NovelToon NovelToon
Hening Yang Membeku

Hening Yang Membeku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Duniahiburan / Cintapertama
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: HALAMAN YANG TERBAKAR

Penjara Pusat Ibu Kota adalah antitesis dari kemegahan Lumina Corp. Jika gedung kantor Kai terbuat dari cahaya dan transparansi, tempat ini dibangun dari beton kelabu yang seolah-olah menyerap semua harapan. Bau keringat, pembersih lantai murah, dan keputusasaan menggantung di udara.

Kai duduk di balik kaca pembatas yang tebal. Di tangannya, ia memegang sebuah sketsa kecil—gambar Elara yang ia buat di ruang Proyek Spektrum. Ia membutuhkannya sebagai jangkar agar tidak terseret kembali ke dalam pusaran kebencian.

Pintu besi di seberang terbuka. Yudha muncul, dikawal ketat oleh dua petugas. Ia tidak lagi mengenakan mantel wol mahal. Seragam penjara berwarna oranye tampak kusam di tubuhnya yang kini terlihat kurus. Namun, matanya tetap sama—tajam, licin, dan penuh racun.

Yudha duduk dan mengangkat gagang telepon. Kai melakukan hal yang sama.

"Kau terlihat sangat nyaman di kursi itu, Kai," ucap Yudha, suaranya parau namun tetap mengandung nada meremehkan. "Pemilik Lumina Corp yang baru. Si pahlawan monokrom yang menemukan pelangi."

"Aku tidak ke sini untuk mendengar bicaramu, Yudha," jawab Kai dingin. "Apa maksud pesanmu tentang 'Halaman yang Terbakar'?"

Yudha tertawa, sebuah suara kering yang menggema di dalam telepon. "Kau pikir ayahmu adalah orang suci? Kau pikir Proyek Spektrum itu hanyalah alat penyembuhan yang manis?"

Kai mengencangkan pegangannya pada telepon. "Jangan coba-coba memfitnahnya."

"Tanya pada dirimu sendiri, Kai. Kenapa ayahmu begitu terobsesi dengan cahaya? Bukan hanya untuk menyembuhkanmu. Dia bekerja sama dengan militer sepuluh tahun yang lalu. Spektrum adalah bagian dari proyek pengalihan visual untuk kamuflase. Ada satu bagian dari desain itu—halaman terakhir dari jurnalnya—yang tidak ada di tanganmu. Itulah 'Halaman yang Terbakar'."

Yudha memajukan wajahnya ke arah kaca, matanya membelalak. "Ayahmu membakarnya karena dia takut. Dia takut pada apa yang bisa dilakukan teknologi itu jika jatuh ke tangan yang salah. Tapi dia tidak benar-benar melenyapkannya. Dia menyembunyikannya di dalam sistem pendingin utama gedung. Jika kau mengaktifkan Proyek Spektrum secara penuh, kau juga akan mengaktifkan protokol yang tidak bisa kau kendalikan."

Kai merasakan jantungnya berdegup kencang. Apakah ini kebenaran, atau sekadar upaya terakhir Yudha untuk meracuni pikirannya?

"Kenapa kau memberitahuku ini?" tanya Kai penuh selidik.

"Karena aku ingin melihatmu hancur oleh warisanmu sendiri," bisik Yudha dengan senyum tipis yang mengerikan. "Kau pikir kau bisa membangun surga di atas fondasi yang terbuat dari rahasia perang? Kau naif, Kai. Sama seperti ayahmu."

Kai menutup telepon tanpa sepatah kata pun. Ia berdiri dan melangkah keluar dari penjara, mengabaikan teriakan tawa Yudha yang meredam di balik kaca.

Di luar, Elara sudah menunggu di dalam mobil. Ia segera menyadari kegelisahan di wajah Kai. "Apa yang dia katakan?"

Kai menceritakan semuanya saat mereka berkendara kembali ke pusat kota. "Aku tidak tahu apakah aku harus mempercayainya. Tapi aku tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa ayahku menyembunyikan sesuatu yang berbahaya."

