Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.
"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."
Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.
Yuk simak cerita selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membongkar Fitnah
Perdebatan masih berlangsung. Arjuna mencoba membujuk Briana dengan berbagai cara, tapi wanita itu tetap mengamuk dan tak terima.
"Maksudku... Briana. Aku cuma... sedikit lelah.” Arjuna berdehem, mencoba menguasai keadaan, meski tangannya di bawah meja sedikit gemetar.
"Lelah? Lelah sampai sebut nama gelandangan itu di depan aku?!" teriak Briana sambil berdiri dari kursinya. "Tiga tahun dia pergi, dan sekarang setelah ketemu satu kali di rumah sakit, kamu langsung kepikiran dia? Kamu ingat! dia itu pembunuh anak kita! Kenapa kamu masih simpan namanya di mulut kamu?”
Arjuna memijat pelipisnya. Rasa sesak di dadanya semakin menjadi. Ia sendiri bingung, semenjak beberapa hari ini hatinya selalu tertuju pada Aiza, meski pikirannya selalu menolak.
"Cukup, Briana. Jangan teriak-teriak, kepalaku pusing," ujar Arjuna dingin, lalu berdiri meninggalkan meja makan yang masih penuh makanan itu.
***
Suasana ruang kerja Hermawan sangat tenang, hanya terdengar detak jam dinding kayu yang antik. Qais duduk dengan punggung tegak namun rileks. Tidak ada gurat kemarahan di wajahnya, hanya ada ketenangan seorang dokter yang sedang menegakkan diagnosa.
Ia meletakkan map itu dengan sangat hati-hati di meja Hermawan.
"Prof," panggil Qais lembut. "Mohon maaf jika saya mengganggu waktu istirahat profesor. Tapi saat saya sedang merapikan arsip pasien lama, saya menemukan sesuatu yang... sedikit janggal.”
Hermawan melepas kacamatanya, menatap map yang tadi dibawa Qais.
"Apa itu, Nak? Kamu terlihat sangat serius, tapi matamu tetap teduh seperti biasanya.”
Qais tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menenangkan. "Ini laporan medis atas nama Briana Calista, tiga tahun yang lalu. Saya hanya merasa ada ketidaksesuaian antara hasil laboratorium klinis dengan kesimpulan akhir yang tertulis di sini.”
Hermawan membaca laporan itu perlahan. Sebagai pemilik rumah sakit, ia paham maksud Qais. "Maksudmu... hasil ini tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan yang nyata?”
Qais mengangguk pelan, suaranya sangat rendah dan terjaga. "Benar, prof. Secara medis, kadar hormonnya tidak mencukupi. Saya khawatir, ada kekeliruan administratif atau... mungkin tekanan dari pihak luar saat itu yang membuat laporan ini terbit dengan kesimpulan yang salah.”
Qais menjeda sebentar, lalu menatap Hermawan dengan tatapan tulus. "Wanita yang menjadi korban dari laporan ini adalah seseorang yang sangat saya kenal baik. Saya hanya ingin keadilan itu tegak, dan nama baik rumah sakit kita tetap terjaga kesuciannya dari praktik-praktik yang tidak jujur.”
Hermawan menghela napas panjang, ia kagum melihat betapa bijaksananya Qais.
"Kamu tetaplah Qais yang saya kenal. Tetap lembut meski sedang memegang bukti kejahatan," puji Hermawan. "Lalu, apa yang kamu inginkan, Nak?”
"Jika profesor mengizinkan, saya ingin menelusuri siapa petugas laboratorium yang bertugas malam itu. Bukan untuk menghukum mereka dengan kasar, tapi untuk meminta kejujuran mereka agar saya bisa memulihkan nama baik seseorang yang sudah lama menderita," ucap Qais dengan penuh kesantunan.
Hermawan menepuk tangan Qais. "Lakukanlah, Qais. Gunakan wewenangku. Saya percaya di tanganmu yang lembut, kebenaran ini tidak akan menyakiti orang yang tidak bersalah, tapi akan membongkar kepalsuan yang selama ini tertutup rapat.”
Setelah mengucapkan terima kasih dengan benar, Qais pun pamit keluar dengan langkah yang tenang. Di koridor rumah sakit, ia berhenti sejenak di depan jendela yang mengarah ke halaman rumah sakit itu. Ingatannya tertuju pada Aiza—tentang berapa menderitanya gadis itu selama ini hanya karena keadilan palsu.
“Kamu tenang saja, Aiza. Aku akan berusaha membersihkan kembali mamamu," gumamnya.
