali ini bukan dengan uang, bukan dengan intimidasi, atau rencana jahat. Ardhito berjuang dengan caranya yang sekarang: ketulusan dan penyesalan yang nyata.

"Sheil," panggil Ardhito saat sore mulai temaram. "Dokter bilang fisikku bakal pulih total dalam beberapa bulan. Aku beruntung banget nggak lumpuh."

Sheilla menghentikan kegiatannya merangkai bunga di vas. Dia menatap Ardhito. "Iya, itu mukjizat."

"Aku pantes dapetin yang lebih buruk, kan?" suara Ardhito serak, matanya berkaca-kaca. "Keajaiban ini bukan buat aku bisa balik jadi orang sombong lagi, Sheil. Aku ngerasa ini kesempatan buat aku bener-bener jadi orang yang pantes ada di dekat kamu kalau kamu masih izinin. Aku takut, Sheil. Pas aku bangun nanti dan sehat lagi, aku takut kalau orang yang aku lihat pertama kali bukan kamu lagi karena kamu milih pergi."

Sheilla menarik napas dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya. "Dhito, jangan mulai..."

"Aku serius," Ardhito meraih ujung jari Sheilla, memegangnya dengan tenaga sisa yang dia punya. "Aku nggak minta kamu balik jadi istri aku sekarang. Aku cuma minta... jangan tutup pintu itu rapat-rapat. Kasih aku waktu buat buktiin kalau Ardhito yang sekarang bukan monster yang dulu kamu kenal."

--

Malamnya, Sheilla duduk di flatnya sendirian. Dia menatap langit-langit kamar. Kata-kata Ardhito terus berputar di kepalanya kayak kaset rusak.

Ada rasa sayang yang tiba-tiba menyeruak. Sayang yang dulu terkubur di bawah tumpukan rasa benci dan trauma. Dia melihat Ardhito yang sekarang sebagai sosok yang rapuh, yang hampir kehilangan nyawa demi melindunginya. Dan naluri Sheilla sebagai perempuan yang dasarnya lembut pun goyah.

Apa benar dia sudah berubah?

Atau ini cuma manipulasi lain karena dia lagi butuh dukungan?

Logika Sheilla berteriak: Hati-hati, Sheil! Ingat delapan tahun itu!

Tapi hatinya berbisik: Dia pasang badan buat kamu. Dia ditusuk buat kamu. Apa itu nggak membuktikan sesuatu?

Dia ingat bagaimana punggung Ardhito tertusuk pisau Alex demi melindunginya. Noda darah di gaun pengantinya seolah jadi segel kalau pria ini memang sudah membayar dosanya dengan nyawanya sendiri.

--

"Mbak, jujur deh. Mbak Sheilla sayang lagi ya sama dia?" tanya Maya saat mereka lagi beresin toko keesokan harinya.

Sheilla tertegun, tangannya yang lagi pegang mawar merah berhenti bergerak. "Aku nggak tahu, May. Aku cuma... kasihan. Tapi ada yang beda dari tatapan dia sekarang."

"Kasihan dan sayang itu bedanya tipis banget, Mbak. Apalagi buat orang kayak Mbak yang hatinya selembut sutra," Maya mendekat, menatap mata Sheilla serius. "Inget, Mbak. Sekarang dia masih di rumah sakit, jadi dia manis. Tapi kalau nanti dia sehat lagi, balik jadi bos lagi? Apa Mbak yakin sifat aslinya nggak bakal balik?"

"Dia bilang dia mau mulai dari nol, May. Dia nggak mau balik ke hidupnya yang dulu," jawab Sheilla pelan.

Maya terdiam sebentar. "Berarti Mbak mau kasih kesempatan? Mbak... aku cuma takut Mbak Sheilla yang baik hati ini dimanfaatin lagi."

--

Satu hal lagi yang bikin hati Sheilla makin berantakan adalah sebuah surat yang datang dari penjara federal. Dari Alex.

Sheilla membacanya dengan tangan gemetar.

Sheilla, aku tahu permintaan maafku nggak akan merubah apa-apa. Aku cuma mau kamu tahu, dendamku ke Ardhito memang nyata, tapi sayangku ke kamu juga nggak bohong. Aku cuma orang gila yang terjebak di tengah keduanya. Jangan biarin Ardhito menang lagi, Sheil. Dia bakal selalu jadi pemenang kalau kamu balik ke dia.

Sheilla meremas surat itu. Dia merasa dikepung oleh dua pria yang sama-sama beracun dengan caranya masing-masing. Satunya menghancurkannya dengan kekerasan, satunya dengan kebohongan. Tapi bedanya, Ardhito-lah yang akhirnya benar-benar memberikan darahnya untuknya.

--

Kembali ke rumah sakit, Ardhito menunjukkan kemajuan pesat. Dia sudah mulai belajar jalan lagi di koridor, didampingi suster atau Sheilla. Setiap langkahnya terlihat penuh usaha.

Suatu sore, saat mereka duduk di taman rumah sakit, Ardhito menatap Sheilla yang sedang sibuk mengupas apel untuknya.

"Sheil, aku sudah koordinasi sama pengacaraku di Jakarta. Aku bakal jual sisa aset perusahaanku. Aku nggak mau pakai uang itu lagi. Sebagian besar bakal aku hibahkan ke yayasan pemberdayaan perempuan yang kamu kelola," kata Ardhito tiba-tiba.

Sheilla kaget. "Dhito, itu banyak banget. Kamu mau hidup pakai apa?"

"Aku mau mulai kerja dari bawah di sini. Di Montreal. Kalau perlu aku jadi pengantar bunga di tokomu," Ardhito tersenyum, kali ini senyumnya terasa tulus dan lepas. "Aku mau hidup dari hasil keringatku sendiri yang halal, supaya aku pantes buat berdiri di samping kamu lagi. Bukan sebagai 'tuan', tapi sebagai pasangan."

Sheilla terdiam. Dia melihat ke langit. Dia melihat ke jari manisnya yang sekarang kosong. Dia melihat pria di depannya yang dulu adalah raksasa yang menakutkan, kini hanya seorang pria yang berusaha keras memperbaiki diri.

Ada air mata yang jatuh di pipi Sheilla. Rasa sayang itu memang masih ada, berdenyut pelan di balik luka-lukanya. Tapi Sheilla juga tahu, dia nggak bisa memutuskan ini cuma karena rasa kasihan.

"Aku butuh waktu buat bener-bener percaya lagi, Dhito," jawab Sheilla akhirnya. "Tapi buat sekarang... aku nggak akan pergi. Aku bakal nemenin proses kamu sampai kamu bener-bener sembuh."

Ardhito tersenyum, meski matanya basah. Baginya, jawaban "tidak pergi" sudah lebih dari cukup untuk saat ini. Dia akan berjuang lagi, bukan untuk menguasai Sheilla, tapi untuk memenangkan kembali kepercayaan yang dulu dia injak-injak.

To Be Continue...

-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --

1
falea sezi
uda end kah
Alif
smoga saja kamu menderita dhito
Siti Chadijah Siregar
sangat mengena sekali bahasanya hatiku tersentuh
Rubiyata Gimba
baru kau tahu
Rubiyata Gimba
sedarlah jangan makan hati sendiri, jangan terlalu mengharap pada orang yang tidak pernah memandang mu
Rubiyata Gimba
siapa suruh nenyintai orang yang tidak mencintainya
Rubiyata Gimba
sialan punya teman2
Lilla Ummaya
Lanjut thor.. ini asa kelanjutannya atau engga
Maira
tolong cpt update nya kakk
Maira
seruuu banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!