"Kita harus memeriksanya, Kai," sahut Elara. "Bukan karena kita percaya pada Yudha, tapi karena kau berhak tahu seluruh kebenaran tentang ayahmu sebelum kau melangkah lebih jauh."

Malam itu, mereka kembali ke gedung Lumina Corp. Suasana gedung yang biasanya megah kini terasa sunyi dan misterius. Kai membawa Elara menuju ruang mesin pusat yang terletak di lantai paling bawah, di bawah unit penyimpanan level empat.

Di sana, di antara pipa-pipa raksasa yang menderu, Kai mencari tanda-tanda "Halaman yang Terbakar". Ia menggunakan kemampuan observasi artistiknya, mencari ketidakselarasan dalam struktur bangunan. Ia menyentuh dinding-dinding beton, mencari rongga yang tersembunyi.

Tiba-tiba, tangannya menyentuh sebuah panel kecil di balik unit pendingin. Panel itu tidak ada dalam denah bangunan resmi. Di sana, tertanam sebuah tabung logam kecil yang tahan api.

Kai membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat selembar kertas yang sebagian pinggirnya sudah hangus. Itu adalah halaman jurnal asli ayahnya.

Bukan skema militer yang ia temukan. Di halaman itu, terdapat tulisan tangan ayahnya yang rapi:

*“Untuk Kai. Jika kau membaca ini, artinya kau sudah menemukan Spektrum. Aku membakar halaman ini dari catatan resmi agar mereka tidak menggunakan teknologiku untuk kegelapan. Spektrum hanya akan berfungsi jika ada harmoni antara cahaya dan suara. Tanpa itu, ia hanyalah energi kosong. Jangan pernah biarkan mereka memisahkan kedua hal itu.”*

Kai terduduk lemas di lantai mesin yang dingin. Ia tertawa kecil, air mata lega mengalir di pipinya. "Yudha salah. Dia benar-benar tidak mengerti seni."

"Apa isinya?" tanya Elara sambil berlutut di sampingnya.

"Ayahku tidak bekerja untuk militer untuk menghancurkan. Dia menggunakan dana mereka untuk menciptakan sesuatu yang hanya bisa diaktifkan oleh cinta dan harmoni. Yudha pikir itu adalah senjata, karena hanya itu yang dia mengerti. Tapi halaman ini... ini adalah kunci keamanan yang sebenarnya. Spektrum tidak bisa disalahgunakan selama ia dipegang oleh seseorang yang mengerti musik dan warna."

Kai menatap Elara. "Ayahku sudah menyiapkan ini untuk kita, bahkan sebelum kita bertemu."

Elara mengambil kertas itu dan membacanya. Ia tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Kai. "Jadi, kita tidak sedang membangun surga di atas rahasia perang. Kita sedang membangun rumah di atas sebuah janji."

Malam itu, mereka tidak pulang ke apartemen. Mereka kembali ke ruang Proyek Spektrum. Kai mengunggah kode terakhir dari "Halaman yang Terbakar" ke dalam sistem.

Seketika, cahaya di ruangan itu berubah menjadi lebih hangat, lebih stabil. Elara mulai menyanyi, kali ini dengan suara yang lebih kuat, lebih jernih. Cahaya-cahaya itu membentuk siluet bunga matahari yang menari-nari di dinding, mengikuti setiap lekuk suaranya.

Kai mengambil tabletnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa berani untuk melukis sesuatu yang belum pernah ia coba sebelumnya.

Ia melukis masa depan.

Namun, saat cahaya Spektrum mencapai puncaknya, sebuah sinyal aneh muncul di monitor utama. Sebuah koordinat geografis yang menunjuk kembali ke sebuah koordinat di luar Oakhaven. Tempat yang belum pernah Kai kunjungi sebelumnya.

"Ada sesuatu yang lain, Elara," ucap Kai sambil menatap monitor. "Ayahku meninggalkan jejak terakhir. Bukan di gedung ini, tapi di pegunungan Oakhaven."

Perjalanan mereka ternyata belum berakhir. Dengan 37 bab yang tersisa, misteri Lumina membawa mereka kembali ke tempat semuanya dimulai, namun jauh lebih dalam ke dalam jantung hutan yang membeku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!