***
Qais menghabiskan waktu setelah jam dinasnya di ruang arsip pusat. Ia tidak meminta bantuan staf biasa. Ia melakukannya sendiri. Dengan kacamata bertengger di hidungnya, ia membandingkan buku besar kunjungan pasien tahun itu dengan data digital yang ada.
"Ada selisih waktu sepuluh menit antara pendaftaran dan hasil lab," gumamnya pelan
Ia menemukan bahwa nomor referensi laboratorium Briana melompati urutan antrean yang seharusnya. Secara medis, hasil tes darah hCG tidak mungkin keluar secepat itu kecuali ada campur tangan manual. Qais mencatat nama petugas administrasi hari itu, Rudi Hartono.
Hari berikutnya, Qais menemui orang yang bernama Rudi Hartono itu di kantin rumah sakit.
Qais meminta Hermawan untuk memanggil Rudi Hartono ke ruangan kecil di belakang kantin, jauh dari keramaian. Rudi datang dengan wajah pucat, tahu bahwa yang memanggilnya adalah dokter kepercayaan pemilik rumah sakit itu.
Qais tidak membentak. Ia justru menyodorkan segelas teh hangat pada pria paruh baya itu.
"Pak Rudi, saya tidak ingin mencari kesalahan yang sudah lewat," ucap Qais dengan suara baritonnya yang menenangkan. "Saya hanya ingin kejujuran. Tiga tahun lalu, apakah Bapak pernah mencetak keterangan kehamilan palsu? mungkin saat itu Bapak mendapatkan tekanan dari seseorang?"
Rudi menunduk, tangannya gemetar. Kelembutan Gus Qais justru membuatnya merasa sangat berdosa.
"Saya... saya terpaksa, dok. Dokter spesialis saat itu, Dokter Anton, yang menyuruh saya. Saya diberi amplop coklat oleh seorang wanita cantik," bisik Rudi sambil menangis.
Qais menghela nafas panjang. Ia tidak menghardik pria itu. "Terima kasih atas kejujurannya, Pak. Tolong tuliskan pernyataan ini. Saya akan pastikan Bapak tetap aman, tapi kebenaran harus bicara.”
Hari berikutnya, Qais kembali menemui seseorang yang memiliki kunci sebenarnya.
Dokter Anton ternyata sudah pensiun dan membuka praktik pribadi yang sepi di pinggiran kota. Qais mendatanginya sore itu. Bukan dengan ancaman hukum, tapi dengan pendekatan sebagai sesama rekan sejawat.
"Dokter Anton, saya datang bukan sebagai auditor," ujar Qais saat mereka duduk di ruang praktik yang remang. "Saya datang sebagai seorang teman yang melihat temannya kehilangan segalanya karena diagnosa palsu yang Anda tandatangani.”
Anton terdiam lama. Ia melihat ketulusan di mata Qais. "Dia... wanita itu sangat gigih. Dia membawa hasil lab palsu dari luar dan meminta saya melegalisasinya dengan imbalan yang sangat besar untuk renovasi klinik ini.”
"Saya mengerti kekhilafan manusia, Dok," sahut Qais lembut namun tegas. "Tapi tolong, berikan saya data aslinya. Jangan biarkan dosa ini terus mengalir."
Dokter Anton tertunduk malu. Ia menyerahkan sebuah flashdisk lama yang berisi salinan data asli sebelum dimanipulasi. "Ambillah. Maafkan saya.”
___
Malam itu di meja kerjanya Qais duduk di mejanya, menyusun semua bukti itu, pernyataan Rudi, pengakuan Dokter Lukman, dan data asli dari flashdisk. Semuanya dijilid rapi dalam map biru.
Ia menyandarkan punggungnya, menatap buku pemberian Aiza yang masih ia simpan rapi di dalam laci.
"Tiga tahun kamu menanggung beban fitnah yang bahkan tidak pernah ada, Aiza," bisik Qais parau. "Malam ini, biarlah semua fitnah itu kembali kepada pemiliknya.”
Ia menutup map itu dengan mantap. Besok, ia akan mendatangi Arjuna. Bukan untuk memukulnya, tapi untuk menghancurkan kebohongannya dengan cara yang paling terhormat.
___
Mobil putih Gus Qais berhenti di depan gerbang megah kediaman Arjuna. Setelah melapor pada petugas keamanan, ia dipersilakan masuk. Di ruang tamu yang luas dan dingin itu, Arjuna sudah menunggu dengan wajah masai dan angkuh, sementara Briana duduk di sampingnya, mencoba tampak tenang meski jemarinya meremas ujung bantal kursi.
"Ada apa lagi, Dokter? Ingin menyalahkan saya lagi atas kejadian di rumah sakit tempo hari? Masih belum terima?" Arjuna menyapa dengan nada sinis yang khas “Seingat saya urusan Anda hanya dengan papa saya, lalu kenapa Anda datang ke sini?”
Qais tak menjawab, ia hanya meletakkan tas jinjing kulitnya di atas meja. Ia duduk dengan tenang, punggung tegak, dan wajah yang teduh. Tidak ada gurat kemarahan, hanya ada kewibawaan yang membuat suasana ruangan mendadak terasa berat.
"Selamat sore, Tuan Arjuna. Nyonya Briana," sapa Qais dengan nada rendah yang sangat sopan. "Mohon maaf jika kedatangan saya yang mendadak ini mengganggu waktu istirahat Anda berdua.”
"Langsung saja ke poinnya. Saya tidak punya banyak waktu untuk basa-basi dan membahas hal yang tidak penting," balas Arjuna kasar.
Qais tersenyum tipis—senyum yang sangat tenang, seolah ia sedang menghadapi pasien yang sedang rewel. Ia mengeluarkan sebuah map biru dari tasnya dan meletakkannya di atas meja.
"Saya ke sini bukan untuk menghakimi siapa pun, Tuan Arjuna. Saya ke sini sebagai seorang dokter yang menjunjung tinggi kebenaran medis," ucap Qais sambil menggeser map itu ke hadapan Arjuna. "Tiga tahun lalu, sebuah laporan medis keluar dari rumah sakit kami. Laporan yang menyatakan bahwa nyonya Briana mengalami keguguran akibat sebuah insiden.”
Briana mulai pucat. "Lalu kenapa? Itu sudah lama berlalu!”
"Benar, Nyonya Briana. Namun, kebenaran tidak mengenal kadaluwarsa," balas Qais dengan kelembutan yang mematikan. "Saya baru saja melakukan audit internal dan menemukan bahwa dokter yang menandatangani laporan ini telah mengakui kesalahannya. Beliau mengaku telah menerima imbalan untuk menuliskan diagnosa yang... tidak pernah terjadi secara biologis.”
Arjuna mengernyit, ia menyambar map itu dan membacanya. Wajahnya perlahan berubah dari merah menjadi pucat pasi. Di sana terlampir pernyataan tertulis dari laboratorium pusat dan pengakuan dokter bayaran tersebut.
"Maksudmu... Briana tidak pernah hamil?" suara Arjuna bergetar.
Qais menatap Arjuna dengan tatapan yang sangat dalam, penuh rasa simpati namun tegas. "Secara medis, data ini menunjukkan bahwa tidak ada kehamilan pada saat itu, Tuan Arjuna. Jadi, tidak pernah ada keguguran. Dan secara logika, tidak pernah ada pem*unuhan janin yang dituduhkan kepada Aiza.” Qais lantas tersenyum tipis "Jadi….. Anda sudah tau kan siapa pelaku sebenarnya? Saya harap Anda bisa diajak kerja sama untuk menyelesaikan kasus ini ke pihak yang berwajib.”
Ruangan itu mendadak sunyi sesunyi kuburan. Briana mulai terisak, namun bukan karena sedih, melainkan karena ketakutan rahasianya terbongkar.
"Saya tidak datang untuk menuntut Anda, Tuan Arjuna," lanjut Qais dengan suara yang tetap lembut. "Saya hanya ingin Anda tahu, bahwa wanita yang Anda usir dengan hinaan pem*unuh itu... adalah wanita yang paling bersih dari tuduhan itu. Saya hanya ingin mengembalikan kehormatan Aiza yang sempat Anda ambil secara paksa.”
Qais berdiri, merapikan kemejanya, lalu mengangguk hormat. "Tugas saya sebagai dokter sudah selesai di sini. Kebenaran sudah ada di tangan Anda. Saya harap…. Anda akan mengambil keputusan yang bijak.” Qais menepuk pundak Arjuna yang tampak terdiam. "Sebelum saya ikut turun dalam masalah ini."
Tanpa menunggu balasan, Qais melangkah keluar dengan tenang. Ia tidak menoleh lagi. Ia sudah meletakkan bom kebenaran itu dengan cara yang paling sopan, dan kini ia membiarkan Arjuna hancur oleh kebohongannya sendiri.
di tunggu up lgi ka 😍
up lgi dong ka😍